Dua cewek sedang berjalan bersama entah mengapa hari ini terlihat suram bagi mereka berdua terlebih dosen yang di tunggu tidak ada kabar. Mahasiswa harus menunggu datangnya dosen namun nyatanya mereka tidak datang, astaga!
"Gila Pak Gito seenak jidat elo banget sih Na!" Gerutu Refi dengan meneguk minumannya. Tidak baik sama sekali seorang gadis meminum sambil berdiri apalagi berjalan.
"Heh, yang jidatnya lebar kan elo kenapa gue!" Omel Gisna tak terima memang pasalnya jidat Refi memang lebar.
"Iya biasa aja dong gak usah ngegas!" Sentak Refi sensitif terbawa emosinya dengan dosen kelasnya.
Gisna hanya manyun menanggapi ucapan sahabat absurdnya itu, padahal yang memancing emosinya dahulu
Refi sibuk memainkan ponselnya, sepertinya Ia sedang mencoba menghubungi seseorang disana namun tak juga bisa.
"Lo nelpon siapa sih Fi, sok sibuk bener lo!" Cibir Gisna yang merasa di abaikan karena sahabatnya yang sibuk berkutat dengan ponselnya.
"Jadi tuh tadi ban gue bocor Na makanya ini gue nelpon Ayah biar di jemput sekalian di anter ambil motor di bengkel." Jelas Refi seraya meletakkan ponselnya di meja, mungkin Ayahnya sedang di perjalanan. Mendengar penjelasan Refi, cewek itu hanya ber-oh ria.
Ddrrrtttt...dddrrrttt...
sebuah pesan pop up muncul di ponsel Gisna, menampilkan sebuah nama yang mengirimkan pesan jika ada perlunya. Refi yang celingak celinguk melihat mobil Ayahnya segera beranjak pergi.
"Na, ayah gue udah datang tuh. Gue pergi ya!" Tepuk Refi pada pundak Gisna yang sibuk dengan ponselnya, Gisna hanya mengangguk saja dan melambaikan tangan pada sahabatnya itu.
Mas Bara
Dek, gue lagi di Jakarta nih. Ketemu gak?
"Apaan deh ngajak ketemu pakek nawar, dasar Bara k*****t!" Umpat Gisna seraya jarinya mengetik untuk membalas pesan kakaknya.
Gisna
Ketemu dong!
Gisna memasukkan ponselnya kembali dan berjalan kaki menuju gerbang kampus utama berharap ada Ilyas atau siapa yang sedang nongkrong disana, lumayan ojek gratis.
Baru beberapa langkah matanya mengenali sosok cowok di samping mobil Honda Jazz dengan topi menutup wajahnya. Gisna terdiam masih mengamatinya karena Ia takur akan salah begitu Ia mengenali jaket denim yang di gunakan cowok itu tanpa basa basi Gisna melangkah dengan lebar menghampiri cowok yang sibuk dengan ponselnya itu.
"Lah, Mas Bara ngapain?" Ucap Gisna spontan tanpa menyapa terlebih dahulu membuat yang punya nama langsung melotot kaget dan melayangkan ketukan pelan di jidat Gisna.
"Nyapa kek apa kek, main semprot aja!" Omel Bara melihat tingkah adek perempuannya yang tak pernah berubah dengan sikap seenaknya padanya.
Awalnya Gisna ingin marah karena ketukan Bara yang cukup sakit di keningnya namun berubah menjadi cengiran kuda tanpa dosa kala Bara lebih dulu mengomel padanya.
"Maaf, terus sekarang lo mau kemana nih?" Tanya Gisna merapikan ikat rambutnya yang perlahan longgar.
"GR banget lo gue ngajak elo!" Cibir Bara kemudian masuk mobil meninggalkan Gisna yang manyun mendengar olokan Kakak semata wayangnya itu.
Cowok paling nyebelin dan seenaknya bagaikan Gisna kedua ya Bara, yang mempunyai ikatan kuat meski tanpa ikatan darah pun Gisna menjumpai sosok menyebalkan setelah Bara, Bryan. Eh! Kenapa nyangkut ke Bryan.
"Loh, mbak Intan gak ikut kesini?" Tanya Gisna semangat, Intan adalah calon kakak iparnya meski belum bertunangan namun hubungan yang sudah bertahun-tahun terjalin mrmbuatnya mengenal keluarga Bara. Ya walaupun banyak yang kandas di tengah jalan tapi apa salahnya kita berencana bukan?
"Eleh... gaya nanyain si Intan, ntar gue ajak dia elo bilang jadi obat nyamuk. Makanya punya pacar dek !" Ledek Bara mengusap pelan kepala Gisna yang kini sudah hampir meledak.
"Apaan deh, yuk buruan kak gue lapar!" Ajak Gisna menggelayut manja. Bara mengalah adiknya memang seperti anak kecil setiap bersamanya, padahal jelas-jelas dia adalah sosok yang mandiri.
Baru saja Gisna menutup pintu dari arah depan ada sepeda motor hitam yang sangat familliar baginya, Gisna memicingkan tatapannya pada pengemudi sepeda motor yang mulai mendekat ke arah mobil kakaknya. Meski dia tampak menggunakan helm full face, Gisna tidak asing dengan mata hitam pekat itu.
Cukup lama mereka bertatapan membuat Bara terdiam mengamati raut wajah Gisna yang berubah seperti gugup akan sesuatu. Bara berfikir dari tatapan cowok itu sepertinya Dia mengenal Gisna, tapi seingat Bara mereka tidak saling mengenal.
"Makan dimana?" Tanya Bara mencoba mengusir pikiran aneh tentang pengemudi motor itu.
"Terserah!" Jawab Gisna yang berubah drastis menjadi pendiam seperti memikirkan sesuatu.
***
Sibuk memikirkan hubugan Bara dan Gisna. Bryan tak sadar jika motor yang ia kendarai sudah sampai tujuan. Perlahan dia turun, berjalan pada dua sosok yang sejak tadi menunggunya di depan kedai yang lumayan jauh dari kampus.
Bryan dengan wajah angkuhnya menghampiri orang berbaju hitam itu. Namun, dua orang itu tampak biasa menanggapi sikap sinis Bryan. Mereka berfikir memenuhi otaknya, bagaimana bosnya bisa mempunyai musuh dengan bocah ingusan.
“Mau apa ngajak gue ketemuan disini?” Tanya Bryan sambal menyilangkan kedua tangannya.
“Bos gue nyuruh elo untuk kerjasama sama kita.” Ucap salah satu dari mereka sambil menghisap sebatang rokok di tangannya.
“Gue gak minat !” tolak Bryan dengan penuh penekanan disetiap katanya.
Dua orang itu menyeringai tolakan Bryan yang seperti biasanya selalu penuh dengan emosi. Keduanya berdiri mulai mendekat pada Bryan. Bryan yang merasa dikurung segera berdiri, baru saja ia akan melayangkan pukulan namun dari belakang sudah memukulnya duluan. Ternyata mereka tidak sendiri ada lima orang yang kini menyerang Bryan.
BUGG…
BUGG..
BUGG…
Bryan tersungkur di tempatnya kala pundaknya di pukul, Bryan tersungkur dan kedua orang itu menghajarnya habis-habisan. Bryan bisa saja melawan saat itu, namun hatinya sedang tidak berkehendak meladeni dua iblis suruhan Dendy itu.
“Gue heran sama bos gue, cuman bocah ingusan kayak elo bisa jadi musuh bos besar!” ucap salah satu sambil menjambak rambut Bryan dengan muka yang kini dipenuhi luka memar.
Ha…ha..ha..
Tawa beberapa orang mendengar ocehan salah satu dari mereka. Tampak meremehkan seorang Bryan. Bryan tertawa hambar mendengar ledekan bawahan Dendy yang selalu mengintainya dimanapun berada.
“Gue juga heran, bocah ingusan kayak gue bisa jadi sasaran ajakan kerjasama buat bisnis busuk bos elo itu!” ucap Bryan dengan senyum sinis yang belum hilang dari luka memarnya.
“Kurang ajar! Udah mau mati lo, harusnya elo mohon sama kami biar nggak habisin elo!” ucap salah satu dari mereka tak terima.
“ Pengecut itu ya kalian, keroyokan sama bocah ingusan! Hebat banget gue!” ucap Bryan sombong mencoba mencari celah agar mereka lengah. Begitu jambakan di rambutnya terlepas Bryan segera memukul perut salah satu dari mereka dan segera berdiri.
BUGG..
BUGG…
BUGG…
***
setelah berputa-putar kota Jakarta, yang Gisna dan Bara dapat hanya jajanan kuliner yang membuat perut buncit, Bara akan betah jika sudah jalan-jalan dengan adik perempuan satu-satunya itu.
"Mana nih kosmu?" Tanya Bara memelankan tancapan gasnya sambil melihat kiri kanan mencari kos Gisna.
"Tuh gerbang hijau!" Tunjuk Gisna pada rumah di sisi kiri jalan, spontan Bara segera menuju rumah yang masih tampak rindang itu.
Ini sudah malam pukul delapan, memang baiknya segera mengantar Gisna kembali ke kosnya. Menuruti Gisna untuk jajan kuliner akan menguras habis dompetnya dan mati kekenyangan.
"Nah, buruan pulang ke Bandung." Ucap Gisna menepuk pelan bahu kakaknya.
"Gis, lo kenal cowok yang tadi siang di kampus lo?" Tanya Bara tak tahan menahan unek-uneknya yang sejak tadi hanya bisa menerka-nerka apa yang ada di otaknya. Terlalu ingin tahu tapi Ia juga tak tahan segala pertanyaan menari-nari di keningnya.
"Emang kenapa?" Tanya Gisna balik memincingkan matanya pada Bara, tak biasanya kakak laki-lakinya itu ingin tahu dengan siapa Ia berteman.
"Kalok gak kenal ya syukur, tapi kakak bilangin jangan pernah kenal dia dengan apapun yang terjadi!" Tegas Bara dengan raut wajah serius membuat Gisna bungkam, memilih merapatkan bibirnya.
"Udah buruan sana!" Usir Bara setelah sekian lama terjerar keheningan di antara keduanya.
"Iya Bawel!" Ucap Gisna kesal kemudian segera keluar mobil kakaknya dan melambaikan salam perpisahan.
Dalam benak Gisna bertanya-tanya bagaimana bisa Bryan dan Bara saling mengenal. Sedang mereka tidak di tempat yang sama. terlalu fokus bahkan Gisna mengabaikan seseorang yang sedang menikmati secangkir kopi di tangannya. Bryan juga sedang malas menyapa cewek itu, akhirnya tidak ada moment antara mereka berdua.
Selesai mandi Gisna merebahkan tubuhnya di kasur ukuran mini miliknya, terlalu sibuk mengurus kisah Bara dan Bryan sampai Ia lupa niatnya untuk mengambil selimut kesayangannya yang sedang di kamar sebelah.
Dengan berat hati, Gisna mengetuk pintu kamar Bryan yang tak di kunci. Tiga kali Ia mengetuk dan barulah seseorang di dalam sana membukakannya.
Begitu pintu itu bergerak mundur dari Gisna, Gisna terpaku sesaat mengamati Bryan yang tidak memakai kaos apapun di tubuh atasnya. Ya Bryan memang cukup kurus, bahkan tidak ada roti sobek di perutnya. Yang membuat Gisna terdiam adalah tubuh itu di penuhi luka memar di beberapa bagian membuat Gisna diam membeku.
Bryan tahu apa yang sedang di fikirkan cewek di depannya pasalnya, Gisna diam sejak Ia muncul dari balik pintu. Spontan Bryan menarik Gisna untuk masuk ke kamarnya.
Bryan duduk melanjutkan Ia mengoleskan salap di beberapa bagian tubuh depannya yang sudah membiru itu, menahan sakit Ia memejamkan matanya tak peduli cewek di sampingnya yang sejak tadi diam mengamatinya.
"Selimut lo di atas bantal!" Ucap Bryan memulai percakapan pada Gisna yang terkejut mendengar suara cowok itu. Cewek itu hanya mengangguk kemudian segera mengambil barang yang sejak tadi menjadi tujuannya.
Alih-alih segera pergi, Gisna kembali duduk di samping Bryan yang masih sibuk mengoles goresan luka di lengannya yang di rasa cukup perih meski hanya bergaris.
Bryan, cowok itu yang harusnya segera mengusir Gisna justru membiarkan cewek itu duduk di sampingnya yang terus memperhatikan lukanya. Cowok itu juga tidak butuh bantuan cewek itu, kini giliran hatinya yang terobati dengan adanya Gisna.
"Ada hubungan apa lo sama si Bara?" Tanya Bryan sedikit menekan saat menyebut nama Bara.
Lagi dan lagi Gisna di buat pusing olehnya, dan Ia tidak mau menjawab ada pertanyaan yang harus Ia tanyakan pada Bryan daripada membahas hubungannya dengan Bara.
"Kakak kenal dia?" Tanya Gisna balik pada Bryan yang justru terbungkam tak mau menjawabnya.
Bryan menatap mata teduh Gisna, sedang Gisna yang semula selalu gugup kala mata mereka bertemu kini dengan keberanian dan keingintahuannya tentang hubungan mereka membalas tatapan cowok itu.
Mata yang tajam begitu hitam pekat, seperti menyembunyikan sesuatu yang membuatnya sedikit terpuruk dan seperti ada hal lain yang ingin di sampaikan.
"Kakak tawuran? Badannya memar semua." Tanya Gisna mengalihkan topik pembicaraan dan tak sanggup menatap mata tajam yang perlahan menelisik masuk dalam bayangan dan fikirannya.
Bryan tidak menjawab dan sepertinya juga tidak berniat menjawab, hal seperti ini yang selalu Ia dapat kala Ia melakukan sesuatu yang membuatnya bersikeras tinggal di sini.
"Mau gue bantuin olesin yang di punggung kakak?" Tanya Gisna mengambil salep di tangan kiri Bryan yang hanya di genggamnya sejak tadi begitu kehadiran Gisna.
Gisna duduk di belakang Bryan, mengolesnya pelan dengan tangan mungilnya, terlihat tubuh Bryan terangkat seperti menahan sakit kala tangan mungil itu mengolesnya. Semua puzzle yang perlahan menarik Gisna semakin tenggelam dan ingin mengenal lebih dalam sosok di depannya, Gibryan Prayogi.
“Gis, apa sekarang kebaikan yang elo lakukan hanya sebatas hubungan kepedulian elo?” Tanya Bryan pada Gisna yang seketika menghentikan aktivitasnnya mengoles luka Bryan yang cukup miris di belakang punggung.
Bryan seperti mengharapkan kedekatan antara Gisna dan Bryan lebih dari seorang tetangga kos yang saling membutuhkan disetiap saat. Awalnya ada harapan tersembunyi di setiap kemunculan Gisna, namun melihat respon Gisna pada pertanyaan Bryan. Bryan tahu harapannya akan memperoleh kekosongan.
Bryan menatap jam dinding menunjukkan pukul sembilan tiga puluh cukup malam, Bryan segera berbalik kemudian memakai kaos hitamnya pelan-pelan.
"Udah malem, buruan tidur gih!" Ucap Bryan lembut pada Gisna sambil mengusap pelan puncak kepala cewek itu yang kini mematung membeku seperti mandi di tengah tumpukan salju.
Pelampiasan seperti apa yang di maksud Bryan?