Meneguk kembali minuman kaleng yang tersisa sedikit. Dengan langkah gontai, aku menaiki tangga menuju kamarku. Meninggalkan Mas Daniel, yang tergolek lemah dimeja makan.
Biarlah.. semoga ini yang terbaik. Semoga tidak ada yang mengganggu, jalan kematianmu Mas!
Menutup pintu dengan rapat lalu menguncinya. Berjalan menuju toilet, mengisi air dalam bathtub bersiap menenggelamkan tubuh lelahku didalamnya. Biasanya perasaanku menjadi lebih baik setelahnya.
Membuka jendela kamar lebar-lebar. Seketika udara segar menyerang wajah dan indra penciumanku. Melihat langit, banyak bintang yang berkelip indah dengan sang bulan disisinya.
Lihatlah.. bahkan bulan selalu setia menemani bintang. Hah, hatiku kembali perih. Mengingat suamiku yang tidak setia.
Pandanganku beralih pada pagar rumah yang terbuka setengah, tidak biasanya seperti itu. Apa Paman sedang keluar?
***
Pagi hari aku bangun dengan tubuh yang lumayan segar. Selesai bersih-bersih aku langsung menuju meja makan.
"Mau sarapan apa Non?" Tanya Bi Inah, saat aku menduduki kursi.
"Roti bakar coklat, sama teh hijau," jawabku sambil menuang air kedalam gelas lalu meneguknya.
Kuamati meja ini, tidak ada sisa darah sedikit pun. Kemana perginya?
"Silahkan Non," sambil tersenyum Bi Inah menaruh sarapan didepanku.
Kulihat wajahnya sedikit tegang menatapku. Kubalas dengan sedikit senyum lalu melahap makananku.
"Non.." ucap Bi Inah ragu-ragu.
"Iya?" Sahutku datar.
"Semalam saya lihat, Tu.. tuan."
Ucapan Bi Inah terhenti. Matanya terlihat mengembun, tangannya sibuk meremas celemek yang melekat ditubuhnya.
"Kenapa?" Aku mengangkat sebelah alis. Menatap dalam kedua matanya.
"Tuan Daniel saya temukan tidak sadarkan diri, dengan tangan yang berlumuran darah," ucapnya dengan bibir yang bergetar.
"Tuan.. mencoba bunuh diri Non," sambungnya dengan tubuh yang terguncang.
"Sekarang dia dimana?" Tanyaku dengan wajah tenang.
"Tuan dibawa ke kelinik depan, milik Dokter Rusman," jawab Bi Inah seiring jatuhnya air mata.
Wajar Bi Inah bersikap demikian, mengingat Mas Daniel selalu memperlakukan dia dengan baik.
"Siapa yang mengantar?"
"Paman Jef dan Bibi Non," jawabnya sambil mengusap air mata dipipinya.
"Gimana keadaannya sekarang?"
"Alhamdulillah, semua baik-baik aja Non. Dokter Rus bilang urat nadinya tidak sampai kena, jadi masih bisa di selamatkan. Hanya kekurangan darah aja," terang Bi Inah, aku hanya manggut-manggut mendengarnya.
"Semalam Bibi tidak pulang kerumah?" Tanyaku lagi.
"Kemarin badan Bibi lemas Non, jadi Bibi nginep disini."
Biasanya Bi Inah selalu pulang kerumahnya, kalau pekerjaan sudah selesai.
"Semalam, Bibi sudah mencoba mengetuk pintu kamar Non Fiona. Tapi tidak ada jawaban," sambung Bi Inah dengan suara lemah. Gurat kesedihan tergambar jelas diwajahnya.
"Ya sudah, saya jalan dulu. Kalau Bibi masih sakit, Bibi bisa pulang sekarang," ucapku sambil bangkit dari kursi, lalu berjalan keluar rumah.
"Paman.."
Dengan sekali teriakan, Paman langsung berlari kecil menghampiriku.
"Duduk," titahku sambil menoleh singkat kearah kursi.
Paman langsung mendudukinya.
"Aku sudah dengar semuanya," ucapku tanpa basa-basi.
Paman menegakkan badan, menyimak ucapanku.
"Aku belum mengucapkan terimakasih atas kejadian di hotel kemarin," ucapku sambil duduk di samping kursinya.
Merogoh tangan ke dalam tas, lalu mengambil amplop coklat tebal didalam nya.
"Temuilah keluarga Paman. Fio yakin mereka merindukanmu," ucapku sambil meletakan amplop diatas meja kecil.
Paman melirik amplop lalu menatapku.
"Aku kasih waktu satu minggu, apa itu cukup?" Tanyaku membalas tatapannya.
"Cukup Non," jawabnya.
"Non Fiona tidak perlu memberi uang ini. Paman senang bisa membantu Non," ucap Paman sambil menggeser amplop di dekatku.
Aku tersenyum tipis mendengar ucapannya. Lalu menarik nafas.
"Uang ini bukan untuk Paman, tapi untuk Arjun. Ku dengar dia akan memasuki perguruan tinggi."
Arjun anak satu-satunya Paman. Keluarga Paman sudah mengabdi pada keluargaku sejak lama. Aku sangat hapal dengan semua keluarganya.
"Terimalah, aku akan sedih jika Paman menolaknya," ucapku sambil tersenyum hangat.
Paman tersenyum tipis kearahku. Lalu mengambil amplop coklat itu.
"Nikmati liburanmu Paman, salam untuk keluarga," ucapku tulus.
"Terimakasih Non," balasnya sambil membungkukkan badan.
"Saya permisi," sambungnya sambil membalikkan badan.
"Paman.." panggilku saat Paman hendak melangkah.
Paman langsung berbalik menghadapku.
"Jangan beri tahu Ayah, yang sedang terjadi disini," suaraku terdengar lirih.
Paman menggangguk pasti, lalu meninggalkan ku.
Jangan sampai Ayah ku mendengar semua ini. Aku tak ingin membuat dia kefikiran. Aku yakin bisa menghadapi semua ini sendiri.
***
Sudah dua hari Mas Daniel dirawat di klinik, aku belum datang menemuinya. Untuk semua keperluannya, aku sudah mengutus Bi Inah yang melakukannya.
Biasanya, aku adalah orang yang paling sibuk saat Mas Daniel sakit. Walau cuma demam sedikit, aku sangat khawatir dan selalu disampngnya. Namun keadaan sudah berubah, semua tidak sama lagi.
"Non.." sapa Bi Inah saat aku baru tiba dirumah.
"Ya."
"Tuan.. selalu menanyakan Non Fiona," ucapnya pelan.
"Bibik belum pulang?" Sahutku mengalihkan pembicaraan.
"Saya sengaja nunggu Non pulang ke rumah."
Hening.. aku hanya menatapnya datar.
"Setiap tidur, Tuan selalu merintih. Menyebut nama Non Fiona," sambungnya sambil menatapku penuh harap.
"Baiklah Bik, kalau tidak ada yang penting lagi. Sebaiknya Bibik pulang," sahutku lalu kembali melangkah.
Aku terdiam disisi ranjang, mencoba berdamai dengan keadaan. Hati dan logika selalu bersebrangan, entah apa yang harus ku perbuat.
Siang ini aku memilih mengikuti kata hati, mobilku terhenti didepan klinik Dokter Rusman.
Memencet bel beberapa kali, tidak lama keluar perempuan seumuran denganku, yang ku taksir istri Dokter Rusman.
Aku memang tidak terlalu mengenal orang disekitar. Yang ku tahu paling hanya tetangga satu gang saja.
"Siang Bu," sapaku.
"Iya siang, ada yang bisa dibantu Bu?" Balasnya.
"Saya ingin menjenguk orang sakit," sahutku.
"Pak Daniel?" Tebaknya.
"Iya Bu."
"Kemarin sore, Pak Daniel dibawa keluarganya ke rumah sakit keluarga Bu," terangnya.
"Siapa yang bawa?" Tanyaku.
"Kayanya sih orang tua, sama istrinya," jawabnya.
"Istrinya?"
"Iya saya kurang tau sih Bu, tapi kelihatannya seperti itu," jawabnya seperti mengingat-ingat.
Apa Mamih bersama Arina atau..
"Ya sudah Bu, trimakasih ya," ucapku sambil tersenyum.
"Sama-sama," sahutnya sambil membalas senyumku.
Mobilku perlahan memasuki halaman rumah sakit, setelah memarkirkan mobil. Aku langsung menuju resepsionis.
"Siang Mbak, apa ada pasien bernama Daniel Prasetianto?" Tanyaku langsung.
"Sebentar ya Mbak," jawabnya lalu sibuk dengan komputer.
"Ada Mbak."
"Di kamar nomer berapa Mbak, saya mau jenguk," Tanyaku.
"Di ruang mawar nomer 156, lantai dua," jawabnya sambil menatap komputer.
"Oke makasih ya," sahutku dibalas anggukan kecil.
Lift berhenti dilantai dua, aku amati pintu kamar dengan deretan nomer.
"Ruang mawar nomer 156," ejaku sambil melihat pintu.
Sebelum memasuki kamar, kulihat dari kaca yang terdapat dipintu rumah sakit. Rasa malas langsung hinggap dihati ini, melihat Mamih sedang mengupas kulit apel disamping Mas Daniel.
"Huhh.." aku menarik nafas sebelum membuka pintu.
"Ehh.." sebelum pintu terbuka. Mataku memincing melihat seorang perempuan keluar dari toilet. Tanpa melihat wajahnya pun, aku sudah tau siapa orangnya.