30. KENANGAN LUKA

2132 Words
Matahari semakin di puncak teriknya memberi sengatan yang cukup menyakitkan pada setiap kulit yang berkontak langsung. Hari masih pagi, siswa-siswa sedang melakukan aktivitasnya belajar di SMA Garuda Jakarta. Jam olahraga kelas Sastra masih beberapa menit, semuanya sudah bubar kecuali dua sejoli yang menjadi sahabat sejak kelas 1. Bryan masih sibuk memantulkan bola basketnya ke lapangan di ikuti Bara yang mengejarnya kesana kemari. Menghadangi tubuh Bryan lebih tepatnya tangan Bryan untuk melakukan tembakan ke ring basket. “ Sini dong bang!” goda Bryan pada Bara yang berusaha merebut bola dari tangannya. “ Bacot lo! Jijik gue.” Umpat Bara mendengar nada bicara Bryan yang tampak sengaja di buat-buat. Skor masih Bryan yang memimpin, melakukan satu tembakan lagi makan dipastika pemenangnya adalah Bryan. Bara tidak berkilah tentang handalnya Bryan dalam permainan basket namun soal music Bryan tidak ada apa-apanya dengan Bara. Sstt… Bara bangun dari lamunannya, Bryan mengelabuinya dengan gerakan lihai tangan sahabatnya itu. Dan Bryan berhasil mencetak poin sebagai tanda akhir dari permainan. Bara mengumpat, sudah pasti bahwa dia akan kalah melawan Bryan namun tetap saja ia meladeni ajakan Bryan untuk duel. “ Gue males ah!” ucap Bara kesal Karena Bryan tidak pernah memberi kesempatan dirinya untuk menang. “Najis, setiap kalah pasti ngambek kan lo! Jijik gue.” Cibir Bryan kemudian meninggalkan Bara yang memanyunkan bibirnya seperti bayi minta mainan pada mamanya. “ Tungguin gue dong Bry!” teriak Bara pada Bryan yang berjalan menuju lorong kelas meninggalkan dirinya yang berlari mengejarnya. “ Bodo amat, Bara!” balas Bryan tak kalah lantang ditambah mereka sedang dilorong tentunya setiap suara pasti menggema memenuhi ruangan. *** Bara membereskan alat tulisnya sedang Bryan menunggunya di depan kelas sambil memainkan kunci motornya. Mereka datang paling akhir dan pulang juga paling akhir disbanding teman sekelas mereka. Bara dengan telaten memasukkan setiap perlengkapannya berbeda dengan Bryan yang segera memasukkan bukunya secara kilat tak peduli buku itu terlipat atau tertata dengan benar. Dddrrrttt…dddrrrttt. Ponsel Bara yang ia letakkan diatas meja bergetar menampilkan sebuah nomor tidak dikenal. Wajah Bara berubah drastic menjadi wajah yang muram begitu tahu siapa yang menghubunginya. Dengan keraguan yang menyelimutinya, ia memutuskan untuk mengangkat sambungan telepon yang masih bordering itu. “ Halo!” ucap Bara bersamaan dengan gerakan ia menempelkan benda pipih itu di daun telinganya. Anak muda! Bara Deka Pramesta. Kamu tidak lupa janji kamu kan? Bara mematung mendengar nada menyeramkan dari sambungan telepon. Mata Bara memandang sayu keluar, tepatnya memandang Bryan yang masih sibuk dengan kunci motor miliknya. Bara terdiam, ia masih berusaha menyatukan hati dan fikirannya agar sejalan. Haruskah ia melakukannya? Kau masih disana? Halo! Halo! “Baik saya akan melakukannya sesuai perintah om. Tapi om juga harus menepati permintaan saya.” Ucap Bara menekan satu persatu kata. Mencoba menegaskan jika orang di sambungan telepon itu tidak akan main-main dengannya. Bara mematikan ponselnya, berjalan menuju Bryan yang masih setia menunggunya. Mereka berjalan beriringan sampai parkiran. Bryan berhenti merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diri Bara semenjak keluar kelas. “Lo kenapa? Kesurupan?” Tanya Bryan mencoba mencairkan suasana yang mendadak tegang baginya. “Bry, gue mau ngomong serius sama elo.” Ucap Bara dengan nada dingin, bola matanya yang tajam seolah bisa membekukan setiap benda yang ia lihat. “Kenapa elo mau ngomong apa?” Tanya balik Bryan, mungkin ia mencoba menepis jika Bara tampak dingin tapi begitu sahabatnya mengeluarkan suara. Bryan yakin ada yang tidak beres dari sahabatnya itu. “Sorry, Bry. Tapi gue lebih memilih gabung sama geng om Dendy dibanding berteman sama elo.” Ucap Bara serius membuat Bryan mematung di tempat. Di kelas yang tahu tentang om tirinya hanya Bara, mereka berdua saling hati-hati agar tak pernah terkepung dengan manusia berjiwa iblis itu. Bryan tertawa miris, dari sorot mata Bara terpancar tidak ada kebohongan yang terpancar. “Oh ya, gue mau ngasih tahu kalok elo sekarang bukan putra seorang pengusaha terkaya di negeri ini. Tapi bokap elo bangkrut dan menyerahkan segala asetnya untuk bos gue, om Dendy.” Jelas Bara dengan senyuman sinis tampak merendahkan Bryan yang terdiam. Emosinya tersulut begitu Bara menjelaskannya begitu lancer tanpa beban. d**a Bryan sesak, matanya panas berkaca-kaca ada luka yang ingin luapkan sekarang. Rahangnya mengeras kaku, giginya saling menggertak menahan emosi yang menggebu-gebu. Bug… Bug… Bug… Bryan melayangkan hantaman keras ke Bara, menghajar sahabatnya tanpa ampun. Ah ralat ! mungkin sekarang Bryan tak lagi menyebutnya sahabat namun justru k*****t. Bryan benar-benar meluapkan emosinya yang sudah bruntal. Mungkin saja Bara akan mati hari ini. Bug… Bug… Bug… Bara dan Bryan saling membalas pukulan tak peduli kini wajah keduanya bercucuran darah segar yang membuat wajah keduanya tak rupa wajah. Guru-guru sudah mengelilingi keduanya tapi mereka tak peduli dan tetap melanjutkan perkelahian sengit mereka. “BARA ! BRYAN! HENTIKAN!!!” teriakan lantang dari seorang guru BK menghentikan keduanya. Guru-guru segera mengremuni keduanya dan memisahkan agar tak terjadi sesuatu yang lebih menyeramkan. Bryan menghentakkan semua cekalan guru. Begitu tak ada yang menyentuhnya, cowok itu berjalan menuju motor kesayangannya. “ BARA! GUE NYESEL PERNAH KENAL SAMA k*****t SEPERTI ELO!” Teriakan Bryan yang begitu lantang tentu tak bisa terdengar oleh Bara yang dibawa keruangan BK oleh guru-guru. Sesak dan kecewa bercampur aduk membuat matanya panas serta lidahnya benar kelu untuk sekedar mengucapkan sepatah kata. Tangis Bryan luruh menghapus darah yang tadinya mengalir, perih di wajah karena terkena air mata tak di pedulikannya. Hari ini ia benar-benar merasa hancur. Disisi lain, Bara terdiam dan duduk sendiri di ruangan BK menunggu surat panggilan orang tua. Bukan itu yang ia sesali, tapi ada sesuatu yang membuatnya menggigit bibir bawahnya. Mata yang sejak tadi berkaca-kaca menahan perihnya sesakan di d**a akhirnya luruh. Bara menangis sejadi-jadinya diruangan BK itu, bukankah ia benar-benar seperti pengecut. Guru BK yang akan masuk segera memutar langkah melihat kondisi Bara. Siswa itu mungkin butuh waktu sendiri saat ini, guru itu membuang kedua surat yang ia cetak untuk Bara dan Bryan. *** Bryan memarkir motornya didepan rumahnya yang bisa dibilang cukup mewah. Bau alcohol, wajah hancur ditambah bau asap bercampur menjadi satu menempel dalam tubuh remaja cowok itu. Dia tidak pulang semalam, apakah orang tuanya mencarinya? Jawabannya dia tidak tahu karena ponselnya ia matikan. Seorang laki-laki paruh baya sudah menunggu kedatangannya didalam rumah, Bryan tidak peduli dan mulai menyelonong menaiki tangga menuju kamarnya. Papahnya yang sejak tadi menunggunya di ruang tamu semakin muram karena merasa diabaikan oleh Bryan. “Bryan ! darimana kamu?” bentak Heru sanggup membuat Bryan menghentikan langkahnya. “ Papah Tanya darimana kamu?” Tanya Heru begitu Bryan akan melangkahkan kakinya tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan papahnya. “Mau jadi apa kamu? Pulang sekolah nggak pulang malah bertengkar dan mabuk-mabukan diluar sana.” Omel Heru seraya menghampiri Bryan yang sudah berdiri di tangga akhir. “…” Bryan memandang sendu papahnya yang kini berdiri di hadapannya. Lidahnya tiba-tiba kaku dan rahangnya mengeras. Emosi yang tadinya sudah reda kini naik kembali mengingat apa yang sudah terjadi. Heru menyadari raut sedih dan juga kecewa kini menusuknya. “ Bryan, papah sekarang…” “Bangkrut?” potong Bryan mendahului, sejak tadi Bryan sudah mengetahui ada yang baru dalam rumahnya. Beberapa perabotan yang sudah terbungkus plastic dan juga beberapa lagi hilang entah kemana. Itu artinya, Bryan tidak akan tinggal disini lagi. Tanpa mereka sadari ada sosok di balik kamar yang sedang menahan tangis mendengar perbincangan Bryan dan papahnya. Dia adalah mama Bryan yang tak sanggup melihat pemandangan keduanya. “ Kita tetap tinggal disini sampai kamu lulus SMA. “ ucap Heru berusaha menenangkan Bryan yang justru tersenyum hambar mendengar tuturan kata Heru. “Bryan, nggak mau lagi sekolah. Bryan mau pindah sekolah.” Gertak Bryan dengan nada yang semakin meninggi seolah jika masih ada kelanjutan kata, cowok itu pasti akhirnya berteriak bersama emosinya yang menyeruak keluar. “ Kenapa? Sayang kalok kamu harus adaptasi dengan lingkungan baru. Om Dendy tidak…” “Bryan malu pah, papah sekarang bangkrut. Pokoknya Bryan nggak mau sekolah kalok tidak disekolah baru.” Gertakan Bryan membuat Heru bungkam, dia tidak menyalahkan Bryan yang malu dengan keadaannya sekarang. Dia terdiam tak bergeming membiarkan anak semata wayangnya itu berjalan menuju kamarnya. BLAMMM… Bryan membanting pintu kamarnya, mengobrak-ngabrik seisi kamarnya. Cowok itu menghantamkan tangannya di dinding beberapa kali. Tak peduli darah segar mulai keluar dari buku-buku tangannya. Bryan menangis dalam amarahnya. Ia marah entah pada siapa? Lebih tepatnya pada dirinya sendiri. Bryan tidak malu sama sekali, jika pun kedua orang tuanya bangkrut. Tapi Bryan sudah tidak mau menginjakkan kakinya disekolah dimana ia bertemu Bara, yang ternyata lebih memilih menjadi anggota gangster di banding dengannya. “ Kak, Bryan…” Panggilan seseorang begitu familiar membuat perlahan gambaran masa lalunya kabur dan menghilang entah kemana. Bryan segera membuka matanya yang terasa lengket menemukan sosok cewek yang duduk disampingnya sedang mengamatinya. Bryan lekas bangun memandang bahwa cewek didepannya benar-benar Gisna bukan hanya bayangan seperti masa lalu yang terus menghantui disetiap malamnya. Gisna menatap kedua mata Bryan yang terlihat berkilau disekitarnya, benar yang dia lihat jika Bryan tengah menangis dalam tidurnya. GREPPP… Bryan menarik Gisna dalam pelukannya membuat Gisna terkesiap dengan yang dilakukan Bryan secara tiba-tiba ini. Gisna mengusap pelan punggung Bryan, berharap dapat menyalurkan ketenangan untuk Bryan yang mimpi buruk. “ Lo baik-baik aja kan?” Tanya Gisna pada Bryan yang tak kunjung melepaskan pelukannya. “ Na, gue janji ini yang terakhir.” Ucap Bryan sedikit lirih, namun Gisna masih bisa mendengarnya. “Maksud kakak apa?” Tanya Gisna tak mengerti mendorong tubuhnya agar sedikit menjauh. “ Elo nggak perlu jadi cewek gue. Buat mengetahui segala yang ada di hidup gue.” Ucap Bryan bersamaan dengan Bryan yang menjauhkan tubuhnya dari Gisna. “ Gue nggak mau elo ada di hidup gue karena terpaksa atau karena sebuah syarat.” Ucap Bryan mengusap pelan pipi Gisna yang kini bersandar pada tempat tidur. Gisna terdiam menatap lurus pada mata tajam Bryan yang kini juga menatapnya. Bryan ragu ketika matanya menangkap sekilas ada kekecewaan dalam mata Gisna seolah ia tidak terima. “Elo nggak berfikir gue mempermainkan elo kan?” Tanya Bryan hati-hati begitu melihat mata Gisna yang berkaca-kaca. Ada rasa sesak setiap ia melihat secara langsung mata indah itu sedang sedih. Bryan mencium kedua mata Gisna secara bergantian tak peduli bendungan di mata Gisna luruh juga. Gisna menunduk memainkan jari-jemari tangan Bryan. Dia tidak mampu berkata-kata selain merasakan d**a sesak, tenggorokan tercekat, lidah bahkan kelu untuk sekedar berucap. “ Elo permainkan gue lagi.” Ucap Gisna lirih diiringi isakan tangis yang membuat Bryan semakin hancur dibuatnya. “ Nggak, Gisna. Gue nggak bermaksud…” ucap Bryan terpotong begitu Gisna beranjak naik ke tempat tidur atas. Menyembunyikan kepalanya dibalik selimut mencoba meredamkan suara Bryan. Drrrt…drrrttt… Ponsel Gisna bergetar dan menyala secara bersamaan. Tertera nama Bara disana, panjang umur sekali pikir Bryan. Gisna mengangkatnya tak peduli gelengan kepala Bryan mengisyaratkan untuk mengabaikannya. Dek… kamu dimana? “ Gisna lagi di Jogja.” Jawab Gisna singkat. Sama siapa? Refi di Jakarta. “ Iya emang Refi di Jakarta.” Jawab Gisna apa adanya. Meski ia sedang berkomunikasi dengan Bara, kakak kandungnya. Namun matanya tetap lurus membalas tatapan Bryan yang tampak menerka-nerka obrolan Gisna dan Bara. Sama siapa? Sama Fathur? “Nggak!” jawab Gisna dengan cepat kilat menandakan ia tidak mengharapkan sedang bersama cowok yang disebut kakaknya. Jangan bilang kamu… “Iya, aku sama Bryan di Jogja.” Potong Gisna sengaja sedikit mengeraskan suaranya membuat Bryan melotot tak percaya jika cewek didepannya mengatakan yang sebenarnya. Apa? Tutt..tuttt…. Gisna memutuskan sambungan telepon tetapi tidak memutuskan kontak matanya dengan Bryan yang kini justru terdiam dengan tatapan sulit untuk di artikan. Gisna meletakkan ponselnya dan terbaring diatas tempat tidur, dengan posisi membelakangi Bryan yang masih tak percaya pada Gisna. “ Elo sama aja mau membunuh gue.” Gumam Bryan artinya cepat atau lambat Dendy pasti akan tahu keberadaannya. Gisna membelalakkan matanya, ia teringat apa yang dikatakan Bryan bahwa kakaknya telah tergabung sebagai anggota gangster yang menyerang Bryan. Gisna segera membalikkan tubuhnya menatap cemas pada Bryan yang menghadapkan tubuhnya kekanan menghadap Gisna. “ Kak… mau tidur diatas?” tawar Gisna. Mata Gisna terpejam sejenak merutuki kebodohan kenapa justru kalimat itu yang keluar dari mulutnya. “Lo ngajak gue tidur bareng?” goda Bryan dengan wajah nakal seolah fikirannya sudah berimajinasi liar. Bukan salah Bryan, ini memang keadaan dimana ia dan Gisna berada di satu ruangan yang tidak ada yang mengetahui kegiatan apa yang mereka akan lakukan. Tapi Bryan tidak sebejat itu, terlebih pada Gisna. “Nggak, gue nggak biasa tidur sama cewek tepos kayak elo. Ditambah satu lagi… gue nggak bisa tidur disamping orang asing.” Ucapan Bryan terdengar begitu sarkatik di telinga membuat Gisna terdiam. Ada luka yang tercipta dikala telinganya menangkap kata orang asing dari mulut Bryan untuk dirinya. Entah kenapa dia kecewa dengan ucapan kasar Bryan padahal ia biasanya akan menanggapinya dengan sebuah tertawa masam. Namun kali ini tampaknya berbeda. “ Gue cewek elo, kalok elo lupa!” TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD