9. GIBRYAN PRAYOGI

1230 Words
Gisna sedang duduk di emperan kosnya seperti nunggu seseorang beberapa kali dia menengok ke dalam namun yang di tunggu tak kunjung keluar. "Gas !" Sentak Ajeng secara tiba-tiba sengaja mengagetkan Gisna yang hampir terjungkal kebelakang gara-gara ulah tetangganya yang kocak super banget. "Mbak Ajeng ngagetin aja sih!" Ucap Gisna sebal padahal baru beberapa detik Ia menengok ke belakang cewek itu belum muncul. Tiba-tiba muncul seperti setan yang tidak di undang, jelangkung dong? "Mau kemana kita nih?" Tanya Gisna pada mbak Ajeng yang tadi siang mengajaknya jalan nasib jomblo memang begitu jalan sama sahabatnya doang :" Akhirnya merekapun menyusuri suasana kota di sore hari kala senja mulai menampakkan diri dengan keindahannya. Rencananya mereka ingin menikmati suasana tama kota yang mungkin ramai di sore hari dengan banyaknya orang yang berkunjung kesana. "Rame bener ya mbak!" Bisik Gisna pada Ajeng yang celingak-celinguk justru mencari penjual minuman, perjalanan dari kost ke taman kota cukup membuatnya seperti berjalan ke padang pasir. Ponsel Gisna bergetar berkali-kali di dalam tas, Gisna merogohnya dan mengambilnya. Wajahnya berubah drastis begitu melihat siapa yang menelepon. Fathur is Calling.... Fathur mantan yang lengket sama Gisna itu tidak bisa tak mengganggunya membuatnya ingin menenggelamkan cowok itu ke laut saja. Gisna menengok kanan-kiri sudah tidak ada cewek kocak kostnya itu, mata cewek itu celingak-celinguk mencari seseorang ternyata yang di cari sudah sampai di pojok taman membeli minuman tanpa pamitan terlebih dulu. "k*****t, gue di tinggalin!" Umpat Gisna entah pada siapa kemudian Ia berjalan tergesa menghampiri mbak Ajeng. Sesekali tangannya menggeser ponselnya, me-reject panggilan dari sang mantan sudah menjadi rutinitasnya saja. Sampai ponsel itu berdering lagi akhirnya Gisna pasrah dan mengangkatnya. "Ada apa sih Tur?" Tanya Gisna langsung semprot, dia benar-benar kesal. "Kamu kenapa sih gak mau angkat telepon aku?" Tanya cowok di seberang sana terlihat dari suaranya yang begitu memohon agar Gisna mau bicara sepatah dua kata dengannya. Gisna diam yang ada dalam lubuk hatinya Fathur itu hanya masa lalunya yang tak malu kembali dengan sejuta kebohongan yang masih cowok itu benarkan, padahal Gisna sudah tahu kebenaran yang sebenarnya. "Bisa gak ntar aja ngobrolnya ketemu di kost aja besok, gue lagi sibuk." Jawab Gisna sekenanya kemudian mematikan ponselnya. Bodohnya Dia justru memberikan waktunya untuk cowok b******k itu, mungkin Fathur dari seberang sedang bersenang ria karena seperti di beri harapan oleh Gisna. "Kenapa manyun Na?" Tanya mbak Ajeng yang ternyata sudah duduk dan mengamati gerik-gerik Gisna yang tampak sebal dengan seseorang di sambungan telepon itu. "Gak ada kok Mbak." Jawab Gisna tak mau membahas Fathur dengan siapa saja, kecuali dengan Refi sahabat karibnya. Ia pun segera mengguyur kerongkongannya yang kering karena tenaga dan emosinya terkuras untuk Fathur. *** "Si Gisna kemana Yan?" Tanya Satria yang sejak tadi mencari-cari bidadarinya yang tak nampak, mendengar kata Gisna Raka dan juga Edo pun ikut celingak-celinguk kesana  kemari. Bryan hanya menghela nafas, mengendikkam kedua bahunya kemudian melanjutkan game onlinenya yang katanya hampir menang itu. Malas menanggapi ocehan sahabatnya yang tak kunjung berhenti mengkhayal tentang Gisna.  "Mana gue tahu, emang gue emaknya!" Tukas Bryan sewot tanpa memgalihkan pandangannya dari ponselnya. "Wih santai dong bang jangan ngegas!" Ucap Edo menepuk bahu cowok di sampingnya yang fokus pada layar hpnya itu. "Biasa orang cemburu mah!" Cibir Raka berniat menyindir sahabatnya yang tak mau mengakui perasaannya pada Gisna, menjunjung tinggi rasa gensinya. Cowok kok gengsinya selangit! "Mending nih kalian cabut aja daripada bikin gue murka!" Gertak Bryan membanting hpnya asal karena gamenya kalah akibat mendengar ocehan para sahabatnya yang membullynya.  "Deuh! Jatuh cinta bang!" Cibir Satria dengan cengiran kuda miliknya, begitu jelas mencibir Bryan yang sudah berdiri gemas dengan tingkah Satria. "Gue ton..." “Eh itu si Gisna!” ucap Edo yang sejak tadi menatap keluar jendela kamar Bryan. Nampaknya Gisna berjalan kearah kamar Bryan membawa sesuatu di tangan kirinya. "Pucuk di cinta ulampun tiba." Sorak mereka bertiga tanpa Bryan yang justru mematung di tempatnya menatap cewek yang sejak tadi di bicarakan melalui jendelanya. Satria yang sudah berdiri melangkah mendekati pintu dengan langkah yang sengaja Ia perlambat sesekali melirik Bryan yang sejak tadi sudah melempar tatapan tajam memperingatkan agar cowok itu tak meneruskan aksinya. "Maju satu langkah lagi habis lo di tangan gue!" Ancam Bryan kemudian segera berjalan menuju pintu kamar mendahului Satria yang berhenti dengan muka senyum-senyum tak jelas. Bryan keluar dengan muka datar menatap cewek di depannya yang membawa satu kantong plastik kecil yang menunduk memainkan jari-jari kakinya. Begitu ada kaki yang lebih besar di depannya, cewek itu mendongak menatap Bryan yang sejak tadi diam menatapnya dengan dingin. "Eh, kok tahu gue disini. Lo udah makan,Kak." Ucap Gisna memberikan kantong plastik di tangannya. Pandangannya bertemu dengan tiga cowok di dalam kamar Bryan yang tersenyum ramah padanya dari dalam. Bryan menunggu Gisna yang menggigit bibir bawahnya seperti memikirkan apa yang akan Ia katakan. Seolah keduanya lupa kemarin malam mereka bertengkar hebat di halaman depan kost. "Ada temen kakak ya? Mana cukup nasinya." Gumam Gisna lirih menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal itu. Bryan mengulum senyum kemudian mengubah wajahnya dingin kembali, Bryan maju satu langkah mendekatkan wajahnya pada telinga cewek di depannya yang mematung karena menghirup aroma tubuh khas Bryan. "Lo beliin gue aja gak usah mereka!" Bisik Bryan seraya mengusap puncak kepala Gisna yang semakin sesak, jantungnya berdetak kencang seperti melodi tanpa irama yang teratur. Sedang teman-teman Bryan di dalam melotot tidak percaya melihat aksi temannya, seumur mereka bersahabat tidak pernah Bryan mendekatkan dirinya pada cewek di SMA maupun kampus, bahkan dulu sampai mereka mengira kalau sahabatnya itu seorang Gay. Bryan menutup pintu membiarkan Gisna bernafas lega di balik pintu kamarnya, Bryan dengan wajah datar berjalan mendekati sahabatnya buru-buru memasang earphone pada telinganya tak mau mendengar ocehan sahabatnya yang akan memojokkannya. "Utang penjelasan lu setan!" Umpat Satria setengah mati cemburu pada Bryan yang dekat dengan Gisna. Bryan tersenyum bak iblis mendengar u*****n Satria, sebenarnya earphonennya tak mengeluarkan suara karena memang Bryan hanya sengaja memasangnya tanpa menyalakan musik di ponselnya. *** Pelanggan tak banyak yang datang cukup sepi suasana kedai hari ini, cukup melegakan untuk Gisna tak terlalu bekerja keras hari ini. Bahkan Ia sampai mengantuk dan bosan kerja hari ini beruntung sahabatnya akan mengunjunginya, Refi yang beberapa hari tidak komunikasi sama sekali. "Tumben sepi bener Na?" Tanya Refi melihat sekeliling hanya beberapa pelanggan yang datang. "Iya nih tau!" Ucap Gisna menanggapinya acuh, di fikiran Gisna sepi pelanggan itu urusan managernya yang penting gajinya on time. Dasar mata duitan! " lo kenal Satria kan Ref, nah tetangga cowok itu namanya Bryan kayaknya sih." Ucap Gisna menceritakan tentang Bryan pada sahabatnya barangkali Refi mengenalnya. "Bryan!!!" Sentak Refi menggebrak meja membuat Gisna melotot kaget apalagi beberapa pasang mata menatap mereka berdua sekarang, Refi menyadari apa yang Ia lakukan buru-buru Ia melemparkan senyum maaf pada beberapa pelanggan yang melihatnya. "Santai woi!" Ucap Gisna sengit kala Refi memalukannya. "Jangan bilang nama dia Gibryan Prayogi?" Terka Refi menyipitkan matanya bak seorang detektif mencurigai seseorang saksi dalam suatu kasus. "Emang kenapa?" Tanya Gisna polos, Ia benar-benar tidak tahu siapa yang di maksud Refi. "Wajar deh kalok temennya namanya Satria, mereka itu senior kita di kampus yang nakalnya pakek banget. Bryan itu ketua yang suka marah-marah sama junior di kampus, kerjaan berantem mulu. Keluarganya ambigu!" Ucap Refi panjang lebar pada Gisna yang terdiam mendengar penjelasannya. "Jadi dia senior brandal itu." Ucap Gisna dalam hatinya menatap Refi yang juga menatapnya menunggu respon darinya. Memang ada masalah jika benar Bryan adalah senior pembully itu. Lagian Gisna cukup menjadi tetangga kamar kostnya saja tidak lebih, jadi tidak perlu mencemaskan hal tak berguna itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD