21. DECLARATION MOMENT

1216 Words
Gisna sedang tidak terburu-buru untuk pergi ke kampus, sekarang bahkan cewek itu menyempatkan dirinya untuk meneguk pelan-pelan s**u cokelat hangat yang Ia seduh beberapa menit yang lalu. Setelah pertengkarannya dengan Bryan di gang kemarin.  Gisna tidak melihat batang hidung mancung cowok pemilik mata hitam pekat itu. TIIN.. TINN.. Bunyi klakson mobil membuat Gisna meletakkan segelas yang berisi tinggal seperempat gelas itu di atas meja kemudian bergegas meninggalkannya begitu saja, Fathur dengan kemeja merah maroonnya sudah berdiri menunggu sang mantan kekasih keluar dari kosnya. "Tiap hari jemput gue, lo gak kuliah apa?" Tanya Gisna sambal memakai sabuk pengaman pada dirinya. Gisna heran saja hampir setiap hari cowok itu menghampirinya mengantar jemput Gisna, padahal mereka tidak satu kampus. Sepertinya Gisna tidak terlalu ingin tahu apa alasan Fathur melakukan ini semua, hanya saja ini membuatnya sedikit tak nyaman. "Masih ada waktu kok buat pergi ke kampus gue!" ucap Fathur berupaya membuat Gisna tidak merasa merepotkan untuknya. "Serah elo aja deh!" ketus Gisna mendengar jawaban Fathur yang selalu seenaknya itu, cewek itu lebih memilih melemparkan pandangannya keluar jendela daripada harus bertatap muka pada cowok di sampingnya yang sedang mengemudi itu. Sebuah motor Ducati hitam melintas dari arah berlawanan mobil Fathur melaju, tanpa mengingatnya Gisna tahu wajah siapa yang berada di balik helm fullface itu, siapa lagi kalau bukan Gibryan Prayogi. Cowok yang selalu membuatnya kesal bukan main, kenapa perasaan Gisna terlihat berantakan setelah bertemu dengan Bryan setelah berhari-hari. Gisna merindukan cowok misterius itu? Jawabannya tidak begitu terlihat di mata cewek yang sekarang tatapannya begitu dingin, tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam hati hangatnya itu. Di tambah lagi mantan kekasihnya yang sudah lama mungkin bisa Gisna terima keberadaannya yang di sekitar Gisna. "Gis, gue siap kok mulai sekarang jemput dan antar elo ke kampus." Ucap Fathur memulai pembicaraan yang di akhiri ucapan ketus Gisna padanya. "Mulai lagi kan lo!" ucap Gisna mulai kesal setiap Fathur memulai membicarakan hubungan keduanya untuk ke depannya. "Nggak! Gue serius Na. gue sanggup mulai dari awal lagi." Sangkal Fathur agar Gisna mau mendengar ucapannya. Mungkin kala itu kebosanan sementara membuat berpindah Fathur untuk berpaling ke lain hati, namun kini sosok Gisna memenuhi fikiran dan hatinya membuatnya mengakhiri hubungan yang Ia bangun di belakang Gisna. Gisna terdiam mencoba menatap Fathur, cewek itu mencoba menemukan kebohongan dari mata cowok di sampingnya itu namun nyatanya Gisna tak menemukan barang secuilpun. Yang Ia lihat hanya sebuah ketulusan dan ketegasan, hal ini membuatnya pertahanan goyah. Gisna fikir dengan berdamainya Ia dan masa lalunya akan mencapai puncaknya, nyatanya manusia tak mempunyai rasa puas. Fathur yang awalnya selalu Gisna hindari kini sudah bias di terima keberadaannya dan setelahnya cowok itu meminta lebih, meminta kembali tempatnya dulu di hati Gisna. Sampai mobil memasuki kampus, Gisna bungkam dan tak mau berkomentar tentang ucapan Fathur yang Ia sadar begitu menyakinkan dan memaksanya untuk membuka hatinya. "Gis! Pikirin lagi ucapan gue." Teriak Fathur begitu Gisna melenggang pergi begitu saja tanpa merespon ucapan atau sekedar berterimakasih atas tumpangan Fathur padanya. *** "Na, lo kok sama Fathur lagi?" Tanya Refi sinis tampak tak suka dengan apa yang Ia tahu sekarang. "Lo kok tahu?" Tanya balik Gisna pada Refi dengan ucapan melotot tak percaya, seingatnya ketika Ia masuk kelas sahabatnya itu belum berangkat jadi Gisna aman dari omelan sahabatnya itu. "Ilyas yang lihat lo!" jawab Refi sambil menunjukkan Ilyas dengan dagunya, cowok itu pura-pura sibuk dan tak mendengar pertikaian kecil dua cewek di sebelahnya itu. Namun sepertinya nasibnya sial karena kekasihnya justru menjadikannya kambing hitam. Gisna hanya manyun kesal pada Ilyas yang ternyata lebih ember di banding para kaum Adam pada umumnya. Ilyas berlagak membenarkan duduknya seolah tempat duduknya mulai tak nyaman, padahal justru suasananya cukup menyenangkan di kantin yang sepi ini. "Terus abang Bryan gimana dong?" ucap Refi memelas dengan manja menanyakan sosok yang sedang Gisna hindari. "Lah emang dia siapa? Kenapa gue harus peduliin dia juga?" Tanya Gisna dengan wajah polos tak menemukan kesalahan dalam dirinya pada seorang bernama belakang Prayoga itu. "Wah parah lo!" ucap Ilyas akhirnya mengeluarkan suaranya setelah meletakkan ponselnya, dia mulai bosan karena game online yang Ia mainkan selalu kalah terus menerus. Bukan salah game, tapi Ilyas saja yang tak berkosentrasi dengan adanya Gisna. "Na! lo tuh gak boleh seenaknya, lo pernah mikir perasaan Bryan lo cuman datang pas butuh doing. " tandas Refi menyadarkan Gisna yang tak menyadari kesalahannya sejak tadi justru berusaha tak peduli dengan ucapan sahabatnya itu. Baru saja cewek itu akan membuka bibirnya yang semula tertutup rapat, matanya lebih dulu memerintahkan dia lebih fokus dengan yang ada di depannya. Tepatnya di pojok kantin, gerombolan senior yang baru datang. Seperti biasa mata mereka bertemu tanpa sebuah arti yang jelas dari attapan keduanya, seolah dunia menjadi sunyi membiarkan kedua mata itu berbicara. Kebisingan di kantin, seolah senyap begitu saja, Gisna bahkan tak bias mendengar jelas celoteh-celoteh sahabatnya. "Na!" panggilan seorang cowok membubarkan lamunan dan kontak mata dengan Bryan di ujung sana. Gisna terdiam ketika Fathur tersenyum hangat padanya, sedang kedua sahabatnya terdiam dan menampilkan raut wajah dingin. Ada apa dengan mereka? Pertanyaan bodoh dalam hati Gisna, padahal harusnya ia tahu jelas alasan di balik wajah sinis Ilyas dan Refi. "Oh, oke!" ucap Gisna menyadari kedatangan Fathur adalah menjemputnya, cewek itupun beranjak berdiri dan mengambil tasnya. Baru saja tangannya melepaskan tali tasnya yang sudah menggantung di pundaknya, sebuah tangan mencekal lengan sikunya membuat cewek itu tersentak kaget. "Lo ngapain sih Yas..." ucapan Gisna terpotong kala tahu yang mencekalnya bukan Ilyas melainkan Bryan. Sejak kapan cowok itu berdiri di sampingnya? Seingatnya cowok itu sedang di gerombolan tempat biasa dengan teman-temannya. "Gisna pulang sama gue, lo cabut aja gih!" usir Bryan pada Fathur yang menatapnya tajam, ya Fathur ingat cowok ini adalah tetangga kamar Gisna. Bahkan Fathur juga tahu Gisna sering menghabiskan waktunya dengan cowok itu. "Enak aja, gue yang antar ngapain lo yang jemput?" tantang Fathur tidak terima kemudian menarik tangan Gisna yang kiri. "Yang nyuruh elo jemput dia siapa?" ucap Bryan dengan nada remeh tetap menatap sinis pada Gisna justru terdiam. Gisna memejamkan matanya, menghela nafas panjang begitu dirasa nyali dia sudah mulai terkumpul. Waktunya dia yang bertindak karena dia tak mau membiarkan ini terjadi terlalu lama dan sering. Gisna menghempaskan tangan keduanya, spontan cekalan dikeduanya lepas. Tanpa mengeluarkan kata-kata Gisna bergegas pergi meninggalkan kedua cowok yang memperebutkannya dan juga kedua sahabatnya yang hanya menjadi penonton sejak tadi. *** Gisna terdiam di depan sebuah koridor asing menurutnya, sekarang Ia berada di fakultas Ekonomi dan bisnis karena tanpa memiliki tujuan cewek itu berjalan cepat. Di fikirannya hanya ada bagaimana memisahkan diri dari keributan karenanya. Gisna duduk di sebuah kursi, menatap indahnya pemandangan dari gedung lantai 3 itu. Baru saja cewek itu akan beranjak pergi namun seseorang yang familiar menurutnya sudah berada di hadapannya dengan sekotak s**u vanilla di tangannya. Gisna memandang diam cowok di depannya dengan menusuk, jujur saja Ia kesal karena ulah cowok di depannya ini yang sellalu seenaknya. "Ngapain sih lo ngikutin gue?" Tanya Gisna kesal dan terdengar sinis berbalik badan membelakangi tangan Bryan yang sudah menyodorkan s**u kotak itu sejak tadi. "Minum dulu!" perintah Bryan mengabaikan ucapan Gisna yang terlihat kesal. "Gak mau! Kenapa sih kak selalu seenaknya kadang baik kadang marah-marah. Terus juga kena.." "Gue cemburu!" potong Bryan begitu singkat namun sanggup membungkam Gisna yang membeku di tempat. Sejak tadi cowok itu hanya menahan emosinya di tambah Gisna yang justru tak suka dengan apa yang Ia lakukan. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD