Terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Aku tersentak saat mendapati Anitta melingkari tangannya ditubuhku.
"Apa yang terjadi!" teriakku panik, membuat Anitta menggeliat dari tidurnya.
Anitta tersenyum dengan mata yang setengah terbuka.
"Kau menjebakku!" Ucapku murka saat mendapati badanku hanya terlilit selimut yang sama dengannya.
"Aku tidak menjebakmu, kau sendiri yang memohon untuk ini," ucapnya santai.
"Arghh.. dasar b******k!"
Dengan sekali hentak, aku langsung bangkit mengambil kemeja dan celanaku yang tercecer di lantai. Dengan cepat ku pakai semua pakaianku lalu berjalan keluar kamar membanting pintu dengan keras.
Memasuki mobil, tangan memukuli stir membabi buta. Merutuki perbuatan bodohku, yang menuruti kemauan Anitta mampir di kosannya. Wajah sedih Fiona seakan menari-nari di mataku. Dengan kasar kuinjak pedal gas dalam-dalam, menuju rumah.
Waktu menunjukan pukul 02:00 dini hari, laki-laki bertubuh kekar dengan bekas luka diwajahnya itu, membuka pintu pagar dengan tatapan mengintimidasi.
"Paman," ucapku kikuk sambil menganggukan kepala.
Paman terus menatapku tanpa kedip, membuat nyali sedikit mencuit.
Menuju dapur aku langsung menuang air putih didalam gelas, lalu meneguknya hingga tandas.
"Kurang ajar!" Rutukku sambil meninju tembok.
Bisa-bisanya aku terpedaya oleh Anitta. Dasar perempuan s****l!
Dengan langkah lemah aku menaiki tangga menuju kamar kami. Kudapati Fiona tengah tertidur dengan baju favoritku.
"Pasti dia menunggu kedatanganku," batinku terasa sesak.
Aku menghianati istri cantikku. Tuhan.. mengapa semua ini terjadi.
Selepas membersihkan badan, aku ikut berbaring disamping istriku. Kubelai dia dengan sentuhan hangat mencium keningnya hingga air mataku terjatuh. Aku merasa berdosa, telah menyakitinya.
"Hei, baru pulang," ucapnya sambil berusaha membuka mata, senyumnya mengembang sempurna.
"Yah.. ada masalah sedikit," sahutku dengan suara bergetar.
"Kamu kenapa?" Tanyanya sambil membelai rambutku.
"Aku merindukanmu," bisikku ditelinganya.
"Maaf membuatmu menunggu," sambungku sambil mencium keningnya.
"No problem, istirahatlah," ucapnya dengan suara serak, kemudian merentangkan tangan agar aku memeluknya.
Perasaan bersalah lagi-lagi bergelayut dihatiku. Betapa bodohnya aku.
***
Esoknya aku langsung blokir nomer Anitta, menghapus semua panggilan dan pesan. Aku tidak ingin dia kembali dan merusak rumah tanggaku.
Seminggu sudah tak kudapati kabarnya, aku merasa sedikit lega. Mungkin dia sadar, kalau perbuatannya sudah melebihi batas.
Tring.. gawaiku berbunyi.
Satu pesan baru diterima, dari nomer baru. Karna banyak pekerjaan aku mengabaikan pesan itu.
Tring.. tring.. tring..
Suara gawaiku kembali terdengar, kali ini lebih ramai bersaut-sautan. Dengan mata masih terfokus dilayar laptop, aku mengambil gawai diatas nakas.
Mataku membulat saat membaca pesan dari nomer yang tidak terdaftar di gawaiku.
{Hai.. sore ini istrimu tersenyum manis, jika foto ini kukirim. Masihkah senyum itu terukir di bibirnya?}
Deretan foto menjejali gawaiku, terlihat Anitta sedang makan berdua dengan Fiona. Selebihnya banyak foto aku dan Anitta dalam ranjang yang sama.
"Agrhh! Beraninya dia mengancamku," rutukku sambil meremas kuat gawai.
Tring.. lagi pesan dari nomer yang sama.
{Kau tidak bisa lepas dariku,}
Dengan cepat langsung kubalas pesan itu.
{Apa mau mu?} Pesanku langsung bercentang biru.
{Mau ku?} Balasnya.
{Kau menjadi milikku,}
Aku langsung melempar gawai diatas nakas, perempuan ini sungguh membuatku gila. Aku masuk dalam perangkapnya.
Tring.. lagi gawaiku berbunyi, aku yakin pasti dari Anitta.
{Temui aku jam 7 malam, dikosan. Kalau tidak, kupastikan senyum istrimu akan menghilang!}
Rahangku mengeras seiring nafas yang memburu. Sekarang apa? Kini dia mulai mengancamku. Apa pun caranya aku harus menghapus foto-foto itu dari gawainya.
Sebelum jam tujuh aku sudah tiba di kosannya. Sejak pagi cuaca sudah mendung, kini angin dingin mulai menerpa kulit. Kukuatkan badan lalu keluar dari mobil.
Tok.. tokk.. aku mengetuk pintu kosan dengan kepala celingukan, berharap tidak ada yang mengenaliku.
"Hai.." ucapnya saat pintu terbuka.
"Masuk," titahnya kemudian.
"Ga perlu, kita harus selesaikan ini sekarang juga," sahutku ketus.
Tangan Anitta langsung menarikku kedalam kamar. Tubuhku terdorong disisi tembok, Anitta merapatkan tubuhnya disisiku.
"Santai.. aku hanya menawarkan syurga untukmu," bisiknya sambil meniup ditelingaku.
Aku terkesiap. Membeku.
"Aku tidak akan cerita apapun, asal kau menuruti ke inginanku," sambungnya lagi, tangannya mulai meraba wajahku.
Tak ingin mengulang kesalahan yang sama aku langsung mendorong tubuhnya, hingga dia mundur beberapa langkah.
"Jangan main-main denganku, aku bisa melukaimu," ancamku dengan murka.
Anitta malah terkekeh mendengar ucapanku, seolah yang terlontar dari bibirku hanya sebuah lelucon.
"Berapa yang kau butuhkan, setelah ini jangan menggangguku," ucapku datar.
Perlahan langkah kakinya mulai mendekat, dengan cepat tangannya sudah bergelayut dileherku.
"Aku tidak hanya membutuhkan uangmu," mata Anitta menatapku dalam.
"Lebih dari itu. Ternyata, aku lebih membutuhkan sentuhanmu," ucapnya sambil menjilat bibirku.
***ofd.
Jijayyy bingit ya, Anitta.
menghallalkan segala cara, demi ambisinyaa.
enaknya diapain yak?
ada yang mau kasih saran?