25. LENGAH

691 Words
“masalahnya Gisna lihat pas elo di cium Vita. “ Ucapan Raka masih terngiang-ngiang di telinga Bryan, ditambah lagi Gisna yang tak pulang semalam membuat Bryan semakin kalut dan resah bukan main. Bryan kini mengaku kalah, cowok itu mengakui dia benar-benar jatuh dalam pesona seorang Gisnamega Pramesti yang benar-benar jauh dari type Bryan sebelumnya. Bryan meneguk minuman soda di tangannya, entah sejak kapan Bryan benar-benar meninggalkan dunia malamnya. Yang cowok itu ingat adalah dia lebih sering menghabiskan malamnya menemani Gisna mencari makan malam di banding dengan berkumpul dengan teman dunia malamnya. Melihat Gisna yang menangis malam dimana ia meninggalkannya di persembunyian saja membuatnya ingin mengumpat diri sendiri. Seakan ingin melenyapkan diri sendiri karena tak tahan dengan rasa perih menyayat hati. “Wuih kebetulan kita ketemu disini!” celetuk seseorang membuat lamunan Bryan buyar. Bryan menatap wajah tak asing di depannya. Sekumpulan cowok yang merupakan anak buah Dendy, om tirinya. Wajah-wajah ini pula yang terus mengsuik ketenangan Bryan di malam hari. Sepertinya geng Dendy ada yang menjadi devisi keliling kota mencari mangsa. Bryan berdiri bermaksud meninggalkan anak buah Dendy yang sudah mengepungnya. Mood-nya benar-benar hancur saat ini, tidak ada naluri untuk meladeni anak buah Dendy yang mungkin ditugaskan agar ia tampak babak belur. “Buru-buru amat Bry!” tahan seseorang di depan Bryan dengan senyum meremehkan. BRAAAKKK… Bryan mendorong orang yang menghalangi jalannya sampai orang itu tersungkur. Membuat teman-temannya yang lain yang awalnya hanya menjadi penonton segera menyerbu keberadaan Bryan. “ Gue lagi nggak mood untuk berantem sama kalian, jadi jangan halangin gue!” ucap Bryan dengan nada mengancam, pandangannya bak elang berburu mangsa siap mencabik-cabik mangsanya kapan saja. “ Lo ngremehin kita?” tanya salah satu dari mereka, seolah tak terima dengan ucapan Bryan yang menyuruh mereka untuk tidak mengganggunya beberapa waktu. Cowok berjaket hitam itu menarik kerah baju Bryan yang dengan kilat Bryan tangkis dan mendorong orang itu sampai menubruk tumpukan sampah di depan supermarket. BUGG.. BUGG.. BUGG.. Bryan tak tanggung-tanggung memukuli semua orang yang menghadang jalannya, kebetulan sekali Bryan butuh pelampiasan karena kekecewaannya pada diri sendiri. Bryan bahkan membabi buta layaknya orang mabuk memukuli anak buah Dendy yang sudah tak sadarkan diri. Tak disangka Bryan, jumlah mereka tak hanya empat atau lima namun banyak. Mereka menunggu giliran untuk menghajar Bryan. Bryan bahkan sampai kewalahan karena jumlah mereka yang sangat banyak. “Kyaaa…..!” BRAKKKK… Seseorang berlari dari kejauhan menuju arah Bryan yang sedang menghajar temannya. Bertumpukan meja supermarket orang itu melompat dan menginjak pas bagian kaki Bryan. pukulan tak terhindarkan. “AAARRGGGHHH..” Teriakan lantang dari Bryan membuat semuanya terdiam dan tertawa sinis. Baru kali ini Bryan terkalahkan. Mereka segera pergi meninggalkan Bryan yang tersungkur di tanah menahan sakit pada tulang kering kanannya yang ia yakini sudah patah. Hikss..hiksss…hikss… Bryan tak kuasa menahan air matanya merasakan sakit yang tak karuan sampai ia bingung ingin meminta tolong siapa. Ia benar-benar tak habi piker dunia orang dewasa ternyata sangat kotor baginya karena tidak ada kebersamaan yang ada hanya persaingan sehat maupun tidak sehat. Sebuah sinar mobil datang menyoroti Bryan yang masih tersungkur di tanah. Sang pengemudi turun dan berjalan menuju Bryan yang menatapnya dengan dingin dan begitu hampa. Cowok itu terdiam di samping Bryan yang masih setia memegang kaki kanannya. Tampang Bryan benar-benar menyedihkan karena babak belur di wajahnya juga ada air mata yang juga menghiasi wajahnya. Cowok itu mengangkat tubuh Bryan namun begitu hampir berdiri, Bryan justru kembali tersungkur ternyata kakinya tidak bisa menyosong tubuhnya. Bryan menahan tangan cowok di depannya yang akan mengangkat tubuhnya. “Bar, kaki gue patah. Jadi nggak mungkin gue berantem dengan elo disini. “ ucap Bryan mengalihkan pandangannya. Antara malu dan dingin tak bisa di bedakan namun sangat jelas jika cowok di depan ini mengetahui fikirannya. Bara pun tanpa piker panjang segera mengangkat tubuh Bryan ke dalam mobilnya. Tidak ada pilihan selain membantu Bryan ke rumah sakit. Dalam perjalanan rumah sakitpun keduanya saling diam karena canggung. Setelah sekian lama pertengkaran hebat antara keduanya. Bagai hilang sekejap rasa sakit yang begitu nusuk dalam diri Bryan. Justru deretan-deretan masa lalu tergambar jelas dalam bayangan Bryan dan juga Bara yang beberapa kali melirik Bryan dengan wajah dingin meski menahan kesakitan. TBC  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD