Seorang lelaki paruh baya tengah melamun di depan rumah, melamunkan putra semata wayangnya yang jauh di Ibukota. Semenjak kejadian itu sikapnya benar-benar bukan Gibryan yang Papanya kenal, tampak asing namun begitu menatap matanya sejuta kesedihan di pikul dan di pendamnya sendiri.
Kopi yang di buatkan istrinya hanya Ia pandang, sejak Gibryan memutuskan melanjutkan kuliah ke Ibukota setiap hari juga pasti menyisihkan waktu lelaki paruh baya itu untuk kejadian apa yang akan mempersulit putranya.
"Pa, Bryan baik-baik saja disana." Ucap istrinya yang muncul dari belakang membawa beberapa cemilan.
"Bagaimanapun Papa gak bisa terus tinggal diam seperti ini Ma!" Ucap Heru seolah menentang sikapnya selama ini.
"Mau bagaimana lagi? Semakin Papa ikut campur semakin nyawa putra kita yang akan di pertaruhkan." Ucap Nawang menasehati suaminya agar tidak bertindak ceroboh.
Dddrrrttt... ddrrrrtt...
Ponsel yang Heru taruh di meja bergetar, menampilkan sebuah nama di layar. Sebuah nama yang selalu mencoba Ia hindari karena dia tidak mau sesuatu terjadi pada Bryan.
"Halo!" Ucap Heru begitu mengangkat panggilan itu.
"Saya sudah tidak sabar, anakmu semakin menjadi-jadi."
"Biarkan Dia! Biarkan sampai Dia lulus Sarjananya dulu!" Ucap Heru memohon pada seseorang di sambungan teleponnya. Nawang hanya bisa menatapnya khawatir, khawatir akan keselamatan semua keluarganya.
"Oh ya! Apa Kamu bisa menjamin?"
"Ya!" Ucap Heru menyakinkan sosok yang meneleponnya di pagi hari, merusak suasana hatinya yang semula damai. Memutuskan sambungan sepihak adalah cara yang tepat untuk menghindari perdebatan.
***
Gisna sudah rapi dengan rambutnya yang di kucir bak ekor kuda, make up tipis pada wajahnya justru terlihat natural. Gisna terdiam duduk di ruang TV menunggu jemputan hari ini.
Dddrrrttt... dddrrttt...
Getaran ponsel di tasnya membuat Gisna mau tidak mau untuk merogoh tas ransel mininya, begitu Ia mendapatkan benda pipih itu tertera nama mantan yang masih menyimpan harapan untuknya.
Gisna segera keluar kos dan menghampiri Fathur yang sedang berdiri bersandar dengan mobilnya. Gisna hanya melemparkan senyum simpulnya dan segera masuk ke mobil, Mereka tidak tahu ada Bryan yang menatapnya tajam di balik jendela kos.
"Langsung ke kampus apa sarapan dulu, Na?" Tawar Fathur sengaja untuk meminta waktu lebih pada mantan kekasihnya.
"Ke kampus aja." Ucap Gisna tak mau berlama-lama dengan mantan kekasihnya itu sudah jera sebenarnya Fathur selalu menghubunginya.
Alasan klasik menyambung silaturahmi yang selalu di gunakan Fathur jika Gisna benar-benar menjauh, Fathur benar-benar tak bisa melepas mantan kekasih sejak SMA itu.
Mobil memasuki kampus dan segera menepi begitu sampai di pintu utama gedung, Gisna segera keluar takut jika temannya ada yang mengetahuinya. Mereka semua tahu Fathur adalah kekasihnya dulu, dan putus hubungan keduanya pun tidak baik-baik saja.
"Lah sama Fathur lagi lo?" Tanya Ilyas spontan begitu tahu siapa yang turun dari mobil di depannya itu.
"Gak, cuman nganter doang!" Elak Gisna tak mau di sangkutkan dengan Fathur.
"Ngasih harapan doang?" Sindir Ilyas pada Gisna yang selalu tidak bisa menahan ucapannya.
Gisna terdiam ada benarnya ucapan sahabat sekaligus anak dosen bimbingnya itu, membiarkan Fathur mengambil celah sama saja memberikan harapan padanya. Gisna membenci dirinya yang tak bisa tegas pada seorang cowok yang jelas melukainya kala itu, namun kenangan manis menutupi segala lukanya pula.
"Lagi ngomongin apa sih? Serius amat?" Sambar Refi yang baru datang melihat wajah Ilyas dan Gisna yang tampak tegang tanpa kata-kata dari mereka.
"Biasalah si Cebong!" Ucap Ilyas menyebut nama samaran untuk mantan kekasih Gisna itu.
"Kenapa lagi si Cebong itu Na?" Tanya Refi ingin tahu lebih jelasnya, semenjak putus hubungan antara Gisna dan Fathur cewek itu begitu kesal jika sahabatnya masih membuka pintu lebar untuk Fathur.
"Ini gak ada dosen yah?" Tanya Gisna mengalihkan topik pembicaraan, kedua sahabatnya hanya menatapnya tajam dengan senyuman ambigu pada keduanya.
"gak ada, tapi suruh bikin makalah cari referensi di perpustakaan." Ucap Fadil menjelaskan tugas yang di kasih oleh dosen yang berhalangan hadir.
"Terus kenapa gak buru ke perpus sekarang?" Tanya Gisna sok polos, padahal Ia tahu tingkah aneh kedua sahabatnya itu pasti akan kencan di jam kuliah yang kosong. Nasib tak punya pasangan hanya berdiam diri.
"Ya gitulah pokoknya!bye bye Gisna" Ucap Refi ambigu kemudian menggandeng tangan Ilyas yang juga cengengesan gak jelas pada Gisna, berbeda dengan keduanya Gisna memasang wajah sebal pada sahabatnya.
Mau tidak mau cewek itu bangkit dan menuju ke perpustakaan sendirian, sedang teman kampus lainnya lebih memilih pergi untuk nongkrong di cafe. Gisna punya teman selain sahabatnya namun tak seakrab mereka, berbicara hanya sekedar untuk membahas tugas saja.
***
Gisna memasuki gang arah menuju ke kos sewaannya, hari ini lagi-lagi Refi sahabatnya itu tak bisa mengantarnya pulang karena pulang kampus langsung jalan dengan Ilyas, anak dosen Pak Gito. Gini nih gak enaknya punya sahabat yang punya pacar sahabat kita juga, bukannya main bareng yang ada di tinggal kencan mulu.
Gisna menghentikan langkahnya kala dari arah berlawanan seorang cowok yang tak asing berjalan menuju ke arahnya dengan tergesa-gesa bahkan tak menyadari keberadaan Gisna.
"Kak Bryan!" Panggil Gisna begitu cowok itu justru berbelok sebelum berhadapan dengannya.
Mendengar namanya di panggil, cowok itu dengan wajah beberapa terdapat memar disana menghentikan langkahnya, memilih menarik Gisna untuk ke sebuah lorong kecil antara bangunan di sekitarnya.
Gisna memekik kala Bryan mendorongnya sampai menabrak tubuh Bryan di belakangnya, sebelum suara cewek itu keluar Bryan sudah menutupnya dengan tangan kanannya.
Tak bisa bersuara Gisna hanya bisa memandang lekat cowok di hadapannya yang hanya berjarak
Beberapa senti. Bryan tahu kemana mata teduh Gisna menuju, cowok itupun tidak tinggal diam segera menutup mata Gisna.
"Kak!" Bisik Gisna tak nyaman dengan cahaya minim di tambah tangan Bryan menutup kedua matanya. Baru saja akan bersuara, suara derap langkah kaki dari luar membuat keduanya menegang dan bungkam. Gisna tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia hanya menjalankan peran yang dibawa oleh Bryan untuknya.
"Gila, dimana Anjing Bryan cepet banget hilangnya." Gerutu salah satu dari mereka berempat itu yang berjalan tergesa-gesa.
Setelah mereka semua berlalu Bryan melepas bungkaman tangannya, dan berlalu meninggalkan Gisna yang masih bingung apa yang telah terjadi. Bryan menarik Gisna untuk segera keluar dari lorong pengap itu, Gisna hanya diam begitu kesadarannya kembali cewek itu menghempaskan tangannya yang di genggam Bryan.
Dan memutar balik untuk kembali ke tujuan awal ia melewati gang kecil yang merupakan jalan pintas menuju kosnya. Bryan menarik tangan Gisna tiba-tiba, ada perasaan bergejolak mengganggu dadanya mendorongnya untuk melindungi cewek di depannya yang ia fikir awalnya Bryan dekati untuk melampiaskan emosi menggebu di dalam dirinya.
"Bryan! Berhenti bersikap seenaknya, gue bener-bener muak dengan tingkah laku elo!" Ucap tandas Gisna kesal karena dia merasa bagaikan sebuah boneka yang di perlakukan Bryan sesuka hatinya.
"sialan, salah gue dimana? Sikap gue yang mana memperlakukan elo seenaknya hah!" bentak Bryan meninggi dan begitu terlihat emosinya meledak-ledak membuat Gisna terpaku.
Cowok itu marah pada dirinya, tak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan pada Gisna. Berkedok marah karena Gisna memanggilnya tanpa embel-embel –kak-, cowok itu hanya bisa meluapkan emosinya dengan u*****n kasar yang tanpa ia sadari melukai Gisna.
Emosi Bryan benar-benar berubah membuat nyali Gisna menciut seketika. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lidahnya kelu karena bibirnya terkatup rapat. Nafasnya sesak,suara bentakan Bryan dengan emosi yang menggebu-gebu terngiang di kepalanya.
"...”
“Sorry!” ucap Bryan mengusap pelan lengan Gisna yang entah perasaannya tubuh cewek di depannya ini sedikit gugup. Gisna menunduk tak bersuara, meluruhkan air matanya yang tak bisa ia bendung. Di depan Bryan seperti ada rasa menyesakkan yang harus ia keluarkan agar lega.
Cup…
Bryan untuk kedua kalinya mengecup pucuk kepala Gisna yang wangi itu, entah teori mana yang ia anut untuk menenangkan hati perempuan dengan kecupan lembut yang tertinggal di puncak kepala. Gisna mendelik, kaget bukan kepalang merasakan kenyamanan yang telah lama pergi. Kini ia merasakannya kembali dengan seorang brandal yang mempunyai reputasi jelek di kampus. Wajahnya tak pernah baik-baik saja, selalu ada luka memar yang menghiasinya. Luka yang kemarin belum sembuh total, sudah muncul luka baru lagi. Tentunya dengan setiap musuh yang ia terima.
TBC