32. DISTANCE

1157 Words
Seseorang tengah mengamati rekannya yang sedang berdiri di loket stasiun, tatapan gadis itu begitu sendu. Seolah mata sayu itu ingin menumpahkan segala kejelasan yang harusnya mempersatukan mereka. Mengingat kejadian semalam, Gisna benar-benar sedih karena kesalahpahaman dalam situasi seperti ini justru memperburuk suasana. Bryan mengamati Gisna yang sejak tadi melamun menatap dirinya. Bahkan gadis itu tidak sadar jika Bryan tengah menatapnya juga. Begitu tiket sudah di genggamannya Bryan menghampiri Gisna yang seketika menunduk menyembunyikan wajah sedihnya. “ Setengah jam lagi keretanya berangkat. “ ucap Bryan meraih tas ranselnya. “Huh?” tanya Gisna terbangun dari lamunannya. Bryan tak berucap justru meraih tangan Gisna dan menariknya pelan untuk berdiri. Gisna diam ketika Bryan membawanya untuk masuk ke ruang tunggu. Gisna benar-benar gelisah, ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. “Kak? “ panggil Gisna yang sejak tadi membisu membuat Bryan menoleh seketika. “Kita akan berpisah disini?” tanya Gisna menatap serius bola mata Bryan yang tampak hitam begitu pekat. “Kenapa lo nggak mau pisah dari gue?” tanya Bryan dengan sebuah senyum sinis yang mampu membuat Gisna bungkam. Kata-kata yang sejak tadi terngiang dalam pikiran Gisna langsung lenyap. Mulutnya pun terkatup rapat menelan semua ucapan yang ingin ia ucapkan. “Bukan gitu.. maksud gue..” “Elo khawatir gue dihajar sama komplotan om gue?” “Elo takut kangenkan sama gue?” Gisna memicingkan pandangannya tampak begitu jelas sorot mata yang ditampilkan Bryan dengan senyuman di setiap ucapan laki-laki itu justru berlawanan. Gisna tak bergeming menatap Bryan yang kini ikut diam karena tidak ada respon dari Gisna. “Huffftt… iya kita pisah disini. Gue naik kereta jurusan Jakarta dan elo bakal naik kereta jurusan ke Bandung. Disana abang elo bakal jemput elo.” Jelas Bryan pada Gisna yang masih menatapnya dalam diam. “Bohong !” satu patah kata Gisna membuat Bryan diam. “ Kakak nggak mungkinkan biarin gue pergi sendiri. Gue udah cek jadwal keberangkatan kereta Jakarta masih lama. “ ucap Gisna sedikit meninggi. Bryan hanya membalas dengan senyuman saja, nampaknya gadis di depannya itu tak bisa ia bodohi. Tak berapa lama kereta jurusan Bandung sudah tiba, Bryan beranjak berdiri seraya menarik tangan Gisna untuk segera menaiki gerbong nomor lima sesuai dengan yang tertera di tiket. *** Seorang lelaki sedang berdiri di tengah kerumunan orang-orang yang berpakaian hitam. Lelaki itu menunduk, kedua tangannya tergenggam begitu kuat. Sedang di tengah orang-orang berbaju hitam tengah duduk seseorang dengan santainya sambil menghisap putung rokok. “ Jadi kamu sudah memihak Bryan sahabat masa remajamu itu?” tanya sesorang yang diketahui sebagai bos komplotan itu. Bara diam mematung, ia sudah siap resiko yang akan ia tanggung entah mati di tempat atau bagaimana berakhirnya sekarang. “Kenapa kamu diam ?” tanya Dendy yang sejak tadi sudah menyembunyikan emosinya. “Apa perlu saya beri pelajaran kamu terlebih dahulu, agar kamu tidak bisu?” tanya Dendy namun Bara diam tak merespon. Dendy mengisyaratkan kepada anak buahnya dengan sekali lirikan matanya mengarah pada Bara. BUGH… BUGH… Bara tersungkur begitu beberapa orang mengeroyoknya. Namun dia hanya diam, dia bisa melawan tapi ia tahu jika ia melawan Dendy tahu cara ia menghentikan aksi berontak Bara. “Masih belum cukup membuat kamu berbicara?” tanya lembut Dendy namun penuh dengan penekanan seperti belati yang membelai namun mempunyai maksud menusuk. BUGH… BUGHH. BUGH.. BUGHH.. Bara sudah tak berdaya, entah mengapa ia punya keyakinan Dendy tidak akan membiarkan ia merenggang nyawa. Tangan Dendy terangkat ke atas, mengisyaratkan anak buahnya untuk menghentikan aksi memukuli Bara yang sudah tak sadarkan diri. “Bara, kamu jangan terlalu bodoh. Bryan sahabatmu itu tidak akan menyelamatkan kamu.” Ucap sinis Dendy melangkahi tubuh Bara yang sudah tersungkur di tanah. BUGH.. BUGH… Wajah komplotan Dendy satu persatu tak terlihat oleh penglihatan. Tapi ia senang bahwa ini akan segera berakhir sekalipun sulit untuknya melewatinya. “Bryan memang tidak akan kesini, tapi gue yakin dia jaga adik gue satu-satunya, Gisna.” Ucap Bara dalam hatinya seraya tersenyum dengan wajah penuh luka lebam. *** Drrt… drrtt.. Getaran ponsel di kantong jaket denim milik gadis yang tengah tertidur di bahu seorang lelaki yang juga tengah memejamkan matanya. Sebuah panggilan masuk membuatnya terpaksa membuka matanya, Ayah is calling… “Halo, Ayah?” ucap Gisna dengan suara serak dan mata yang setengah terpejam. “Gisna dimana? Mas Bara masuk rumah sakit. “ suara seorang laki-laki paruh baya terdengar di seberang sana. “Apa?” tanya Gisna begitu terkejut sampai tak menyadari suaranya meninggi. “ Iya, Mas Bara berantem dengan beberapa orang dijalan. Bisa ke Bandung nggak dek?” tanya Ayah Gisna dengan suara yang terdengar terpaksa diiringi rasa sungkan. “Gisna akan pulang ke Bandung, Ayah.” Ucap Gisna kemudian memutuskan panggilan begitu saja. Gisna diam, mulutnya terkatup rapat menahan air matanya yang sudah ia tahan agar tak pecah. Tenggorokannya begitu sakit dan rahangnya kaku menahan tangisnya selain ia takut mengganggu tidur Bryan, ia juga takut mengganggu penumpang lainnya. “Nangis aja, gue bakal tutupin wajah elo.” Ucap Bryan menarik Gisna semakin dekat dengannya. Mendengar beberapa kata dari lelaki yang masih terpejam yang ternyata ia sedang tidak tidur. Tangis Gisna pecah, air matanya luruh membasahi pipinya. Ia segera menyembunyikan wajahnya pada d**a Bryan agar tak terlihat orang lain. Agar tangisnya juga tak terdengar penumpang lainnya. “Maafin gue Na.” ucap Bryan kemudian merangkul Gisna. Gisna mendengar ucapan permintaan maaf Bryan segera menggeleng dengan keras. Ia tahu kejadian yang menimpa Bara ulah om Bryan, tapi ia tak bisa menyalahkan laki-laki yang beberapa hari ini menghabiskan waktunya dengannya. “ Gue janji ini yang terakhir. Kejadian kayak gini nggak bakal terulang kembali.” Ucap Bryan sambil menepuk pelan punggung Gisna mengusapnya agar tangisnya tak semakin keras. Dengan isakan tangis yang masih tak bisa ia kendalikan, Gisna mengangguk cepat mempercayai ucapan Bryan. Tak berapa lama kereta sampai di stasiun Bandung, berjam-jam duduk di kereta membuat sekujur tubuh begitu pegal dan tak bisa di renggangkan. Seakan kesedihan Gisna teringat kembali kala turun dari kereta melihat ayahnya sudah berdiri menunggu. Bryan terdiam, akankah mengantar Gisna sampai di depan orang tuanya atau pergi begitu saja. “Gisna, gue nganter sampai sini saja ya?” tawar Bryan pada Gisna. Bryan tahu Gisna seperti tak rela, terlihat dari sorot matanya yang redup begitu mendengar ucapan Bryan. Gisna tidak menjawab tapi berjalan menuju ayahnya, Bryan pun tak bisa meninggalkan begitu saja tanpa mendengar jawaban Gisna terlebih dahulu. “Gisna, capek nggak dek?” sapa ayah dengan senyumnya begitu Gisna meraih tangan ayahnya kemudian menciumnya. Mau tak mau Bryan pun menjabat tangan ayah Gisna, dia benar-benar dalam situasi canggung untuk berpamitan pulang ke Jakarta saja. “ini Bryan? Pacar Gisna?” tanya ayah Gisna tersenyum menepuk pundak Bryan. Bryan diam mematung, bagaimana ayah Gisna mengenalnya terlebih mengatakan jika ia pacar Gisna. Bryan tak menjawab hanya tersenyum canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Kita langsung ke rumah sakit yah?” tanya Gisna begitu berjalan menuju mobil ayahnya yang terparkir di deretan mobil lainnya. “Istirahat dulu di rumah.” Jawab Ayahnya kemudian memasukan barang Gisna yang hanya beberapa di bagasi. “Anu… Om… Bryan balik dulu ke…” Ucapan Bryan terpotong begitu mendapat gelengan ayah Gisna dan menuntunnya masuk mobil bagian depan samping pengemudi. Bryan benar-benar kehilangan dirinya, keringat dingin berucucuran begitu ayah Gisna membawanya pulang bersama. Entah ia takut bertemu dengan Bara atau ini yang pertama bertemu dengan calon keluarganya(eh?) TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD