Jam dinding yang terpanjang di sebuah dinding kamar itu sudah menunjukkan waktu sudah larut malam, namun sang pemilik kamar belum juga tertidur, ia masih terjaga dengan kedua tangan saling bertaut, pikirannya tidak bisa tenang, beberapa malam kemarin ia juga masih sama, tetap mengalami kesusahan untuk sekedar memejamkan matanya. Heningnya malam membuatnya semakin berpikir keras, hati dan fikirannya tiba-tiba menjadi menyatu. Menanyakan sebuah hal sejak kemarin menghantuinya.
Bayang-bayang kenangannya dengan Bryan, lelaki yang tiba-tiba pergi dari hidupnya begitu saja tanpa sebuah kata pamit terus berputar. Gisna benar-benar tidak bisa menutup mata untuk masalah Bryan, berulang kali ia menegaskan pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja namun kenyataannya salah. Hatinya tetap mencari penenangnya selama ini, Gisna baru menyadari betapa dalamnya perasaannya terhadap Bryan, lelaki yang ia kenal tanpa sengaja, dengan berjuta misteri yang satu persatu Bryan ceritakan kepadanya.
Wajah sedunya hilang seketika kala ia melihat sebuah bayangan di balkon luar kamarnya. Bayangan seseorang, suasana mendadak mencekam. Apakah ada pencuri di malam hari seperti ini. Entahlah! Gisna mendadak ketakutan, bodohnya lagi ia yang gugup dan khawatir akan terjadi sesuatu mendadak berdiri mendekati bayangan hitam yang tetap berdiri di depan pintu balkonnya, dari bayangannya terlihat bahwa sosok itu mencoba membuka knop pintu Gisna.
Sosok bayangan itu terhenti kala Gisna sudah berdiri di hadapannya yang terhalang pintu dan tirai, pantas saja Gisna tidak dapat melihat siapa yang berani datang ke rumahnya malam hari seperti ini. Gisna membuka tirai, pandangannya terkunci, dia belum sadar sepenuhnya tengah berhadapan dengan siapa, Gisna dengan tatapan mencoba tampak biasa saja perlahan memutar knop pintu yang terkunci itu.
Begitu pandangan keduanya benar-benar terbuka, Gisna diam, ia sudah mengenali siapa yang ada dihadapannya yang menggunakan topi dan masker hitam itu. Gisna mulai berkaca-kaca dan nyeri di dadanya semakin menjadi, menambah air mata di kelopak matanya semakin mendorong untuk keluar tak mampu ia bendung.
“Kamu…!”
“Sssstttt!!!!” Ucap sosok itu kala dihadapannya mulai menangis dengan kencang, suara gadis itu benar-benar memekik dan akan terdengar. Tak sungkan, tangannya membungkam mulut Gisna agar suaranya tidak terdengar. Perlahan ia membuka topi dan maskernya sambil menuntun Gisna untuk duduk di tepi tempat tidurnya, tentunya masih dengan mulut yang disekap oleh Bryan.
Gisna memang sudah menghentikkan teriakan tangisan histerisnya namun ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Bryan yang kini sudah berdiri nyata di hadapannya, ia memandang lekat Bryan dengan air mata yang terus mengalir, bahkan tangan Bryan ikut basah karenanya.
“Sudah!” Bisik lembut Bryan perlahan melepas tangannya dari mulut Gisna yang tadinya ia bungkam.
Gisna langsung memeluk Bryan dengan begitu erat, sedangkan Bryan membalasnya dengan senyuman manisnya. Dari pelukan Gisna, Bryan sudah tahu seolah dia tidak dibiarkan pergi lagi padahal baru beberapa hari, ah bukan lebih dari seminggu ia pergi dan bisa dibilang tanpa pamitan yang lebih layak dari keluarga Gisna.
“Pokoknya Kak Bryan nggak boleh tinggalin gue lagi, gue nggak mau tahu! Pokoknya jangan pergi lagi! Kak Bryan kemana aja sih? Kenapa nggak pulang lama? Kakak juga nggak angkat telepon gue sama sekali!” Rutuk Gisna dengan berbagai pertanyaan kepada Bryan, sedangkan Bryan hanya diam sambil mengelus lembut punggung Gisna. Sederet pertanyaan dari Gisna untuknya bahkan tak ada yang ia jawab, ia hanya semakin menarik lembut tubuh Gisna akan semakin menempel padanya, mendekapnya erat agar gadis dalam pelukannya itu lebih tenang.
Begitu tangisan gadis itu sudah reda, Bryan melepaskan pelukannya mengangkat wajah Gisna untuk menatapnya. Gisna dengan wajah sembabnya menatap mata hitam pekat yang memiliki sorot mata yang begitu tajam milik Bryan, yang dulu selalu ia hindari karena debaran aneh yang muncul di dadanya, kini menjadi bagian yang paling favorit dari sosok Bryan.
“Gisna! Gue nggak bisa ketemu sama elo sekarang! Untuk beberapa waktu yang lama!” Ucap Bryan menggenggam kedua tangan Gisna agar gadis itu tidak memberikan respon terdahulu, Bryan ingin Gisna mendengarkannya terlebih dahulu.
“Kenapa?” Tanya Gisna yang tampak mulai berkaca-kaca lagi dan menahan sakit di tenggorokannya yang tiba-tiba terasa tercekat, untuk menelan saliva saja sangat susah dan lidahnya terasa kelu.
“Gisna! Gue nggak bisa! Ini terakhir gue ketemu elo! Gue mau kita berpisah baik-baik.” Ucap Bryan menjelaskan kembali dengan pelan meski ia bisa melihat raut wajah Gisna yang mulai memerah seiring dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.
“Kenapa Kak? Bukankah selama ini kita masih bisa bertemu? Gue juga nggak ganggu elo kok! apapun urusan elo, Gisna coba paham.” Ucap Gisna dengan suara paraunya, padahal ia sudah menduga dengan pasti bahwa hal ini pasti terjadi lagi.
“Nggak! Nggak! Gisna nggak mau pisah dari Kak Bryan. Nggak! Gisna janji nggak bakal ikut campur sama urusan Kak Bryan dengan segala musuh Kakak!” Ucap Gisna masih menawarkan syarat agar Bryan tidak meninggalkannya.
“Gue nggak bisa Na! Gue sayang banget sama elo! Tapi gue nggak bisa cewek yang gue cintai ikut ke hidup gue yang begitu rumit ini!” Ucap Bryan masih bersikeras menolak, ia teguh pendirian bahwa ia akan meninggalkan Gisna demi kebaikan gadis itu, ia sangat yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak ada yang terluka.
“Kak Bryan!..” Rengek Gisna tidak henti-hentinya terus mendesak Bryan untuk mengubah keputusannya, sayangnya Bryan hanya menggeleng cepat dengan senyumannya, keputusannya sudah bulat.
“Kak Bryan! Gue sayang banget sama elo! Plisss,, jangan tinggalin gue! Plisss Kak! Apa nggak ada cara lain lagi, selain ini. Gisna nggak bisa Kak! Gisna mohon!” Ucap Gisna dengan suara yang parau, air mata yang bercucuran dan nada bicara yang sudah putus asa.
Bryan menarik Gisna ke pelukannya kembali, ia hampir goyah. Dia tidak kuasa melihat Gisna yang memohon setengah mati kepadanya. Bryan menghapus air mata yang tiba-tiba keluar dari sudut matanya agar tidak terlihat oleh Gisna. Gisna memeluk erat Bryan, ia menhirup kuat aroma khas dari tubuh Bryan yang kini menjadi candunya.
“Lo harus bahagia Na! baik-baik, jaga diri elo pokoknya! Gue nggak bisa berada disamping elo seterusnya.” Bisik Bryan membuat Gisna kembali terisak dalam pelukannya. Gisna menggeleng, dia benar-benar tidak mau ditinggal.
“Kak Bryan harus janji sama gue, kalau Kak Bryan bakal balik lagi ke Gisna kalau semuanya udah beres.” Ucap Gisna membuat Bryan menghela nafas dalam-dalam, rupanya gadis di dalam pelukannya ini sama keras kepalanya dengannya.
“Lo tahu Na! gue nggak mau janjiin apapun sama elo! Karena gue nggak mau lo ngejalani hidup elo selanjutnya karena berpegang sama janji gue yang entah bisa gue tepati apa nggak!” Ucap Bryan membuat Gisna melepaskan pelukannya, menangkup wajah Bryan dengan kedua tangannya. Gisna menatap Bryan dengan air matanya yang sudah basah sedangkan mata Bryan hanya memerah.
“Kak Bryan! Gisna nggak bisa!” Rengek Gisna dengan wajah yang kembali memerah dan menangis, ya sejak awal pertemuan Bryan hari ini ia hanya bisa menangis dan menangis apalagi ia kini tahu, kedatangan Bryan hanya untuk sekedar memberikan salam perpisahan yang manis untuknya.
“Na! Lo harus percaya sama gue! Kalau gue ninggalin elo ini! Bukan karena gue mau ngasih luka sama elo! Atau karena gue nggak sayang sama elo! Percaya sama gue! Perasaan gue sama elo lebih dalam daripada yang elo kira, ini semua demi kebaikan elo!”Ucap Bryan mencoba menyakinkan Gisna yang perlahan merenggangkan kedua tangannya yang tadi melingkar di pinggang Bryan.
“Kalau memang begitu! Kak Bryan harus janji sama Gisna, gue nggak mau tahu! Pokoknya harus janji balik lagi ketemu Gisna, kapanpun Gisna bakal tungguin Kak Bryan!” Ucap Gisna membuat Bryan menarik nafas Panjang, ia sama sekali tidak bisa mengalahkan ego Gisna, ia selalu tidak tega jika Gisna sudah bercucuran air mata.
“Iya! Gue bakal balik kalau semuanya udah selesai!” Ucap Bryan akhirnya mengikuti permintaan Gisna yang tadinya ia tidak ingin berjanji apapun kepada gadis itu.
“Iya beberapa tahun ke depan dia mungkin akan lupa! Janji bakal tinggal janji!” Batin Bryan kemudian menatap mata Gisna yang sudah memerah sejak tadi, Lelah karena terus mengeluarkan air matanya.