bagian 7 - Pov Mas Daniel

726 Words
Pov Mas Daniel "Mas, aku boleh minta tolong?" Tanya Fiona saat aku keluar dari toilet. "Kenapa sayang?" Jawabku sambil mengambil kemeja di dalam lemari, lalu memakainya. "Tolong setor uang ini ke bank yah.. hari ini aku sibuk banget," ucapnya sambil menunjuk amplop coklat besar. Semenjak pegawai terpercayanya, membawa lari uang penjualan mobil. Kini Fiona sendiri yang turun tangan mengurus semuanya. Dia bahkan lebih sibuk di banding aku. "Boleh.. apa sih yang enggak buat istri tercinta," sahutku sambil menerkam manja tubuhnya. Fiona tergelak melihat tingkahku, dengan gemas ku ciumi setiap inci wajahnya. Manatap dalam mata indah milik Fiona perlahan bibir kami berpagut dalam buaian syahdu. Walau pernikahan kami sudah memasuki usia lima tahun, rasa cinta tidak pernah berubah. Cinta ini seolah semakin bersemi seiring berjalannya waktu. Setelah sarapan, kami menjalani activitas masing-masing. Namun hari ini aku harus pergi ke bank lebih dulu, sesuai perintah Ratuku. Antrian tidak terlalu panjang, hanya 20 menit berselang nomer antrianku pun terpanggil. "Ada yang bisa kami bantu Pak?" sapa ramah pegawai bank. "Saya mau setor tunai Mbak," jawabku sambil mengeluarkan amplop coklat besar yang berisi tumpukan uang berwarna merah. "Atas nama Fiona Anggelna Putri, ya Pak?" Tanyanya. "Iya," jawabku singkat. "Kalau boleh tau, Bapak siapanya Ibu Fiona?" Tanyanya kemudian. "Saya suaminya," sahutku sambil menatapnya sekilas. "Oh.. sepertinya Ibu Fiona sangat sibuk, biasanya dia sendiri yang menyetor uang nya," ucapnya sambil menatapku. Aku hanya tersenyum tipis menganggukan kepala. Lalu pegawai itu kembali sibuk dengan tugasnya. "Sudah selesai Pak, terimakasih ya," ucapnya tersenyum manis sambil menyodorkan kertas. Aku menganggukan kepala, lalu mengambil kertas dari tangannya. "Boleh saya menyimpan nomer Bapak?" Pertanyaan nya membuatku menoleh kearahnya. "Saya Anitta, teman dekat Fiona," sambungnya sambil tersenyum. "Siapa tau kita bisa bersilaturahmi," ucapnya lagi. Karna sudah siang, dan ada masalah di cafe. Aku langsung menanggukan kepala. Lalu pergi meninggalkan kantor bank. Siapa sangka pertemuan singkat dengan Anitta, membuat rumah tanggaku dengan Fiona kini di ujung tanduk. Tidak menyangka bangkai yang selalu ku tutupi dengan rapat akhirnya tercium juga oleh istriku. Berawal saat Anitta meminta bantuan, menjemputnya dikantor cabang pukul sembilan malam, dengan suara memelas. Kebetulan saat itu aku akan melewati kantor cabangnya, sehingga aku bisa menjemputnya. Sekalian lewat, fikirku kala itu. Setelah kejadian itu, Anitta seolah gencar mendekatiku. Dia selalu memberi perhatian saat menghubungiku ditelpon atau sekedar berbalas pesan. Ku abaikan semua perlakuannya, karna aku hanya menganggap dia teman Fiona tidak lebih. Hingga suatu malam, Anitta kembali menghubungiku meminta untuk menjemputnya ditempat biasa. Aku sebenarnya malas meladeninya, tapi dia selalu merengek hingga mau tidak mau aku menjemputnya juga. "Mampir dulu Mas," ajaknya sebelum turun dari mobil. "Ga perlu, aku masih banyak kerjaan," tolakku halus, tanpa melihat wajahnya. "Kali ini aja, aku janji tidak akan mengganggumu lagi," ucapnya dengan mata sendu. Akhirnya aku mengangguk kepala menerima tawarannya. Anitta tinggal di kamar kos sendiri dengan fasilitas lengkap dan berkelas. Semua terlihat rapih dan terawat hanya dari halamanya saja. "Masuk Mas, saya buatkan minum dulu ya," ucapnya sambil memasuki kosan. Tak peduli ucapannya, aku lebih memilih duduk dibangku depan kosan. Ada rasa tidak nyaman, saat aku berada disini. Tidak lama Anitta datang dengan nampan yang berisi minuman dingin dan beberapa makanan ringan. "Di minum Mas, pasti haus," ucapnya sambil duduk dibangku samping. Dengan malas aku meneguk minuman itu, setelahnya aku berniat untuk pulang. Anitta bercerita masalahnya dengan orang kantor, bibirnya terus saja bergerak. Membuatku sulit untuk pamit dari sini. Entah mengapa, tenggorokan begitu kering. Membuatku kembali meneguk minuman dingin itu. Jantungku berdegup tidak beraturan. Hawa panas seakan menyelimuti, keringat dingin mulai bercucuran dikeningku. Sadar ada yang salah denganku, Anitta menyuruhku istirahat dikamarnya. Bodohnya aku manut saja saat tangannya menuntunku menuju pembaringan. "Aku bersih-bersih sebentar ya Mas," bisiknya ditelingaku. Jarak kami sangat dekat, sehingga aku bisa mencium aroma tubuhnya. Membuat bulu kudukku meremang seketika. Anitta kembali dengan setelan yang sangat minim, belahan dadanya sangat jelas terlihat. Membuat jantung seperti lompat dari tempatnya. Dia berlenggok didepanku, mencium pipiku sekilas dan berusaha menggodaku. Dia terlihat sangat ahli dibidang ini. Aku seperti kehilangan kendali dan akal sehat. Melihatnya begitu agresif, aku malah menyambutnya dengan hangat. Melihat kenyataan ini, Anitta tersenyum manis dan semakin liar, dia bahkan tak segan meninggalkan bajunya didepanku. Aku tidak bisa mencegahnya, hasrat semakin bergejolak. Anitta menyentuh apa pun yang ada ditubuhku, aku tidak bisa menolak. Karna bihari lelakiku menginginkannya. Dan aku seperti tidak mengenali diriku sendiri, aku terbuai oleh sentuhannya. Untuk pertama kali dalam hidupku, malam ini aku menepis wajah Fiona.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD