Dua cewek sedang berhenti di pinggir jalan keduanya terpaku dengan pemandangan di depannya. Mereka sengaja berhenti menghindari pertikaian di tengah jalanan yang sepi dimana mereka akan lewati. Terlebih cewek di boncengan belakang itu menyipitkan matanya seperti familliar dengan satu cowok yang sejak tadi memukul dua orang cowok lainnya.
"Itu bukannya Bryan yah?" Bisik Gisna pada Refi menanyakan kebenaran di depan matanya.
"Eh iya, itu si Bryan. Gak di kampus di jalanan berantem mulu kerjaannya." Omel Refi entah pada siapa seperti muak menghadapi situasi yang sama.
BUG...
BUGGG...
BUGGG..
Setelah ketiga cowok di hadapan Bryan tersungkur di jalanan yang panas dan keras itu, Bryan segera melajukan motor hitamnya tanpa memperdulikan u*****n-u*****n musuhnya yang tidak terima karena pukulan keras di wajah yang kini sudah memar.
"Jadi Na, mending lo fikir lagi kalok mau deket sama cowok kayak begitu. Ya emang yang elo ceritain dia kayak care ke elo tapi lihat deh kelakuan dia kayak anak jalanan banget gak sih?" Omel Refi sepanjang perjalanan tak henti-hentinya.
Gisna diam mendengarkan Refi yang sejak tadi membicarakan semua hal tentang Bryan, yang justru terkesan di ulang-ulang dengan inti yang sama. Bryan adalah cowok yang gak banget untuk di jadikan masa depan, mungkin memang tampan dan gaya yang stylish itu sedikit membantunya.
"Na, dengerin gue gak sih lo!" ucap Refi sebal melihat respon sahabatnya yang justru tampak melamun, mengabaikan ucapannya.
"Tapi Ref, dia baik banget sama gue ya walaupun kasar sih." Ucap Gisna lirih sambil mengedarkan pandangannya ke arah lain tak mau menatap sahabatnya itu.
Refi menghela nafas dalam kemudian meneguk jus mangga yang Ia pesan, baru beberapa tegukan tiba-tiba wajahnya berubah cemerlang dengan senyum ambigu mengarah pada Gisna. Sedang yang di tatap justru menatapnya ngeri melihat Refi yang justru seperti orang gila.
"Ngapain sih lo!" Decak Gisna begitu Refi terus senyum aneh padanya.
"Ngaku lo Na! Jatuh cinta kan lo sama cowok di kost elo itu." Tuduh Refi dengan senyum mencibir, tak salah lagi jika Gisna jatuh cinta dengan Bryan karena Gisna tak pernah membela cowok jika mereka tidak sesuai pendapat sahabatnya itu, biasanya Gisna hanya diam tanpa membenarkan tuduhan Refi pada mereka.
"Apaan sih? Ya nggaklah!" Tepis Gisna memasang muka sebal pada sahabatnya itu. Niat awal ingin menceritakan dan menemukan kebenaran justru yang ada hanya di pojokkan.
"Ya gakpapa sih Na! Brandal pasti ada sisi lembutnya."
Gisna menunduk mengingat semua hal kecil yang selalu Bryan berikan padanya, bahkan apapun meski ucapan lidahnya kasar namun perlakuannya tak pernah sesuai dengan lidahnya. Dasar cowok aneh!
"Nah kan bayangin kan lo! Udah deh jatuh cinta pokoknya." Ucap Refi kembali memberikan tuduhan yang sama melihat respon Gisna yang justru tersenyum.
"Serah elo!" Ucap Gisna nyerah dengan berbagai serangan Refi yang sejak tadi terus memojokkannya dengan kata -jatuh cinta-.
Gisna memainkan ponselnya berpura-pura kesal pada Refi yang justru cekikikan gak jelas kayak mbak kunti yang lagi santai di pohon toge.
Sebuah pesan masuk membuat Gisna sedikit tersentak kala ponselnya bergetar di tangannya. Sebuah notifikasi dari sang mantan muncul, ingin rasanya Gisna mengumpat saja.
Fathur : Na, gue udah di depan kost elo nih!
Mata Gisna melotot seketika, Ia lupa Ia pernah menjanjikan pada Fathur untuk bicara. Gisna melihat jam baru pukul sepuluh siang, jika bertemu di kost gak mungkin karena ada kak Bryan dan Fathur pasti akan menyerang cowok itu. Padahal cowok itu tidak ada hak untuk melakukannya.
Gisna : ke kedai tempat gue kerja aja!
"Siapa sih Na? Sibuk amat dari Ayang Bryan ya?" Goda Refi sambil mencolek dagu sahabatnya yang langsung di tepis Gisna dengan muka garang.
"Fathur ngajak jalan sih, cuman gue suruh jemput disini aja daripada di kost." Jelas Gisna meletakkan ponselnya ke dalam tas.
Refi tahu segala cerita antara Gisna dan Fathur, meski Gisna tetap komunikasi dengan mantannya namun untuk Refi justru kebenciannya pada Fathur benar-benar sudah di ujung tanduk.
"Heran gue sama si kecebong satu itu. Di putusin masih gak ada malu!" Omel Refi entah pada siapa, justru Gisna ingin rasanya tertawa melihat raut wajah Refi jika sudah bersangkutan dengan Fathur.
"Entar lo naksir dia kalok udah jadi kodok." Goda Gisna balik dengan mengangkat kedua alisnya tak lupa juga senyum maut Gisna.
"Dih amit-amit cukup Ilyas aja!" Ucap Refi genit yang hanya di balas cebikkan oleh Gisna tanpa minat.
***
Tak berapa lama sebuah mobil berhenti di depan seorang cewek yang tadinya sibuk main ponsel kini menatap tepat kepada seseorang yang keluar dari mobilnya. Memberikan senyum pada cewek yang hanya merespon dengan mengangkat alisnya sebelah.
"Udah lama nunggunya?" Tanya Fathur begitu Gisna hanya diam, nyatanya cewek itu hanya menggeleng tanda Ia tak mempermasalahkan keterlambatan Fathur.
"Terus ini mau kemana?" Tanya Gisna, jujur saja janjian dengan Fathur membuatnya hilang tanpa arah di sudut fikirannya. Ia benar-benar tak merencanakan akan pergi dengan mantan kekasihnya itu.
"Masuk dulu aja!" Ajak Fathur membukakan pintu mobil sebelah pengemudi, tanpa ba-bi-bu Gisna mengiyakan ajakan Fathur dan bergegas masuk karena mobil itu berhenti di pinggir jalan.
Tidak ada yang berubah tetap saja seperti ini suasananya jika mereka satu mobil, hening tak ada obrolan sudah biasa bagi mereka berdua. Gisna pun juga tak bisa membenci Fathur begitu saja meski mereka sudah tak menjadi sepasang kekasih, bagi Gisna berteman dengan sosok yang pernah mengisi relung hati terdalamnya bukan suatu masalah.
"Gis, waktu itu aku gak pengen mutusin kamu. Tapi..."
"Fathur stop!" Potong Gisna dengan mata terpejam tanda Ia benar-benar muak dengan membicarakan topik itu dengan Fathur.
"Kisah kita cukup jadi kenangan, aku gak mau nghabisin waktu buat hal yang sia-sia." Jelas Gisna kali ini agar Fathur tak kembali memaksanya membicarakan kisah yang sama sekali tak ingin Ia ingat meski nyatanya tak hilang barang sedikitpun dari otaknya.
"Iya iya, aku ngerti." Ucap Fathur yang sanggup menbuat Gisna menoleh kalah Fathur mengganti aku dan kamu.
"Kamu tumben gak pulang liburan kali ini?" Tanya Fathur mencoba mencari topik pembicaraan dengan Gisna.
Cowok itu merindukan obrolan santai dengan Gisna, bukan obrolan yang berujung pertengkaran.
"Gak, gue butuh duit banyak. Gak mungkin minta sama Ayah di Bandung. " jawab Gisna tegas tanpa menatap lawan bicaranya, matanya sibuk menelusuri indahnya kota di sore itu.
"Kamu masih gak berubah ya Na!" Ucap Fathur tak dapat di artika dari tatapannya.
"Lagian juga tanggung, besok udah masuk kuliah." Ucap Gisna mengingat besok dia harus kembali ke rutinitasnya dulu. Bedanya dua minggu ini hidupnya penuh dengan seorang asing yang mewarnai hari-harinya tanpa sadar.
Mobil berhenti di sebuah cafe pinggir bangunan gedung-gedung tingkat tinggi. Di lantai dua Ia bisa melihat keindahan kota Jakarta penuh dengan gemerlap lampu-lampu kota sampai di sudut kota.
"Iya ya, besok udah mulai kuliah aja. " gumam Fathur entah pada Gisna yang sibuk dengan lalu lalang orang-orang atau entah pada siapa.
"Iya dan mau gak mau gue harus ketemu Bryan di kampus." Jawab Gisna di dalam hati, tiba-tiba saja pikirannya terarah pada cowok tetangga kosnya itu.
