Cahaya matahari menerobos sela-sela jendela Gisna yang tak tertutup tirai, matanya mulai terusik kala benda hangat menelusuri wajahnya. Perlahan Ia membuka mata rasanya cepat sekali malam menuju pagi, padahal pagi menuju malam begitu lama.
Perutnya terasa hampa, ingin asupan sesuatu di pagi buta seperti ini. Gisna bergegas keluar kamar untuk makan nasi atau makanan karbo lainnya mulutnya masih terasa asing. Ia ingin segelas s**u hangat saja.
Baru beberapa langkah menuju dapur langkah cewek itu terhenti begitu matanya bertemu dengan mata Ajeng, cewek yang menjadi tetangga kamarnya selain Bryan. Ia cukup canggung dan sedikit tak enak hati, namun begitu Ajeng melemparkan senyum simpul Gisna membalasnya dengan tak kalah hangat.
"Kuliah Na?" Tanya Ajeng sambil mengaduk dua s**u cokelat.
"Iya mbak, sudah masuk semester lagi." Jelas Gisna kemudian matanya memicing mengapa ada dua gelas di depan Ajeng mungkin untuk kak Bryan, bukankah itu wajar.
"Mau bikin apa?" Tanya Ajeng begitu Gisna mengambil sebuah gelas kosong di rak.
"s**u hangat mbak, gak tau lagi lapar aja jam segini." Ucap Gisna mengambil s**u sachet di lemari es.
"Itu ada sisa air panas tadi kalau mau, oh ya sekalian ini kasih ke Bryan ya!" Pinta Ajeng kemudian bergegas pergi begitu saja membuat Gisna mematung.
Takut keburu dingin Ia segera menuangkan air panas itu di gelasnya mengaduknya, tangannya dengan lincah memutar sendok teh panjang itu namun pikirannya entah sedang berjalan-jalan kemana. Jika memang mereka saling peduli lalu mengapa harus mengikut sertakan Gisna sebagai pembatasnya.
Tiba-tiba cubitan hebat menggetarkan hatinya, ada rasa tak rela ada rasa yang menyuruhnya segera pergi saja. Dengan bimbang Gisna melangkah pergi menuju kamar Bryan yang masih gelap itu.
Ketukan beberapa kali tak membuat pintu itu terbuka, Gisna menghela nafas penuh kesabaran tangannya menarik gagang pintu di depannya. Dan memang sepertinya tidak terkunci, Gisna masuk dan mencari tombol sakelar lampu.
Begitu nyala cewek itu terdiam banyak salap dan obat luka di atas meja samping tempat tidur cowok yang kini sedang meringkuk di tempat tidurnya tanpa selimut hanya memakai kaos dalam putih saja.
Gisna duduk di tepi ranjang melihat wajah damai yang berbalut luka di berbagai sudutnya, kaos putih yang tipis memperlihatkan ada luka biru di tubuh yang Ia lindungi.
"Kak!" Panggil Gisna pelan dengan tangan masih menggenggam segelas s**u cokelat buatan mbak Ajeng.
Cowok itu langsung membuka matanya begitu suara Gisna menyentuh gendang telinganya, matanya mengerjap beberapa kali memastikan bahwa ini bukan mimpi jika yang sedang berada di depannya memang Gisna.
"Hm." Sahut Bryan yang kemudian memejamkan matanya lagi, rasa kantuk mulai menyelimuti kedua matanya lagi.
" nih s**u cokelat buatan Mbak Ajeng. " ucap Gisna menaruhnya di meja bersama obat-obatan milik Bryan yang berserakan.
Bryan bangun dan mencoba duduk namun sengatan di sekujur tubuhnya membuatnya hampir tak kuat menyangga tubuhnya. Beruntung tangan Gisna menopangnya membantunya duduk.
"Kenapa harus Ajeng bukan lo yang buat?" Tanya Bryan menatap Gisna yang terdiam memikirkan jawaban.
Memang jawaban apa yang akan diberikan Gisna, Ia juga tak tahu harus menjawab apa lagian cewek itu bisa di sini karena permintaan dari mbak Ajeng. Lagipula perbedaannya dimana, s**u buatan Ajeng dan Gisna. Sama-sama rasa s**u cokelat.
"Udah gak usah bawel, tinggal minum aja repot!" Omel Gisna pada Bryan yang cukup terkejut mendengar Gisna yang justru marah entah pada siapa.
Bryan hanya tersenyum menanggapinya kemudian mengambil gelas yang ada di genggaman Gisna, meneguknya pelan sampai tersisa setengahnya.
Gisna diam memperhatikan obat-obatan yang ada di meja itu, hanya beberapa obat pertolongan pertama. Dan di lihat dari luka Bryan, cowok itu berantem hebat tapi dengan siapa? Mengapa setiap pulang Bryan selalu babak belur dua hari ini?
"Kakak itu sebenarnya ngapain aja sih setiap malam?" Tanya Gisna heran pada Bryan yang justru sejak tadi menatapnya dalam diam.
"Lo gak lihat muka sama tubuh gue!" Ketus Bryan seolah sedang di omeli oleh Ibunya karena pulang terlalu larut malam.
"Iya aku tahu, tapi seenggaknya itu ke rumah sakit kek yang luka gak cuman luar tapi dalam juga." Omel Gisna mulai terpancing emosinya begitu keras kepalanya Bryan.
"Gue males ke rumah sakit!" Ucap Bryan memalingkan wajahnya tiba-tiba dia tak berminat terlalu lama menatap mata teduh milik Gisna.
"Kalok males gak usah berantem!" Tandas Gisna tak terima dengan alasan tidak masuk akal Bryan.
"Suka-suka gue dong! Ngapain lo ngatur-ngatur gue!" Ucap Bryan dengan nada tinggi mulai terpancing juga emosinya apalagi emosi cowok itu memang tidak stabil.
"Gak ngatur tapi peduli kak!" Ucap Gisna mulai menyerah menghadapi seorang Bryan dengan keras kepala yang tak pernah berkurang.
"Gak usah peduli sama gue, lo tuh gak kenal sama gue!" Bentak Bryan yang sangat sensitif jika ada yang memberinya simpati apalagi cewek itu adalah Gisna, Bryan tak mau itu saja!
"Emang kita harus kenal dulu sama orang yang lagi butuh pengobatan?" Tanya Gisna sinis, ini respon karena terkejut bentakan Bryan.
Bayangkan saja di pagi buta ini harus mendapat bentakan ketika ingin memberikan saran padanya. Mereka di selimuti keheningan diam, Bryan yang menyesali sudah menbentak Gisna. Begitu pula Gisna yang sudah tak mau bicara dengan orang keras kepala seperti Bryan.
Gisna bangkit dari duduknya dan tanpa berucap apa-apa Ia keluar dari kamar Bryan dengan sedikit membanting pintu meluapkan kekesalannya pada cowok itu.
***
Mendung menyelimuti kota Jakarta hari ini, namun tak ada satu tetes demi tetes air hujan. Mungkin hanya sebuah cuaca, angin pun tidak tertiup dari berbagai arah. Hanya udara menjadi lebih dingin menyelimuti orang-orang yang berlalu lalang.
Gisna mengaduk es jeruk miliknya yang baru saja di berikan oleh pelayan, dengan semangkok bakso langganannya bersama Refi dan juga Ilyas. Mereka bertiga menjadi sering kesini setelah Ilyas mengajaknya mencoba bakso yang baru buka beberapa bulan yang lalu.
"Yas, bokap lo jarang ngajar kemana sih?" Tanya Gisna penasaran absennya dosen botak satu itu.
"Keluar kota Na, ngurusin Usahanya kalok emang ada masalah mendadak sih." Jelas Ilyas sambil membelah bakso yang ukuran lebih besar dari yang lainnya.
Meski Ilyas dan Refi adalah sepasang kekasih namun Gisna tak sungkan untuk jalan bareng dengan keduanya, pasalnya Gisna juga berteman baik dengan Ilyas.
"Na, beneran Ilyas sama gue gak perlu nganter elo?" Tanya Refi tak enak hati dengan sahabatnya datang bersama namun pulang sendiri.
"Iya, Na santai aja lagi gue anter juga gak papa kan?" Timbal Ilyas juga tak enak hati.
"Apaan deh, santai aja lagi gue pulang sendiri juga gak papakan!" Jawab Gisna menyakinkan kedua sahabatnya yang sibuk dengan rasa tak enak hati miliknya.
Ilyas dan Refi mengalah Ia tak mau berdebat lagi dengan orang keras kepala seperti Gisna, meski Gisna sudah berkata tidak masalah pulang sendiri namun tetap saja.
Hanya beberapa menit saja mangkok yang penuh dengan bakso sudah ludes masuk ke perut mereka, menyisakan ingus yang tak bisa di kendalikan karena sambal yang luar biasa pedasnya. Sampai Ilyas harus memesan kembali es teh, karena tak tahan dengan pedasnya.
mereka keluar dari warung bakso itu dengan perut penuh dan wajah panas karena pedas yang belum juga hilang walaupun sudah reda. Ilyas dan Refi menunggu Gisna mendapat taxi dulu, mereka tak mau memaksa cewek itu lagi.
"Kalian pulang dulu aja !" Perintah Gisna agar mereka jalan pulang terlebih dahulu.
"Udah deh gue anter aja Na!" Paksa Ilyas yang mulai tak sabar, Refi hanya diam karena Ia begitu mengenal cewek yang sedang berdiri di pinggir jalan mencari taxi itu.
Dewi fortuna sedang di pihaknya, matanya memincing seperti mengenal motor hitam yang sedang melaju kearahnya.
"Lain kali aja ya!" Tolak Gisna kemudian melambaikan tangan pada sang pengemudi motor untuk berhenti.
Ilyas dan Refi bengong melihat sebuah motor yang perlahan menepi tepat di depan Gisna, mereka tahu itu siapa kalau bukan Bryan senior mereka yang suka melabrak juniornya di kampus. Meski kejadian itu sudah jarang mereka temui.
"Ngapain disini?" Tanya Bryan menatap Gisna dan kedua temannya secara bergantian.
"Habis makan bakso, tapi mereka kan rumahnya gak searah sama kos aku." Ucap Gisna seperti biasa manja pada Bryan yang dingin.
Keduanya sepertinya lupa kejadian pagi tadi, padahal mereka sering berantem tapi akan kembali seperti semula. Bryan hanya diam tak menjawab kalimat terakhir Gisna, Gisna segera naik di jok belakang sedang Ilyas dan Refi masih terdiam bak patung.
"Gue pulang ya!" Ucap Gisna berpamitan yang langsung di balas anggukan oleh kedua sahabatnya yang masih menatap motor yang sudah jauh sampai hilang tertutup kendaraan lainnya.
"Mereka pacaran?" Tanya Ilyas tak habis fikir bagaimana Gisna bisa sedekat itu dengan Bryan bahkan Bryan yang terkenal dingin pun tak menolak permintaan Gisna.
"Gak tau, Gisna gak cerita apa-apa." Ucap Refi tak yakin.
Karena dari pancaran kedua mata dua orang tadi memancarkan saling tertarik namun kedua selalu menepia karena rasa gengsi yang tinggi. Entah siapa yang tahu?
***
Gisna memegang pundak Bryan erat setiap cowok itu menambah kecepatan, rasanya tak nyaman namun gimana lagi Gisna ingat luka lebam di perut kiri Bryan.
"Di pinggang aja Na!" Ucap cowok yang sedang menyetir itu, ternyata bukan hanya Gisna yang tak nyaman namun juga Bryan yang tak terbiasa dengan pegangan Gisna di pundaknya.
Gisna menurunkan tangannya dan melingkarkannya di pinggang Bryan yang spontan sedikit terangkat seperti tersengat listrik. Luka lebamnya sedikit sakit kala tangan mungil Gisna memeluknya dari belakang.
"Tuh kan !" Ucap Gisna melihat respon tubuh Bryan kala Ia melingkarkan tangannya di perutnya.
"Gak papa!" Ucap Bryan menyakinkan pada cewek yang perlahan melepas lingkar tangannya di pinggang Bryan. Kini Ia tak melepasnya namun hanya sedikit merenggangkan pelukannya.
Begitu jarak keduanya begitu dekat Gisna bisa mencium aroma khas parfum milik Bryan di tengkuk cowok itu, ya Tuhan inikah yang dinamakan cinta?
"Darimana tadi?" Tanya Gisna sedikit keras di dekat Bryan yang menggunakan helm full face. Jujur saja Ia mengantuk makanya membuka obrolan yang menurutnya tidak ada gunanya juga.
"Dari rumah sakit nurutin omongan lo!" Ucap Bryan sedikit menekan pada kata lo yang mengingatkan Gisna dengan pertengkaran tadi pagi.
Gisna terdiam membeku, Ia merasa bersalah menurutnya tadi pagi memang Ia terlalu mengatur Bryan seolah-olah Ia mempunyai kedudukan di hidup Bryan.Bryan mengerutkan keningnya kala tak ada balasan dari Gisna, matanya melihat Gisna dari spion cewek itu terlihat diam dan menggigit bibir bawahnya.
"Hei!" Ucap Bryan menggoyangkan tubuhnya membuat Gisna mendekat pada cowok itu.
"Kenapa diam ?" Tanya Bryan merasa bersalah apa ucapannya tadi terlalu kasar untuk Gisna sampai cewek itu berubah jadi murung. Padahal, yang terjadi Gisna sedang memejamkan matanya untuk sejenak menghilangkan rasa ngantuknya.
“ Gue nggak maksud yang tadi pagi, Kak.” Ucap Gisna hampir tak terdengar suaranya terhembus angin. Bryan hanya tersenyum tanpa berkata-kata, ia menambah kecepatan laju motornya agar Gisna mempererat pelukannya di pinggang Bryan.