"Dila juga pernah lihat, Ayah mimik s*su sama Tante. Kata Ayah, dikulkas stok s**u habis. Padahal mimik itu kan buat Dedek Hamdan. Iya kan Mah?" Tubuh ini meremang, nafas tersenggal dengan kepala yang terasa berdenyut-denyut. Kusandarkan tubuh yang begitu lemas, menyentak kepala secara kasar dengan tembok. Tidak! Tidak mungkin mereka mengkhianatiku. Tidak mungkin! Aku berusaha menghalau fikiran buruk, yang membuat kepala semakin berdenyut-denyut. Kepala terasa mau pecah memikirkan kegilaan ini. Tapi Dila ... anak sekecil itu tidak mungkin berbohong. Dila bicara begitu lugas, tak ada tekanan atau kebohongan sedikit pun. Lagi pula untuk apa Dila bicara bohong? Astaga. Ada apa ini? "Mah, kok melamun?" Dila menyentuh wajahku. Wajah ini terasa begitu panas, pun dengan mata dan tubuhku.

