18. WHO ARE YOU ?

1653 Words
Seorang cowok sedang meminum air mineral yang di beli sahabatnya untuknya, dosen tidak bisa mengajar karena ada keperluan di luar kota. Tentunya kenikmatan menjerumuskan yang dirasa, bagaimana tidak? Dosen yang tidak bisa hadir tapi justru mahasiswa yang harus pusing karena tugas yang akan menumpuk di akhir semester nanti. Raka sibuk menyesap putung rokok yang cowok itu ampit di sela-sela jari panjangnya, di pagi hari yang cukup cerah ini matahari lumayan membakar kulit namun karena mereka sedang berteduh di bawah pohon bukan panas yang mereka rasa justru angin silir berganti meniup tengkuk mereka. Bryan mengusap pelan pipinya yang samar-samar masih terlihat membiru meski sudah cukup mendingan di banding kemarin. Setiap kali Bryan terlibat pertengkaran, mereka tak pernah tahu keberadaan cowok itu sekalipun mereka tahu namun selalu terlambat datang. "Yan, berhenti aja kayaknya Om lo itu udah mulai gila!" Ucap Edo meletakkan ponselnya yang mulai lowbat karena terus cowok gamers itu gunakan untuk bertempur hanya untuk sebuah ayam goreng. "Dia emang udah gila,Do!" Ucap Bryan membuang putung rokoknya yang perlahan pendek terbakar api. Memang tak habis fikir Bryan lima tahun berlalu tak juga reda api kebencian untuk adik Papanya itu. Laki-laki yang mengubah kehidupanya lima tahun silam, tak pernah di temukan lagi dirinya yang sebenarnya dalam kehidupannya yang sekarang. "Lo harus puter balik bro, sebelum semuanya terlambat." Ucap Satria yang sejak tadi menyimak obrolan di antara mereka berempat. Bryan memandang Satria tak yakin, seolah-olah Ia sudah pesimis. "Iya, gue yakin elo pasti bisa!" Ucap Raka menepuk pundak Bryan pelan mencoba menyakinkan Bryan jika hidup yang Ia geluti selama enam tahun ini bukan masa depan yang seorang Gibryan Prayoga harapkan. "Gue gak tahu apa bisa gue temukan diri gue yang dulu, gue balikin semuanya terasa mustahil. Gue udah terlalu jauh." Ucap Bryan menatap ranting yang terbebani oleh dedaunan lebat yang menyejukkan mata menari-menari pelan. Bryan menatap lingkungan sekitarnya, matanya berhenti pada sosok cowok dengan topi hitam yang kini sedang menatapnya lurus menembus bayangan. Bryan terpaku diam, sepertinya masa lalu yang perlahan Ia kubur kini bangkit menerkamnya ketika Ia lengah. Cowok yang sejak tadi menatap Bryan sejak kedatangan gerombolan sampai akhirnya cowok itu menyadari dirinya perlahan menghampiri Bryan yang kini membisu, seakan canda tawa sahabatnya tak terdengar lagi. "Gue mau ngomong berdua sama elo!" ucap Bara tanpa basa basi yang sudah berdiri di samping Bryan yang kini lurus menatapnya tajam. Hening, Raka dan Satria saling berpandangan seolah bertanya siapa cowok yang kini berurusan dengan Bryan. Seingatnya Bryan tak pernah berkelahi dengan cowok ini, wajahnya begitu asing bagi mereka bertiga. "Lo siapa?" Tanya Edo dingin seolah berani melemparkan hantaman kapanpun saja, wajah cowok yang sedang di ajak bicaranya tak kalah dingin dari mereka. Suasananya menjadi tegang, Bryan tersadar begitu Bara tetap menatapnya mengabaikan ucapan Edo. "Bukan urusan kalian, gue gak kenal kalian. Gue cuman mau ngomong sama Bryan." Jelas Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari Bryan. "Gue kesana dulu, ntar gue nyusul!" Ucap Bryan menenangkan Satria yang mulai berdiri tak terima dengan ucapan Bara. Kemudian keduanya berjalan pergi menjauh dari sahabat Bryan, berjalan bersama dengan pandangan saling bertolak belakang. Tak ada yang memulai bicara sampai mereka tiba di ujung tama kota yang lebih sepi dari lalu lalang orang-orang. "Jauhin adek gue!" Ucap Bara pada intinya tanpa basa-basi, ucapan yang Ia tahan sejak Ia tahu di persimpangan jalan bahwa Gisna sedang jalan bersama dengan Bryan. Bryan terdiam mencoba mencerna apa yang 'teman lamanya' katakan, adek? Siapa? Sampai akhirnya Ia bisa pecahkan teka teki dan mengetahui suatu fakta jika Gisna adalah adik dari Bara.  "Kenapa gue harus jauhin dia?" Tanya Bryan santai menyalakan korek mencoba membakar ujung putung rokok di mulutnya. "Gue gak suka dia deket-deket sama brandalan model kayak elo! Gue tahu apa yang ada di otak lo mengenai Gisna!" Ucap Bara mulai meninggikan nada bicaranya, rupanya kalimat itu tak hanya membakar emosi Bryan namun juga emosinya sendiri. "Bagus kalok elo tahu, gue cuman jadiin adek elo sebagai pelampiasan atas kebencian gue sama elo!" Bohong Bryan menatap tajam menusuk setiap cahaya api yang terpancar dari mata Bara. "Gue minta jauhi dia, selagi gue ngomong baik-baik sama elo!" Tegas Bara mencoba memadamkan emosinya yang perlahan menggebu-gebu. "Gue rasa itu hak gue mau ngejauhi dia atau enggak!" Ucap Bryan tersenyum sinis kala Bara mulai mengepalkan kedua tangannya sampai putih pucat. Tak ingin menarik Bara melesat pergi dengan salam perpisahan menyinggung keras pundak kanan Bryan yang mampu membuat cowok itu hampir terhuyung karena tanpa persiapan. Bryan mendudukkan dirinya yang sibuk dengan khayalannya sendiri, mengingat banyak kejadian terjadi akhir-akhir ini mengingatkannya bahwa dunia memang sempit.orang-orang masa lalunya seolah bersekongkol memojokkannya dalam rumitnya fikiran yang ada. Senyum hambar terlukis di wajah suramnya menertawakan begitu rumitnya hidup yang Ia jalani. Ia meremas rambutnya kasar, mencoba meluapkan emosi yang  Ia tahan semenjak kedatangan Bara. Baru saja Ia berdiri seseorang berlari dari arah berlawanan dengannya, sengaja menabrakkan diri pada Bryan yang masih setengah sadar tak mampu menghindar. Jleeebbbb... Tabrakan tak bisa di hindari meski cowok yang menabraknya tetap berlari kencang, lupakan situasi ini namun ada yang lebih menarik kebingungan Bryan di kala Ia baru sadar akan sesuatu yang menggores perutnya tidak dalam namun cukup terasa. Bryan masih berdiri mematung perlahan meraba perut kirinya dengan kedua tangan, ada cairan kental yang mewarnai telapak tangannya. Bryan sedikit menekan perutnya agar darah tak keluar terlalu banyak. Tangannya meraba ponsel di jaket denimnya, nama Edo tertera di layar ponselnya. Dengan sekuat tenaga, Ia mencoba bertahan menunggu seseorang disana mengangkat panggilannya. "Ha..." "Do, segera kesini di ujung taman kota." Ucap Bryan perlahan mulai hilang suaranya, matanya mulai terpejam bersamaan dengan jatuhnya tubuh Bryan bersandar pada pohon yang rindang. Bara yang tadinya beranjak pergi mendengar sesuatu yang jatuh segera menoleh dan menemukan Bryan sudah tak sadarkan diri. Bara berlari tunggang langgang meminta bantuan orang sekitar, seakan lupa perang dingin antara keduanya, Bara segera bergegas membawa ke rumah sakit. *** Aroma khas obat-obatan menusuk indra penciuman sosok cowok yang kini terbaring lemah tak sadarkan diri, sayup-sayup terdengar obrolan santai dari sekitarnya membuat perlahan tangannya bergerak. Dengan mata yang begitu berat, Bryan membuka mata mengerjapnya pelan mencoba beradaptasi dengan cahaya yang memenuhi retina matanya. Ia menatap kosong tangan kirinya yang tersambung oleh selang infus. "Dia bangun!" Ucap sosok cewek yang sejak tadi duduk di tempat orang menunggu pasien. Ajeng sedang duduk bersama dengan Raka dan Satria, sedang Edo sedang membeli nasi untuk mereka. Gisna yang duduk tepat di samping Bryan hanya diam membisu menatap cowok yang kini juga menatapnya dengan lemah. Gisna tak mampu bicara,baru saja Ia pulang dari kampus namun sudah di ajak kesini oleh Ajeng karena insiden Bryan. "Syukur elo udah sadar!" Ucap Raka menghampiri Bryan yang memperhatikannya dengan senyum senang. "Lo harus berhenti Yan, sebelum semuanya tambah memburuk." Ucap Satria memberi saran Bryan yang hanya di balas anggukan. "Na, kita mau nyusul si Edo. Lo mau ikut apa nunggu si Bryan?" Tanya si Raka santai. Jangan salah paham, berfikir jika mereka sahabat tak setia kawan. Dulu ada inisiatif gantian dalam menunggu si Bryan namun cowok itu selalu marah dan menyuruh semuanya pergi dengan alasan butuh waktu sendiri. Dulu? Kejadian seperti ini sudah biasa terjadi, kejadian untuk Bryan yang keluar masuk rumah sakit. Tak pernah terfikir jika sampai seperti ini. "Aku udah makan kak di kampus tadi." Ucap Gisna masih menatap mata Bryan dengan penuh tanda tanya besar bercampur menjadi satu. Bryan hanya diam, melihat sorot mata Gisna Ia tak mau memaksa cewek itu pergi bersama dengan sahabatnya. Mereka pun hanya mengangguk dan pergi, meski ada seribu pertanyaan bagaimana posisi Gisna yang selalu meluluhkan hati seorang keras kepala seperti Bryan. Gisna hanya diam,menunduk memainkan seprai tempat tidur pasien. Bryan menatap setiap tingkah Gisna dengan sabar, Ia tahu cewek itu ingin menanyakan sesuatu padanya. "Beneran udah makan?" Tanya Bryan lembut pada Gisna yang hanya mengangguk dan tak mengangkat kepalanya sedikitpun. "Sebenarnya kakak itu siapa? Kenapa sering terlibat kejadian seperti ini?" Tanya Gisna akhirnya menatap lurus pada Bryan seolah ingin menyelami bola mata hitam cowok itu yang langsung mengalihkan pandangan. Bryan memejamkan mata dan menarik tangan kanan Gisna dalam genggamannya, Gisna hanya diam melihat respon Bryan yang sepertinya ragu jika memperlihatkan kehidupannya pada cewek yang tiba-tiba mengubah alur hidup yang Ia rencanakan. "Kalok lo tahu siapa gue, elo bakal nyesel masuk hidup gue. Sayangnya lagi gue gak akan biarin elo keluar dari hidup gue." Ucap Bryan menggenggan erat tangan mungil yang masih dalam genggamannya. “Hubungan kak Bryan sama Bara itu apa?” Tanya Gisna hati-hati menatap Bryan. Cewek itu tahu Bryan akan berubah raut wajah kala ditanya perihal Bara, seperti ada sesuatu yang membangkitkan amarah cowok itu. Masa lalu yang membuatnya merasa bersalah dalam kesalah pahaman. “Gak usah bahas dia! Kalok lo kepo, Tanya aja sama abang elo itu.” Jawab Bryan melepas genggamannya di tangan Gisna seolah menyuruh cewek itu pergi. “Kak Bryan nggak tahu rasa terimakasih itu gimana? Tadi yang bawa kakak kesini tuh Mas Bara loh!” bantah Gisna semakin kesal mendengar ocehan Bryan yang tak tahu diri itu. “Bara yang bawa gue kesini? Terus dia kemana?” Tanya Bryan pada Gisna yang cemberut justru sangat menggemaskan. “pulang ke Bandung.” Jawab Gisna malas. “ Gis !” panggil Bryan merasa tidak enak dengan Gisna tampaknya berubah tak nyaman dengan ucapan Bryan seolah tak tahu balas budi, padahal Bara tak sempat membereskan beberapa noda darah di bajunya karena membantu Bryan menyumbat darah yang terus mengalir dalam perjalanan ke rumah sakit. “ Gue butuh pundak elo!” ucap Bryan begitu rasa kantuk merasukinya yang ia ingin berdekatan dengan Gisna berusaha melupakan masalah yang beruntun-beruntun saling menyerangnya. Gisna terdiam sedikit terkejut dengan permintaan Bryan, namun cewek itu tidak menolaknya. Cewek itu naik dan duduk di tepi ranjang, mendekatkan dirinya pada Bryan yang langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Gisna. Tak merasa terganggu sedikitpun dengan rambut Gisna yang terurai berlarian kesana kemari tertiup angina dari kipas angina di ruangan itu. Gisna mulai merasakan berat di kepalanya, dan akhirnya ia pun mejatuhkan kepalanya bersandar pada kepala Bryan yang kini tertidur. Gerakan refleks Gisna menggenggam tangan lemah Bryan yang kini terlihat tak bertenaga itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD