14. KENANGAN MATI

1354 Words
Seorang cewek sedang berdandan di depan cerminnya, dress pink kesukaannya membalut tubuh tingginya. Sepertinya hari ini adalah hari spesial untuknya. Dia duduk di ruang tengah sambil menganyunkan kaki jenjangnya dengan senyum merekah menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Suara derap langkah membuatnya terdiam sejenak kemudian senyum manisnya tak bisa di tahan yang di tunggu telah datang. "Bryan!" Panggilnya pada cowok yang sedang membenarkan posisi topinya sedikit kaget dengan kemunculan Ajeng yang tengah menggunakan dress dan sedikit make up si wajahnya. "Mbak Ajeng?" Sapa Bryan seolah menanyakan ada apa pada cewek yang kini menghampirinya dengan kedua tangan meraih tangan Bryan. Bryan terpaku dengan yang di lakukan tetangga kosnya. Seingatnya Ia tak memberikan apapun pada cewek di depannya yang sedang menatapnya lekat. "Bryan setahun kamu tinggal disini, aku suka sama kamu. Bisakah kita menjalin hubungan?" Tanya Ajeng dengan ucapan terbata sedikit gugup. Bryan terdiam memandang diam mata berbinar di hadapannya, mencari sebuah kebohongan di dalamnya namun nyatanya tidak Ia temukan. Dia mengira ini hanyalah sebuah candaan namun melihat wajah Ajeng yang berseri membuat Bryan menepis tanggapan itu. "Ya!" Jawaban singkat Bryan membuat Ajeng berlari memeluk cowok yang semakin membeku di tempat. Mereka resmi berpacaran dengan Ajeng yang memulai mengutarakan perasaannya, meski Bryan menerima perasaan tetangganya itu dengan ketidaktahuan namun Ia berusaha menjalankan perannya sebagai pacar Ajeng. "Ajeng, kamu dimana?" Tanya Bryan pada seseorang di sambungan teleponnya, siapa lagi kalau bukan kekasihnya. Dulunya Ia memanggilnya dengan embel-embel "Mbak" sekarang hanya memanggilnya dengan namanya saja. Itu membuktikkan Ia benar-benar menerima keberadaan Ajeng. Aku udah di depan halte, sayang! Jawaban di sambungan teleponnya membuat Bryan segera mengakhiri panggilan kemudian segera menancap gas menjemput Ajeng, tak mau cewek itu menunggunya lama. dengan wajah cemberut Ajeng menatap Bryan yang telat menjemputnya di tengah teriknya matahari, sedang Bryan hanya menatapnya datar dan menunggu Ajeng masuk mobilnya tanpa membukakan pintunya. "Lama banget, kita makan dulu ya?" Ajak Ajeng bergelayut manja pada Bryan begitu menampilkan perasaan sayangnya pada cowok yang satu tahun lebih muda darinya itu. Namun sikap Bryan yang dewasa tak memperlihatkan jika Ia lebih muda dari kekasihnya. "Oke!" Ucap singkat Bryan memutar mobilnya melesat pergi mencari makan di sekitar taman kampus utama. "Mau makan apa?" Tanya Bryan pada Ajeng yang mengedarkan pandangannya di tengah kota itu. cewek itu tak berucap Ia hanya menunjuk sebuah restoran seafood di sudut jalan itu. Tanpa pikir panjang Bryan segera menancap gas memarkirkan mobilnya di tempat yang di tunjukkan tukang parkir. Mereka memesan sebuah kepiting berbumbu saus tiram kesukaan Bryan, sedang Ajeng memakan udang crispy dan segelas jus mangga. Perbedaan usia tak membuat Bryan minder atau berkecil hati ketika mendampingi Ajeng datang memenuhi undangan pesta para teman-teman kekasihnya itu, dan mereka menerima Bryan dengan baik. Drrrttt... drrrttt.... Panggilan masuk mengacaukan lamunan Ajeng di pagi hari dimana lampu kamar masih menyala meski perlahan cahaya matahari mulai menusuk masuk di celah-celah jendela kamarnya. Karena kejadian kemarin Ia tak keluar kamar sama sekali di tambah Ia tahu Bryan dan Gisna pergi bersama dan pulang malam. Ia benar-benar cemburu pada cewek di sebelah kamarnya namun Ia berusaha bersikap dewasa dimana Ia takkan mengenai getah pada Gisna, meski Bryan benar-benar memprioritaskan cewek yang umurnya lebih jauh darinya. Ajeng baru saja keluar kamarnya namun sudah mendapat sapaan anak k*****t yang tengah duduk manis di ruang TV yang kini tengah memandangnya seperti kucing manis.  "Mbak Ajeng!" Sapa Satria melambaikan tangan kanannya bak seorang idola sedang menyapa fansnya. Ajeng hanya mencebikkan bibirnya menanggapi sahabat Bryan yang tidak ada warasnya. "Ngapain lo pagi-pagi kesini!" Semprot Ajeng pada Satria yang pecicilan kayak plankton mencuri resep rahasia tuan Krab. "Wuissss... santai dong mak! Bryan kemana?" Tanya Satria memainkan kedua alisnya menanggapi ucapan pedas Ajeng yang selalu begitu dan tak pernah lembut sekalipun. "Bodo gue mau mandi!" Ucap Ajeng dengan langkah lebar menuju kamar mandi di dekat dapurnya karena kamar mandi miliknya tidak ada air. Satria memandang Ajeng yang sudah lenyap di balik pintu biru itu, Ia memandang kamar Bryan yang terkunci begitu juga depannya kamar si Gisna yang juga terkunci. Namun tak mungkin jika mereka pergi bersama, rasanya mustahil melihay sikap Bryan pada Gisna ya begitulah. Satria beranjak pergi dan menarik gas motor hitamnya melesat pergi ke kampus mungkin disana Ia bisa menemukan para sahabatnya. *** Sepasang kekasih sedang menikmati indahnya senja yang muncul di ujung kota. Cewek yang sedang memejamkan matanya membiarkan hembusan angin sore itu menyapu wajahnya sedang Bryan menatap lurus di depan seperti mengutarakan semua keluh kesahnya beberapa hari ini. "Bryan, lalu kapan kamu akan melamarku hanya untuk memastikan tingkat keseriusan hubungan kita?" Tanya Ajeng kembali membuka percakapan. Dari ucapan cewek itu begitu terlihat mendesak Bryan untuk melangkah ke jenjang lebih serius sedang Bryan terdiam hatinya masih ragu.bukankah terlalu cepat? "Kita baru menjalin hubungan setengah tahun lalu, Ajeng. Terlalu cepat untukku mengambil keputusan di usiaku yang masih labil ini." Jelas Bryan ini mengatakan seolah menyuruh cewek itu menunggu beberapa tahun lagi. Ajeng yang tahu akan jawaban kekasihnya hanya menghela nafas panjang tak ingin memaksa karena Ia tahu Bryan adalah cowok yang teguh pada pendiriannya. Drrrttt... drrrttt... Getaran ponsel milik seseorang begitu terdengar membuat cowok yang sedang melamun dengan kepulan asap di putung rokoknya itu. Membuat Ia tersadar dari lamunan panjangnya, sudah biasa jika Ajeng mengungkit masa lalunya cowok itu akan terbayang semua kenangan dengan mantan kekasih yang sampai sekarang masih bertemu di kos. Satria is calling... Bryan hanya mengabaikannya kemudian diam meneguk sebotol air mineral yang selalu Ia bawa kemana-mana. Cowok itu meski dia perokok dia tetap menjaga kesehatan untuknya apalagi tubuh yang selalu membutuhkan cairan. "Gila ya lo! Telepon gue gak di angkat!" Semprot seseorang paling depan dari tiga cowok yang sedang berjalan ke arahnya. Bryan tak menjawab memandang datar ketiga sahabatnya. "Kesurupan setan mana lo?" Tanya Raka sambil menarik kursi di meja itu untuk Ia duduk. Bryan benar-benar malas untuk menjawab pertanyaan konyol, anak k*****t itu. "Demi apa lo jadi bisu?" Tanya Edo menyentuh kening Bryan yang langsung di tepis keras oleh tangan sang empunya kening.. "Yang gak waras itu kalian bertiga!" Ketus Bryan kemudian lebih memilih mengotak ngatik ponselnya. Dua cewek dan satu cowok di samping cewek yang rambutnya sedikit bergelombang sedang melintasi Bryan dan teman-temannya sepertinya mereka sedang bercanda sampai tertawa terbahak-bahak di langakah keduanya. Gisna bahkan tidak peduli dengan sekitarnya jika sudah dengan Refi dan Ilyas kekasih sahabatnya itu. Dan akhirnya kedua mata itu bertemu, Bryan yang menatap Gisna tanpa berkedip dan Gisna yang dengan segera memutuskan kontak mata itu. "Kayaknya gue gak jadi ke kantin deh." Ucap Gisna menggaruk tekuk belakangnya. Tak enak hati sebenarnya namun Ia benar-benar sedang tak ingin bertemu dengan sosok yang sedang Ia hindari. Hatinya benar-benar bingung mengapa menjadi seperti ini? Gisna justru tampak malu setiap bertemu Bryan, seolah-olah ditolak perasaannya. "Apaan lo! Tadi aja ngrengek minta di traktir bakso sekarang kagak jadi." Omel Ilyas pada Gisna yang kadang suka seenaknya padanya. "Iya gue tampol juga lu Na!" Ucap Refi menyetujui ucapan pacarnya sedang Gisna hanya merenges tanpa dosa pada dua orang yang sedang bersungut padanya itu. "Gue ada janji sama si Fathur." Bohong Gisna beralasan agar tak di omeli sahabatnya itu. "Alah udah jadi mantan masih aja jalan bareng." Ketus Refi kesal jika Gisna masih menanggapi mantan kekasihnya. Bryan mendengar semua percakapan Gisna dengan sahabatnya dan terlihat cewek itu menghindarinya. Satria yang menangkap tatapan Bryan pada cewek yang tak lain Gisna hanya tersenyum, Raka menyinggung lengan Edo untuk melihat bagaimana fokusnya Bryan mengamati Gisna sampai tak mendengar obrolan keduanya. "Ngapain lo semua kayak gitu, gue gak jatuh cinta sama itu cewek. Gue cuman jadiin dia pelampiasan waktu gue lagi rumit aja." Ucap sengit Bryan santai meneguk kembali botol minumannya. "WHAT!" “ Bercanda elo nggak lucu, Bry!” tegas Raka mencoba menyadarkan sahabatnya jika ucapannya benar-benar salah besar. “ Elo mabok Bry?” Tanya Edo penasaran dengan ucapan Bryan yang terlihat santai tanpa rasa bersalah. “Udahlah biarin! Gue jamin ada Gisna di hati dia!” ucap Satria mulai terpancing emosi, ada secuil perasaan asing ketika mengetahui Bryan hanya menjadikan Gisna sebagai pelampiasannya saja. “Yang tahu isi hati seseorang itu dirinya sendiri bukan pandangan dari orang lain jadi berhenti membuat kesimpulan atas pemikiran kalian sendiri. “ tegas Bryan kemudian beranjak pergi meninggalkan teman-temannya yang hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepala tak menyangka akan menjadi seperti ini. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD