Melihat mobil polisi yang melintas saja sudah membuat Bryan yang tadinya berbincang dengan ayah Gisna menjadi mendadak membisu. Ia masih tidak menyadari kesalahan apa yang diperbuat olehnya sampai mobil polisi menjemputnya. Ia tidak mau menanyakan dan menyangkalnya, lebih tepatnya ia tidak mau membuat sebuah keributan yang akan membuat Gisna mengetahui semuanya. Begitu sampai di kantor polisi, tubuh Bryan mematung dan sorot matanya yang tadinya sayu berubah menjadi begitu tajam dan nanar seperti ada dendam yang nampaknya kembali memenuhi hatinya. Ia melihat Om Dendy yang tengah tersenyum senang, seolah meneriakan bahwa dialah yang menjadi pemenangnya. “Sialan!” Umpat Bryan berdesis seolah jika ini bukan di kantor polisi, ia siap menerjang dan menghabisi nyawa Dendy, tidak peduli dengan

