Ben yang saat itu sudah hanya sendirian di bangku tempatnya duduk bersama Shen tadi sebenarnya tak memiliki pikiran apapun yang dirinya ingin lakukan, dirinya masih lebih fokus kepada sesuatu yang sedang dirinya lakukan tadi yaitu mencoba untuk terus saja mengerjakan tugasnya yang sudah ada di dalam laptop sambil menunggu dosen mata kuliah Ben yang selanjutnya, tapi ketika Ben sudah cukup lama mengerjakan tugasnya yang ingin beliau selesaikan Ben pun tiba-tiba langsung saja ingat dengan sesuatu yang sebenarnya dirinya pikirkan daritadi, dan hal yang Ben maksudkan saat itu adalah mengenai Seena yang benar-benar memutuskan untuk menjadi pacar Sin atau hanya berpura-pura saja, agar membuat Ben merasa cemburu.
"Maafkan aku Shen, tapi meskipun aku benar-benar mencoba untuk menenangkan pikiran dan hatiku, aku tak bisa melupakan apa sudah aku lihat tadi aku benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang sebenarnya Seena pikirkan hingga dia bisa berbuat hal yang bodoh seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu, dan sesuatu yang aku maksudkan adalah mencari tahu kebenaran mengenai semua ini," ujar Ben, dalam hatinya.
Saat itu ketika Ben sudah benar-benar yakin dengan apa yang akan dilakukannya Ben pun tentu saja tanpa berpikir lagi jadi membereskan saja dulu semua peralatan yang dirinya sudah pakai untuk mengerjakan tugasnya seperti laptop, Ben tak melupakan satu benda pun saat itu hingga Ben benar-benar bisa membereskan semuanya tanpa ada yang kurang.
"Baiklah sepertinya semua barang yang aku miliki sudah bisa aku bereskan, yang sekarang harus aku lakukan tinggal langsung saja mencoba melihat kegiatan yang sedang di lakukan oleh Seena dan Sin, di belakang kantin ini, aku benar-benar sangat merasa penasaran dengan apa yang sedang mereka lakukan, dan yang paling penting sekarang adalah, aku benar-benar ingin mengetahui apa maksud dari Shen sekarang ini," ujar Ben dalam hatinya, sambil langsung berjalan ke sebuah pintu yang mengarah langsung ke bagian belakang dari kantin tersebut dimana di bagian belakang kantin tersebut juga tersedia beberapa kursi dan meja yang tentu saja biasa digunakan untuk mahasiswa yang ingin makan dan minum di kantin tersebut.
Ben yang saat itu perlahan menuju ke tempat dimana Seena, dan Sin pergi tadi perlahan berjalan mencoba mencari dimana mereka duduk karena saat itu kebetulan sedang banyak pengunjung yang makan ataupun ngobrol di bagian belakang kantin tersebut sehingga Ben sedikit kesulitan menemukan dimana Seena, dan Sin berada. Dan yang membuat Ben kesulitan saat itu adalah Ben yang mencari mereka secara sembunyi-sembunyi karena tak ingin Seena ketahui jika saat itu Ben sedang mengintainya. Hingga pada akhirnya ketika Ben terus saja mencari Seena, Ben langsung bisa melihat dimana Seena berada saat itu di sebelah pojok dari kantin tersebut.
"Akhirnya aku menemukan mu juga Seena, tapi kenapa kau seseorang tak seperti tadi Seena? Karina kau lewat ke hadapanku tadi kau begitu terlihat seperti orang yang senang dan bangga dirangkul oleh Sin, tapi disini sekarang kau hanya berdiam diri saja duduk tanpa ditemani oleh siapapun termasuk Sin. Sepertinya aku memang tak salah menyimpan rasa curiga kepadamu Seena, sepertinya ada hal yang tak beres mengenai hal ini Seena dan aku harus tahu mengenai hal ini," ujar Ben dalam hatinya, ketika terus saja mengintip Seena yang saat itu hanya berdiam diri saja tanpa ada seseorang yang menemaninya.
Tapi ketika Ben terus saja melihat ke arah Seena, Ben pun tiba-tiba terkejut hingga langsung mencoba untuk bersembunyi dari tempatnya berada sekarang mencoba untuk menyembunyikan dirinya dari Seena yang saat itu tiba-tiba seperti yang melihat Ben, hal tersebut bisa Ben pastikan karena setelah Ben melihat Seena yang sepertinya berhasil melihat Ben tadi, Seena pun benar-benar seperti orang yang sedang mencari seseorang, sampai pada akhirnya Seena pun langsung saja menghampiri Sin lalu menarik tangan Sin membawanya ke tempat duduk yang dirinya tempat tadi. Semua itu belum berakhir disana karena ketika Ben terus saja mencoba untuk melihat apa yang dilakukan Seena, ada sesuatu yang membuat Ben terkejut saat itu karena Seena tiba-tiba merangkul bagian belakang leher Sin dengan mesra.
"Sial apa aku benar-benar melihat Seena yang saat ini sedang bermesraan dengan Sin? Seena begitu terlihat senang dan sengaja melakukan hal mesra seperti itu kepada Sin. Sial, sial, apa semua ini karena salahku? karena kemarin aku yang kurang tepat menjawab pertanyaan Seena, hingga membuat Seena tersinggung hingga apa yang dikatakan oleh Shen kemarin begitu sangat terbalik dengan apa yang dilakukan Seena sekarang. Sepertinya aku memang harus meminta maaf kepada Seena mengenai hak kemarin sebelum Seena benar-benar dekat dengan Sin apa lagi sampai benar-benar menjalin asmara yang tentu saja akan membuat Seena dalam masalah yang cukup besar. Ayo Ben jangan membuang-buang waktu, jika nanti kau mendapatkan momen yang bagus untuk bicara kepada Seena langsung lakukan itu Ben, dan meminta masalah kepadanya karena sepertinya perubahan sikapnya sekarang di karenakan aku yang kemarin menyinggung perasaannya. Maka dari itu sekarang kau harus meminta maaf, dan meyakinkan Seena jika apa yang dilakukannya saat ini begitu sangat beresiko.
"Ternyata kau datang juga kemari Ben, dan sepertinya kau memang sengaja mencoba melihat kearah ku barusan. Tapi tenang Ben karena aku hanya ingin melihat respon mu, mengenai kedekatan ku dengan Sin sekarang. Tapi kau tak usah khawatir Ben karena apa yang aku lakukan sekarang tidak sampai aku lakukan dengan sepenuh hati, dan lebih tepatnya aku melakukan ini hanya untuk mengetahui saja bagaimana responmu jika aku sampai dekat dengan Sin, dan sepertinya semua sudah jelas sekarang kau tidak menyukai apa yang sedang aku lakukan ini Ben," Ujar Seena, tersenyum kecut saat itu.
Lalu ketika Seena sudah mengetahui jika saat itu Ben pergi, Seena pun langsung saja melepaskan rangkulan tangannya dari Sin dengan cara yang cukup hingga pada akhirnya Seena pun langsung saja menjauhi Sin.
"Ini gila, sepertinya apa yang dilakukan Seena bukan semata-mata karena untuk membuatku cemburu, tapi ada sesuatu yang memang membuat Seena nyaman dengan Sin sampai Seena benar-benar mau dekat bahkan mau sin sentuh. Lebih baik aku menjauh dan tak mencoba untuk mengganggunya karena sepertinya ini memang keinginan Seena sendiri tanpa ada tujuan lain," ujar Ben, perlahan dan diam-diam pergi saja menjauh dari tempat Seena berada.
