BAB 1. Kopi Pahit
Hujan turun dari sore dan belum benar-benar reda sampai malam.
Lampu kota memantul samar di kaca mobil hitam yang melaju pelan di tengah jalan Jakarta yang basah. Wiper bergerak bolak-balik dengan suara monoton yang dari tadi nemenin perjalanan mereka.
Selina nyender ke jendela sambil mijet pelipis pelan.
Kepalanya cenat-cenut dari tadi siang.
Meeting investor.
Photoshoot.
Wawancara.
Makan malam bisnis.
Belum lagi orang-orang yang ngajak ngobrol padahal jelas dia lagi capek.
Ponselnya bergetar lagi di atas paha.
Mama Adrian.
Selina cuma ngelirik sekilas sebelum mematikan layar lagi tanpa dibaca.
Udah lima kali.
Di depan, Reza sempat melirik lewat kaca spion.
“AC-nya kekecilan, Nyonya?”
“Enggak.”
“Hm.”
Udah.
Cuma itu.
Dan anehnya Selina lebih suka begitu.
Reza gak banyak basa-basi. Gak sibuk cari perhatian juga. Dari empat hari kerja di rumah Adrian, laki-laki itu lebih sering diem kecuali memang ada yang perlu diomongin.
Mobil kembali sunyi.
Suara hujan di atap mobil malah jadi lebih kedengeran.
“Kita langsung pulang?” tanya Reza beberapa menit kemudian.
Selina nengok keluar jendela.
Gedung-gedung tinggi lewat pelan di samping mobil. Lampunya buram kena air hujan.
Rumah.
Belakangan itu jadi tempat terakhir yang pengen dia datengin.
“Muter dulu aja.”
“Baik.”
Reza langsung belok di lampu berikutnya tanpa banyak tanya.
Selina nunduk sambil muter cincin nikahnya pelan.
Enam tahun.
Kadang dia sendiri bingung sejak kapan hidupnya berubah jadi serapi dan sehampa ini.
Di luar sana orang-orang ngeliat dia sebagai perempuan yang punya semuanya.
CEO muda.
Cantik.
Kaya.
Istri pewaris keluarga besar.
Padahal hampir tiap malam dia pulang dengan d**a sesak tanpa tau harus cerita ke siapa.
“Kapan punya anak?”
Kalimat itu terus ngikutin dia ke mana-mana.
Dari keluarga.
Dari media.
Dari relasi bisnis.
Seolah hidupnya belum lengkap cuma karena dia belum jadi ibu.
Selina nutup mata sebentar.
“Astaga…”
Tangannya naik lagi ke pelipis.
Pas mobil berhenti di lampu merah, sebuah botol air muncul dari depan.
“Nyonya belum minum obat.”
Selina ngangkat wajah pelan.
“Hah?”
Pak Reza masih fokus ke jalan sambil nyodorin botol itu ke belakang.
“Nyonya dari tadi mijet kepala terus.”
Sesimpel itu jawabannya.
Gak lebay.
Gak sok perhatian.
Dan justru itu yang bikin Selina bingung sendiri.
“Terima kasih.”
“Iya.”
Lampu merah berubah hijau.
Mobil kembali jalan.
Selina buka botol air itu pelan sambil ngeliat punggung Reza dari belakang.
Aneh ya.
Bahkan Dimas kadang gak sadar kalau dia lagi sakit kepala.
Tiga puluh menit kemudian mobil masuk ke halaman rumah keluarga Adrian.
Lampu ruang tengah masih nyala terang.
Selina langsung males.
“Udah nungguin,” gumamnya kecil.
Reza buru-buru turun lebih dulu sambil buka payung hitam.
Pas pintu rumah kebuka, suara Mama Adrian langsung nyambut dari dalam.
“Akhirnya pulang juga.”
Nada bicaranya tajam kayak biasa.
Mama Adrian duduk di sofa sambil nyilang tangan. Dimas ada di sampingnya, masih pake kemeja kerja abu-abu yang bagian lengannya udah digulung.
Mukanya keliatan capek.
Selina nyopot heels pelan dekat pintu.
“Ma, aku capek. Besok aja ya ngomongnya.”
“Capek?” Mama Adrian ketawa pendek. “Mama juga capek nunggu cucu.”
Nah.
Mulai.
Selina langsung narik napas panjang.
“Semua pemeriksaan udah dilakukan.”
“Terus hasilnya mana?”
Ruangan mendadak sunyi.
Tatapan Mama Adrian pindah ke Dimas.
“Kalian nyembunyiin sesuatu?”
Dimas langsung berdiri.
“Ma, udah.”
“Udah gimana? Enam tahun, Dimas.”
Nada suara wanita itu mulai naik.
“Orang-orang udah mulai ngomongin keluarga kita.”
Selina ngerasa kepalanya makin sakit.
Tangannya genggam tas lebih erat.
“Kalau memang Selina yang bermasalah, suruh dia berobat yang benar.”
Brak!
Dimas mukul meja sampai gelas di atasnya bunyi keras.
“Cukup, Ma!”
Semua langsung diem.
Mama Adrian keliatan kaget.
Begitu juga Selina.
Dimas jarang banget bentak ibunya sendiri.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Selina sadar ada sesuatu yang aneh dari suaminya.
Bukan marah.
Lebih mirip takut.
“Aku ke atas dulu.”
Selina langsung naik tangga sebelum pertengkarannya lanjut lagi.
Dia masuk kamar lalu nutup pintu agak keras.
Brak.
Sunyi.
Cuma suara hujan dari balkon luar.
Selina duduk di sofa dekat jendela sambil nunduk lama.
Sepi banget rasanya.
Dia bahkan gak sadar kapan air matanya mulai jatuh.
Capek.
Beneran capek.
Tok.
Tok.
Selina buru-buru ngusap muka.
“Masuk.”
Pintu kebuka pelan.
Bukan Dimas.
Reza berdiri di sana sambil bawa mug hitam.
Selina agak bingung.
“Ada apa?”
“Saya bikinin kopi.”
Selina ngeliat mug itu beberapa detik.
“Kamu tau aku minum kopi malam?”
“Di dapur tinggal kopi tanpa gula satu-satunya,” jawab Reza santai. “Saya nebak aja.”
Selina ketawa kecil tanpa suara.
“Nebaknya bener.”
Reza masuk sebentar buat naro mug di meja kecil dekat sofa.
Aroma kopi langsung nyebar pelan di kamar.
“Kalau gak ada lagi, saya keluar.”
“Reza.”
Langkah laki-laki itu berhenti.
Selina juga bingung kenapa dia manggil.
Beberapa detik gak ada yang ngomong.
Hujan masih bunyi di luar balkon.
“Makasih.”
Tatapan Reza keliatan lebih lembut sedikit.
“Iya, Nyonya.”
Pintu kamar nutup lagi pelan.
Selina ngeliat kopi itu cukup lama sebelum akhirnya diminum sedikit.
Pas.
Gak terlalu pahit.
Masih hangat.
Dan entah gimana rasanya persis kayak yang dia suka.
Selina nyender ke sofa sambil ketawa kecil pahit.
Lucu juga.
Suaminya sendiri kadang lupa dia suka kopi apa.
Tapi sopir yang baru kerja empat hari malah hafal.
Sementara itu di lantai bawah, Dimas masih berdiri sendirian di ruang kerjanya.
Sebuah map putih kebuka di meja.
Hasil rumah sakit.
Tangannya gemetar waktu baca tulisan itu lagi.
INFERTIL PERMANEN.
Dimas langsung nutup mata keras.
Dadanya naik turun gak tenang.
Kalau keluarganya sampai tau semuanya habis.
Harga dirinya.
Nama keluarga Adrian.
Semua.
Brak!
Gelas kristal di tangannya pecah jatuh ke lantai.
Pecahannya nyebar sampai dekat kaki meja.
Tok.
Tok.
“Pak?”
Suara Reza muncul dari balik pintu.
Dimas buru-buru nutup map itu.
“Ada apa?”
“Mobil sudah dimasukin.”
“Hm.”
Reza kayak masih nunggu sebentar di luar.
“Pak… Anda gapapa?”
Pertanyaan sederhana itu malah bikin emosi Dimas makin berantakan.
“Keluar.”
Sunyi bentar.
“Baik, Pak.”
Langkah kaki Reza menjauh pelan.
Dimas jatuh duduk di kursi sambil ngacak rambut frustrasi.
Matanya berhenti ke arah pintu yang baru aja tertutup.
Ke tempat Reza tadi berdiri.
Dan malam itu, sebuah pikiran mulai muncul di kepalanya.
Pikiran yang bahkan bikin dirinya sendiri gak nyaman.
Reza masih muda.
Sehat.
Dan Selina kelihatan cukup nyaman di dekat laki-laki itu.
Dimas nunduk sambil ngusap wajah kasar.
Gila.
Tapi makin dicoba dibuang, pikiran itu malah makin muter di kepalanya.