bagian 11 - tamu tqk di undang

930 Words
Fiona is back Samar-samar terdengar suara Mamih membicarakan sesuatu, seperti menyebut-nyebut namaku. Aku yakin, sekarang akulah yang menjadi bahan ocehannya. Kembali menutup pintu, malas jika harus beradu urat ditempat ini. Berjalan dalam hening kehampaan, menyesal mengikuti kata hati. Daniel sudah terjerat dalam perangkap Anitta, mungkin akan sulit untuk terlepas. Melihatnya terlalu gigih dalam membujuk hatiku belakangan ini, membuat hati sedikit terbuka. Beribu sesak menjejal direlung hati, meminta untuk ditumpahkan. Entah pada siapa aku berbagi kepiluan ini. "Kak, Fiona?" suara tidak asing mengusik lamunanku. "Ngapain bengong disini?" ucapnya lagi. "Dara?" sahutku saat menoleh kesumber suara. Seorang gadis berusia 20 tahun menggendong ransel besar, tersenyum manis kearahku. "Sudah lama tidak ketemu, ngobrol dulu ya sebentar," bujuknya sambil mengamit lenganku. Aku mengangguk kecil, lalu mengikuti langkahnya. "Mau pesen apa Kak?" tanya Dara, adik Mas Daniel. "Jeruk hangat," jawabku singkat. Dara beranjak meninggalkanku di meja kantin rumah sakit, lalu memesan minuman. "Minum dulu kak," ucapnya ramah, sambil meletakan dua gelas minuman diatas meja. Kubalas dengan anggukan kecil. "Kak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Dara setelah menyesap minumannya. "Ya seperti yang kamu ketahui," balasku sambil mengaduk minuman. Aku yakin Dara sudah tahu semuanya. "Tidak habis fikir sama Mas Daniel, otaknya ditinggal dimana," rutuknya menahan geram. Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya. "Kak .., kasih Mas Daniel kesempatan kedua ya. Aku tahu betul Mas Daniel cinta mati sama Kak Fiona," pintanya menatap penuh harap. Bibirku terangkat sebelah, konyol sekali permintaannya. "Kalau cinta, tidak mungkin mengkhianatiku," sahutku datar. "Argh ... bodoh sekali dia, bisa-bisanya berbuat curang. Dasar id-iot," rutuknya. Dara menatapku dengan tatapan sendu, entah apa yang dia fikirkan. "Aku yakin, ada sesuatu yang salah disini." ucapnya lagi. Hening ... kami larut dalam fikiran masing-masing. "Kau, mengenal wanita itu? Dia terlihat begitu akrab dengan Mamih," tanyaku kemudian. Dara menggelengkan kepala. "Yang aku tahu, Mamih ... Ibu wanita itu teman lama Mamih," ucap Dara ragu-ragu. Alisku menyatu mendengar ucapannya. Wah menarik sekali. Teman lama? "Begitu kah?" "Yah, hanya itu yang aku tau Kak." Dara kembali menyesap minumannya, raut cemas nampak jelas diwajah cantiknya. "Mamih bilang akan menikahkan mereka, dalam waktu dekat. Ck, apa Mamih sudah gi-la?" Dara menatapku dengan sorot khawatir. "Biarlah ... memang sudah seharusnya Mas mu bertanggung jawab," ucapku tenang. "Sungguh, aku tidak rela kehilangan Kakak sebaik dirimu." Dara memegang jemariku, mencoba menguatkan. Mungkin. "Bertahanlah sebentar saja, aku yakin itu bukan anak Mas Daniel," sambungnya menatapku penuh harap. Terasa geli mendengar ucapannya. Apa dia sepolos itu? Walau anak itu bukan benih dari Mas Daniel, tetap saja hatiku tidak terima. Apa kamu tau rasanya, melihat orang yang dikasihi tanpa benang sehelai pun bersama orang lain. "Kau akan mendapat Kakak baru, bahagialah. Seperti Mamih mu," sahutku dengan kekehan kecil. "Ah ... Kak Fio, masih bisa kamu melucu disaat seperti ini," ucapnya sambil memajukan bibir. "Kau mau mendaki?" Ucapku mengalihkan pembicaraan. Mataku melirik ransel besar khas pendaki gunung. "Iya Kak, rencananya begitu. Nanti sore aku berangkat." Dara anak petualang, dia akan menjelajahi hutan dan pegunungan. Aku sangat menyayanginya, dan sudah mengganggapnya, Adik sendiri. Dering ponsel merusak keheningan kami, dengan sigap Dara merogoh saku celananya. "Mbak Arina, sepertinya dia sudah sampai," ucapnya sambil memperlihatkan ponsel. "Kak Fiona mau menjenguk, Mas Daniel bersama kami?" tawarnya. "Aku sudah melihatnya tadi," tolakku halus. "Baiklah ... aku pamit dulu yak Kak, kalau perlu bantuanku. Aku siap kapan saja," ucapnya meyakinkan. "Ya ... tentu saja, aku akan menghubungimu," sahutku dengan anggukan kepala. Dara tersenyum lalu pergi dengan langkah lebar. ***ofd. Terhitung lima hari sudah Mas Daniel dirawat, apa lukanya separah itu? Mengapa lama sekali. Huh ... lucu sekali, hati kecil ini masih mengkhawatirkan manusia bere--ngsek itu. Ck, dasar lelaki lemah! Menyusahkan. Kenapa dia tidak ma-ti saja sih. "Bik ..." panggilku saat selesai menandaskan sarapan. "Iya Non?" Bik Inah, mendekat. "Kemarin, Mas Daniel bu-nuh diri pakai apa. Emm ... maksudku, dia menggores tangannya pakai apa?" tanyaku memancingnya. "Pakai silet cutter Non," jawabnya pasti. "Oh ... sekarang cutternya dimana?" "Cutternya sudah Bibik buang Non." "Oh, begitu." Huh ... sayang sekali. Cutter ku tidak bisa merenggut nyawanya. "Em ... Non, trimakasih ya sudah datang kemarin," Bik Inah nampak tersenyum. "Maksudnya?" tanyaku heran. "Kemarin sore, Bibik datang ke klinik Dokter Rusman. Istrinya bilang, Tuan Daniel sudah dipindahkan ke rumah sakit bersama Ibu dan istrinya," balasnya. "Kasian Tuan Daniel, dia sangat murung Non. Bibik yakin keadaannya pasti membaik setelah Non datang," senyum Bik Inah mengembang. "Begitukah?" "Pasti Non," Bik Inah menggangguk cepat. Ya keadaannya pasti membaik, karna ada gundik yang menemaninya. Sekarang apa? Apa aku harus mengurus surat cerai untuknya? Dan membiarkan Anitta dengan senyum kemenangan. Kurasa tidak semudah itu, aku bahkan belum menghajarnya dengan tanganku sendiri. Bik Inah kembali dengan pekerjaannya. Aku melangkah pergi menuju tempat kerja. Dikantor fikiranku terlalu rumit bahkan bercabang-cabang. Aku begitu gelisah dan tidak tenang, bahkan hatiku begitu sesak, entah apa penyebabnya. Mengambil ponsel yang masih tersimpan didalam tas, banyak sekali panggilan masuk dari Mas Daniel dan juga Mamih. Ada apa ini? Ponsel kembali bergetar, kali ini dari Bik Inah. "Ya Bik?" sahutku saat menggeser tombol hijau. "Non ... bisa pulang sekarang? Ada Mamih dan Mas Daniel," ucapnya diujung telepon. Aku melirik arloji dipergelangan tangan. Saat ini pukul 16:10. "Baik Bik, saya kerumah sekarang," ucapku sambil menutup panggilan. Dalam perjalanan aku menerka-nerka apa yang akan terjadi, perasaan tidak nyaman mengganggu fikiranku. Sesampainya dihalaman rumah, kudapati mobil Mamih juga mobil Mbak Arina terparkir digarasi. Sepertinya didalam rumahku ada banyak tamu, tamu tak diundang lebih tepatnya. Memasuki rumah dengan hati berdebar, felling mengatakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Pemandangan luar biasa menyambut saat aku tiba didepan pintu. Banyak manusia tidak berakal mengisi ruang tamuku, sedang bercanda gurau. ***ofd. Wah ... ada apa nih rame-rame? Ada yang tahu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD