25. LENGAH II

709 Words
Sesampainya di rumah sakit Bryan segera mendapat pertolongan dari dokter dan perawat disana sedang Bara sibuk mondar-mandir mengurus biaya adminitrasi pengobatan. Bara bukan pemuda berduit, hanya saja ia sama dengan Gisna namanya juga kakak beradik. Meskipun dilarang oleh ayahnya untuk bekerja dan lebih focus pada kuliahnya, Bara tetap bekerja sebagai karyawan disebuah restoran. Bryan diam di tempat tidur perawatan menunggu Bara yang masih menebus otaknya, begitu lama sekali sampai Bryan berfikir mungkin saja Bara sudah pulang. Ayolah, mereka musuh dari masa sekolah sampai sekarang. Tiba-tiba Bara muncul dan masuk ruangan meletakkan beberapa obat dan air mineral disana. Bara kemudian duduk sebentar, mondar-mandir seperti kipas angina membuatnya cukup lelah. “ Bry, gue mau balik ke Bandung.” Ucap Bara kemudian beranjak pergi. “Makasih, Bro!” ucap Bryan meski tak dijawab oleh Bara namun Bryan yakin Bara mendengarnya. *** “Bos, saya sudah mematahkan kaki Bryan seperti kata anda.” Ucap salah satu dari beberapa yang berdiri menghadap Dendy Guntoro. Laki-laki paruh baya itu tersenyum, senyumannya benar-benar menakutkan dan cukup sadis. Bagaimana tidak bukankah hanya pengecut yang melukai seseorang ketika orang itu sendiri. Dendy benar-benar takut jika Bryan menemukan rahasia terbesarnya dan dapat merusak segalanya. “ Bagus!” ucap Dendy kemudian menepuk pelan bahu orang yang dengan bangga mengatakan jika ia sudah mematahkan kaki Bryan. Dendy mengeluarkan ponselnya menekan salah satu kontak yang sering ia hubungi karena tingkah laku Bryan yang semakin menjadi. Jujur saja Dendy meremehkan pergerakan Bryan, baginya Bryan hanyalah anak lulusan SMA yang tidak akan berpengaruh besar terhadapnya. Tutt….tuttt.. Terdengar nada sambungan di seberang sana. Namun belum juga terdengar suara pemilik nomor itu. Dendy tetap sabar mematikan panggilan kemudian menghubunginya lagi. Baginya musibah yang Bryan alami adalah berita besar untuknya. Halo “Oh halo mas Heru kakak tiriku, sudah dengar kabar dari Bryan?” Tanya Dendy dengan nada yang dibuat-buat seolah dia mengkhawatirkan Bryan. Padahal justru sebaliknya. Dendy berhenti ganggu anakku, dia tidak tahu apa-apa “Bukan aku yang mengganggunya, tapi dia yang menggangguku. Lagian untuk sementara ini dia tidak akan menggangguku dengan kakinya yang patah itu” ucap Dendy diiringi tawa yang sadis bak seorang iblis. Apa kamu bilang ? beraninya kamu mencelakai anakku. Dari suara sambungan telepon Heru tampak geram mendengar ulah Dendy yang mematahkan kaki Bryan. “Memang apa yang bisa kamu lakukan? Bryan sendiri tidak percaya lagi padamu?” cibiran Dendy begitu sanggup membuat Heru terbungkam memang benar setelah kebangkrutan perusahaannya. Bryan benar-benar menjauh darinya seolah mereka bukan keluarga. *** Bryan sedang menunggu jemputan dari Raka karena dia fikir jika Satria tidak mungkin ia akan berboncengan dengan Satria melihat keadaannya sekarang. Tak beringsut lama, Raka sudah sampai di kamar rawat Bryan. Raka tidak segera masuk justru ia cukup terkejut dengan keadaan Bryan sekarang, kakinya di gip dan beberapa luka memar di wajahnya lebih parah dari biasanya. “ Ini ulah om elo itu?” Tanya Raka menyentuh pelan bagian kaki Bryan yang di gip. Padahal menyentuh dengan keraspun tidak akan terasa bukan? “Ya, begitulah. Elo nggak bilang Gisna kan Ka?” Tanya Bryan antusias, entah mengapa Bryan tidak ingin memberitahukan keadaannya pada cewek itu. “ Ntar dia juga bakal tahu sendiri kali Bry.” Ucap Raka mencibir, bagaimana bisa Gisna benar-benar meracuni fikiran sahabatnya yang dulunya barang sedikitpun tak mempan di dekati beberapa cewek. Bryan juga baru menyadari kesamaan antara Bara dan Gisna, keduanya sekalipun membenci seseorang atau marah pada seseorang tetap saja bersikap baik. Tak melupakan rasa sosialnya. Di bantu Raka Bryan duduk di kursi depan samping pengemudi, sudah 3 hari disana Bryan sudah muak dengan aroma khas rumah sakit. Dan hebatnya dia tidak memberi tahu sahabatnya selama 3 hari itu. “ Apa perlu gue ikut balas dendam Bry?” ucap Raka menawarkan diri membantu Bryan membalaskan dendam sahabatnya itu pada om tirinya. “Nggak, ini urusan gue ! gue nggak mau dibantu siapapun.” Tolak Bryan bersikukuh tak mau melibatkan siapapun. “Tapi Bry, ini udah keterlaluan.” Bantah Raka tak terima melihat keadaan sahabatnya. Sesampainya di kos, Bryan segera masuk ke dalam kamar menghindari beberapa penghuni yang mengenalnya mungkin. Dengan bantuan tongkat Bryan bisa berjalan, sebelum masukpun Bryan sempat menengok kamar Gisna yang tampak gelap menunjukkan jika sang penghuni tidak di dalam. “ Gue balik ya Bry.” Pamit Raka yang langsung direspon Bryan dengan mengangkat tangannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD