8. GALAK

2053 Words
Libur semester yang membosankan pasalnya penghuni kost hanya ada Gisna dan juga Bryan. Pagi sekali yang biasanya Gisna lakukan hanya rebahan di tempat tidurnya Ia keramas, Ia ingin bertemu sang Fajar yang telah lama Ia abaikan. Baru beberapa langkah di lorong kamar mandi, tetangga kamarnya datang menuju arahnya dengan wajah-wajah tempat tidur dengan mata sedikit terbuka, seperti tak rela untuk bangun. Ketika berdiri tepat di depan Gisna, Bryan berhenti menatap Gisna. Justru yang di tatap hanya menunduk berjalan ke arah kiri, Bryan mengikutinya. Ke arah kananpun juga sama membuat Gisna jengkel karena seakan Bryan menghadang jalannya. Sedang Bryan menghela nafas panjang begitu geram dengan yang terjadi. "Bisa minggir gak!" Bentak Bryan yang sudah tidak sabar. Suara baritonnya mampu membuat Gisna sedikit terkejut. "Gak usah bentak juga!" Cibir Gisna kemudian menyinggung bahu kanan Bryan dengan sengaja.  Sambil terus mengomel Ia berjalan menuju kamarnya, raut mukanya sudah tidak bersahabat entah kenapa Ia selalu takut kepada Bryan ketika cowok itu membentaknya kali ini justru Ia dengan berani membalas bentakan Bryan, suasana hatinya sedang tidak bersahabat. Langkahnya berhenti kala sebelah kamarnya telah berdiri sosok cewek dengan tas besar di sampingnya, Gisna mengerut keningnya. Ia tak pernah bertemu dengan cewek itu, bisa jadi itu penghuni kamar sebelah kamar Gisna. Cewek itu juga balik memandang heran pada Gisna, keduanya saling pandang lama. "Penghuni baru ya?" Sapa cewek itu akhirnya membuka suara karena tak betah dengan suasana canggung ini. "Ah iya, Kak. Kenalin aku Gisna." Sapa Gisna akhirnya menghampiri cewek yang sepertinya lebih tua darinya. "Aku Ajeng. Aku masuk dulu ya kita sambung lagi nanti sambil nonton tv. " Ucap cewek yang bernama Ajeng itu membalas uluran tangan Gisna. "Ah iya kak." Ucap Gisna kemudian bergegas menghilang di balik pintu kamarnya. Bayangan wajah Bryan yang begitu menyebalkan terngiang di memori ingatannya membuat suasana hatinya kembali tidak baik.  Terdengar suara langkah kaki di susul dengan suara TV di nyalakan, Gisna mengintip di luar jendela kamarnya. Dan benar Ajeng dengan setoples camilannya sedang menonton TV, Gisna segera menyusul dengan segera mengganti bajunya. "Gabung sini!" Ajak Ajeng pada Gisna yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya, Gisna dengan senyum lembutnya duduk di sebelah kiri dekat dengan kamar Bryan. Baru saja Gisna menjatuhkan bokongnya, Bryan dengan handuk di lehernya menatap tajam pada Gisna begitu juga sebaliknya. Ajeng yang menyaksikan terdiam sebentar seperti ada yang aneh. "Loh udah balik aja Mbak?" Tanya Bryan menyapa tetangga ceweknya yang lama tak bertemu dengannya. "Kangen gue kan lo!" Goda Ajeng pada tetangga yang tak pernah bisa Ia suruh-suruh seperti tetangga yang lainnya. "Males banget!" Ucap Bryan dengan wajah muak kemudian segera masuk ke kamarnya. Gisna berpura tidak mendengar percakapan keduanya, Ia masih marah dengan Bryan yang selalu seenaknya padanya. Ajeng tahu ada sesuatu di antara keduanya, Bryan yang Ia kenal tidak pernah berbicara dengan lawan jenis apalagi meliriknya saja tak sudi kecuali dengan dirinya. "Kamu kenal dia, Na?" Tanya Ajeng melihat raut wajah ramah Gisna yang telah lenyap entah dimana. " Nggak kenal." Jawab Gisna dengan cengiran yang Ia buat untuk menutupi rasa sebalnya. Ajeng yang tahu Gisna menutupi sesuatu darinya hanya ber-oh ria tidak mau terlalu kepo. *** Bryan keluar kamarnya dengan rambut yang sudah Ia sisir namun tetap acak-acakan, yang justru menampilkan sisi karismanya. Gisna melengos melihat Bryan yang datang ke arahnya, tidak pas sekali rasanya hari ini untuk bersanding dengan makhluk planet luar itu. "Mau ngapain?" Tanya Gisna melihat Bryan sudah berada di sampingnya. "Mau duduklah." Jawab Bryan sewot dengan pertanyaan Gisna yang menyebalkan itu. "Duduk di situ kan bisa!" Tindas Gisna menunjuk tempat di samping Mbak Ajeng yang masih luas seperti hamparan padang rumput. Bryan memutar bola matanya malas kemudian duduk di ujung sofa membuat Gisna bergeser karena tempatnya di duduki oleh Bryan. Dengan wajah kesal Ia menatap Bryan yang tanpa bersalah justru sengaja menfokuskan diri dengan iklan di Tv. "Gak pulang lo Yan?" Tanya mbak Ajeng memecah keheningan yang begitu senyap karena pertengkaran Gisna dengan Bryan. "Gak, males mbak!" Jawab Bryan fokus pada iklan, mengabaikan tatapan heran dari Gisna padanya. Ajeng tahu keluarga Bryan sedang menghadapi masalah yang membuat cowok itu tak mau pulang ke tempat orang tuanya. Ajengpun tak ingin melanjutkan pertanyaan lebih fokus pada ponselnya yang bergetar berulang kali. "Kak! Geser dikit ah!" Gerutu Gisna pada Bryan yang menjawabnya dengan deheman tanpa berniat menoleh padanya apalagi tempatnya semakin sempit karena Bryan sangat terlalu dekat dengannya. Gisna yang merasa di abaikan pun diam, dia kesal jika Bryan yang mengabaikannya daripada Dia sendiri yang mengabaikan tetangga kamarnya itu. Merasa tak ada sahutan balik Bryan menoleh melihat wajah Gisna yang cemberut begitu menggemaskan serasa pengen kecup puncak kepalanya.(eh¿) "Ngambekan bener!" Cibir Bryan sambil mengusap puncak kepala Gisna dengan rambut terurai agak kering. Ajeng menyaksikan hanya diam, Ia butuh penjelasan karena Bryan tak pernah sedekat ini dengan cewek. Barangkali Gisna lebih dari tetangga kamar cowok itu. "Nanti kalok keluar titip mie instan ya?" Cengir Gisna pasang muka dengan senyum kuda. "Mau makan mie instan? Beli nasi aja!" Tegas Bryan melarang Gisna membeli mie instan,mendapat larangan tegas Bryan Gisna hanya cemberut menanggapinya. "Anterin sekalian traktir tapi ya!" Pinta Gisna dengan senyum manisnya begitu dekat membuat Bryan sedikit sesak nafas, buru-buru Ia bangun dari lamunannya. "Nggak!" Ucap Bryan galak bagaimana bisa seseorang minta di antar kemudian di traktir sekalian. Ini cewek model apa sih? *** Bryan menghilang entah kemana setelah mendapat panggilan dari seseorang tersisa hanya Gisna dan mbak Ajeng yang sibuk melototi acara tv yang sedang berlangsung. "Gis, mbak mau nanya?" Ucap Ajeng sedikit sungkan takut membuat tetangga barunya itu tidak nyaman. Gisna menatap mbak Ajeng begitu tetangga yang baru Ia kenal beberapa jam itu membuka suara setelah beberapa lama dalam keheningan. "Kenapa mbak?" Tanya Gisna. "Kamu kenal sama Bryan?" Tanya Mbak Ajeng hati-hati. Gisna tampak berfikir nama itu sedikit familliar tapi entah siapa, Gisna meminum secangkir kopi yang Ia buat setelah Bryan beranjak dari duduknya. "Bryan siapa mbak?" Tanya Gisna balik memastikan siapa yang Ajeng maksud. "Ya ampun jadi kamu belum kenal secara resmi, Bryan cowok yang duduk di samping kamu tadi. Kalian kayak deket gitu!" Ungkap Ajeng heboh begitu melihat kepolosan Gisna. Gisna hanya ber-oh ria, Ia sudah menebak mbak Ajeng akan menanyakan hal itu. Padahal Gisna juga tidak merasa terlalu dekat sama dengan Bryan. "Oh cuman sebatas tetangga aja sih kak." Jawab Gisna seadanya. "Yakin?" Tanya Ajeng memastikan sepertinya hubungan mereka lebih dari sekedar tetangga kamar. " Emang cuman sebatas tetangga kok kak, keluar bareng cuma buat makan kok." Ucap Gisna menyakinkan Ajeng, dalam hati Gisna bertanya-tanya ada hubungan apa mereka berdua sampai Ajeng begitu ingin tahu apa yang di lakukan Bryan. "Tidak salah lagi." Ucap Ajeng dalam hatinya sambil tersenyum semu tak bisa di artikan begitu saja. Hening… Gisna sibuk dengan acara tv sedang Ajeng ada rasa terbesit yang membuat hatinya sakit. Ajeng benci perasaan ini, benci pada ego hati yang memilih bertahan tanpa balasan dari Bryan. *** Sebuah mobil berhenti di depan kost bu Nur, pengemudi tak keluar dari mobil. Sepertinya menunggu seseorang untuk bergabung. Suasana kost yang biasanya cukup sepi hari ini lumayan ramai. Banyak mahasiswa yang sudah kembali dari kampong halaman mereka. Bryan berjalan keluar kost menuju mobil terparkir, duduk di bagian depan samping pengemudi. Hari ini rencananya mereka akan nongkrong di tempat biasa sebelum aktivitas kuliah mulai padat. Walaupun kenyataannya, masuk atau libur kuliah mereka juga tetap seenaknya sendiri. “Rame bener, Bry?” Tanya Edo melihat suasana kost dari luar. ] “Udah pada balik soalnya.” Jawab Bryan singkat sibuk memainkan ponsel, menscroll setiap chat yang masuk tanpa berniat membalasnya. “Ajeng udah pulang dong?” Tanya Raka spontan. “Hm…” deheman Bryan mewakili segalanya, menandakan Bryan tidak ingin membahas tentang Ajeng. Hati dan fikirannya lebih sibuk memikirkan Gisna yang sejak tadi berputar-putar membuatnya pusing. “ Semalem elo kemana Bry, gak ngumpul bareng kita?” Tanya Raka pada Bryan yang sibuk memainkan ponselnya. “Oh, semalem gue nganter Gisna beli makan.” Jawab Bryan santai tidak tahu ekspresi sahabatnya yang mematung terdiam mendengar penjelasan Bryan. “Wah ! sekarang udah deket nih?” goda Edo pada Bryan yang sedikit terkejut pada ucapan Edo. “Apaan sih? Dari kemarin juga gue udah nganter mulu!” gerutu Bryan tak biasa. *** Gisna keluar kos untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Ya mungkin segelas kotak s**u dan roti sudah bisa mengganjal perutnya. Suasana yang ramai meski di hari libur, hanya saja di salah satu jalan menuju supermarket cukup sepi karena memang banyak ruko kosong di sekitarnya. Biasanya dia akan diantar oleh Bryan, namun hari ini cowok itu menghilang bagai di telan bumi. Semenjak kedatangan mbak Ajeng, cowok itu jarang sekali berlama-lama dikost. Mengingat itu Gisna hanya mengendikkan bahunya, berusaha tak peduli dengan apa yang baru saja terlintas di fikirannya. Dan kekhawatiran yang Gisna fikir benar-benar terjadi, ada segerombolan cowok di jalan yang sepi itu, Gisna berhenti sejenak ia bingung harus bagaimana. Dirinya sedang jalan kaki tak mungkin bisa menhindar, harapannya kini semoga Bryan melintas di jalan ini. Gisna memberanikan diri lewat, dan benar begitu ia dekat dengan gerombolan itu salah satu kaki dari mereka menghadangnya. Gisna spontan mendongak dan menemukan wajah asing yang tersenyum padanya. “Sorry, gue mau lewat.” Ucap Gisna pelan kemudian bergeser ke kiri untuk mendapatkan jalannya. Malangnya cowok yang mehadangnya juga mengikuti langkahnya baik kekanan maupun kekiri. “Jadi bener dia?” Tanya salah satu cowok yang duduk disana. Gisna mengeryitkan keningnya dengan pertanyaan aneh yang di lontarkan. Cowok yang lain pun mengangguk membuat Gisna semakin lemas tak berdaya. “Lo ceweknya Bryan b*****t itu kan?” Tanya cowok yang menghadang Gisna. “Lo salah orang ! gue bukan ceweknya.” Jawab Gisna dengan menggeleng cepat. “Serius ? lo bukan ceweknya. Boleh dong main sama kita-kita.” Ajak cowok itu menarik pergelangan Gisna spontan membuat Gisna memekik keras. “Nggak, pliss lepasin gue!” ucap Gisna memohon tapi tak di dengar, justru cowok itu menyeret Gisna ke gerombolan teman-temannya sampai makanan yang ia beli jatuh. “Cukup cantik juga ya lo!” puji cowok yang sedang duduk disana. Gisna diam seribu Bahasa, matanya mulai perih menahan air mata yang sudah tak bisa ia bendung. Ia benar-benar bingung dan ketakutan apa yang akan mereka lakukan padanya, ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri yang keras kepala beranggapan keluar malam di kota besar sendiri. Sebuah mobil melintas dan berhenti secara mendadak. Pengemudi dan penumpangnya keluar bersamaan menghampiri segerombolan cowok yang kini sedang mengurung Gisna. Bryan segera menarik Gisna di sisinya, Gisna terkejut begitu tangannya di Tarik apalagi tubuhnya dalam dekapan seseorang yang Gisna kenal dari parfum cowok itu.Gisna lega, kakinya benar-benar lemas. Air matanya jatuh seketika beriringan dengan perasaan lega di hatinya. “Bryan b*****t disini.” Cibir salah satu cowok disana. “Iya gue udah disini. Lepasin cewek ini.” Ucap Bryan dingin dengan sedikit penekanan. “Eh nggak bisa gitu dong. Kita duluan yang menemukan domba ini.” Ucap cowok itu mendekat pada Gisna yang diam dalam dekapan Bryan. seolah-olah dekapan Bryan adalah yang paling aman disini. Raka mulai jengah, dia tahu dengan sangat betul sebenarnya yang mereka incar bukan Gisna tetapi tetap saja dengan adanya Gisna sangat mudah menemukan kelemahan seorang Bryan. Bryan masih dengan setia mendekap Gisna yang kini memejamkan matanya karena ketakutan. “Bri, elo bawa Gisna pergi. Kita bisa kok hajar mereka semua.” Ucap Satria membuat Bryan secepatnya mengangguk mengiyakan. Bryan segera membawa lari Gisna dari kerumunan yang berbahaya itu. Gisna mau tak mau dengan tubuh yang lemas bercampur gemetar karena takut mencoba mengimbangi langkah kaki Bryan yang tampak buru-buru. Begitu berhasil menjauh, Bryan memelankan langkahnya santai namun tetap dengan setia menggenggam tangan mungil Gisna. Keringat dingin Gisna tak henti-hentinya bercucuran sedang Bryan  berkeringat karena harus berlari menjauh dari pertengkaran. “Gak usah sok berani makanya!” bentak Bryan pada Gisna yang membuat Gisna terkejut bukan kepalang. Cewek itu berfikir dia sudah aman ketika Bryan membawanya masuk ke dalam kost bu Nur. Kini yang ia takuti bukan lagi sekumpulan cowok b******k namun justru satu-satunya cowok yang kini sedang berdiri di hadapannya. “Gue bukan sok berani.” Tandas Gisna mulai memuncak dengan air mata yang berkaca-kaca dikedua pelupuk matanya. “Lo bukan siapa-siapa di hidup gue!” tandas Gisna sarkatik kemudian meninggalkan Bryan yang kini mematung di halaman kost yang sudah sepi dan cukup gelap. Amarah Gisna benar-benar tak terbendung sampai akhirnya meluap begitu saja, Gisna benar-benar merutuki hatinya yang selalu bergantung pada Bryan. Sebisa mungkin menghindar tetap saja dirinya selalu terkait dengan sesuatu yang terjadi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD