TEMBOK TINGGI

912 Words
Gisna mulai membuka matanya ketika cahaya mulai masuk dari cela-cela tirai jendela. Gisna diam menatap langit-langit kamarnya, membayangkan hal yang terjadi akhir-akhir ini. Dari dia mulai mengenal ayah Bryan yang tak pernah di ceritakan oleh Bryan, kabur ke Jogja dan yang terakhir beberapa pecan lalu ia habiskan dengan Bryan. Gisna mengikat rambutnya asal sembari berjalan menyikap tirai jendelanya. Pemandangan diluar sungguh membuatnya tersenyum, ayahnya sedang menghabiskan kopi ditemani Bryan yang dengan seksama menyimak segala cerita ayah yang menurut Gisna pasti membosankan. Gisna bergegas mandi, bergegas membersihkan dirinya dan segera menimbrung ikut dengan keluarganya ditambah satu insan istimewa yang kini juga bersama dengan keluarganya. Gisna bahagia ia tak bisa memungkiri bagaimana tidak, Bryan laki-laki yang ia cintai tanpa sadar cukup lama akhir-akhir ini memberikan sejuta warna dalam hidupnya. Keluarganya tanpa canggung menerima keberadaan laki-laki itu. Dunia benar-benar sempit menurutnya, berjuta misteri mulai terpecahkan. Bryan yang rupanya adalah teman bangku sma kakaknya sendiri. Pertemuannya dengan Bryan benar-benar konyol jika diingat, hanya dengan sebuah s**u kotak berakhir panjang sampai timbul sebuah perasaan tak terduga. Bryan yang sedang mengobrol dengan ayah Gisna tersenyum malu, diam-diam sejak tadi rupanya ia sudah mengetahui jika Gisna memperhatikannya dari kamar atas. Begitu ayah Gisna mengetahuinya, Bryan hanya menunduk ia benar-benar malu tertangkap basah oleh ayah dari gadis yang ia cintai selama ini. “Kenapa nak Bryan?” Tanya ayah Gisna memandang Bryan yang tiba-tiba terbata. “Nggakpapa kok, Om!” Jawab Bryan tersenyum malu-malu, pandangannya langsung ia alihkan dari jendela kamar Gisna. Senyum Bryan memudar, begitu melihat sebuah mobil polisi berhenti tepat di depan gerbang masuk rumah Gisna. Tak hanya dirinya namun ayah Gisna pun mengerutkan keningnya, terkejut dengan dua polisi yang menekan bel secara bergantian. Ayah Gisna pun segera datang untuk membukakan pintu untuk mereka, Bryan menyusul dengan langkah berat ia sudah mencium bau-bau kecurigaan disana. “Selamat pagi Pak! Saya dapat laporan adanya buronan di rumah Bapak!” Ucap salah satu polisi tanpa basa basi, ayah Gisna menerima uluran selembar kertas dan membaca nama yang dimaksud sebagai buronan. Tertera nama seorang lelaki yang kini berada disampingnya dengan wajah pucatnya. “Saya Pak! Bryan Prayogi!” Celetuk Bryan membuat dua polisi dihadapannya terkejut, terlebih dengan wajah tenang Bryan tidak berniat kabur sama sekali. “Kalau begitu anda ikut saya! Untuk pemeriksaan lebih lanjut di kantor!” Ucap salah satu polisi mendekat pada Bryan. Bryan pun tampak tenang kemudian ia memandang raut wajah ayah Gisna yang tidak bisa berbohong betapa cemasnya dia melihat laki-laki yang seumuran dengan anaknya tampak tenang saja. “Om! Jangan kasih tahu Gisna ya! Bryan pamit dulu! Terimakasih atas kebaikan Om!” Ucap Bryan yang langsung dibalas anggukan oleh ayah Gisna meski ia tidak bisa menutupi jika ia sedang mencemaskan Bryan. Bryan pun masuk ke dalam mobil polisi, ayah Gisna hanya tertegun di tempatnya memandang mobil yang membawa lelaki misterius menurutnya itu pergi. Ia sedang mencoba memahami sebenarnya situasi apa yang sedang terjadi. “Ayah! Mas Bryan mana?” Celetuk Gisna dari belakang membuyarkan lamunan ayahnya. Ayahnya memutar balik badannya dengan senyum palsunya mengusap rambut anaknya itu, raut wajah Gisna tak bisa berbohong di depan ayahnya. Perempuan itu menyimpan rasa pada lelaki yang dibawa pergi oleh mobil polisi. “Keluar sebentar katanya! Beli rokok!” Ucap ayahnya kemudian bergegas masuk, ia tidak kuasa karena membohongi anaknya. Gisna yang tampak tenang dengan wajah palsunya, hatinya mencoba menebak karena ia tahu jika ayahnya sedang berbohong. Ia melihat ponsel Bryan yang diletakkan di atas meja teras bersama sebungkus rokok dan korek. Gisna tahu Bryan sedang tidak baik-baik saja. Gisna menundukkan kepalanya, sejak mengenal Bryan ia tidak pernah merencanakan kedepannya akan bagaimana. Pasalnya hidup Bryan penuh dengan kejutan yang tidak pernah Gisna sangka kedepannya akan terjadi. Tapi bersama Bryan, Gisna tidak pernah meragukan segalanya, tidak takut akan ancaman yang datang seolah-olah ia sangat percaya jika lelaki yang tadinya hubungan mereka sebatas tetangga kamar kini begitu lekat. Ia melihat Bryan masuk ke mobil polisi, pura-pura seolah ia tidak mengetahuinya. Begitu masuk kamar ia terdiam. Ia duduk bertumpukan kedua tangan di atas lututnya. Ia kesal mengapa ayahnya juga ikut membohonginya. Ia bukan anak kecil bukan, ia menangis dalam diam berusaha agar tangisannya tidak terdengar oleh penghuni rumah lainnya. TOK…TOK… “Na! ini Abang!” Ucap Bara dari luar kamar, begitu mendengar suara kakaknya Gisna segera bangkit dan membukakan pintu kamarnya. Bara masuk dan menatap wajah adiknya yang sudah berantakan karena air mata membasahinya. “Bryan bakal balik kesini kan Bang!” Ucap Gisna langsung memojokkan Bara dengan berbagai pertanyaan. Sedangkan Bara, ia sendiri bungkam tak bisa menjawab situasi yang ia sendiri susah untuk menebak kedepannya akan bagaimana laki-laki itu. ia sangat mengenal Bryan, sahabatnya itu sangat susah ditebak dengan jalan fikirannya. Hingga terkadang ia tidak menduga-duga alasan Bryan melakukan satu hal, membuatnya sering salah paham. “Abang nggak bisa janjiin sesuatu hal Na! Dia bakal balik!” Ucap Bara memeluk adiknya yang kembali terisak. Usapan lembut kakaknya di punggung semakin membuat Gisna frustasi. Respon Bara yang seperti ini justru membuatnya tahu, kondisi sedang sangat rumit apapun bisa terjadi mengingat hal-hal besar telah terjadi belakangan ini. “Kamu menyimpan rasa kan sama Bryan?” Tanya Bara mencoba menatap mata Gisna yang langsung mengalihkan pandangannya begitu sesuatu yang sensitive sedang ditanyakan kakaknya kepadanya. “Gisna! Kamu pasti kini sudah mengenal Bryan itu lelaki seperti apa! abang harap kamu tahu kedepannya hal-hal yang tidak mungkin pasti akan terjadi.” Ucap Bara seolah memepringatkan bahwa yang sedang dicintai adiknya itu bukan orang sembarangan, dengan masa lalu yang rumit dan juga musuh dimana-mana. TBC 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD