Suara burung-burung menyambut sinar mentari yang menerobos masuk kedalam setiap celah-celah bangunan. Membawa suasana hangat disetiap lorong yang tadinya begitu dingin dengan aroma embun di pagi hari. Begitu pula dengan Bryan yang sudah duduk termenung diatas ranjang ditemani dengan papahnya yang duduk di tepi ranjang.
“ Papah bantu ganti perbannya.” Tawar Heru melihat Bryan yang kesusahan melilitkan perban pada luka kakinya.
Bryan tanpa rasa sungkan segera memberikan perban yang baru saja akan ia mulai kepada papahnya. Satu hal yang Bryan sesali adalah Bryan tidak bisa mengajak jalan-jalan papahnya yang berkunjung ke Jakarta.
“Pah, mau jalan-jalan ke puncak?” Tanya Bryan menawarkan sebuah ide untuk menghabiskan waktu ke puncak bersama papahnya.
“ Yang penting sekarang kamu sembuh dulu.” Bujuk Heru agar Bryan tidak memikirkan kedatangannya setiap hari.
Lagi pula bukankah akan sedikit merepotkan dengan kondisi Bryan yang masih belum pulih, untuk mengangkat tubuh saja berat bagaimana jalan di tanjakan puncak Bogor. Bryan sedikit kesal karena papahnya terus menolak kemanapun Bryan ajak jalan-jalan.
Sedangkan Heru tersenyum kala mengingat perbedaan menonjol pada Bryan yang mulai dewasa tidak seperti dulu. Bryan yang dulu, setiap ia datang ke Jakarta bukan sambutan hangat yang ia terima melainkan maki dan bentakan kepada Heru karena mengungkit masalah dulu.
“ Pah, Bryan minta maaf atas segala kesalahan Bryan dulu.” Ucap Bryan memalingkan wajahnya.
Ia merasa malu dan sedikit canggung untuk sekedar mengucapkan kalimat minta maaf dan terimakasih pada seseorang. Heru hanya tersenyum kemudian mengusap puncak kepala Bryan, perubahan sikap yang mendadak membuatnya tak bisa berkata-kata.
“Bryan bisa pinjam mobil Raka untuk ajak papah jalan-jalan.” Usul Bryan kembali tak getar dengan penolakan yang di lakukan papahnya.
“Oh, mau sekalian liburan bareng?” Tanya Heru seakan paham apa yang diinginkan putra semata wayangnya.
Bryan sibuk mengotak ngatik ponselnya, menghubungi para sahabatnya yang mungkin sedang gabut di kamar masing-masing. Menurutnya mengajak semua sahabatnya akan lebih aman dari Dendy agar tak melukai papahnya. Bryan dengan kondisi kaki patah tak mungkin bisa bergerak dengan normal.
“Pacar kamu nggak diajak, Bry?” Tanya Heru dengan nada menggoda Bryan yang sedang serius memainkan ponselnya.
Heru terkikik geli melihat respon Bryan mendengar pertanyaan papahnya. Pipi Bryan langsung merah dan telinganya pun juga merah. Bryan paham siapa yang dimaksud oleh papahnya, siapa lagi kalau bukan tetangga kamar kostnya.
“ Bukan pacar Bryan, pah!” tegas Bryan dengan nada kesal.
***
Kesal dengan ucapan papahnya yang terus menggodanya, Bryan keluar kamar menghirup udara segar. Tak menyadari keberadaan Gisna yang kini tengah memainkan ponselnya di depan halaman. Ditemani secangkir jus mangga yang cewek itu buat untuk menemani weekend dipagi harinya.
Bryan menghampirinya dengan raut wajah yang menurut Gisna seperti anak kecil yang sedang merajuk saja. Tanpa ada sepatah kata terucap, Bryan meneguk jus manga milik Gisna. Sedang sang empunya minuman ternganga tidak percaya apa yang baru saja ia lihat. Seluruh isi gelas masuk kedalam mulut cowok di depannya.
“Yah, kok di habisin sih.” Ucap Gisna dengan tampang memelas pada Bryan yang justru bersikap bodoh.
“ Kakak kenapa sih?” Tanya Gisna pada Bryan yang sejak tadi memainkan ponselnya tanpa bergeming barang sedetikpun.
“ Besok ikut gue ke puncak ya sama papah gue juga!” ajak Bryan setelah membaca pesan di ponselnya.
“Besok?” Tanya Gisna dengan wajah bengong. Bryan terdiam entah kenapa cewek di depannya justru terlihat menggemaskan.
“ Iya, Cinta!” ucap Bryan kemudian mengacak-acak rambut Gisna dengan kedua tangannya.
Di sisi lain, seorang dengan pakaian serba hitam sedang menyaksikan interaksi antara Bryan dan Gisna yang terbilang tidak biasa seperti umumnya hubungan saling kenal, menurutnya justru lebih.
Drrtt…drrrtt…
Getaran di ponselnya membuat laki-laki berumur tigapuluhan segera menjauh dari tempat ia mengintai Gisna dan Bryan. Ia pun segera mengangkat panggilan sebelum sambungan terputus.
“ Halo, Bos!” jawab seseorang yang memakai masker guna menutupi identitasnya.
Informasi apa yang berhasil kamu dapat?
“Sesuai dugaan, mereka akan pergi ke Puncak Bogor bersama Heru dan juga cewek yang akhir-akhir ini berada di sisi Bryan.” Jelasnya tanpa menambah atau mengurangi apa yang barusan ia dapat dengan menguping pembicaraan.
Bagus. Cepat kembali kita akan menyusun rencana!
“Baik bos!” Ucapnya kemudian mengakhiri panggilan dan segera bergegas pergi sebelum Bryan mengetahui keberadaannya.
***
Gisna cukup lega ternyata yang pergi ke puncak Bogor bukan hanya Bryan dan papahnya tetapi dengan sahabat Bryan yang otaknya menurut Gisna tidak ada yang normal. Gisna pun tampak enjoy duduk di bagian depan samping pengemudi. Meski Bryan dari belakang terus menatapnya melalui spion. Ya setidaknya d**a dan jantunh Gisna bekerja dengan normal tidak seperti setiap Bryan yang berada di sampingnya mampu membuatnya bekerja tidak karuan.
Heru, yang duduk di samping Bryan hanya menatap keluar jendela dengan tatapan sayu. Ia memikirkan sesuatu. Ia takut Dendy, adik tirinya itu akan berulah membahayakan Bryan lagi demi balas dendam dengannya.
“Pah, kenapa?” Tanya Bryan menatap mata sendu Heru yang menyimpan sejuta rasa khawatir akan hal yang belum terjadi, semuanya masih di batas angan-angannya.
“ Papah takut Bryan! Mereka akan macam-macam sama kamu.” Ucap Heru menunjukkan raut muka yang gusar, bahkan sahabat Bryan bisa melihat dengan jelas apa yang sedang di fikirkan papah sahabatnya itu.
“Tenang om, kami siap disisi Bryan apapun yang terjadi.” Tegas Raka sambil memperhatikan jalan yang lumayan ramai padahal bukan dihari libur.
Heru tersenyum kecut, ia percaya teman-teman dan orang di sekeliling Bryan pasti selalu ada untuk putranya. Gisna yang tidak mengerti arah pembicaraan hanya diam. Memandang jalan sambil menerka-nerka apa yang sebenarnya di bicarakan mereka.
Baru saja perasaan lega hampir menghampiri hati dan fikiran mereka, sebuah mobil di belakang mereka mengalihkan pembicaraan dan canda tawa mereka.
“Ada yang nggak beres sama itu mobil, dari kita di Jakarta sampai disini di belakang terus, nyalip juga kaga.” Gumam Satria menengok ke belakang.
Membuat semua penumpang menengok ke belakang kecuali Raka yang tanpa menoleh ia bisa lihat dari spion. Raka pun mulai menambah kecepatan guna mengetahui apa benar mobil itu mengikuti mereka. Dan benar saja ! ketika Raka mengurangi kecepatan, mobil itu juga memelankan laju kecepatan.
“ Kayaknya kita nggak mungkin sampai puncak.” Ucap Edo mulai memikirkan langkah apa yang akan di ambil.
“ Papah turun disini aja Bryan!” tegas Heru sudah hilang control, ia sudah terlalu panik demi keselamatan Bryan.
“NGGAK!” tegas Bryan tanpa di sadari nada bicaranya meninggi. Bryan tidak akan membiarkan Dendy menyentuh orang-orang terdekatnya, biarlah masa lalu dulu yang mampu membuatnya gila karena menjadikan orang terdekatnya sebagai umpan.
“ Gimana nih, Bry?” Tanya Raka mulai panic begitu mobil di belakangnya tak memelan seperti sedia kala justru seperti akan menghentikan mobil Raka.
“ Turunin gue disini sama Satria dan Edo, elo bawa bokap sama Gisna ke stasiun terdekat.” Ucap Bryan dengan ide gila yang langsung mendapat penolakan dari semuanya. Apalagi Heru bersikeras tidak akan memperbolehkan Bryan mengorbankan diri demi keselamatannya.
“ Nggak! Gue gak bisa. Elo gila! Mau hadepin mereka dengan kaki kayak gitu.” Ucap Raka benar-benar menolak usulan sahabatnya yang tak pernah gentar menhadapi musuh yang ada tak peduli keadaannya bagaimana.
“Kita putar balik aja. Antar bokap gue ke bandara.” Ucap Bryan menepuk pundak Heru menyakinkan jika ini adalah langkah terbaik untuk menhindar dari Dendy.
“ Nggak, Bryan ! papah nggak mau kamu hadepin mereka dengan keadaan kamu yang sekarang.” Tolak Heru sedang Raka sudah mulai mencari jalan pintas demi tak terkejar dari komplotan Dendy.
Gisna terdiam, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menahan agar tubuhnya tak bergetar. Bagaimanapun Gisna hanyalah cewek biasa yang tidak tahu situasi yang ia hadapi saat ini. Bryan tetap mencuri-curi pandang dengan kaca, cowok itu tahu Gisna sedang menahan air mata di pelupuk mata yang entah kapan akan tak terbendung lagi.
“ Kalok elo,Gisna dan om Heru yang ke bandara gimana? Biar kita aja yang ngecoh mereka.” Ucap Satria mencoba mencari jalan keluar.
“Nggak! Itu nggak akan berhasil karena yang di incar mereka itu gue. Mereka nggak sebodoh itu Sat. “ jelas Bryan bahwa usulan Satria tidak tepat karena tentu orang-orang Dendy akan mengejarnya meskipun turun dari mobil.
“Terus gimana gue udah buntu nih.” Ucap Edo yang sejak tadi terdiam memikirkan sesuatu namun juga tak kunjung terfikirkan.
“Turunin gue sama Gisna disini. Dan anter bokap gue ke stasiun aja yang lebih gampang ngurus …”
“Bryan!”
Usul Bryan terpotong oleh gertakan Heru yang tak merelakan putranya menjadi umpan bagi Dendy ditambah kaki Bryan yang belum pulih sepenuhnya. Bryan memeluk papahnya lama tanpa kata-kata yang mengiringinya. Mencoba menyalurkan bahwa dugaan papahnya salah. Bryan tetap bisa melindunginya meski dengan keadaan kaki yang seperti ini.
“Papah hati-hati ke stasiun. Jaga diri baik-baik. Bryan janji akan pulang ke Semarang dalam waktu dekat.” Ucap Bryan kemudian menyalami tangan papahnya yang perlahan muncul keriput yang belum terlalu terlihat itu.
Heru menghela nafas, Bryan selalu bisa menenangkan hatinya dengan ucapan cowok itu. Heru kemudian mengusap kepala putra semata wayangnya yang kini sepenuh hati melindunginya.
“Kita turun dimana Bry?” Tanya Raka masih belum paham kemana Bryan akan turun bersama Gisna.
“Gue tetep ikut ke stasiun aja.” Ucap Bryan membuat Raka sang pengemudi mengangguk paham maksud Bryan kali ini.
Gisna diam seribu bahasa kenapa Bryan memilih pergi bersamanya apakah ia akan di jadikan umpan oleh Bryan. Bukankah akan lebih aman jika dia menghadapi musuh dengan bersama-sama. Ada rasa berkecil hati mengetahui jika benar ia hanya di jadikan umpan.
***
Blamm…
Begitu pintu mobil tertutup Bryan segera berjalan sedikit tergesa-gesa di temani Gisna yang bingung bukan main apa yang akan di lakukan Bryan dengan kaki yang belum bisa jalan dengan sempurna. Gisna dan Bryan akhirnya tetap ikut ke stasiun namun segera berpencar agar dapat mengecoh komplotan Dendy mengejar mereka.
“Pah, Bryan nggak bisa anter.” Ucap Bryan mencium tangan papahnya yang mengangguk dari sorot matanya terlihat berusaha tegar. Gisna dan yang lainnya pun ikut bersalaman meski nantinya Raka,Edo,Satria mengantar Heru sampai check in.
Tak berapa lama sebuah mobil dengan berisikan orang-orang berpakaian hitam berlari kearah mereka. Tanpa pikir panjang mereka segera berpencar agar dapat membingungkan formasi yang mungkin mereka rencanakan. Ada beberapa orang yang mengecar Raka dan yang lainnya. Begitu juga Bryan yang memaksa jalan dengan sedikit cepat, Gisna yang di sampingnya tetap di samping Bryan meski ia bisa berlari menyelamatkan diri.
“ Na, Lari!” bentak Bryan yang sejak tadi memberikan kesempatan agar Gisna bisa kabur terlebih dahulu.
“NGGAK!” bentak Gisna tak mau kalah. Dia tidak segila itu menturuti keinginan Bryan untuk meninggalkannya sendiri.
Bryan bungkam jika Gisna sudah membentak menandakan cewek itu memang sudah bertekad menhadapi segala resiko. Bryan segera menyeret Gisna ke kerumunan banyak orang agar tak terlihat oleh komplotan Dendy yang mengejarnya.
“Gisna.” Panggil Bryan dengan lembut begitu mereka masuk ke kerumunan antri tiket kereta.
“Hm.” Tatap mata Gisna begitu teduh pada Bryan seolah mereka tidak mengalami apa-apa hari ini.
“Elo percayakan sama gue. Kalok gue masih bisa menjaga elo meskipun kaki gue patah.” Ucap Bryan menggenggam tangan Gisna dengan lembut begitu mulai masuk check in.
Gisna tersenyum kemudian mengangguk. Entah kepercayaan darimana yang sanggup membuat hati Gisna tetap damai meski sekarang keadaan mereka berdua banyak yang mengejar.
Ting… ting…
Raka: bokap elo udah naik kereta !
Papah : papah berangkat ke Semarang.
Dua pesan masuk membuat hati Bryan lega. Bagaimana tidak misi dia untuk mengecoh komplotan Dendy berhasil mereka tidak mungkin akan membeli tiket kereta hanya untuk mengejar bukan. Sedang Bryan tidak menyadari bahwa mereka akan ke Jogjakarta tanpa persiapan apapun.
“Terimakasih!” ucap Bryan pada petugas penjaga tiket seraya menyodorkan uang dan mengambil tiket kereta untuk dua kursi.
Satu hal yang ia sesali, ia ingin mengantar kepulangan papahnya ke Semarang namun selalu tak bisa karena Dendy selalu mengincar moment-moment Bryan dengan papahnya. Namun disisi lain, Bryan tetap bahagia bisa mengecoh Dendy meski dia menjadi korban demi keselamatan papahnya.
“Papah gue udah naik kereta Na.” ucap Bryan dengan senyum kebahagiaan yang tak bisa ia tutupi. Begitu terpancar dari sorot mata kebahagiaan yang di tangkap oleh Gisna.
“ Syukurlah. Kak, gue bener-bener penasaran siapa kakak ? kenapa bisa mengenal mas Bara dan juga ada masalah apa dalam hidup elo?” ucap Gisna melontarkan bertubi-tubi pertanyaan pada Bryan tanpa menunggu Bryan menjawab satu persatu.
“ Jadi cewek gue, dan gue bakal cerita ke elo semua tentang hidup gue!” tegas Bryan menantang Gisna dengan satu kalimat yang mampu membuat Gisna gugup dan tentunya terkejut bukan main. Tak pernah terfikir Bryan akan mengatakan sesuatu diluar dugaan Gisna.
TBC