Satu hari ini dia tidak bertemu dengannya sama sekali, entah Gisna yang terlalu pagi pergi atau memang Bryan yang sibuk mengurung diri. Kenapa Gisna harus peduli pada sosok asing yang tiba-tiba datang di hidupnya akhir-akhir ini.
***
Bryan sibuk memutar bolak balik rubik 3x3 miliknya yang sengaja di acak oleh Raka entah sampai berapa puluh-puluh kali sekali putarannya. Sedang yang lain hanya menyesap rokok dan juga meminum kopi buatan mereka sendiri.
"Jadi lo yakin mau ajak si Vita pulang ke Semarang?" Tanya Edo meletakkan ponselnya di depannya.
Semua mata menunggu jawaban Bryan tapi yang menjadi pusat perhatian hanya menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan satu kata pun.
"Kapan berangkatnya?" Tanya Satria sambil menyeruput pelan kopi s**u yang masih mengepulkan asap samar-samar.
"Besok pagi kayaknya sih." Jawab Bryan ragu.
"Sampai kapan sih lo kayak gini, Yan?" Tanya Raka memutar bola matanya malas kala Bryan bersikap seolah menjadi biang masalah dimana-mana terlebih luka yang sering menghiasi wajahnya.
"Sampai apa yang harusnya milik gue balik ke tangan gue!" Ucap Bryan penuh penekanan dan ambisi yang cukup kuat.
Pulang ke Semarang tentu saja untuk menemui kedua orang tuanya yang Ia rindukan meski ada konflik yang membuatnya harus menbawa cewek datang ke rumahnya.
Tidak pertama kali Bryan pulang membawa seorang cewek dan tidak hanya Vita tapi banyak kekasih Bryan yang cowok itu bawa pulang demi sebuah kepentingan yang masih dalam pertanyaan di antara sahabat cowok misterius itu.
Suara Gerbang terdengar membuat semuanya saling pandang ini pukul sembilan malam siapa gerangan yang baru pulang di hari libur semester ini. Suara langkah kaki di ruangan sepi itu terdengar ternyata Gisna dengan wajah lelahnya.
"Wah bidadari datang!" Ucap Satria semangat membara namun terurung begitu saja kala tatapan membunuh dari sang pemain rubik.
Bryan bangkit dengan wajah datarnya keluar kamar, namun ketiga sahabatnya tersenyum ambigu dengan saling pandang. Gisna yang menyadari kedatangan seseorang di dapur, tempatnya berdiri di belakangnya yang sedang mencuci cangkir sisa semalam.
Gisna ingin berbalik namun kedua tangan bertumpu di hadapannya membuatnya mematung, tanpa menoleh tanpa seseorang itu bersuara, Gisna tahu siapa yang sedang berdiri tepat di belakangnya tanpa jarak itu.
"Kakak ngapain?" Sergah Gisna begitu nafas segar yang teratur dari Bryan begitu terasa di puncak kepalanya.
"Gakpapa takut kangen aja besok!" ucap Bryan santai.
“Emang besok kakak mau kemana?” Tanya Gisna menoleh. Tak sadar justru wajahnya sangat dekat sekali dengan Bryan. Bryan menatap mata Gisna, mata yang bersinar polos tanpa ada maksud tersendiri.
“ Rahasia !” ucap Bryan mantap dengan nada menggoda Gisna yang kini manyun. Kesal sendiri dengan pertanyaan bodoh yang ia lontarkan. Sudah tahu Bryan tidak akan jujur padanya sekalipun memaksanya.
Bryan tersenyum kala indra penciumannya mencium aroma wangi khas dari rambut Gisna. Bryan tidak tahu pasti mengapa ia melakukan ini, selalu ingin dekat dengan cewek yang awalnya selalu menyusahkan ini. Gisna pun tampak santai meski Bryan mengurung dirinya dalam tumpuan kedua tangannya.
Itu semua bohong, Gisna dengan perasaan campur aduk berusaha menetralkan apa yang sedang terjadi. Jantungnya benar-benar berdetak kencang, ditambah aroma maskulin Bryan yang begitu menyengat,kuat dan menusuk hidungnya.
“Kak!” panggil Gisna begitu canggung tak tahu apa yang akan di perbuat.
“Hm?” Tanya Bryan yang justru mendekatkan wajahnya pada wajah Gisna. Membuat Gisna semakin menunduk tak bisa menahan dirinya.
“Gue mau masuk kamar.” Pamit Gisna mendorong pelan tangan Bryan yang mengurungnya.
“sebentar aja Na!” pinta Bryan yang justru menguatkan tumpuan kedua tangannya di meja wastafel dapur. Gisna terdiam, memainkan air wastafel, dia juga tak menolak untuk memberi waktunya pada Bryan yang hanya berdiri di belakangnya.