SEPARUHKU TELAH PERGI

1033 Words
Suasana makan malam hening, tidak ada obrolan sama sekali diantara penghuni yang kini juga sedang menyantap hidangannya. Beberapa orang saling lempar pandang memberikan signal untuk memberikan perhatian mereka ke salah satu anggota yang sejak tadi menyuapkan sendoknya ke mulutnya tampak tidak berselera. Gadis itu hanya menunduk dengan pandangannya kosong, berusaha menyembunyikan bahwa kini fikiran dan hatinya sedang berfikir keras sedangkan raganya tetap seperti biasa melakukan aktivitas seperti biasanya. Mereka semua tahu semenjak kepergian Bryan beberapa hari yang lalu yang serba mendadak membuat Gisna seperti orang yang linglung. Cowok itu pergi begitu saja, menghilang bak ditelan bumi, tanpa berpamitan dengan Gisna. Sebenarnya, yang membuat Gisna semakin merasa terpukul dan pikirannya merajalela adalah Gisna tahu keluarganya berbohong bahwa Bryan hanya pergi ke supermarket sedangkan Gisna tahu dengan mata kepalanya sendiri bahwa Bryan pergi dengan dibawa oleh mobil polisi. “Dek!” Panggil Ayah Gisna yang melihat Gisna tiba-tiba mengusap pipinya yang ada air mata yang telah luruh. “Iya Yah?” Tanya Gisna mendongakkan kepalanya, menatap Ayahnya dengan senyumannya seolah tidak ada yang terjadi dan semuanya baik-baik saja. Bara, sang abang yang sudah mengetahui segalanya yang sebenarnya, melihat betapa Gisna yang hancur dan meratapi Bryan, Bara juga tidak bisa membenci Bryan karena telah memperlakukan adiknya sedemikian rupa. Ia sangat tahu bahwa Bryan adalah sosok cowok misterius dengan sejuta misteri yang saling terkait. “Adek nggakpapa kan?” Tanya Ibu Gisna membuat Gisna mengangguk dengan senyumannya. Dia tersenyum, dia tidak mau membuat keluarganya khawatir. “Kalau ada apa-apa cerita ya!” Ucap Ayah Gisna yang akhirnya mengakhiri untuk tidak ingin memaksa Gisna untuk bercerita, nampaknya putrinya memilih memendamnya sendiri, memendam kegelisahan dan kekhawatiran kepada cowok yang baru dikenalkan oleh Gisna kepadanya. Ayah Gisna sangat tahu bahwa Bryan bukan sekedar temen kenalan Gisna, terlihat dari sorot mata putrinya ketika berbicara atau membicarakan Bryan begitu berbinar dan sangat senang. Wajar saja, jika Gisna sepertinya tidak menyangka jika Bryan pergi dengan cara seperti itu. Sedangkan Ayah Gisna yang mengerti bahwa dia menyaksikan Bryan. *** “Om jangan kasih tahu Gisna ya kalau saya pergi!” Ucap Bryan memberikan peringatan terlebih dahulu kepada Ega, ayah Gisna. “Tapi kamu mau kemana Nak Bryan? Kenapa mobil polisi itu mau membawa kamu?” Tanya Ega yang membuat Bryan terdiam melihat sorot mata Ega begitu khawatir mengingatkannya kepada Gisna. Bryan sangat ingat apa yang membuatnya lebih menjaga dirinya adalah tangisan khawatir Gisna membuatnya membeku dan ikutan merasakan ngilu yang menyerang dadanya, seperti sebuah belati sengaja digoreskan di hatinya. “Ceritanya sangat Panjang Om! Terimakasih atas segala kebaikan yang Om Ega berikan selama Bryan disini.” Ucap Bryan dengan senyumannya, ia tampak ragu. Jika ia menceritakan hidupnya yang penuh dengan tinta hitam, akankah ia masih diterima dengan baik di keluarga ini. “Om akan sangat mencoba mengertinya, jelaskan dulu! Bagaimanapun Om bisa bayangkan orang tua kamu juga panik melihat kamu dijemput oleh mobil polisi seperti ini.” Ucap Ega rupanya tidak menyerah begitu saja meski Bryan mencoba menutupinya,ia terus mendesak agar Bryan memberikan penjelasan atas apa yang sedang terjadi saat ini. “Bryan melakukan suatu kejahatan Om dengan alasan tertentu, Bryan tidak ada waktu untuk menjelaskannya, terlalu Panjang ceritanya. Om bisa bertanya dengan Bara! Dia tahu seluk beluk, hitam putih hidup Bryan.” Ucap Bryan dengan senyumannya, rupanya ia memilih tidak menceritakannya kepada Ega, ia tidak siap dengan respon Ega yang akhirnya membencinya karena mengetahui yang sebenarnya. Biarkan dia pergi dan mungkin tidak kembali lagi. “Bryan bukan orang yang baik-baik Om, Bryan tidak akan datang lagi dan menemui Gisna, putri Om yang sangat baik dan meninggalkan kenangan untuk Bryan. Bryan sangat menyadarinya itu dan sangat tahu diri.” Ucap Bryan dengan senyumannya, senyuman dan tatapannya menggambarkan sebuah kepiluan mendalam, sedangkan Ega semakin dibuat penasaran, kejahatan apa yang telah diperbuat lelaki muda itu sampai harus dijemput dengan mobil polisi. “Kamu jangan ngomong gitu!” Ucap Ega yang merasa tidak enak sedangkan Bryan hanya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya, bahwa ia sangat tahu apa yang ia lakukan. “Tidak! Jika Om tahu cerita yang sebenarnya, Om akan meminta Bryan untuk pergi dari Gisna secepatnya. Demi kebaikan Gisna. Sekali lagi! Terimakasih! Bryan pamit Om!” Ucap Bryan masuk ke mobil polisi yang memberikan isyarat bahwa mereka sudah tidak bisa memberikan waktu lagi. Ayah Gisna, Ega hanya diam menatap mobil polisi yang sudah perlahan melajukan kecepatannya dengan pelan-pelan. Menatap mobil itu sampai menghilang dari pandangannya, Ega menghela nafasnya kasar, ia sendiri juga tidak mengetahui apa yang telah diperbuat teman satu sekolah putranya, Bara. “Apa yang sebenarnya dilakukannya? Mengapa ia menjadi buronan?” Batin Ega mengungkapkan kegelisahannya yang pasti ia tahu tidak akan terjawab jika ia tidak bertanya pada Bara atau kalau tidak Bryan yang tadi harusnya memberi tahunya sendiri. Sedangkan Bryan yang sejak tadi menatap ayah Gisna yang hanya berdiri menatap kepergiannya hanya tertunduk, ia menatap borgol yang sudah terpasang di tangannya. Ia menghela nafasnya berkali-kali sampai polisi disampingnya menatapnya dengan bertanya-tanya. Tidak ada obrolan sama sekali. Bryan menyerah, ya Bryan rupanya menyerah dia sudah sampai di tahap akhir? Tahap akhir yang akhirnya dirinyalah yang menjeblos di penjara. Apakah ini salah satu bentuk untuk perngorbanan kepada Gisna, memastikan bahwa gadis itu akan baik-baik saja selama ia pergi, ah bukan lebih tepatnya setelah ia pergi, karena Bryan sudah memantapkan hatinya bahwa ia tidak akan datang lagi ke kehidupan gadis itu, meski kenyataannya Gisna lah yang datang sendiri ke hidupnya. Bryan tersenyum kala mengingat awal pertemuan Gisna dengan dirinya, berawal dari sekotak s**u yang lupa dibayar oleh Gisna. Dia tidak menyangka kisahnya berakhir dengan ia begitu mencintai gadis itu, gadis yang mampu mencairkan es dalam hatinya yang sejak lama ia bangun. Kini ia begitu luluh, sampai apapun akan ia korbankan demi gadis itu. Sayangnya kisahnya sudah berakhir hari ini, ia pergi dari kehidupan Gisna dengan perasaannya yang semakin dalam kepada gadis itu. Pada akhirnya dia tetap memberikan luka kepada gadis yang ia cintai, ia melindungi Gisna setengah mati agar gadis itu tidak terluka, pada akhirnya dirinya lah yang memberikan luka dalam kepada Gisna. “Selamat Tinggal, Gisnaku!” Terucap kalimat selamat tinggal dari bibir Bryan dengan begitu lirih namun kedua polisi disampingnya bisa mendengarnya, mereka lebih tepatnya memilih berpura-pura tidak mendengarnya, mereka tahu apa yang membuat buronannya tampak dengan mudah menyerahkan dirinya, apalagi jika bukan cinta anak muda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD