24. FLY AND FALL

1593 Words
Fajar, sebuah fenomena yang banyak orang menunggu dan juga banyak orang yang belum siap menemuinya. Seperti hanya Gisna perlahan membuka matanya, merasakan cuaca yang perlahan menghangat begitu saja tanpa sebab. Dengan kesadaran yang belum sadar sepenuhnya, Gisna diam memandang kosong ke segala arah mencari suatu kebenaran jika apa yang dikatakan Gibryan padanya adalah nyata adanya. Gue bercanda jika Bryan tidak tertarik dengan cewek bernama Gisna. Gisna mengusap pelan wajahnya dan menguap, mencoba menghilangkan kantuk yang masih memaksa matanya untuk tertutup kembali. Gisna meraba ponselnya di sekitar bantal tidurnya, begitu layar pipih itu menyala menampilkan tanggal dimana ia akan berangkat kkn satu bulan lagi. Jauh dari kota kelahiran dan juga kampusnya. Tok.. tok.. Ketukan pintu kamar membuat Gisna mau tak mau berjalan dengan malas membuka pintu, dan sudah berdirilah makluk abstrak di depan pintu kamar Gisna dengan senyum kuda menatap wajah bantal Gisna yang begitu datar. "Lo belum mandi, Na?" Tanya Refi heboh mendapati wajah polos Gisna. "Gue baru bangun. "jelas Gisna kemudian masuk kamar kembali dan duduk di tempat tidurnya, seolah-olah mendengar panggilan kasurnya untuk sekedar rebahan lagi. "Idih, udah buruan mandi deh!" titah Refi risih menatap rambut Gisna yang sangat acak-acakan itu. Refi menggeleng-nggelengkan kepala, jengah karena setiap ia datang selalu dan tidak pernah Gisna sudah siap untuk berangkat jadi Refi tak perlu menunggu. "Iya-iya gue mandi jangan kangen lo !" ucap Gisna dengan senyuman begitu genit pada Refi, sedang respon sahabatnya justru bergidik ngeri pada tingkah aneh Gisna pagi hari ini. Entah sahabatnya itu kesambet setan apa semalem, sampe urat malu dan gengsinya lenyap kemana ! Refi mengeluarkan benda pipihnya, membuat ruang obrolannya dengan sang pacar namun pesan yang ia kirim sejak tadi hanya bergambarkan sebuah jam berputar. Refi mengerutkan keningnya, tak biasanya tidak terkirim padahal sinyal selalu bagus dimanapun cewek itu pergi. Refi tersenyum garing begitu mengetahui ternyata kuotanya habis tepat hari ini. Refi pun mencari ponsel sahabatnya untuk meminta hotspot gratis, pada ponsel sahabatnya takkan pernah ia jumpai namanya kere kuota. Gisna paling tidak betah jika ponselnya tidak ada pulsa maupun kuota,bukan karena ia tak bisa chat dengan siapa tapi karena sebuah sinema cartoon yang selalu menemaninya menjelang tidur. Refi mengurungkan niatnya begitu setelah pola yang ia buat berhasil membuka layar Gisna dan langsung masuk ke menu gallery. Refi melotot begitu menemukan sebuah foto, ia tak segan-segan membuka dan memperbesar foto itu. Refi meletakkan ponsel Gisna begitu saja dengan wajah terkejut bukan kepalang, terjawab sudah pertanyaannya selama ini dan mampu membuat Gisna bungkam. Tiba-tiba, senyum isengnya muncul bersamaan dengan pintu terbuka menampilkan Gisna yang sudah selesai mandi. Kemudian, ia segera menetralkan raut wajahnya yang tak bisa mengulum senyum misterius. Gisna yang melihat perubahan Refi dari cermin menaikkan alisnya sebelah sambil menghampiri Refi kemudian menyentuh kening Refi berharap tidak demam. "Lo kenapa Ref?" Tanya Gisna bingung melihat Refi yang cengengesan tak jelas menatapnya ambigu. "Gakpapa, udah buruan dah. Kita udah telat!" ucap Refi mengubah topik pembicaraan dengan Gisna yang semakin menatapnya menyelidik dengan mata menyipit mencoba menerobos sesuatu yang di tutupi oleh mata Refi. Sahabatnya ini tipe orang terbuka dan tidak pandai berbohong. *** Hari ini materi ayah Ilyas yang selalu membuat suasana kelas menjadi tegang dan mencekam karena selalu ada kuis yang beliau adakan tanpa pemberitahuan pada mahasiswanya, tak peduli itu anaknya sendiri selalu pertanyaan-pertanyaan sulit di jawab yang terlontar dan lagi Ilyas tak bisa menjawabnya. "Hah!" ucap Gisna lega setelah meminum satu teguk teh manis buatan kantin yang selalu terasa special di tenggorokannya. "Lo kayak orang baru bebas dari penjara aja lo!" cibir Ilyas melihat tingkah konyol sahabatnya itu. "Lebay!" ucap Gisna mendengar cibiran Ilyas yang berlebihan, Refi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah pacar dan sahabatnya itu yang selalu bertengkar dengan hal sepele. Mata Refi memandang sekitar yang tampak aneh karena semua orang memandang Gisna dengan senyuman,cibiran dan tingkah laku aneh semacamnya. Sedang Gisna yang sejak tadi menjadi perhatian beberapa orang tak menyadarinya dan terus bercanda tawa dengan Ilyas, Ilyas menyinggung lengan Refi untuk mengabaikan saja karena tampaknya cowok itu menyadari dan tahu apa yang sedang menarik perhatian disana. "Ini teh Gisna?" Tanya seseorang pegawai kantin yang tampak muda hampir seumuran dengan senyum malu-malu, sedang Gisna terpaku di tempat dan hanya mengangguk pelan tak paham kenapa cewek itu bisa mengenalnya. "Iya?" Tanya Gisna dengan sopan mencoba ramah meski di dalam otaknya terus berputar. Cewek itu hanya menggeleng pelan dengan senyum manisnya,kemudian pergi untuk melayani pembeli di kantin yang mulai ramai. Gisna memandang sahabatnya satu persatu bingung, sedang sahabatnya sudah tersenyum bak iblis yang siap membullynya kapan saja. Gisna menatap sekitar menyadari beberapa pasang mata sedang memperhatikan kea rah meja yang ia duduki. "Ini ada apa sih?" Tanya Gisna semakin tak mengerti dengan suasana sekitar yang menurutnya justru membuatnya terlihat bodoh karena tak menyadari apapun. Ilyas menyodorkan ponselnya yang sudah terbuka menu i********: entah milik siapa, Gisna mengambilnya dan Refi ikut melihat benda pipih di tangan Gisna spontan cewek itu meletakkan kembali ponsel Ilyas. "Kok bisa?" Tanya Gisna entah pada siapa, dia begitu terkejut i********: milik Bryan yang berisikan satu foto dan itu foto dirinya dengan caption namanya. "Harusnya kita dong Tanya ke elo, Na!" ucap Ilyas dengan nada menggoda. Gisna memijit pelan keningnya dengan tampang bodohnya, beberapa kali terdengar nafas gusar dari cewek yang masih sibuk dengan fikirannya itu. Gisna memandang sekeliling mencoba menemukan biang keladi kejadian-kejadian absurd hari ini, matanya berhenti pada cowok yang kini tersenyum padanya dan justru menjulurkan lidahnya dan mengalihkan pandangannya seolah-olah ia tak tahu jika Gisna sedang menatapnya tajam. "Udah deh Gis! Lo jujur sama gue, lagian gue juga lihat foto elo sama si Bryan di ponsel elo."ucap Refi dengan senyum nakal membuat Ilyas ingin melihat foto yang dimaksud pacarnya itu sayangnya cowok itu kalah cepat dengan sang pemilik yang langsung menggenggam erat ponselnya. "Jadi gimana Na, lo nggak mau jelasin apapun nih sama kita?" Tanya Ilyas memojokkan Gisna yang justru memutar bolanya malas. Baru saja Gisna akan membuka mulutnya namun terkatup rapat begitu saja kala matanya menangkap sesuatu yang membuat gemuruh di hatinya dan anehnya iya tidak tahu mengapa demikian. Mata Gisna terpaku pada satu titik dimana waktu seperti memperlambat untuk berjalan, seorang cewek yang berada di samping Bryan memberikan kecupan di pipi cowok itu. Bryan tak menolak dan menerimanya dengan senyum malu miliknya yang tak pernah ia perlihatkan pada Gisna. Apa ini? Gisna berharap Bryan benar-benar menyukainya? Namun tadinya rasa percaya itu mulai terbangun namun runtuh hanya dengan apa yang perlihatannya tangkap. Tanpa ba-bi-bu Gisna berdiri mengajak sahabatnya untuk segera beranjak dari tempat itu. Tempat yang menurutnya tiba-tiba berubah panas dan begitu semu di pandangan matanya. Di sudut meja lain, Bryan mengelap pelan pipi bekas kecupan bibir Vita yang tiba-tiba itu. Tidak hanya Bryan yang terkejut para sahabatnya juga terdiam mematung melihat Vita yang spontan mencium Bryan dan kini cewek itu beranjak pergi begitu saja tanpa merasa bersalah. "Yan! Wajah lo kayak gak pernah di cium cewek aja." Cibir Satria yang melihat Bryan tampak mengelap pipi kirinya. "Ya nggak gitu, Sat!" telak Bryan tak mau di anggap jika ia naif di cium oleh seorang cewek di usianya yang terbilang masih muda itu. "aMsalahnya cuman satu, si Gisna lihat lo di cium tadi." Jelas Raka pada Bryan. Respon Bryan mendengar ucapan Raka sesuai yang mereka harapan terkejut dan membeku tak bisa menerima. "Makanya jangan makan omongan sendiri, dulu aja lo bilang dia cuman pelampiasan...." "Bacot!" umpat Bryan memotong ucapan Edo yang ikut angkat bicara setelah sibuk dengan game online miliknya. "Jadi ceritanya jatuh cinta sama mainan sendiri nih?" cibir Raka memanasi Bryan yang mencoba meredakan emosinya yang meluap entah pada siapa. "Berisik banget sih lo,Ka!" ucap Bryan dengan nada emosi, sedang sahabatnya tertawa puas melihat Bryan yang terbakar dengan tingkahnya sendiri. Lagian kenapa ia harus bingung dan marah pada dirinya sendiri, mungkin ia lupa jika Gisna belum menanggapi pernyataan perasaannya kemarin malam. Bryan tersenyum masam merutuki dirinya jika Gisna pergi dari kantin karena cemburu melihat Vita menciumnya. *** Gisna menyeka air matanya yang sejak tadi keluar tanpa seizinnya, matanya sampai sudah benar-benar sembab karena kesedihan yang tak tahu pasti apa penyebabnya. Siapa bilang Gisna sudah di kosnya justru cewek itu menginap di rumah Refi guna menghindari Bryan. entah mengapa Gisna sangat yakin jika Bryan pasti mencarinya di kos saat ini. “ Lo suka beneran sama si Bryan?” tanya Refi pelan tak menyangka Gisna akan sesedih ini hanya karena melihat Bryan dicium cewek lain di depan matanya. “Gue nggak tahu, Ref.” ucap Gisna menyeka matanya. Ini aneh, ini bukan Gisna seperti biasanya. Gisna tak pernah memikirkan sesuatu yang tidak jelas, cewek itu selalu bermain dengan kelogisan dan sedikit dangkal soal perasaan. Tapi ini apa? Gisna benar-benar tak berdaya hanya karena melihat Bryan di cium teman perempuannya. Ada rasa tak rela, seakan-akan Gisna menegaskan jika Bryan adalah miliknya. “Terus lo nggak pulang ?” tanya Refi pelan bukan berniat mengusir, namun Gisna sangat jarang bahkan bisa di bilang tidak pernah menginap di rumah Refi sekalipun hujan deras biasanya cewek itu tetap memaksa untuk menunggu hujan reda dan kemudian pulang. “ Gue tuh malu sama diri gue sendiri, Ref. ngapain gitu nangis pas Bryan dicium temennya. Gue tuh siapa?” tanya Gisna pada Refi dengan air mata yang semakin deras mengalirkan aliran air mata dari sudut matanya. “Itu naluri Gisna, elo nggak bisa menghindar saat orang yang elo sayang dengan orang lain. “ ucap Refi memeluk Gisna yang langsung disambut oleh Gisna. Refi benar, tidak peduli ada hubungan apa dengan orang yang special di hati, pasti akan sesak dan perih sendiri ketika orang itu mendapat perlakuan special pula dari orang lain. Gisna menyakinkan diri, jika Gisna menangis bukan karena Bryan dicium oleh cewek yang seingat Gisna pernah datang ke kost. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD