Bryan terdiam di ruang tengah. Mungkin memang acara televise yang ia tonton sedang berlangsung namun kenyataannya pandangannya justru kosong menerawang jauh entah kemana. Papahnya mungkin sedang istirahat sekarang, jarak Semarang-Jakarta itu tidak dekat pasti benar-benar kaku meskipun duduk di kereta.
Gisna keluar kamar dengan rambut yang belum kering duduk di samping Bryan. Cowok itu tahu siapa yang duduk di sampingnya, namun ia masih tak ingin beranjak dari lamunan kosongnya. Gisna pun juga tak ada niatan untuk memulai percakapan sampai akhirnya mereka terdiam cukup lama.
Gisna yang justru ikut menyimak acara tv tak sadar jika Bryan sedang memperhatikannya. Tangan cowok itu tanpa sadar memainkan rambut Gisna yang panjangnya baru sepunggung itu. Melilitkan rambut Gisna pada jari-jarinya, namun matanya sama dengan Gisna kea rah televisi.
“Geli!” ucap Gisna tak suka dengan tampang Bryan yang tanpa dosa justru focus kedepan.
“Bryan!” gertak Gisna geram ketika tangan Bryan tak hentinya memainkan rambutnya.
“ Lo panggil apa tadi?” Tanya Bryan dingin begitu Gisna memanggil namanya tanpa embel-embel.
Gisna cemberut dan juga takut sepertinya Bryan tersinggung padanya karena tak memanggilnya dengan embel-embel kakak. Lagian juga bukan salah Gisna karena cowok itu begitu menyebalkan.
“Lagian Kak Bryan nyebelin. Berantakan tahu, rambutku juga belum kering.” Omel Gisna menunduk tak berani memandang Bryan yang kini menatapnya cukup dalam.
“ Tapi gue suka.” Bantah Bryan mampu membuat Gisna mendongak menatap sorot mata tajam Bryan. Meski Gisna kesal dengan jari-jemari Bryan namun ia tak menangkis tangan Bryan yang masih memainkan rambutnya.
“Bu Nur ada di rumah nggak sih? Gue mau ijin papah gue mau nginep disini.” Ucap Bryan meraih tongkatnya untuk berdiri.
Bagaimanapun Bryan tak mau papahnya menginap di hotel, itu akan sangat berbahaya karena komplotan Dendy itu ada dimana-mana. Baru saja ia akan berdiri, Gisna dengan singgap merebut pelan tongkat Bryan membuat cowok itu terdiam dan membiarkan Gisna menjauhkan tongkat itu darinya.
“ Kenapa?” Tanya Bryan pada Gisna.
“ Gue aja yang ijinin.” Ucap Gisna kemudian beranjak keluar tanpa mendengar persetujuan dari Bryan terlebih dahulu.
Tok…
Tok..
Tok…
Gisna mengetuk pintu bangunn tua itu, harusnya bu Nur ada di rumah karena wanita separuh baya itu jarang sekali keluar rumah. Tak berapa lama bu Nur terlihat dari dalam berjalan menuju pintu untuk membukakan Gisna.
“Lagi masak Na.” ucap bu Nur berjalan menuju dapur.
Gisna pun mengikuti bu Nur ke dapur melihat sedang masak apa wanita paruh baya yang tinggal sendirian dan di temani kucing kesayangannya yang bernama Bimo.
“Gini bu, Kak Bryan kan papahnya datang kesini katanya mau nginep disini.” Jelas Gisna sambil mengaduk sayur yang dimasak.
“Oh, boleh. Ada kamar kosong kan didalam?” Tanya bu Nur memasukkan garam dan bumbu lainnya kedalam panci yang sedang di aduk Gisna.
“Gisna kurang tahu, bu.” Jawab Gisna memang kurang tahu.
Bahkan Gisna hanya mengetahui penghuni kost itu adalah Bryan dan Ajeng selain itu Gisna tak ada yang mengenal meski sering berpapasan. Entahlah Gisna sedikit tertutup di kost baru ini karena mungkin penghuninya yang tidak cewek saja namun campur.
“Kalok nggak ada Kasur kok disini ntar bawa aja kedalam kamar Bryan. Kamu pacarnya Bryan?” Tanya bu Nur sambil tersenyum yang menurut Gisna senyumannya aneh.
“Bukan atuh bu.” Bantah Gisna sambil menggeleng. Tidak ada yang salah bukan? Pada kenyataannya memang bukan pacar si Bryan yang menyebalkan itu.
Bu Nur tersenyum mendengar bantahan Gisna yang secepat kilat yang justru menandakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis yang mulai tumbuh dewasa itu. Baiklah, bu Nur pernah muda tentunya ia tahu bagaimana raut wajah dan perilaku seseorang yang sedang jatuh cinta.
“ Bryan yang kamu temui sekarang adalah Bryan yang pernah hilang setelah masalah keluarganya yang benar-benar membuatnya hilang jati diri.” Jelas bu Nur sambil mencicipi masakannya yang sudah bumbui itu.
Gisna menyimak mencoba menelan pelan-pelan setiap kata yang diucapkan bu Nur. Seperti teka-teki yang mulai terpecahkan menjawab segala pertanyaan Gisna yang ia kubur dalam-dalam. Ia tidak mau terjun dalam kehidupan Bryan yang tampak rumit itu dan juga tak mau ikut campur.
“Dulu, Bryan juga pernah menjalin hubungan dengan Ajeng? Kamu kenal Ajeng kan?” Tanya bu Nur sebelum melanjutkan ucapannya. Gisna hanya mengangguk pelan tak mau banyak bicara agar bu Nur segera melanjutkan ceritanya.
“Tapi tak sehangat sikap dia ke kamu, Na. Kalau saat ini kamu berharap Bryan menjauh dari kamu itu tidak bisa.” Ucap bu Nur membuat Gisna mengeryitkan kedua alisnya tak mengerti.
“Kenapa?” Tanya Gisna penasaran. Memang kenyataannya ia sangat sulit menjauh dari sosok Bryan, setiap ia berhasil menjauh tapi keadaan selalu mempertemukan keduanya kembali.
“Baginya, kamu yang bisa mengendalikan emosinya membuat dia tahu kearah mana dia berpulang. Sudahlah harusnya Bryan sendiri yang mengatakannya.” Ucap bu Nur mengambil peralatan yang kotor dan mencucinya di wastafel.
Gisna mengangguk. Ada benarnya ucapan bu Nur lebih baik memang Bryan sendiri yang mengucapkannya. Ada perasaan senang yang tak bisa terungkapkan kala Gisna mengetahui jika ia adalah kelemahan seorang Bryan. Gisna berjalan menuju kost dan mendapati Bryan yang masih dalam posisi yang sama.
“Lama banget.” Ucap Bryan yang bete menatap Gisna yang duduk di sampingnya yang justru tersenyum puas.
“Kata bu Nur boleh pakek kamar yang sebelah atau kalau nggak bawa kasur ke kamar elo.” Jelas Gisna seperti perkataan bu Nur padanya.
Bryan tampak terdiam memikirkan bagaimana baiknya. Gisna menatap Bryan yang sedang melamun sambil mengingat bagaimana sikap Bryan yang perlahan berubah kepadanya. Awal bertemu setiap kata yang keluar dari mulut Bryan adalah pisau tajam sekarang perlahan menghangat membuat Gisna tak mau beranjak pergi.
“ Gue tahu gue tampan.” Sergah Bryan sontak membuat Gisna sedikit terkejut.
Malu, menyadari Bryan yang memergoki dirinya yang sedang menatap Bryan. Gisna ingin beranjak pergi namun Bryan segera mencekal lengan cewek itu. Sedikit tarikan mampu membuat Gisna terduduk kembali bahkan hampir menindih tangan kanan Bryan.
“ Lo mau kemana?” Tanya Bryan perlahan memindahkan tangannya ke jari jemari Gisna, menggenggam tangan mungil Gisna dengan lembut. Bryan begitu yakin jika Gisna juga mempunyai perasaan yang sama dengannya, terlihat Gisna yang tak pernah menolak setiap kontak fisik dengannya.
Bryan ingat betul bagaimana tangisan perih Gisna ketika ia sedang membereskan komplotan Dendy demi melindungi cewek itu. Sekedar mengingatnya saja Bryan bisa tersenyum simpul membuat Gisna mengeryit tak mengerti sedang apa Bryan.
“ Kakak nggak gila kan?” Tanya Gisna kemudian menyentuh dahi Bryan yang mungkin saja cowok di depannya ini sedang demam.
“ Gila karenamu.” Gumam Bryan tersenyum menggoda pada Gisna yang justru sedang melongo mendengar jawaban Bryan yang justru tak masuk akal. Gisna benar-benar seperti sedang berhadapan dengan orang asing.
“ Lo gagar otak kak?” Tanya Gisna menatap teliti pada Bryan yang justru matanya mulai jengah dengan sikap Gisna yang tidak sesuai yang ia harapkan.
“ Lo pikir gue nggak sadar?” Tanya Bryan sarkatik kemudian memutar tangan Gisna kebelakang.
“ aaaa… iya deh iya!” pekik Gisna kala mulai kesakitan meski tak sakit sekali.
Bryan pun juga tak melepasnya dia hanya memegangnya tak sepenuhnya menekan. Gisna yang tadinya teriak justru tertawa keras memohon untuk dilepaskan. Bryan pun tertawa keras melihat wajah Gisna yang baginya justru terlihat lucu kala memohon untuk dilepaskan. Tak sadar Bryan merasakan beban di pundaknya hilang sementara kala ia akhirnya bisa tertawa lepas bersama Gisna.
***
Heru terbangun dari istirahatnya. Matanya berkedip beberapa kali guna mengumpulkan sisa nyawanya. Alisnya bertaut begitu ada kasur di samping Bryan yang sedang duduk di sofa kamarnya. Heru menghampiri Bryan yang tampaknya belum menyadari jika ia sudah bangun.
“Ini kasur apa, Bry?” Tanya Heru sambil menepuk-nepuk pelan kasur di samping Bryan.
“Oh, papah nginep disini aja ntar Bryan tidur di bawah.” Jelas Bryan meletakkan ponselnya, game onlinennya benar-benar tidak menarik sama sekali.
“ Papah nginep di hotel aja Bry, lagian kakimu belum sembuh kenapa tidur di bawah.” Tolak Heru, jujur saja tak pernah terbayangkan sambutan Bryan akan seperti ini.
Ia berfikir mungkin saja Bryan akan dingin dan menyuruhnya segera pergi namun kenyataannya, anak lelakinya itu begitu menghormatinya dan tak segan memberikan kamarnya untuk istirahat.
“ Nggak ! Bryan nggak ngizinin papah nginep di hotel. Lebih bahaya, Dendy pasti tahu papah di Jakarta.” Jelas Bryan menolak dengan tegas tidak mengizinkan papahnya jauh darinya selama di Jakarta.
“ Pastinya mereka tahu. Bry!” tambah Heru setuju dengan pendapat anak semata wayangnya itu.
Satu hal yang ia sesali sampai sekarang adalah membuat Bryan terlibat dengan masalah Dendy dengannya. Ia pikir keputusannya di masa lalu beberapa tahu silam itu, akan tidak berdampak sampai sekarang.
Kring.. kring…
Bunyi ponsel papah membuat Heru dan Bryan menoleh dan saling memandang. Bryan dengan tegas menggeleng memberi isyarat untuk tidak mengangkat panggilan dari seseorang. Bryan sudah tahu jika itu adalah Dendy atau komplotannya. Heru pun menuruti peringatan Bryan, membiarkan ponsel itu terus berdering sampai akhirnya mati sendiri.
“ Bryan kan udah bilang pah. Papah harus berganti nomor agar tidak dihubungi b******n itu.” Ucap Bryan meremas rambutnya kasar.
Cowok berusia 24 tahun itu benar-benar frustasi dengan keadaan sekarang. Dilema besar sedang ia hadapi sekarang. Ia begitu senang papahnya datang berkunjung namun disisi lain ia benar-benar muak dengan Dendy yang selalu ikut campur dan mengganggu ketenangan keluarganya.
“Papah mau makan apa biar Bryan beliin?” Tanya Bryan mengalihkan topik pembicaraan tidak mau ambil pusing dengan itu.
“ Dengan kaki seperti itu mau beli?” Tanya Heru mulai tak sabar dengan pola pikir Bryan yang begitu keras kepala tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Bryan tersadar bagaimana ia akan beli jika kondisi kaki tidak memungkinkan untuk mengendarai motor, mau pakek mobil juga nanggung. Teringat Gisna, Bryan juga tidak mungkin menyuruhnya. Bryan tak mau Gisna terjebak lagi oleh beberapa komplotan untuk memancing dirinya.
“Go-food aja pah. Mau pesen apa?” Tanya Bryan pada papahnya yang justru sedang sibuk memainkan ponselnya.
“Terserah kamu aja. Oh ya cewek kamu jangan lupa di beliin.” Ucap Heru tersenyum penuh dengan misteri.
Bryan wajahnya pun langsung memerah begitu tahu yang di maksud papahnya sebagai kekasihnya adalah Gisna. Senyum yang ia tahan tak bisa ia sembunyikan dari papahnya yang justru tampak puas menggodanya itu.
“ Apasih, pah.” Ketus Bryan sedikit kesal dengan papahnya.
Kkkk~~~
***
Seorang pria yang terbilang cukup dewasa tengah menghisap seputung rokok di tangan kanannya. Wajahnya tampak dingin tak peduli dengan keadaan sekitar, ditambah lagi beberapa orang tengah berdiri di belakangnya sebagai pengawal. Mereka bahkan membawa segala keperluan bosnya. Benar-benar seperti b***k seorang Dendy Guntoro.
“Benar Heru sekarang berada di Jakarta?” Tanya Dendy setelah mengepulkan asap dari mulut dan hidungnya secara bersamaan.
“ Benar. Mata-mata dari kita yang berada di Semarang sudah memastikan Heru naik kereta arah Jakarta.” Jawab salah satu pria yang berdiri yang kini memegang minuman terlarang.
“Kalian sudah menghubunginya?” Tanya Dendy memastikan dua anggota keluarga yang kini sedang berkumpul pasti akan mati di tangannya.
“ Heru tidak mengangkat telepon sama sekali bos.” Jelas pria pemegang korek api di belakangnya.
Dendy tersenyum sinis, tatapannya benar-benar bak seorang pembunuh sadis. Dendy semakin terbawa tidak jelas layaknya orang gila ketika satu fikiran terbesit bahwa Heru sekarang mulai melawannya dengan bantuan bocah yang baru menginjak dewasa di sampingnya.
“ Lalu dimana Heru sekarang ?” Tanya Dendy memastikan dimana mangsanya yang mungkin bisa menghentikan polah Bryan yang terus saja menerobos garis peringatan darinya.
“ Kami sudah memeriksa beberapa hotel terdekat namun tidak ada pengunjung bernama Heru.” Jelas pria pemegang ponsel Heru.
“Sepertinya Bryan sudah mulai cerdas mengantisipasi hal apa yang akan aku lakukan untuk papahnya tersayang itu.” Gumam Dendy pada dirinya sendiri.
Ting…
Dering masuk sebuah pesan di ponsel Dendy membuyarkan rencana apa yang akan ia lakukan pada Bryan. Sebuah foto sepasang kekasih sedang makan bersama membuatnya tersenyum dan mempunyai ide tersendiri untuk memberi pelajaran Bryan bahwa dirinya bukanlah tandingan Bryan yang selalu ia sepelekan.
“ Siapa cewek yang sedang dekat dengan Bryan?” Tanya Dendy menunjukkan foto yang dikirimkan anak buah mata-matanya.
“ Dia bernama Gisna bos. Dia rekan kost Bryan disana. Dia juga merupakan adik kandung Bara” Jelas pria yang membawa korek api.
“ Adik kandung Bara?” Tanya Dendy sedikit terkejut. Kemudian tertawa kencang seperti mendapatkan sebuah mukjizat kala rencananya pasti akan berjalan berhasil. Tidak menyangka saja kali ini dia akan mendapat ikan besar dengan sekali melempar umpan.
“ Apa ada rencana bos?” Tanya anak buah Dendy menyadari perubahan kilat bosnya yang tampak bahagia seperti memenangkan lotre.
“ Rencana ini kita bahas besok. Hari ini kita istirahat besok akan mendapat ikan besar.” Jawab Dendy kemudian tertawa keras bak seorang iblis yang berhasil menjerumuskan manusia di jalan yang salah.
TBC