Kursi roda terhenti di ruangan UGD dimana ada Ibu yang terbaring lemah diatas bangkar. Hatiku berdenyut ngilu, menyaksikan wajah pucat Ibu, namun rautnya begitu tenang seolah sedang tertidur. Dua kantung infus bertengger dikiri-kanan. Satu berisi cairan putih, sedang satunya berisi kantung darah yang sudah tersisa setengah. "Bu ... kuat ya, ada aku disini," lirihku seraya menggenggam jemarinya. "Silahkan berbaring disini, Mbak." titah, Pak Dokter sambil menunjuk bangkar disebelah Ibu. Dengan hati-hati kedua, suster memapah tubuhku menaiki ranjang rumah sakit. "Saya cek darahnya ya, semoga cocok dengan golongan darah pasien," ucap, Pak Dokter seraya mengamati jarum suntikkan. "Tolong suster," suster yang ditunjuk langsung sigap, dia meraih tanganku dan menyekanya dengan kapas yang dis

