Gisna sedang menatap pemandangan yang dilewati kereta yang ia naiki, entah akan dibawa kemana. Hari ini begitu membekas dalam ingatan Gisna, seumur hidup ia baru mengalaminya sekarang bersama dengan cowok di sampingnya yang tengah memejamkan mata. Gisna spontan menoleh begitu sesuatu berat menimpa pundaknya. Bryan dengan mata terpejam tengah menyenderkan kepalanya di bahu mungil Gisna.
Gisna tersenyum ada perasaan asing yang begitu kuat sedang merasukinya, mengenal seorang Bryan begitu membawa sejuta kejutan entah yang manis atau pahit semua membekas dalam memori fikiran Gisna sebagai kenangan indah. Seakan lupa keadaannya sekarang hanya membawa beberapa stel baju dengan uang yang terbilang mepet dan Bryan yang tengah membawa tas kecil yang di gantungkan lehernya.
“Yogyakarta! Jauh banget.” Gumam Gisna entah pada siapa. Perjalanan Yogyakarta ke Jakarta begitu juga sebaliknya sangat begitu jauh.
“Sengaja.” Sahut seseorang yang sedang memejamkan mata dan menyenderkan kepalanya di bahu Gisna.
“ Kenapa?” Tanya Gisna pada Bryan yang mulai membuka matanya.
“ Gue pengen berlama-lama sama elo.” Jawab Bryan menatap mata Gisna dengan mata tajamnya, menerobos kedalam fikiran Gisna.
Gisna tersadar jarak keduanya terlalu dekat, Gisna pun berdehem sedikit menggeser badannya agar tak terlalu dekat dengan Bryan. Namun Bryan semakin menghapus jarak antara keduanya, perasaannya begitu senang karena berada di kota tanpa pengawasan Dendy.
“Na!” panggil Bryan begitu lembut sampai Gisna tak sadar tangannya kini berada dalam genggaman Bryan.
“Kenapa?” Tanya Gisna begitu mendengar Bryan memanggilnya.
Bryan hanya menggeleng sembari tersenyum misterius justru membuat Gisna mengeryit heran. Ada apa dengan cowok di sampingnya, seperti kerasukan setan mana. Bryan tak peduli dengan berbagai pandangan Gisna, yang ia rasakan ia sedang bahagia.
“Elo kenapa sih?” Tanya Gisna heran sedikit menggoyangkan lengan Bryan.
“ Gue kenapa? Gue baik-baik saja.” Sergah Bryan tak terima di anggap gila oleh Gisna.
“ Nggak! Elo tuh gila.” Ucap Gisna kemudian menyentuh dahi Bryan.
Spontan Bryan menahan tangan Gisna membawa tangan Bryan menyentuh dadanya. Gisna ingin segera menariknya namun genggaman Bryan cukup kuat.
“Gue gila karena elo, dan disini gue bahagia karena elo.” Ucap Bryan kemudian melepas genggaman Gisna.
Gisna mulai menggeleng-nggelengkan kepalanya. Cewek itu merasa ada yang tidak beres dengan otak Bryan. Ini bukan Bryan yang ia kenal dengan kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya.
***
“Na…”
“Na…”
“Gisna! Bangun!” ucap Bryan sambil menggoyangkan pundak Gisna.
Gisna yang masih setengah sadar membuka matanya. Dengan mata setengah terpejam ia memandang Bryan dengan seksama. Bryan pun juga menatap Gisna tanpa berkedip, tingkah laku Gisna mana yang tidak membuatnya begitu gemas?
“eughh…” dengus Gisna namun kembali memejamkan matanya dan menyederkan kepalanya di pundak Bryan.
“Hei, malah tidur lagi sih. Udah mau sampai di Yogyakarta.” Jelas Bryan menggoyangkan kembali tubuh Gisna.
Tak ada respon dari sang empunya. Bryan kini memainkan pipi Gisna berharap cewek itu terganggu kemudian akan bangun. Bryan sudah siaga bila nanti Gisna mengamuk kepadanya karena mengganggu tidurnya.
Gisna mulai terganggu dengan tangan usil Bryan. Akhirnya cewek itu menegakkan kepalanya dan membuka matanya. Mata indahnya menatap keluar jendela mencoba mengumpulkan nyawa yang sempat vakum.
“ Kita berapa lama disini?” Tanya Gisna pada Bryan yang sedang sibuk mengotak-ngatik benda pipih di tangan kanannya.
“Besok mungkin kita akan balik.” Jawab Bryan kemudian memandang kelangit memikirkan sesuatu.
“Besok? Gila capek di perjalanan doing.” Gumam Gisna kesal pada Bryan. Padahal cewek itu mempunyai rencana tersendiri untuk menikmati kota Yogyakarta.
“ Oh, Mau bulan madu nih ceritanya?” canda Bryan langsung mendapat tatapan membunuh dari Gisna seakan siap-siap menerkam Bryan kapan saja.
“Bulan Madu apaan?” sentak Gisna dengan nada sedikit meninggi tanpa ia sadar.
Di umumkan kepada seluruh penumpang, bahwa kita sudah memasuki Stasiun Tugu Yogyakarta
Bryan segera berdiri dengan bantuan tongkat di sampingnya dan Gisna membantu memopang tubuhnya. Bryan menuruni kereta dengan sangat hati-hati, jujur saja kakinya benar-benar sakit karena terlalu lama duduk di kereta. Gisna pun dengan telaten tetap menemani Bryan yang berjalan dengan pelan.
“ Lo mau makan apa?” Tanya Bryan pada Gisna yang berjalan disampingnya justru sedang sibuk memperhatikan sekitarnya.
“Terserah, kita cari diluar aja.” Ajak Gisna kemudian mengaitkan tangannya dilengan Bryan.
Begitu ia keluar dari stasiun Bryan justru menghampiri seorang sopir taxi yang tengah meminum segelas kopi. Gisna pun hanya memandang Bryan dengan alis berkerut, karena Bryan menyuruhnya duduk dan menunggunya disana.
“Pak, ada penginapan yang murah di sekitar sini ?” Tanya Bryan pada sopir taxi yang segera menaruh gelas kopinya begitu Bryan menghampirinya.
“Ada mas, mau bapak antar kesana?” tawar sopir taxi itu beranjak membuka pintu mobil bagian belakangnya.
“Gisna!” panggil Bryan kemudian melambai agar Gisna datang.
Begitu namanya dipanggil Gisna segera berjalan cepat menuju Bryan yang berdiri di samping pintu taxi yang sudah terbuka. Gisna pun masuk dan di ikuti Bryan yang duduk di sampingnya.
“Kalian ini darimana? Kok nggak bawa tas banyak?” Tanya sopir sambil tersenyum pada Bryan melalui spion.
“Dari Jakarta pak. Iya nggak terencana kalok mau ke Jogja.” Jawab Bryan dengan sopan santun.
***
Perjalanan memakan waktu setengah jam dari stasiun, taxi memasuki sebuah gerbang yang tampak tradisional yang bertuliskan “Penginapan Mawar”. Siapa yang tidak tahu kota Jogja yang menyimpan sejuta keindahan bagi wisatawan baik dalam negeri maupun dari luar negeri.
“Saya mau pesan dua kamar!” ucap Bryan pada petugas bagian check in.
“ Maaf saat ini hanya tersisa satu kamar.” Ucap petugas wanita itu pada Bryan.
Bryan memejamkan mata sudah ia tebak kenapa disaat menginap dengan Gisna harus tersisa satu kamar saja. Sedang setiap ia menginap dengan teman-temannya masih tersisa banyak kamar kosong yang cukup menguras dompet apalagi di hotel.
“Iya. Saya pesan satu kamar.” Ucap Bryan kemudian menyodorkan beberapa lembar uang tunai.
Setelah menerima kunci kamar, Bryan dengan kaki yang sudah tak berdaya namun tetap ia paksakan untuk berjalan. Gisna terdiam begitu melihat hanya satu kunci yang Bryan bahwa cewek itu sudah mengerti kalau tinggal satu kamar di penginapan ini.
Bryan berjalan menuju pelayan yang mengantarkan ke kamar penginapan yang sesuai dengan kunci yang ia bawa. Sedang Gisna hanya berjalan mengikuti di belakang Bryan. Ada getaran asing ketika mereka dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, padahal sebelumnya Gisna biasa keluar masuk kamar Bryan.
“Jadi kita akan satu kamar?” Tanya Gisna pelan kemudian duduk di tepi ranjang.
“Ya, tidak ada pilihan lain.” Jawab Bryan kemudian mulai merebahkan sekujur tubuhnya yang sudah benar-benar kaku dan pegal di setiap sendinya.
“Baiklah, gue bisa tidur di bawah.” Ucap Bryan melihat respon Gisna yang terdiam memandang keluar seolah ada yang mengganjal fikirannya.
“ Gue aja kak yang tidur di bawah.” Ucap Gisna langsung spontan begitu menyahut mendengar pernyataan Bryan. Bagaimana bisa ia akan membiarkan Bryan tidur dengan kondisi kaki yang patah.
“ Gisna, gue bukan cowok pengecut. Gue nggak bakal ngebiarin elo tidur di bawah!” bantah Bryan tidak setuju dengan ucapan Gisna. Bagaimanapun dia tetaplah seorang cowok yang sejatinya harus bersikap gentle.
“ Terserah kakak, gue mau mandi dulu.” Ucapan Gisna mengakhiri obrolan keduanya begitu cewek itu masuk kedalam kamar mandi.
***
Bryan membuka matanya perlahan begitu kesadarannya mulai terkumpul. Dia mengusap pelan wajahnya agar matanya tak kembali terpejam. Sepertinya cowok itu kelelahan sampai ia tertidur begitu pulas tak menyadari hari semakin larut malam dan langit mulai menyelimuti diri dengan awan gelapnya.
Bryan terduduk begitu menyadari hanya dirinya yang didalam ruangan, sedangkan Gisna entah kemana. Matanya memicing menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul Sembilan malam. Bryan terkesiap menyadari Gisna tak ada ruangan, padahal ia fikir cewek itu ada di dalam kamar mandi.
Bryan dengan kaki yang masih sakit berjalan keluar kamar penginapan demi mencari Gisna. Perasaannya kalut jika sampai Dendy bisa mengejarnya sampai disini. Bagaimanapun ini bukan wilayah keduanya, lengah sedikit pasti akan dimanfaatkan oleh musuh.
Nafas Bryan begitu lega kala melihat seorang cewek sedang berjalan menuju arahnya dengan tangan kanan dan kiri menenteng kantong plastic trasparan. Wajah dengan tampilan apa adanya tanpa make up seperti yang Bryan dapati ketika Gisna berada di kosan.
“ Kakak sudah bangun?” Tanya Gisna begitu menyadari Bryan berdiri di depan kamar penginapan dan menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia gambarkan.
“Lo darimana?” Tanya Bryan dengan nada sedikit meninggi membuat Gisna sedikit terkejut mendengar nada bicara Bryan yang seperti menahan amarah.
“Ini.” Jawab Gisna singkat kemudian menuntun tangan Bryan untuk masuk terlebih dahulu kedalam kamar.
Gisna pun mengeluarkan beberapa pakaian dari dalam kantong sedang kantong yang satu ia letakkan diatas meja berisikan sebuah makanan. Bryan hanya diam tampak berfikir kala yang ia dapati bukan pakaian milik Gisna tapi pakaian cowok.
“ Mau pakek ini?” Tanya Bryan duduk di tepi ranjang sambil mengarahkan dagunya menunjuk pada salah satu kaos hitam oblong yang sedang Gisna pegang.
“ Ini semua pakaian kakak. Gue kan bawa baju ganti.” Ucap Gisna melipat satu persatu pakaian yang telah ia beli dan menyerahkan pada Bryan yang masih terdiam.
“Kok lo nggak ngajak gue beli?” Tanya Bryan menyilangkan kedua tangannya didada.
“ Kakak kan tidur. Lagian dengan kaki seperti ini, gue nggak tega lihat kakak jalan nahan sakit.” Jawab Gisna dengan polos tak sadar jika ucapannya bisa salah diartikan oleh Bryan.
“ Emang elo yang cocok jadi istri gue.” Gumam Bryan begitu lirih dan terdengar memang hanya untuk dirinya sendiri.
“ Kakak ngomong apa?” Tanya Gisna begitu suara Bryan terdengar begitu lirih dan tak jelas.
“ Nggak ada. Gue lapar.” Kilah Bryan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Gisna pun hanya mencebikkan bibir tipisnya melihat Bryan seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Gisna menuntun Bryan untuk duduk kursi untuk makan. Gisna mulai menata beberapa makanan yang ia beli di warung depan penginapan.
“ Kak, lo hutang penjelasan sama gue tentang kejadian akhir-akhir ini.” Ucap Gisna menagih bahwa Bryan akan menceritakan segala permasalahan dalam hidupnya.
“ Kan gue udah bilang jadi cewek gue dan gue bakal cerita apapun tentang hidup gue.” Jawab Bryan sambil memasukkan beberapa suapan kecil nasi kedalam mulutnya.
“ Oke, gue jadi cewek elo sekarang…”
Uhukk… uhukk…
Bryan spontan tersedak mendengar pernyataan Gisna yang secara tiba-tiba dan tanpa pikir panjang menyetujui syarat yang Bryan ajukan. Gisna pun segera menyodorkan segelas air untuk Bryan akan tak terbatuk-batuk.
“ Gila lo! Mau bunuh gue.” Omel Bryan pada Gisna. Padahal bukankah itu kesalahannya sendiri. Salah sendiri ia membahas masalah itu ketika mereka sedang makan. Siapa sangka jika Gisna mau menjadi pacarnya hanya demi mengetahui masalah hari ini.
“ Gue udah jadi cewek elo! Dan elo utang penjelasan sama gue!” ucap Gisna galak tidak mau tertipu lagi dengan Bryan.
Sedang Bryan hanya diam. Masih terkejut dengan apa yang Gisna ucapkan. Ia pun meneguk seluruh isi gelas air, mencoba menenagkan fikirannya yang masih terkejut dengan ucapan Gisna.
“Lo nggak makan?” Tanya Bryan membalas tatapan Gisna yang sejak tadi tidak bergeser sedikitpun darinya.
“ Kakak nggak lupa kan sama omongan kakak sendiri?” Tanya Gisna dengan tatapan menyelidik seolah curiga jika Bryan mempermainkan dirinya.
Bryan memutar bola matanya malas, tidak menyangka jika ia salah mengambil langkah. Ia fikir dengan ajuan syarat seperti itu dapat membuat Gisna bungkam dan mengurung niat untuk mencari tahu. Sekarang justru dia yang kewalahan mengahadapi makhluk menggemaskan yang sedang mengawasi dirinya seiring berputarnya jarum jam dari detik ke detik.
“ Makan! Gue bakal cerita sebelum kita tidur!” ucap Bryan menyodorkan sesuap nasi goreng di depan Gisna.
Gisna membelalakkan matanya ketika Bryan mencoba menyuapinya namun itu hanya bertahan beberapa detik begitu ia mengingat ada perasaan kesal. Bryan sedikit gugup kala Gisna menerima suapan nasi darinya, padahal ia hanya berniat mengulur waktu berharap cewek itu lupa dengan yang cowok itu janjikan.
***
Gisna dengan mata yang menahan kantuk karena Bryan yang berjanji akan menceritakan kisah hidupnya ternyata mengulur-ngulur waktu dan tampak sekali jika ia menghindar. Sekarang Gisna harus menunggu cowok itu yang sedang mandi, entah ritual apa yang ia lakukan sudah hampir setengah jam tapi belum juga keluar.
Gisna hampir memejamkan mata namun langsung terbuka kala Bryan sudah keluar dari kamar mandi. Aroma maskulin langsung tercium begitu cowok itu berdiri disamping Gisna. Mata Gisna mengikuti setiap gerakan Bryan sampai akhirnya cowok itu menjatuhkan tubuhnya diatas selimut tebal yang sudah Gisna siapkan.
“ Lo udah ngantuk?” Tanya Bryan basa basi pada Gisna yang masih menatapnya dari atas ranjang.
“ Udah buruan cerita.” Geram Gisna karena sejak tadi hanya ditarik ulur oleh Bryan. Padahal matanya benar-benar sudah tak kuat.
Bryan merentangkan tangan kanannya diatas tempat tidur membuat Gisna bingung memandangnya. Alis Gisna bertaut seolah bertanya apa maksud Bryan merentangkan tangan kanannya.
“ Katanya elo cewek gue, boleh dong cerita sambil pegangan tangan?” Tanya Bryan belum cukup membuat Gisna geram karena tak kunjung memulai cerita.
Gisna tampak ragu namun tetap saja meletakkan tangan kanannya diatas tangan Bryan. Ada perasaan hangat setiap Bryan menggenggam tangannya. Gisna tak bisa memungkiri jika ia tak pernah menolak setiap perhatian Bryan.
“ Gue bukan asli orang Jakarta. Gue berasal dari Semarang, bokap punya perusahaan di Jakarta dan akhirnya memutuskan pindah ke Jakarta karena ia tak mau pisah dari gue dan Nyokap. Dan di SMA itu gue kenal kakak elo, Bara. Dia sahabat baik gue, kemanapun gue jalan selalu sama Bara yang gue tahu dia asli orang Bandung. “ ucap Bryan mulai bercerita.
Gisna ber-oh ria, akhirnya mengerti bagaimana kakaknya yang tidak kuliah di universitas yang sama dengannya bisa mengenal Bryan. Namun ada kejanggalan dalam cerita Bryan yang membuat Gisna bertanya.
“ Jadi Mas Bara sahabat kakak, tapi tampaknya nggak seperti itu.” Ucap Gisna terus terang karena apa yang ia tahu bagaimana respon keduanya ketika Gisna menyinggung salah satu dari mereka.
Bryan tersenyum kemudian mengusap tangan Gisna yang berada di genggamannya. Ia mengingat kembali bagaimana pertengkarannya dengan Bara yang hanya sekali namun memutuskan segalanya.
“Ya, dia sahabat gue dulu. Sekarang kita berdua bagaikan orang asing. Bokap gue bangkrut karena ulah adik tirinya sendiri, bokap gue dijebak sama mereka sampai akhirnya bokap gue nggak ada pilihan lain selain merelakan semuanya. “ ucap Bryan tertawa miris kala ia harus membuka ingatannya kembali yang sebenarnya ingin ia kubur dalam-dalam.
“…”
Gisna hanya diam melihat raut wajah Bryan yang mulai berkaca-kaca dan tampak terluka. Gisna pun tak mendesak Bryan melanjutkan ceritanya. Cowok itu tampak menghela nafas dalam dan menggenggam kuat tangan Gisna.
“ Bara satu-satunya sahabat gue yang setia disamping gue saat gue terpuruk. Sampai gue tahu satu fakta. Abang elo bergabung dengan geng komplotan yang di bentuk om tiri gue. Gue kecewa dan ngerasa sakit, saat orang yang gue percaya berpaling dari gue dan nusuk gue dari belakang. Gue benar-benar kehilangan orang buat gue bersandar kala itu. “ ucap Bryan seraya mengusap wajahnya dengan tangan kirinya.
Cowok itu menghapus air mata yang tak terbendung membentuk aliran sungai kecil di pipinya. Bryan merasakan batu dalam dadanya yang membuat nafasnya sesak seperti luruh begitu saja kala ia bisa menceritakan beban yang ia tanggung pada orang lain. Sekalipun itu adik orang yang bersangkutan yang mungkin Gisna akan menjauhinya. Bryan sudah siap dengan resiko yang akan ia dapatkan.
Gisna melihat air mata Bryan yang luruh, Gisna juga merasakan perih bagaimana ia pernah dikhianati meski dengan sudut pandang dan cerita yang berbeda. Gisna tak bergeming sejak Bryan menceritakan masalah hidupnya. Entah naluri hati dari sudut mana, Gisna membalas genggaman erat Bryan, tanpa ragu Gisna menepuk pelan tangan Bryan dengan tangan kirinya. Berharap dengan tepukan itu, Bryan bisa sedikit tenang.
Hening..
Tidak ada balasan dari cerita Bryan yang ia beberkan. Sampai Bryan menyadari Gisna sudah terlelap dengan tangan yang masih saling bertautan. Bryan berdiri mengambil selimut yang ia jadikan selimut, menyelimuti tubuh Gisna yang sudah pasti kedinginan karena jendela sedikit di buka.
“ Selamat malam.” Ucap Bryan seraya mengusap puncak kepala Gisna.
Melepaskan genggaman keduanya secara perlahan, baru saja Bryan akan berbaring ia teringat sesuatu yang sangat ia ingin lakukan untuk beberapa kali dulu.
Cup…
Bryan mengecup puncak kepala Gisna dan mengusap pipi Gisna.
TBC