Ben yang saat itu mencoba pergi dari tempat Seena berada bersama dengan Sin langsung saja duduk kembali di lorong kampus yang dekat dengan beberapa ruang kelas, selain saat itu Ben mencoba memperhatikan dosennya ben juga lebih tenang berada di sana meskipun sambil ingin kembali bekerja. Tapi baru saja Ben membuka laptopnya saat itu Ben langsung melihat dosen yang akan mengajar dikelasnya datang, sehingga yang Ben lakukan tentu saja langsung kembali saja menutup laptopnya karena berpikir jika dosen yang akan mengajar di kelasnya akan langsung masuk ke dalam ruangan kelas, dan apa yang Ben pikirkan pun benar saat itu dosen yang mengajar di kelas Ben langsung saja masuk ke salah satu ruangan.
Saat itu ketika Ben tak mengharapkan kehadiran Seena tiba-tiba Seena hadir ke Maya pelajaran tersebut dengan kembali dirangkul oleh Sin, sampai membuat dosen yang saat itu mengajar mata pelajaran tersebutpun menggelengkan kepalanya, tapi tak bisa melakukan apa-apa karena Sin yang terkenal anak berandalan yang malah akan melakukan hal yang buruk jika dirinya mendengarkan sebuah larangan atau mendengarkan sebuah hal yang tak enak dalam hatinya, hingga siapapun dosen yang melihatnya selama tak melebihi batas dosen tersebut hanya diam saja meskipun dalam hatinya sebenarnya dosen tersebut merasa tak enak, dan ingin memperingatkan apa yang Sin lakukan.
Sialnya entah apa yang Seena maksudkan saat itu karena yang dilakukan oleh Seena duduk tepat di sebelah Ben yang kebetulan saat itu kebagian kursi paling belakang, sementara Sin juga duduk di pinggir Seena sambil tak melepaskan pegangannya terhadap tangan Seena. Ketika pelajaran dimulai Ben pun melihat Seena dan Sin yang terus saja berbincang membicarakan hal mesra.
"Tenang Ben, mereka pasangan yang baru memadu kasih wajar mereka bersikap seperti itu meskipun sebenarnya sedikit mengganggu karena kenapa mereka bermesraan di dekatku bahkan mereka bermesraan di dalam kelas yang saat ini jelas-jelas sedang melakukan aktifitas belajar. Dasar Sin, dialah yang tidak punya otak so berkuasa dan tak tahu aturan kenapa juga aku harus memilik kelas yang sama dengannya. Sial," gumam Ben, dalam hatinya jadi merasa kesal dengan apa yang dirinya saksikan saat itu.
Tapi pelajaran saat itu terus saja berjalan dan Ben pun mau tak mau harus terus mengikuti atau pergi keluar kelas duluan, meskipun sebenarnya sayang itu akan mencoreng nama baik Ben dikampus jika sampai Ben melakukan hal tersebut sehingga yang Ben coba lakukan sekarang hanya terus saja bertahan di dalam kelas dengan keadaan perasaannya yang sebenarnya sudah merasa kesal dengan situasi yang Ben dapatkan saat itu.
Hingga pada akhirnya Ben pun meskipun dengan perasaannya yang sudah merasa sangat kesal dan merasa sangat tak nyaman karena melihat kemesraan Seena dan Sin yang sepertinya dilakukan dengan sengaja bisa Ben lewati, bel tanda berakhirnya mata kuliah pun berbunyi. Dengan cepat saat itu Ben langsung saja membereskan semua peralatannya mencoba untuk pergi dari kelas karena sudah tak kuat dengan sikap Seena dan Sin yang begitu sangat membuatnya muak.
"Maaf Ben sepertinya aku terpaksa harus melakukan ini karena aku yang begitu sangat kecewa dengan apa yang kau katakan kemarin, jawaban mu membuatku cukup kecewa dan kesal karena kau begitu sangat tak peka dengan apa yang aku maksudkan. Dengan melihat hal seperti ini tentu saja sepertinya kau sedang meraskan sesuatu sekarang, aku harap kau bisa lebih berpikir mengenai apa yang sebenarnya aku maksudkan Ben," ujar Seena dalam hatinya, sambil melihat ke arah ben yang saat itu dengan cepwt meninggalkan kelas.
"Sialan, kenapa juga aku harus bertemu dengan Seena dan Sin bahkan mereka seperti yang sengaja duduk di dekatku karena mereka yang ingin membuatku merasa cemburu dengan kedekatan mereka sedang jalin sekarang. Dan kenapa juga sekarang aku begitu sangat kesal seperti aku yang memang merasa cemburu dengan kedekatan yang Seena lakukan dengan Sin? ( Ben berpikir ). "Ahhhhh sialan, sudah sekarang lebih baik aku lupakan mengenai itu dan mencoba fokus ke pekerjaan yang sedang aku lakukan daripada aku hanya membuat perasaan ku geram," ujar Ben, sambil membuka peralatan bekerjanya termasuk laptop yang dimiliknya saat itu.
"Hai Ben," panggil Shen, sambil berjalan cepat menghampiri Ben. "Kau ternyata disini? tapi kenapa tadi aku tak bisa menemukanmu disini? darimana kau Ben?" tanya Shen.
"Daripada aku tak ada orang yang menemaniku dan hanya makan hari saja sepertinya Shen bisa membuatku merasa lebih baik karena bisa diajak berbincang mencairkan suasana," ujar Ben dalam hati. "Oh hai Shen, aku memang tak ada disini tadi dan sekarang aku baru kemari karena aku baru selesai menyelesaikan studiku. Darimana kau?" jawab lalu tanya Ben.
"Oh pantas saja. Aku sudah dari kantin mencarimu tadi, tapi karena kau tak ada tentu saja aku langsung kembali kemarin berharapmbisa menemukanmu, dan hasilnya ya aku bisa menemukanmu disini. Kau mau ke kantin lagi Ben? kita bisa berbincang disana" tanya Shen.
"Sepertinya itu ide yang bagus Shen, aku bisa sejenak rehat dulu sebelum aku pergi pulang. Ayo, Shen," jawab Ben, sambil langsung mengajak Shen pergi ke kantin.
"Ya tentu Ben," jawab Shen.
Seketika merekapun langsung saja pergi ke kantin, tapi disamping mereka yang sedang pergi ke kantin ada Seena yang saat itu baru saja keluar dari ruangan tadi, langsung melihat ke arah Ben yang sedang berjalan ke kantin bersama dengan Shen.
"Kenapa Ben malah terlihat acuh kepadaku, tanpa memikirkan sesuatu yang membuatnya tak enak atau cemas? dan sekarang dia sepertinya kalah asik berjalan dengan Shen?" sebenarnya apa yang Ben pikirkan, apa dia tak merasa bersalah sedikitpun dengan perubahan sikapku ininl.yang sebenarnya karena kesalahannya?" gumam Seena, bicara sendiri.
"Kau mau makan atau minum sesuatu Ben?" tanya Shen, sambil memanggil pelayan kantin.
"Tidak terima kasih Shen, aku masih memiliki minuman ini. Sebaiknya kau jangan kembali membelikan aku minuman atau aku akan langsung pergi Shen," ujar Ben, dengan nada ancaman.
"Wow Ben sebenarnya kau tak perlu mengancamku seperti itu. Tapi karena sepertinya daripada aku tak ingin sampai kau pergi baiklah aku hanya akan memesan minuman untukku saja jika kau memang tak mau," ujar Shen.
Tanpa menjawab saat itu Ben langsung saja membuka kembali layar laptopnya dan kembali ke pekerjaan yang dirinya sempat kerjakan tadi, untuk melanjutkan pekerjaan itu, tanpa pertanyaan karena Shen sudah mengerti dengan apa yang Ben lakukan langsung saja juga membuka laptopnya, tanpa mencoba untuk bertanya kepada Ben yang saat itu sedang mencoba untuk bekerja. Melihat Ben bekerja saat itu Shen langsung saja membuka laptopnya juga sambil diam-diam mengambil video ke arah Ben dengan laptopnya tersebut.
"Maaf Ben, aku sampai seperti ini tapi yang aku lakukan hanya mengagumi kepintaranmu," ujar Shen.