23. AWAL ATAU AKHIR

1517 Words
Seorang cowok sedang mengeluarkan motor ducatinya dari garansi kosnya, hari ini Ia tidak ingin masuk kuliah karena malas bertemu dengan dosen-dosen yang mendapati gelar dosen killer dari mahasiswanya. Ia berniat pergi supermarket terdekat, mulutnya terasa gatal tidak mengepulkan asap dari sebatang putung rokok. Dengan wajah mengantuknya, cowok itu rela pagi-pagi pergi di tambah celana pendek miliknya sudah membuatnya tetap tampan seperti biasanya. Bryan memanaskan motornya terlebih dahulu sambil tangannya mengelap body motor besar hitamnya itu, bagaimanapun ini adalah motor pemberian dari Ayahnya ketika ulang tahun delapan belas tahunnya. Sebelum masalah keluarganya menjadi berantakan seperti sekarang. Gisna keluar dari kamar kos segera memakai sepatu sneaker miliknya, hari ini motor Refi di pakai oleh ayahnya jadi cewek itu di antar jemput oleh Ilyas pacarnya. Dan Gisna terpaksa harus berjalan ke pangkalan ojek untuk berangkat ke kampus. Gisna keluar dari kos dan secepat kilat matanya menangkap Bryan yang sedang mengelap motornya. Muncul sebuah ide cerdik untuk meminta Bryan mengantarnya saja dengan langkah bangga Gisna menghampiri Bryan yang sudah tahu jika cewek itu datang padanya. "Kak!" sapa Gisna dengan ramah menandakan jika cewek itu sedang membutuhkan sesuatu dari Bryan. Bryan hanya berdehem tanpa mengalihkan pandangannya dari jok motornya yang sudah bersih tanpa debu itu. Merasa tak di hiraukan oleh Bryan, cewek itu segera pergi dengan bibir manyun. "Kenapa?" Tanya Bryan setelah berhasil menahan tangan Gisna dengan menggenggamnya. "Antar aku ke kampus." Ucap Gisna sedikit gugup begitu tangan kekar itu dengan lembut menggenggam tangan kirinya, dadanya begitu sesak untuk menghirup oksigen di sekitarnya. Bryan tak banyak bicara, ia segera menaiki motor yang sudah mengkilat itu. Gisna tersenyum dan segera naik ke jok belakang, Bryan segera menancap gas, begitu motor melaju terasa sebuah tangan menarik bajunya sedikit. Bryan tersenyum menatap tangan mungil yang sedang berpegang bajunya itu. Tidak membutuhkan waktu lama sudah sampai di kampus, Gisna segera turun dan menghadap Bryan yang masih setia menatapnya yang sedang membenarkan rambutnya. Begitu mata mereka bertemu, Gisna menghentikan jarinya yang sedang menyisir rambutnya itu. "Nanti jemput sekalian?" Tanya Bryan seraya tangannya merapikan anak rambut di kening Gisna yang berlarian tertiup angin. "Nggak deh! Emang kak Bryan gak kuliah?" Tanya Gisna yang masih betah berdiri di samping Bryan. "Gue mau ke supermarket beli rokok." Ucap Bryan kemudian melaju begitu saja meninggalkan Gisna yang mematung karena sebelum cowok itu menancap gas motornya masih sempat memberikan usapan pelan di kepala Gisna. Gisna diam mematung menatap bingung motor yang perlahan menghilang di ujung jalan tertelan lekukan bumi disana, Gisna menghela nafas panjang sambil melangkah masuk gedung fakultas Ekonomi dan Bisnis. "Mampus gue!" pekik Gisna mengingat ada jadwal dosen killer yang mengadakan ujian hari ini. *** "Yah! Kita nggak bakal bareng dong kkn-nya sama elo, Yas!" ucap Gisna dengan nada sedih tugas semester enamnya itu memisahkan dirinya dengan pacar sahabatnya si Refi. Refi hanya diam tiga bulan tidak bertemu dengan pacarnya yang berstatus anak dari salah satu dosen kampusnya itu, kecuali jika Ilyas mau ke Tasikmalaya untuk menyusulnya. Ilyas melihat kesedihan pacar imutnya itu, dia pun tak banyak bicara hanya mengusap pelan pucuk kepala Refi. Sedang Gisna sibuk memainkan ponselnya, ia tak mungkin mengganggu momen-momen romantic sahabatnya yang mereka hadirkan meski mereka sedang bertiga. "Tenang aja, Na! gue bakal ke Tasikmalaya kok kalok ada libur." Bujuk Ilyas agar menenangkan suasana hati pacar dan sahabatnya itu yang terlihat bimbang. Memang untuk KKN di tentukan dari kampus itu sendiri, sedang pesertanya selalu di acak entah berdasarkan apa. jadi mereka bertiga sudah tahu kalua pasti mereka tidak akan bersama bertiga sekaligus. "Lo harus janji dong!" ucap Gisna kemudian menyodorkan minuman sebagai symbol perjanjian dengan sahabatnya itu. Meski botol air mineral, Ilyas pun menyodorkan botol miliknya di ikuti oleh Refi. Para senior mulai berdatangan mengisi sudut-sudut kantin, mata Gisna tak bisa berbohong dengan cekatan bola mata hitam pekat itu memandangi satu persatu setiap senior yang datang. Mengabsen satu-persatu, Ilyas tahu siapa yang Gisna harapkan terlihat dari mata Gisna tak berbinar ketika komplotan Bryan sudah duduk di sudut kantin. "Nyari siapa, Na?" Tanya Ilyas dengan nada menggoda untuk memastikan jika tebakannya tidak meleset. "Hah? Gue? Gak cari siapa-siapa kok." Elak Gisna menggeleng pelan menundukkan kepalanya mencoba menyembunyikan tatapan matanya yang tak bisa berbohong terlebih kepada kedua sahabatnya yang sudah ia kenal sejak menginjak semester pertama. "Bohong banget!" cibir Refi memanyunkan bibirnya. "Ih serius!" elak Gisna mencoba menyakinkan semakin jelas sedang menutupi sesuatu. "Bryan kemana, Na! kok gak keliatan di komplotannya?" Tanya Ilyas mencoba memancing, meski Gisna berulang kali membantah namun Gisna pasti ada hubungan special dengan kakak senior yang terkenal dengan reputasi buruknya di kampus ini. "Dia nggak masuk, katanya dosennya killer gitu sih." Jawab Gisna santai kemudian meminum air mineralnya, mencoba menetralkan jantungnya gugup tak karuan karena introgasi sepasang kekasih di depannya ini. "Nah itu, kok lo tahu?" sergah Refi tersenyum menang seolah sekongkol dengan sang pacar untuk memancing Gisna agar mau membuka suara tentang Bryan, karena setiap mereka bertanya Gisna selalu bisa mengalihkan topik pembicaraan. "Ya kan tadi gue ke kampus dia yang nganter!" jelas Gisna mulai kesal dengan acara selidik-menyelidik sepasang kekasih yang menyebalkan, sialnya mereka berdua adalah sahabat dekatnya. "Cie...." Ejek Ilyas dan Refi serentak sambil dengan tawa yang dibuat-buat begitu heboh. "Apasih? Childish banget!"gumam Gisna. *** Perkumpulan cowok-cowok pembuat onar di kampus sedang bersantai setelah menunaikan kewajiban mereka sebagai mahasiswa,kecuali Bryan yang sudah di tempat Satria sejak tadi sebelum sahabatnya berdatangan. Bryan adalah cowok yang susah terpengaruh dengan sekitarnya, sekali ia mempunyai suatu pendirian takkan pernah runtuh dengan omongan orang-orang di sekitarnya. Termasuk kegiatan sia-sia yang selalu cowok berwajah dingin itu lakukan adalah menuntut keadilan dan kebenaran kepada om-nya yang sama sekali tak mau meladeninya. Sambil menghisap putung rokok yang terhimpit di antara sela jari-jarinya, Bryan rebahan di tempat tidur Satria dan pandangannya tak lepas dari arloji di tangannya. Mengetahui tingkah aneh Bryan, Raka menyinggung lengan Edo dan berlanjut pada Satria. Mereka selalu khawatir jika Bryan akan melakukan hal-hal gila untuk melawan om-nya yang tak segan-segan melukai keponakannya sendiri. "Lo kenapa sih. Yan? Lihatin jam mulu perasaan." Ucap Edo yang berani memulai percakapan setelah mereka terdiam larut dengan aktivitas masing-masing. "Gue kenapa? Gue gak papa elah." Jawab Bryan tampak kebingungan dengan pertanyaan Edo layaknya pacar ngajak perawatan di salon. "Lo nggak bakal nglakuin aneh-aneh kan.Yan?" selidik Raka yang selalu dengan tampang tenang namun tegas menanggapi setiap tingkah aneh sahabatnya yang kadang terbuka dan misterius sekaligus dalam kurun waktu jangka pendek. "Oh, jadi lo pada ngira gue bakal rusuh lagi di tempat om gue?" Tanya Bryan dengan senyum renyahnya menertawakan pikiran konyol sahabatnya. Mendengar pertanyaan Bryan yang bisa menebak fikiran mereka membuat mereka diam namun memandang Bryan meminta penjelasan. " Kalian bener!..." "b*****t lo Yan!" potong mereka bertiga sebelum mendengar ucapan Bryan selanjutnya. "Hahaha.. dengerin gue dulu, woi! Bacot aja lo pada. Iya kalian bener, tapi nggak sekarang kali." Tawa Bryan terdengar begitu kencang seolah beban hilang begitu tawa itu lepas. "Terus ngapain mata lo lihatin jam mulu! Kayak cacing mau kencan." Cibir Satria seolah belum puas dengan penjelasan yang diberikan Bryan, padahal jarang sekali cowok itu berbicara panjang lebar. "Gue mau ngajak jalan Gisna!" ucap Bryan beranjak berdiri seraya mengambil jaketnya yang tergeletak di kursi. Semua terdiam menatap Bryan yang perlahan menghilang di balik pintu tanpa meninggalkan sepatah katapun. Bryan segera menancap gas menuju tempat Gisna bekerja paruh waktu sepulang jam kuliahnya, cowok itu menganggap perasaannya terhadap Gisna sebatas ia tertarik kepada cewek pada umumnya. Namun yang tidak ia sadari, rasa yang tumbuh semakin dalam akan membuatnya menyadari jika Gisna adalah cewek yang mampu membuatnya candu suatu hari. Tak berapa lama, motor Ducati Bryan sudah memelankan laju kecepatannya dan berhenti tepat di kedai Gisna bekerja. Bryan membuka kaca helm fullface-nya, matanya menangkap Gisna yang sudah merapikan tasnya dan beranjak keluar. Baru satu langkah cewek itu keluar dari kedai, mata mereka bertemu. Mata sang pangeran dingin dan mata sang putri yang selalu teduh, mampu menaklukan Bryan luluh dan menemukan titik yang selalu ia tak mengerti namun ia cari. "kakak ngapain disini?" Tanya Gisna menghampiri Bryan yang tersenyum simpul di balik helmnya. "Masih belum malam amat. Buruan naik!" titah Bryan, padahal ucapannya tak menjawab sama sekali pertanyaan Gisna yang membuat cewek itu memanyunkan bibir karena tak mendapat jawaban. Tanpa berlama-lama memaksa cowok di depannya menjawan pertanyaannya, Gisna segera naik di jok belakang. Tangannya perlahan menarik sedikit bagian jaket milik Bryan untuk sekedar berpegangan. Melewati gemerlap kota Jakarta yang selalu ramai, lampu- jalan dan lampu kendaraan yang lalu lalang semakin memperindah keadaan kota dari sudut pandang tertentu. Di dukung oleh cahaya bulan yang membentuk lingkaran sempurna menghias malam. Sampai di lampu merah, motor Bryan berhenti karena mematuhi peraturan lalu lintas meski tanpa sadar mereka berdua selalu melanggarnya karena Gisna jarang mengenakan helm ketika pergi dengan cowok yang beberapa bulan ini menjadi tetangga kamar kosnya. "Na!" panggil Bryan menarik tangan Gisna untuk sedikit lebih dekat dengannya. "Hm..." "Apa yang gue ucapin di kampus tentang perasaan gue setelah liat elo di jemput Fathur kemarin...." Ucapan Bryan berhenti terdengar menggantung, ada kebimbangan disetiap katanya antara mengucapkan atau hanya menyimpannya sendiri. "iya. Kenapa?" Tanya Gisna mendesak tak sabar apa yang akan di ucapkan yang kini sedang menggenggam tangan kirinya. "Gue gak bohong soal gue cemburu. Dan gue bercanda jika seorang Bryan tak tertarik dengan cewek bernama Gisna!!!" TBC 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD