16. BAHAGIA DI ATAS LUKA

1481 Words
Bryan sedang menghisap sebuah putung rokok yang Dia ampit di sela-sela jarinya, tampaknya dia sedang mikir keras apa yang akan di lakukannya. Padahal suasana kantin cukup hening untuknya tapi terasa hening dan hambar bagi cowok yang sedang memutar topi di atas kepalanya. "Diem-diem bae lo!" Sapa Raka yang datang dengan dua botol kemasan kopi dari lemari dingin, entah mengapa mereka bertiga Raka,Satria dan Edo sepakat jika terdiamnya Bryan akan menjadi tanda jika cowok itu akan terlibat masalah kembali. "Lah emang gue suruh ngobrol sama siapa b**o!" Ketus Bryan mendengar celoteh Raka penggati Papanya di Semarang. Raka hanya terkekeh geli memang Bryan harus mengobrol sama siapa jika Dia saja sedang mengambil minuman, namun Raka yakin akan diamnya Bryan tidak seperti biasanya membuat suasana lebih mencekam. "Nelpon Ajeng kan bisa!" Sindir Satria yang baru datang menarik kursi duduk di depan Bryan yang spontan menyorotnya dengan tatapan membunuh. "Emang model kayak gue keliatan gak bisa move on apa sih?" Ketus Bryan meneguk kopi dingin yang perlahan menyejukkan kerongkongannya. "Iya sih move on sejak adanya Neng Gisna!" Timbal Raka sambil mengangkat alis sebelahnya pada Satria. Bryan mendengkus jika sudah berurusan dengan Gisna tetangga barunya itu Ia akan kalah telak kala ketiga sahabatnya itu dengan kompaknya memojokkannya. Begitu dahsyatnya pesona cewek tetangga kosnya itu. "Ya kalau gak mau buat gue aja deh Bri." Ucap Satria menawarkan diri yang kemudian tersenyum kala mengingat tingkah menggemaskan Gisna. " Ya guenya sih fine fine aja, cuman Gisna mau gak sama elo!" Ucap Bryan kemudian tertawa nyaring melepaskan sejenak fikiran yang tengah rumit di otaknya. "Anjjrrr... suka bener lo!" Ucap Raka menepuk pundak Bryan, mendukung ledekan sahabatnya pada Satria yang sudah besar kepala. "Ka, kok lo jadi bela dia sih!" Protes Satria tidak terima jika Raka memilih menjadi pihak Bryan. Sebuah ponsel bergetar di atas meja, barang pipih itu menampilkan sebuah nama yang familliar bagi mereka. Begitu mata Bryan menangkap mata kedua sahabatnya melihat ponselnya, cowok itu segera meraih ponselnya dan memasukkan ke dalam tasnya asal. "Gak usah sembunyi kita juga sudah tahu kok Bri!" Ucap Raka berterus terang pada Bryan yang bungkam sedang Satria menatap sahabatnya penuh prihatin. Bryan hanya diam, Dia tak mampu berkata cowok itu tahu mengapa sahabatnya bersikeras melarangnya untuk berhubungan dengan orang yang menghubunginya tadi, yang tak lain karena mereka sedang menjalankan tanggung jawabnya sebagai sahabat yang baik. "Sampai kapan lo berhenti kayak gini?" Tanya Satria hati-hati namun penuh dorongan pada Bryan agar menyudahi aksinya. "Sampai kebenaran terlihat Sat, walaupun gue capek." Gumam Bryan menunduk memainkan kunci motor miliknya. Tak berapa lama cowok itu berdiri bergegas menuju parkiran tanpa berpamitan pada kedua sahabatnya yang kini mematung saling melemparkan tatapan, di cegahpun tak bisa Bryan benar-benar batu. Dengan kecepatan sedang cowok yang mempunyai mata bak seekor elang itu melaju menuju tujuannya. Tujuan dimana nyawanya tidak akan melayang hanya beberapa goresan luka akan menghiasi tubuh kurusnya.  Motornya memasuki kompleks baru saja beberapa motornya berjalan dua orang pria berdiri tegap menghalangi jalannya. tanpa pikir panjang Bryan tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan Ia peroleh nanti. "Memang sifat Ayahmu benar-benar tidak bergeser di wariskan sama kamu ya!" Ledek seorang Pria yang bertubuh tegap dengan rambut potongan cepak. Bryan hanya menarik bibirnya ke kanan, tanda meremehkan dan tak peduli pada ucapan pria yang hampir bahkan memang pria ini yang sellau Ia temui ketika memasuki tempat terlarang ini. "Sudahlah nak menyerah saja, nikmati masa mudamu." Tawar pria yang satunya untuk berdamai, lelah menghabiskan tenaga setiap membuat anak muda di depannya yang selalu mempertaruhkan nyawanya disini. BUGG...BUGG... tanpa basa-basi Bryan melayangkan pukulan di wajah dua pria yang lebih tua darinya. Beberapa kali Ia lemparkan pukulan ke perut keduanya namun mereka bukan seorang yang tidak punya kemampuan. BUGG.... BUGGG... Beberapa kali Bryan mendapat pukulan di luka yang belum sembuh itu membuatnya menahan sakit di perutnya luar biasa. Pria itu sudah menarik kerah bajunya dari belakang, Bryan menarik tangan pria itu agar terbanting ke depan yang kemudian menimpa pria yang satunya. "Aaaaa...!!!" Teriakan salah satu pria itu yang sudah menggenggam sebuah pisau di tangan kanannya siap menerkam Bryan yang masih terpaku memperhatikannya beberapa detik. Tubuh besar itu sudah menindih tubuh kurus Bryan yang sudah setengah sadar terkekeh, menertawakan hidupnya yang mungkin akan berakhir di tangan seorang anak buah. "Andai saja, tapi bosku melarangku untuk membunuhmu!" Ucap pria itu bangkit dan bergegas pergi meninggalkan tendangan di perut yang tepat pada luka memar kemarin di tubuh cowok yang kini tersungkur tidak sadarkan diri. *** Sebuah mobil berhenti tepat di belakang tubuh yang tersungkur di jalan, penumpangnya satu persatu turun menghampirinya. "Kita terlambat, b*****t!" Umpat salah satu dari mereka kemudian segera mengangkat tubuh yang penuh dengan debu dan darah itu. Keduanya masuk ke mobil dan satu di antara mereka mengemudi motor milik Bryan ya siapa lagi jika bukan Raka, Edo dan Satria. Sahabat yang merasa tidak berguna kala tak bisa menghalang langkah Bryan mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran. "Kamu tinggal diem di kosan kan enak to Bri." Ucap Edo pada Bryan yang perlahan membuka matanya. "Kalian!" Decak Bryan malas untuk bertengkar, entah mereka tahu darimana setiap Bryan tersungkur dari hantaman beberapa pukulan mereka selalu datang. Satria yang mengendarai motor mengikuti mobil Raka dari belakang, cowok itu bingung apa yang ada di fikiran Bryan sahabatnya itu. Seperti Ia merasa hidup kembali kala mendapat beberapa pukulan di wajahnya. "Langsung pulang nih?" Tanya Raka pada Satria yang tengah mensejajarkan motor yang di kendarainya dengan mobil Raka. Satria langsung mengangguk namun segera menancap gas untuk membeli beberapa obat luka terlebih dahulu. Percuma membujuk sosok yang sedang menatap kosong jalanan itu, luka berat seperti apapun tak mampu membujuknya untuk rawat inap di rumah sakit. "Kos gue, awas lo mampir ke ruangan putih itu!" Ucap Bryan terdengar memerintah Raka yang justru mencebikkan bibirnya melihat sikap keras Bryan. "Udah bonyok banyak bacot  lo!" Omel Raka yang di acungi jempol oleh Edo, namun segera Edo turunkan kala mendapat tatapan membunuh sebelahnya. Mobil itu segera melesat memasuki sebuah perkarangan gerbang hijau, Ajeng yang semula duduk di teras segera bangkit melihat mobil Raka. Edo keluar dari mobil membopong Bryan yang memegangi perutnya yang lebih terasa sakit, Raka pun turut membantu membopong sahabatnya itu. Kala mendapati Ajeng di teras memperhatikannya segera Ia menyodorkan sebuah kunci. Ajeng sudah lama mendapati situasi seperti ini, dengan cekatan Ia berlari membukakan pintu kamar Bryan. Bryan membuang muka jika saja keadaannya tidak sedang sekarat Ia memilih pergi lagi melihat Ajeng. Kebenciannya kembali sejak Ajeng memintanya untuk membahas masalah beberapa tahun lalu, luka lamanya terbuka kembali meninggalkan emosi yang campur aduk ingin marah, kecewa dan entah pada siapa. "Tinggalin gue sendiri!" Pinta Bryan memalingkan wajahnya mencoba memejamkan matanya yang sudah lebam tak terbentuk itu. *** "Duh, Na sorry nih gue gak bisa antar lo pulang. Gue mau nonton sama si Ilyas." Ucap Refi menggaruk tengkuknya tak enak hati pada sahabatnya itu. Gisna berhenti menatap Refi dengan malas memutar bola matanya, cewek berambut sepunggung itu mencubit pipi sahabatnya sedikit keras membuat Refi teriak. "Marah sih marah Na, jangan ganas dong!" Ucap Refi menyentuh pipinya sayang yang sudah memerah karena ulah sahabatnya sendiri. "Lagian lo kayak ngomong sama siapa aja. Ya udah sana !" Ucap Gisna melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkan Refi yang menunjukkan deretan gigi putihnya. Baru beberapa langkah Gisna berjalan sebuah motor hitam yang Ia kenali berhenti di sampingnya, namun alisnya berkerut kala yang mengendarai bukan Bryan melainkan Satria dengan kantong plastik putih bertengger di stang kirinya. "Mau bareng gak Na?" Tanya Satria dengan senyum mautnya yang mampu menghipnotis para kaum hawa. "Kakak mau kemana?" Tanya Gisna balik, senyum maut Satria tidak berlaku pada Gisna. Cewek itu hanya membeku dengan mata Bryan. "Ke kos Bryan!" Ucap Satria pendek begitu mengetahui tujuan sama Gisna segera naik. Ada hal yang berbeda kali ini, tangan Gisna tak melingkar di pinggang Satria layaknya ketika Ia bersama Bryan. Satria pun juga tak memintanya, Ia cukup tahu posisinya di mata cewek di jok belakang motor itu. Jarak yang cukup dekat membuat keduanya tak memakan banyak waktu untuk mencapai tujuan yaitu kos yang bergebang hijau itu. Gisns sedikit berkerut kala sebuah mobil terparkir manis di karangan. "Makasih kak, gue masuk dulu ya!" Ucap Gisna baru saja memasuki ruang tengah matanya menangkap dua manusia sedang duduk di sofa, di sampingnya lagi ada seorang cewek yang sedang tidak saling bertegur sapa dengannya. Gisna segera masuk kamarnya, membersihkan badannya yang sudah lengket dengan keringat sepanjang hari. Dia terdiam kala mengingat raut wajah Ajeng yang datar padanya, Ia benar-benar tak enak hati pada tetangga itu. Tak mau ambil pusing segera Ia masuk kamar mandi dan melakukan ritual mandinya. Sedang di luar Satria tersenyum dengan wajah songongnya memamerkan kedatangannya yang bersama putri cantiknya itu. "Untung si Bryan lagi bonyok." Ujar Edo memperingati Satria jika Gisna bagaikan sesuatu berharga di hidup sahabatnya yang keras kepala bak batu itu. "Tinggal nunggu besok lo yang bonyok Sat! " ucap Raka kemudian tawa Edo dan Raka menggelegar menikmati wajah Satria yang berubah murung. "Gue mah apa atuh cuman Kesatrianya Putri Gisna yang hatinya hanya untuk Pangeran Bryan seorang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD