Ada Yang Menghibur

2006 Words
Shen yang saat itu secara diam-diam mengambil video Ben tak membuat Ben sadar atau curiga dengan apa yang dilakukan oleh Shen dan yang dilakukannya hanya terus saja fokus mengerjakan sebuah tugas yang dirinya miliki di laptopnya. "Shen sepertinya sekarang kita sudah cukup lama berada disini, dan hari pun juga sudah akan beranjak sore, sekarang sepertinya sudah waktunya untuk kita pulang Shen. Apa kau berpikir hal yang sama denganku?" tanya Ben. "Oh benarkan itu? sepertinya aku juga akan langsung saja pulang Ben, aku juga sepertinya ingin melakukan sesuatu di rumah," jawab Shen. "Ya baiklah jika seperti itu, ayo bereskan semua peralatan kita ini Shen!" seru Ben. "Ya baik Ben," jawab Shen. Saat itu mereka langsung saja membereskan semua peralatan mereka yang terpenting tentu saja adalah sebuah laptop. Tapi sebelum Ben meninggalkan Shen, Ben pun berpikir mengenai sesuatu yang cukup membuat dirinya terpikir, meskipun Ben sudah mencoba untuk tidak memikirkan hal tersebut dan melupakannya, dan hal yang dimaksudkan Ben adalah mengenai Seena, dan Sin. "Aku baru sadar jika Shen ini adalah adik dari Sin, mungkin sedikitnya dia tahu mengenai Seena dan Sin yang menjalin kedekatan sekarang ini dan mungkin saja dia tahu bagaimana ceritanya Seena dan Sin bisa sampai dekat padahal sebelumnya kan Seena tidak ada tanda-tanda dekat apa lagi sampai ingin berhubungan dengan Sin, aku mungkin bisa sedikit bertanya mengenai hal ini kepada Shen ( Ben berpikir ). Tapi meskipun begitu, sekarang yang harus aku lakukan tentu saja berpikir bagaimana cara untuk menanyakan hal ini tanpa membuat Shen merasa jika aku bermaksud untuk memata-matai hubungan Seena dengan Sin, apa lagi sampai mengatakan jika aku memiliki rasa cemburu kepada Sin, aku harus benar-benar memikirkan mengenai itu meskipun aku sepertinya memang memiliki sebuah rasa cemburu kepada Sin tapi aku tak ingin sampai Shen mengetahui hal ini yang membuat dirinya akan merasa ilfeel padaku karena aku yang bisa saja Shen anggap sebagai orang yang ingin merusak hubungan orang secara tidak langsung, dan orang tersebut adalah kakak Shen sendiri. Ya biarpun aku memiliki rencana seperti ini, aku harus benar-benar memikirkan matang-matang bagaimana aku melakukan rencana ini agar Shen tak menganggap aku sebagai seseorang yang memiliki sisi negatif, dan sikap yang kurang baik terlebih lagi kepada Sin," ujar Ben berpikir mengenai rencananya yang harus benar-benar dipikirkan secara matang agar dirinya tak melakukan kesalahan yang akan membuat dirinya dianggap sebagai orang yang tak baik oleh Shen. Dan karena Ben sudah mengatakan mengenai tujuannya sekarang Ben pun langsung saja pergi meninggalkan tempat tersebut untuk pulang ke rumahnya masing-masing di waktu yang sudah akan sore itu dengan pertama kali tentu saja mengantarkan Shen menghampiri mobilnya. "Kau kenapa mengikutiku Ben? apa kau sekarang sedang membawa kendaraan hingga ingin mengambil kendaraanmu juga? aku biasanya melihat kau yang rajin berlari setiap pergi ke kampus," tanya Shen. "Tidak Shen, aku tidak membawa kendaraan hanya saja karena merasa bertanggung jawab dengan orang yang sedang ada bersamaku, tentu saja aku sekarang berniat untuk mengantarkanmu terlebih dahulu mengambil kendaraanmu," jawab Ben. "Manis sekali Ben, terima kasih. Jika seperti ini sepertinya ku mungkin lebih baik jika mengantarkanmu juga Ben? bagaimana jika kau aku berikan tumpangan? kau mau Ben?" tanya Shen. "Oh baik sekali kau Shen, tapi sepertinya tidak apa tidak perlu Shen, tidak untuk sekarang. Maaf bukannya aku menolak kebaikanmu tapi aku sekarang memiliki," Ben berhenti bicara karena ingat dengan sesuatu. "tunggu sebentar, jika Shen mengatakan hal seperti ini sepertinya aku bisa memanfaatkan kebaikannya agar aku bisa mendekatinya dan pada akhirnya bisa perlahan bertanya mengenai sesuatu yang aku ingin tahu mengenai Seena, dan Sin. Ya sepertinya aku akan melakukannya," ujar Ben dalam hati. "Apa yang akan kau katakan tadi Ben? apa yang kau miliki sekarang?" tanya Shen. "Oh ya aku baru ingat jika aku memiliki sesuatu yang harus aku lakukan sekarang Shen dan hal tersebut baru aku ingat harus aku selesaikan sebelum malam, oh sial apa yang harus aku lakukan agar aku bisa dengan cepat sampai di perguruan?" ujar Ben jadi cemas. "Kau tak usah khawatir Ben tawaranku barusan masih berlaku jadi sekarang jika kau memiliki keputusan lain tentu saja kau bisa mengubahnya dan kau bisa menerima tawaranku untuk tumpangan ke rumahmu Ben. Jadi bagaimana Ben? kau mau menerima tawaranku?" tanya Shen. "Benarkah itu? oh aku sangat beruntung karena aku mendapatkan teman yang baik, terima kasih Shen, terima kasih. Jika kau bilang seperti itu, aku akan menerima tawaranmu Shen. Tapi apa tak apa-apa Shen? kau jadi harus menempuh jarak yang lebih jauh jika harus mengantarkanku dulu ke rumah," ujar Shen. "Ya tentu Ben sama-sama, kau tak usah khawatir dengan itu karena aku tak keberatan lagi pula jarak rumahku tak terlalu jauh jadi meskipun aku mengantarkan dulu sepertinya aku tak akan sampai mau keberatan. Baiklah, Ayo Ben kita lebih baik berangkat sekarang karena kau bilang kau sedang terburu-buru karena ada hal.yang harus kau lakukan, benar?" jawab Shen, lalu bertanya dan mengajak Shen langsung masuk ke mobilnya agar bisa langsung berangkat bekerja. "Oh terima kasih, terima kasih. Ya baiklah Shen, ayo masuk ke dalam. Kau mau aku yang menyetir?" tanya Ben. "Tak usah tak apa-apa Ben, biar aku saja yang menyetir kau tunjukkan saja jalan yang harus aku lewati nanti Ben," ujar Shen. "Ya baiklah Shen," jawab Ben. "Silahkan masuk!" seru Ben sambil membukakan pintu untuk Shen saat itu. "Haha terima kasih," ujar Shen. Lalu Ben pun langsung saja pergi ke pintu sebuah kursi yang akan ditempatinya saat itu. "Maaf Shen aku bukan berniat jahat memanfaatkan kebaikanmu untuk sesuatu hal yang buruk, tapi aku hanya ingin mengetahui saja mengenai Seena yang jadi bisa dengan sangat cepat dekat dengan Sin. Kakakmu," ujar Ben. Lalu saat itu Ben pun masuk ke dalam mobil Shen, agar mereka bisa langsung berangkat pulang ke rumah. Saat diperjalanan Shen tak memiliki sebuah percakapan untuk dibincangkan dengan Ben sehingga yang dilakukannya hanya fokus saja untuk menyetir, dan Ben pun hanya diam saja tanpa berkata apapun sampai pada akhirnya Ben pun menunjukan jalan yang harus dilewati agar bisa sampai ke rumahnya. Saat itulah percakapan dimulai, menghapuskan suasana hening yang terjadi saat itu. "Kita bisa lewati ke jalan sebelah kanan saja Shen, agar bisa cepat sampai di rumahku," ujar Ben. "Ya tentu Ben," jawab Shen. "Ben apa yang biasa kau lakukan ketika sudah pulang ke rumah? kau memilki pekerjaan?" tanya Shen. "Ya seperti itulah Shen, aku memiliki pekerjaan sampingan, tapi selain aku memiliki pekerjaan sampingan aku pun memiliki kegiatan lain dan kegiatan tersebut adalah kegiatan yang biasanya setiap hari aku lakukan jika memiliki waktu kosong," jawab Ben. "Setiap hari? dan waktu kosong? apa itu Ben?" tanya Shen lagi. "Ya setiap hari. Karena aku berdiam diri di sebuah perguruan, jadi kegiatan wajib ku setiap hari selama di perguruan tentu saja berlatih bela diri Shen. Dan sekarangpun aku terburu-buru karena aku yang harus melakukan kembali latihan bersama dengan guruku, dan aku merasa terburu-buru karena aku yang memiliki tanggung jawab membantu guruku Shen. Sebagai bayaran karena aku diperbolehkan untuk tinggal di perguruan jadinya aku membantu guruku menyiapkan alat atau latihan orang-orang lain Shen," jawab Ben. "Oh jadi seperti itu Ben, rajin sekali kau Ben. Dan karena kau suka berolahraga beladiri tentu saja sepertinya kau merasa sangat bugar dan sehat kan Ben? pantas saja aku selalu melihatmu yang berkeringat ketika datang ke kampus yang membuat aku berpikir kau selalu berlari ketika elegi ke kampus. Jadi itu bukan karena kau tidak punya kendaraan Shen? tapi itu hanya keinginan mu karena sudah terbiasa setiap hari seperti itu Ben?" ujar Shen, lalu bertanya kembali mencoba untuk terus saja me ciptakan suasana hangat dengan berbincang di mobil. "Ya sebenarnya aku punya kendaraan yang bisa aku gunakan, motor tua yang tersimpan di gudang perguruan Shen tapi aku sudah terlanjur lebih suka berlari sekalian berolahraga ketika pergi ke kampus, jadi aku tak ingin merubah kebiasaan itu. Selain aku sudah nyaman dengan kegiatan tersebut karena merasa selalu bugar, aku juga malas mengeluarkan kendaraanku jika hanya untuk pergi ke kampus, lebih tepatnya malu karena yang aku miliki hanya motor tua hehe," jawab Ben. "Oh Ben, aku tak perlu merasa malu seperti itu lagi pula bagaimana pun itu motormu yang bisa menolongmu disaat kau terdesak untuk pergi, tapi meskipun seperti itu aku mendukung apa keputusan mu yang ingin terus berolahraga untuk pergi ke kampus Ben. Bahkan aku ingin melakukan olahraga seperti itu tapi karena tak ada teman yang menemaniku tentu saja aku jadi tak mau melakukannya, aku tidak percaya diri untuk berolahraga lari sendirian Ben hehe," ujar Shen. "Seperti itukah? tapi kenapa kau harus malu, jika tak ingin merasa malu atau minder kau bisa saja pergi menggunakan kendaraan ku ke lapangan, taman atau pusat kebugaran yang ada di kota ini untuk berolahraga Shen disana tentu saja kau tak akan sampai malu apa lagi minder, karena akan banyak orang yang juga melakukan olahraga sepertimu. Ya kan?" jawab Ben. "Ya sepertinya itu ide yang bagus Ben, jadi sepertinya nanti jika aku ingin berolahraga aku akan pergi ke salah satu tempat kebugaran atau taman, dengan seperti itu tentu saja aku tak akan sampai merasa minder karena banyak orang yang melakukan hal serupa juga denganku," jawab Shen. "Ben apa iya sudah sampai? itu perguruan tempatmu tinggal?" tanya Shen, sambil menunjuk ke arah perburuan yang cukup besar yang ada di pinggir jalan saat itu. "Tepat Shen, itu perguruan tempatku tinggal. Cukup kita berhenti disini saja Shen," ujar Ben. "Baiklah Shen terima kasih untuk tumpangannya, semoga kau selamat sampai tujuan," ujar Ben, pamit sambil akan keluar dari mobil saat itu. "Ah tunggu Ben, maaf tunggu sebentar!" seru Shen. "Ini benar-benar perguruan tempatmu tinggal dan berlatih? sepertinya apa yang kau sarankan kepadaku mengenai olahraga benar Ben, aku harus melakukannya dan agar aku tak merasa minder atau tak percaya diri aku harus pergi ke taman atau salah satu tempat kebugaran kan? dan setelah aku melihat perguruanmu ini sepertinya perguruan tempat mu berlatih ini cocok untuk aku jadikan tempat berolahragaku Ben? jadi sekarang pertanyaannya adalah, apa aku bisa ikut berlatih denganmu suatu hari nanti?" tanya Shen. "Jika kau menginginkannya tentu saja kau bisa melakukan itu Shen, dan jika kau memang sudah benar-benar merasa keputusanmu tepat kau bisa hubungi aku saja, aku akan bantu kau masuk ke dalam perguruan agar bisa ikit berlatih," ujar Ben. "Benarkah itu Ben? terima kasih, terima kasih. Aku sangat senang dengan bantuan yang akan kau berikan padaku," ujar Shen kegirangan. "lalu jika seperti ini apa kau bisa memberikanku nomor teleponmu agar ketika aku siap untuk ikut berolahraga aku bisa menghubungimu," ujar Shen. "Ya tentu Shen. Ini nomorku kau bisa menghubungi aku kapanpun kau siap untuk ikut berolahraga, jika kau benar-benar sudah yakin dengan keputusan mu aku akan membicarakan ini dengan guruku Shen," ujar Ben. "Ya Ben, aku sudah yakin dengan keputusanku, aku ingin ikut berolahraga di perguruan tempat kau tinggal sekalian berlatih Ben, terima kasih" ujar Shen kembali kegirangan sambil memegang tangan Ben. "Ya baiklah jika seperti itu, terima kasih untuk tumpangan yang sudah kau berikan Shen. Aku pamit pergi, hati-hati di jalan," ujar Ben, sambil pergi keluar dari mobilnya. "Ya baiklah Ben. Sampai jumpai lain hari," ujar Shen. Ben pun saat itu langsung saja masuk ke dalam perburuannya, dengan Shen juga yang jadi langsung saja pergi pulang. Di dalam perguruan Ben sudah disambut dengan Ster yang saat itu kebetulan ada di depan pintu. "Wow dua hari berturut-turut kau diantarkan pulang menggunakan kendaraan Ben, aku jadi merasa jika orang yang mengantarkanmu itu bukan hanya teman biasa mu Ben," ujar Ster menggoda Ben. "Ah guru tak usah berlebihan, karena itu hanya temanku dan dia orang yang berbeda dari yang kemarin mengantarkanku guru," jawab Ben. "Wow itu orang yang berbeda? berarti kemarin hingga sekarang kau diantarkan oleh orang yang berbeda, 2 orang ini sampai rela mengantarkanmu pulang kemari Ben? sepopuler apa kau di kampus Ben? sampai sudah ada 2 orang yang ingin mengantarkanmu dengan sukarela kemari," ujar Ster kembali menggoda Ben. "Oh ayolah guru tak usah berlebihan, aku bukan orang populer dikampus dan tadi itu hanya temanku saja, dan dia sampai menawarkan ku tumpangan untuk kemari hanya karena kebetulan dia juga ingin mencari tempat berilahr guru, dan melihat perguruan ini dia begitu sangat tertarik untuk ikut berolahraga disini. Kebetulan kau ada disini jadi sekarang aku langsung saja bicara padamu apa dia bisa ikut berolahraga disini guru?" tanya Ben, setelah menjelaskan mengenai Shen saat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD