bagian 10 - Rencana Daniel.

849 Words
Fiona menatapku dengan wajah dingin terkulum senyum, namun senyum itu terasa mengerikan. Membuat aku takut melihat wajahnya. Rasa aneh saat mata kami beradu tatap. Jelas mata itu mengisyaratkan kepedihan. Namun Fiona pandai menutupi itu semua. Apa yang harus aku lakukan. Fiona ... maafkan aku, aku benar-benar menyesal. Jeritan Anitta sangat jelas ditelinga, beberapa kali suara pukulan seirama dengan teriakannya. Rasa khawatir menyelisip dihati berharap Anitta baik-baik saja, walau bagaimana pun kini dia telah mengandung anakku. Sebenarnya Fiona tidak mandul. Hanya sebelum meminangnya, Fiona mengajukan syarat. Dia mau menikah denganku, namun ia tidak mau memiliki anak. Saat kutanya alasannya dia menjawab. "Aku tak ingin terbebani. Seorang anak, hanya akan menghambat masa depanku." Tegas sekali ucapannya kala itu, membuat terngiang diotakku hingga kini. Saat itu aku hanya menuruti ke inginannya. Menurutku itu bukan masalah, yang penting aku bisa menikahinya. Rumah tangga kami pun baik-baik saja, bahkan selalu romantis, tidak ada pertengkaran hebat didalamnya. Tentunya sebelum Anitta menyelisip di kehidupan kami. Kukira Fiona sudah bisa memaafkanku, tapi ternyata tidak semudah itu. Bahkan dengan tangannya sendiri, dia mampu menghajarku hingga babak belur. Fiona berubah dingin, dia bahkan tidak menganggapku ada. Berbulan aku mencoba meluluhkan hatinya kembali, saat semua hampir terjadi, Mamih malah menghancurkan segalanya. Aku sangat mengenal sifatnya, Fiona terkesan tenang namun sekelemut hatinya sangat rumit, sulit ditebak. Sudah tiga hari aku terbaring dengan jarum menembus kulit, Fiona bahkan tidak menunjukan batang hidungnya. Sebenci itu kah dia padaku. Mengapa hatinya begitu keras, dia bahkan sangat egois. Saat perempuan lain bisa dengan mudah memaafkan perselingkuhan, Fiona malah menyuruhku membunuh diri sendiri. "Makan dulu, Dan." suara Mamih membuyarkan lamunanku. Mamih menyodorkan piring kecil berisi buah yang sudah dikupas kulitnya. Dengan lemas aku mengambil piring itu dari tangan Mamih. Ingatanku selalu tertuju pada Fiona, mata selalu menuju pintu, berharap wajahnya menyembul dibalik pintu dan menemaniku. "Sini Mas, biar Anitt yang suapin." ucap Anitta saat keluar dari bilik toilet. Tanpa menunggu jawabanku, tangannya dengan cepat mengambil piring yang sedang kupegang. "Huh, kemana istrimu. Suami sakit tidak dipedulikan," umpat Mamih. "Anitta akan disini mengurusmu, saat kamu sembuh. Kalian harus secepatnya menikah," sambung Mamih dengan suara tegas. "Mih ... sudahlah," ucapku lemas. "Hal konyol apa yang membuatmu ingin mengakhiri hidup, Fiona bukan segalanya. Masih ada Anitta yang mau menemanimu. Buang saja perempuan mandul itu, sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan." ucap Mamih nampak kesal. Matanya dengan garang memicingku. "Fiona tidak mandul, Mih." suaraku lirih. Jujur saja badanku terasa lemah, terlebih semangatku tidak ada disisi. "Halahh ... kamu dibilangin bantah saja, lihat tuh. Sebentar lagi perut Anitta akan membesar, kamu tidak kasian dengan dia. Ada anakmu didalamnya." Mamih mempunyai watak yang keras, dia tidak ingin ada siapapun melawan keinginannya. Mamih akan kalap, jika ada yang menentang ucapannya. "Fiona mana? Dia sudah tidak ingat sama kamu Dan, buka mata kamu. Sudah tidak bisa ngasih anak, sekarang nelantarin kamu. Apa lagi yang kamu harapkan?" ucap Mamih dengan nafas yang menggebu. "Sudahlah Mih, biar begitu Mamih pernah bilang bahwa Fiona menantu terbaik yang Mamih punya?" sahutku mengingatkan. "Saat ulang tahun Mamih tahun kemarin, Mamih memuji Fiona menantu sempura saat dia memberi Mamih mobil baru. Apa Mamih sudah lupa?" ujarku lagi. "Itu dulu, sekarang sudah beda. Sudahlah tidak perlu dibahas," sergah Mamih sambil bangkit dari duduknya lalu keluar ruangan. Anitta menyuapkan buah dengan senyum dibibirnya. Walau lemah aku berusaha menepis tangannya. "Makanlah Mas, biar cepet sembuh yah," bujuknya. "Keluar ... aku ingin sendiri," ucapku lemas. "Mas, bukankah ini kesempatan kita untuk tetap bersama? Percayalah, aku yakin kita akan bahagia," Anitta menggenggam tanganku. "Tanpa Fiona, aku tidak akan bahagia," suaraku terdengar lirih. Mata Anitta sendu, lalu terpejam perlahan. Menarik nafas panjang dan membuka mata dengan senyum tipis. "Apa selama ini, aku tidak membuatmu bahagia?" tanyanya dengan mata mengembun. Aku mengalihkan pandangan keluar jendela, aku sendiri tidak mengerti dengan hati dan perasaanku. Jujur saja bersama Anitta aku merasa hidup lebih berwarna dan lebih b*******h. Namun kalau harus melepas Fiona, aku tidak sanggup. "Aku akan melakukan apapun, demi bisa bersamamu, Mas." suaranya bergetar. "Kita bisa menikah diam-diam Mas, kita menikah sirih saja Mas," ucapnya menatap harap padaku. Aku terdiam, mencerna kata-katanya. "Kamu tidak akan, kehilangan Fiona. Dan kita bisa bersama seperti kemarin, kita akan membesarkan bayi ini berdua Mas," tangannya mengerat di jemariku. "Bukankah, kamu mencitaiku Mas?" Memejamkan mata yang terasa perih, otakku seakan mendidih mendengar berbondong ucapan Anitta. Tangan kananku memijat pelipis yang mulai berdenyut nyeuri. Ya ... aku bisa mendapatkan keduanya. Asal hubungan ini tidak sampai ditelinga Fiona. Jika suatu hari terjadi, aku yakin cepat atau lambat Fiona bisa menerima keputusanku. "Apa kau bisa menjamin hubungan ini tidak akan bocor?" tanyaku memastikan. "Ya aku jamin," Anitta mengangguk pasti. "Ingat satu hal Mas, banyak pasangan diluar sanah yang memiliki istri lebih dari satu. Jika Fiona benar mencintaimu, aku yakin dia pasti memaafkanmu dan menerima keadaanmu." Ya, aku yakin Fiona sangat mencintaiku, aku hanya perlu menutupi ini semua. Jangan sampai Fiona tahu. Akupun tidak bisa melepas Anitta begitu saja, hanya dia yang mengerti ke inginanku. Terutama hasrat ini, sudah menggelora menahan rindu. Ahh ... sungguh, aku tidak bisa melepas keduanya. ***ofd. wah wah wah ... enaknya Mas Daniel di kasih cabe berapa kilo ya? Next ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD