WASIAT KAKEK

1016 Words
Jakarta, Markas besar komplotan Dendy. Semua orang disana yang berpakaian hitam tengah mengerumuni bos besarnya yang sedang mendapatkan kunjungan tamu disana. Seorang pengacara ayahnya, ah lebih tepatnya mendiang ayahnya. Dia membawa sebuah dokumen penting yang menjawab semua rasa penasaran anak buahnya terhadap perintah yang diberikan oleh Dendy. Mereka tidak menemukan sebuah alasan yang pas, mengapa Dendy terus memburu sang keponakan yang usianya masih menginjak 20 an. Terlebih masih menempuh Pendidikan di perguruan tinggi Jakarta. “Jadi benar? Seluruh harta ayahku akan diberikan sama cucu sialannya itu?” Tanya Dendy tampak tidak sabar kala sang pengacara mencoba mencari lembaran kertas yang ia minta. Sang pengacara menatapnya datar kemudian mengangguk, memang benar adanya bahwa kliennya sudah menuliskan sebuah wasiat dimana sang penerima warisan utama adalah cucunya, bukan putra kandungnya atau bahkan anak tirinya yang tak lain adalah Heru. “Sialan! Tua bangka itu apa tidak bisa melihatku sebentar, aku masih hidup! Kenapa justru semua aset miliknya diberikan sama Bryan!” Ucap Dendy entah pada siapa kenyataannya memang begitu. Dia sangat terlihat geram, wajahnya memerah padam. Tadinya Dendy tidak ingin percaya, namun melihat dokumen asli dan juga cap dari perusahaan itu sendiri membuat kebenciannya pada Bryan kian menjadi. “Wil! Lo cari dimana Bryan berada!” Ucap Dendy galak, dia memberikan perintah kepada anak buah kesayangannya, apalagi jika bukan untuk melampiaskan kekesalannya terhadap surat warisan yang baru saja ia baca, namun sang pengacara dengan cekatan segera merebutnya. Dendy tadinya sangat marah akan sikap sang pengacara namun dia tahu, diam-diam ayahnya pasti sudah memerintahkan seseorang untuk mengawasinya sehingga pengacaranya pun tampak hafal dengan tabiat dirinya yang akan mengamuk jika Dendy sedang marah. “Dia sedang berada di Bandung bos!” Ucap Wilis menunjukkan sebuah map di ponselnya, sebuah titik yang menunjukkan bahwa sang keponakan yang ia incar memang sedang berada di Bandung. “Oke! Tio lo bikin rekayasa sama kirim bukti ke kantor sekitar dimana Bryan berada, biar mereka memiliki surat untuk penangkapan.” Terang Dendy, anak buahnya segera bergegas menuruti ucapan bos besarnya. Semuanya meninggalkan markas mereka siap untuk ke Bandung menjemput Bryan dari rumah Gisna. Tapi tampaknya Dendy sendiri belum mengetahui bahwa keberadaan Bryan disana, yang tak lain adalah di rumah Gisna. “Kamu tidak bisa melakukan hal serendah itu!” Ucap sang pengacara yang rupanya sejak tadi mengikuti langkah Dendy menuju mobilnya dari belakang. “Apa urusan lo? Gue bakal pastikan kalau surat itu nggak bakal berlaku kalau Bryan sudah tidak hidup lagi!” Tandas Dendy sebelum menutup pintu mobilnya, mereka semua melesat pergi dengan mobil yang melaju dengan kecepatan penuh. Sang pengacara kakek Bryan hanya menggelengkan kepalanya, tidak menyangka dengan sikap keluarga kliennya. Meskipun dia tidak heran karena memang dia berhadapan dengan seorang mafia. Ruby, sang pengacara sebenarnya sudah mengetahui bahwa ada hal yang tidak beres dari keluarga Yogi. Lelaki setengah baya itu sudah mencium bau ketidak beresan saat kliennya secara terang-terangan menolak jika warisan dijatuhkan kepada Dendy, putra kandungnya. Justru pada Bryan, bahkan garis keturunan pun tidak dimiliki anak muda itu. Perjalanan tampak tenang, tidak ada obrolan meski beberapa pengemudi tidak tidur. Tio dan Wilis hanya bisa melemparkan tatapan mereka. Seolah naluri batin mereka sudah bisa berbicara dengan sendirinya. Dapat jelas disadari bahwa keberadaan Dendy dalam satu mobil membuat suasana tampak terasa canggung, Wilis pun tampak menyetir dengan kaku karena setiap ia melihat spion belakang yang ia dapatkan justru tatapan datar dari bos besarnya itu. “Sepertinya Bryan berada di rumah Bara bos!” Celetuk Tio yang rupanya sejak tadi terus memperhatikan titik yang menunjukkan keberadan Bryan di layar ponselnya. Dendy tidak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum sinis menatap luar jendela. Wilis dan Tio hanya mengendikkan bahunya melihat sikap Dendy yang membisu. Dibalik diamnya pria itu masih menyimpan beberapa u*****n bahkan rencana jahat lainnya untuk Bryan. “Bagus! Kita bisa merusak pandangan orang tua pacarnya.” Ucap Dendy membuat Wilis mengerutkan keningnya, kenapa justru membawa-bawa keluarga Gisna sekarang. “Maksud bos?” Tanya Wilis justru membuat Dendy tertawa nyaring, tampak puas. “Iya, kita akan memberikan kejutan pada keluarga Bara. Bahwa pacar putri kesayangannya adalah seorang buronan.” Ucap Dendy kemudian diiringi dengan tawanya yang terdengar lepas dan sangat puas. Dendy perlahan tidur, sedang Wilis dan Tio hanya menggelengkan kepalanya. Meski mereka tidak setuju dengan sikap Dendy yang menurutnya terlalu ambisius pada hartanya. Padahal Dendy juga memiliki kekayaan yang tidak sedikit, namun lelaki paruhbaya itu masih saja bersikeras untuk merebut harta milik Bryan. “Bukankah ini terlalu beresiko bos?” Tanya Tio menoleh pada Dendy, seketika mata Dendy terbuka kembali. Sorot matanya tajam, menusuk Tio yang tampak kelagapan dan segera membenarkan posisi duduknya untuk menghadap ke depan kembali. Wilis menggigit bibir bawahnya, dia sudah merasakan suasana mencekam di sekitarnya. Bahkan bulu kuduknya berdiri, setelah Tio menyelesaikan ucapannya. “Maksud lo apa? Lo mau bilang kalau lo nggak bisa nyerahin bukti itu ke kantor polisi?” Hardik Dendy nyalang dengan nada tinggi membuat seluruh pengemudi tampak terduduk tegap, bahkan beberapa anak buah yang sempat tidur kini terbangun lagi. “Bukan gitu bos!” Ucap Tio langsung meralat ucapannya, dia menepuk bibirnya berkali-kali karena sudah memancing kemarahan sang bos. “Sudahlah jangan banyak protes! Lebih cepat lagi! Gue udah nggak sabar menjemput Bryan dengan mobil polisi.” Ucap Dendy yang dibalas anggukan Wilis, lelaki itu segera menginjak gas penuh begitu mobil masuk ke jalan tol. Tio hanya menghela nafas, bukankah nasehatnya benar. Bagaimana jika polisi curiga karena dia menyerahkan bukti palsu? Sedangkan polisi sendiri pasti mengincar Dendy karena dia adalah pemimpin bandar n*****a. Mereka menepi sejenak beristirahat di peristirahatan setengah jalan, Dendy memilih untuk ke toilet. Dia sudah menahannya semenjak keberangkatannya, karena terlalu antusias dan emosi bersamaan karena menghadapi pengacara ayahnya. “Lo tuh ngomong apa sih Yo! Jelas-jelas bos pemarah ngapain elo nasehatin segala!” Semprot Wilis begitu memastikan Dendy sudah menghilang dibalik pintu toilet. “Kenapa? nggak ada salahnya kan?” Tanya Tio yang rupanya masih belum sadar akan kesalahannya hari ini. “Gila lo emang…” Ucapan Wilis tidak selesai setelah melihat Dendy berjalan menuju arahnya yang ada nanti justru amukan dan membabi buta. Sudah sangat menjadi rahasia umum, jika Dendy memiliki temperamental yang sangat tinggi. Sekali pun pada anak buahnya, dia tidak peduli. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD