bc

The last pizza

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
BE
office/work place
like
intro-logo
Blurb

mereka adalah dua jiwa yang di pisahkan takdir. meninggalkan duka tak berujung.

rumahnya terenggut paksa hingga ia kembali menjadi pengelana.

chap-preview
Free preview
The last pizza
Ia adalah sunyi, yang bersembunyi di balik tirai ungu. terbungkus bisu dalam sebuah ruangan sempit pengap yang dindingnya di penuhi bercak bercak noda. panggil saja aku rama, seorang dokter yang bekerja di puskesmas di sebuah desa terpencil, takdir lah yang membawa ku kesana jauh dari kampung halaman dan keluarga, tentu saja tanpa ku duga sebelumnya. pengabdian ku sebagai dokter di desa tersebut terasa sangat menyenangkan, setiap hari menyatu dengan harmoni alam yang asri, berbaur dengan masyarakat sekitar yang masih di balut dengan kesederhanaan. semuanya terasa sangat indah. sehingga rasa syukur ku tak henti aku panjatkan. Hari hari terus berjalan dengan iringan keindahan, syahdu dan bersahaja hingga suatu pagi aku di panggil atasan ke ruangannya "dok rama, besok anda saya tugaskan untuk menghadiri rapat di sebuah hotel X yang akan di hadiri oleh semua dokter sekabupaten. ucap beliau "baik pak, ucap ku sambil meraih surat tugas di meja beliau lalu berlalu untuk melanjutkan tugas memeriksa pasien seperti biasanya. pagi itu aku bangun lebih awal, hari dimana aku harus menghadiri rapat sesuai jadwal yang sudah di tetapkan. butuh waktu tiga jam untuk menjangkau hotel X dari desa tempat ku bertugas. aku menyetir mobil pelan pelan, menerobos kabut di tengah tengah kebun teh. di balik jingga yang pelan pelan terlukis, aku melihat matahari perlahan menyapa dengan senyum berani dan gembira. rasanya hormon bahagia telah menyusup dan mendidihkan darahku di pagi itu. oh nice, gumam ku dalam hati. aku tiba tepat waktu di hotel X, menuju resepsionis untuk menanyakan aula rapat. melangkah pelan menuju ruangan dan memilih kursi yang akan ku tempati. tak lama berselang, rentetan acara pembukaan rapat di mulai, aku mengikuti dengan seksama sambil sekali kali mencatat poin poin penting yang di sampaikan. di tengah tengah rapat yang sudah berlangsung sekitar 30 menit, tiba tiba pintu ruang aula terbuka dan disana aku melihat ada sosok seorang wanita, berjalan tenang. sepertinya sedang menuju ke arah ku. beliau menyapa sambil tersenyum tipis "apakah kursi ini kosong dok??" oh iya, jawabku.. silahkan dok aku memberanikan diri menanyakan namanya "maaf, dengan dokter siapa? tanya ku oh iya kita belum kenalan, ucapnya sambil tersenyum, kenalin aku laura. oh dokter laura, salam kenal, saya rama. ucap ku percakapan kecil lalu mengalir begitu saja, sesekali aku menoleh ke arahnya. aku melihat bola mata yang indah dan berbinar namun disana tersingkap teduh di hiasi kedamaian. dan untuk pertama kalinya aku merasa ada desiran aneh dan asing sedang menggerogoti ku. tak mampu ku gambarkan, namun aku seperti sedang di suguhkan candu. di balik rasa yang berkecamuk, aku memberanikan diri meminta nomor telponnya dan yah perkenalan itu berjalan baik dan sempurna. tiba sore hari, acara rapat berakhir dengan khidmat. aku langsung menuju ke parkiran, rasanya tubuh sudah ingin di istirahatkan. aku membuka pintu mobil dan melempar begitu saja jas yang habis ku pakai. aku kembali menyetir perlahan, sambil memutar musik romantis sesuai dengan suasana hati ku kala itu. dalam sunyinya jalanan berkabut di tengah tengah kebun teh malam hari itu, hati ku seperti di rasuki rindu. mungkin saja kepada PEMILIK MATA TEDUH YANG DI HIASI KEDAMAIAN. esok paginya. hari hari ku lalui seperti biasa, melaksanakan tugas ku sebagai seorang dokter. lalu sore hari aku kembali kerumah dinas, menyeduh kopi, mengambil sebuah pena dan buku kosong.ternyata di luar sedang hujan, tapi kenapa hujan kali ini terasa begitu syahdu hingga setiap irama rintiknya tak henti aku resapi. sambil menyeruput kopi hangat, hati ku bergejolak, ingin menulis, tentang rindu kah? yang ku tau hati ku begitu gundah. RINDU TAK BERTUAN AKU TELAH MENGECAP s**u DAN VANILA, MELIHAT BERPASANG PASANG MATA DAN TELAH MENGINJAKKAN KAKI DI TENGAH BEBATUAN MAUPUN RUMPUT ILALANG. DISANA PERNAH ADA LUKA DAN BAHAGIA NAMUN AKU TAK PERNAH LUMPUH OLEH SEPASANG BOLA MATA, DAMAI HATI KU TAK PERNAH TERENGGUT OLEH SEBUAH SENYUMAN. HINGGA RINDU MENYUSUP KEJAM TANPA KU UNDANG, AKU BERTANYA ITU MILIK SIAPA? MUNGKIN LAURA LAH YANG MENARI DISANA. finished, dalam irama rintik hujan yang masih ceria. sebuah tulisan ungkapan rindu untuk laura telah tertuang begitu saja Tiba malam hari, rasanya rindu ku sudah tak mampu ku bendung. aku meraih handphone, dengan ragu, sangat ragu. ku beranikan diri menghubunginya. "halo, aku mendengar sebuah jawaban, suara wanita yang terdengar tidak asing. hai, ini rama ucap ku. oh hai, how are you. tanya nya! tanpa ku duga, percakapan berlangsung antusias dan mengalir tanpa rasa canggung. Dua jiwa musafir lalu menyatu dalam padang asmara. mungkin seperti itu lah gambaran diriku dan laura. sejak malam itu komunikasi berlangsung tak terputus, setiap pagi kami saling bertukar pesan text untuk sekedar menanyakan kabar. lalu berakhir dengan obrolan santai di malam hari, yah percakapan tentang aktivitas harian masing masing. sepekan setelahnya aku memberanikan diri mengajak laura untuk makan malam. aku memilih tempat bernuansa romantis dengan view city light. menikmati setiap detik yang berlalu, rasanya tak ingin tatapan ku berpaling dari mata teduh itu. hingga tersadar sepertinya aku telah jatuh cinta terlalu dalam. aku berpikir mungkin ini lah saatnya, mengutarakan semua isi hati ku "laura.. sejak pertemuan itu, aku telah memendam rindu dalam diam, dan mungkin untuk beberapa lama rasa itu telah menyiksaku, hingga aku memberanikan diri menghubungi mu dan malam ini kau ada di hadapan ku, jika kau sudi. aku ingin menjadikan mu rumah untuk pulang" ucap ku padanya. laura tak mengelak, laura tak beralasan. namun ia mengiyakan tanpa ragu. dan sejak saat itu kami adalah sepasang kekasih yang telah menyatu dalam alunan cinta yang paling syahdu. hari hari rama di hiasi dengan warna. rama yang jauh dari kampung halaman dan keluarga, sekarang bukan lagi pengelana yang dahaga. laura menjadi tempat pulang, rumah yang sangat damai! laura adalah pecinta pizza, setiap akhir pekan tentu saja kami selalu menghabiskan waktu bersama, untuk mengecap beberapa potongan pizza, berbagi cerita, hingga menghabiskan waktu melakukan aktivitas dengan hobi masing masing. seperti piano dan violin, kami adalah dua jiwa yang menyatu dalam hening penuh syair. hari demi hari terus berlalu, berpamitan tanpa izin. hingga tiba waktu dimana, virus covid melanda hampir seluruh negara. susana kala itu terasa begitu mencekam, kepanikan dimana mana. paramedis di kerahkan selalu siap siaga. aku selalu berpesan pada laura "keep safety sayang, selalu gunakan pelindung sesuai arahan yang sudah di tetapkan pemerintah". hari hari ku di penuhi dengan kekhawatiran, bukan pada diriku, tapi laura! dan kekhawatiran ku bertambah ketika laura di kerahkan sebagai relawan untuk membantu menangani virus covid yang sedang melanda. malam itu aku menemuinya, membawakan pizza kesukaannya. aku terus menatapnya, ingin rasanya menghalanginya. namun aku sadar itu adalah tugas mulia yang harus ia jalani. kami tak berbicara banyak, hanya melukis pesan dalam syair yang hening. hari ini adalah hari pertama laura bertugas sebagai relawan yang di perbantukan untuk penganan covid yang sedang melanda kala itu. sedangkan aku tetap menjalani tugas di puskesmas tempat ku bekerja seperti biasanya. tidak seperti biasanya, komunikasi dengan laura menjadi sangat terbatas di karenakan oleh kesibukannya. hari hari mencengkam di balut kekhawatiran tak berujung. setelah seminggu berjalan,akhirnya laura menyempatkan diri untuk pulang kerumahnya. tentu saja aku segera menemuinya, memastikan bahwa dia baik baik saja tak kurang suatu apapun. sesampai di kediamannya, dia mencegat ku di pintu. "jangan masuk, kamu di luar saja, ucap laura. aku menanyakan alasannya? "aku tidak tau, apakah pulang dalam keadaan sehat atau tidak, aku tidak tau apakah tubuh ku telah di hinggapi virus atau tidak, demi keamanan dan keselamatan mu, maka jaga lah jarak dengan ku sayang" ucapnya. sungguh kata kata yang tidak ingin ku dengar, sungguh rindu ku sudah tak terbendung, ingin rasanya memeluk tubuh yang lelah itu dengan erat, dan merebahkan kepalanya untuk bersandar di bahu ku. namun aku tak berdaya, aku harus menyetujui permintaan laura dengan terpaksa. aku menanyakan keadaannya, menanyakan bagaimana hari harinya, aku menangkap lelah di mata teduhnya, namun dia tetap melempar senyum indah sambil berkata "everything's oke honey" malam itu aku pulang ke rumah dinas dengan hati gundah, terbayang wajah laura yang di hinggapi kelelahan. ah,semoga kamu baik baik saja sayang ku, gumam ku

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
724.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
960.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
347.8K
bc

Not just, the Beta

read
342.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook