PART 3 - SEBUAH IDE YANG BERUJUNG TRAGIS

1580 Words
Happy Reading ^_^ *** "Kenapa sih cemberut gitu mukanya?" kata Elea pada sang kakak yang terlihat memanyunkan bibir. Padahal biasanya Alia paling sumringah kalau bertemu dengan Elea dan bayinya yang lucu. "Coba sini cerita laki lo selingkuh sama siapa." Alia mendelik ke arah sang adik. "Amit-amittttt. Jangan sampe laki gue selingkuh!" Elea terkekeh melihat respon sang kakak yang kembali heboh. Nah, beginilah baru Alia Agni Sasmita. Heboh dan sangat berisik. "Ya emang bener kan? Tapi selingkuhnya bukan sama perempuan, tapi selingkuhnya sama kerjaan. Iya apa iya?" goda Elea. Alia mendengus. "Ya bener juga sih. Sekarang aja dia minggat ke luar kota, padahal lusa itu anniversary pernikahan kita yang keempat. Laki gue kok jengkelin bangettt sihh!" Elea terkekeh. "Seriusan? Kayaknya dia sering banget lho ke luar kota belakangan ini. Iya nggak sih, Kak?" Alia mengangguk. Tadinya Alia pikir ini resikonya menikahi seorang pengusaha. Dia mencoba berlapang d**a. Tapi kalau sampai anniversary pernikahannya jadi tergadaikan, bukankah ini sangat menjengkelkan? Tapi mau bagaimana lagi, batinnya dengan miris. Dia sudah terlanjur cinta, jadi sejengkel-jengkelnya Alia saat ini ya dia tetap merelakannya. "Matteo kayak gitu juga nggak sih, Le? Yang tiba-tiba suka ke luar kota dan ninggalin istri dengan naas kayak gini. Masalahnya ini mau anniversary lhoooo..." rajuk Alia karena masih tidak terima. "Matteo sih syukur nggak kayak gitu, Kak. Ya dia memang sibuk, tapi sebisa mungkin semuanya tetap terjadwal. Jadi nggak ada itu istilah ninggalin anak istri secara dadakan. Katanya, dia takut tiba-tiba nggak dikenalin sama anaknya kalo keseringan pergi-pergi." Ada humor dalam setiap perkataan Elea, tapi Alia sama sekali tidak terhibur. Istri Keenan Hadiwijaya itu malah menatap sang adik dengan senyum tipis penuh ironi. Seandainya saja dia dan Keenan punya buah hati yang bisa memberatkan hati Keenan saat mau berpergian secara dadakan. Pasti akan sangat menyenangkan. "Sebenernya kakak tuh nggak ada masalah dia mau ke luar kota sesering apa, tapi kok ya pasan anniversary gitu. Kan anniversary itu setahun sekali. Tanggalnya pun tetap sama, nggak berubah sedikit pun. Apa dia nggak bisa gitu ngosongin jadwalnya di hari itu gitu?" komplain Alia setelah menahan unek-uneknya sekian lama. Itu pun bukan pada si pelaku, tapi pada adiknya. Entah kenapa dia tidak berani mengatakannya secara gamblang pada sang suami. Dia merasa... tidak enak hati. Pada akhirnya dia hanya bisa rela meski menyimpan segudang unek-unek. Elea menatap sang kakak dengan kasihan. "Udah ngomong belum sama si Keenan?" Alia mengangguk hampa. "Udah, katanya memang dadakan. Ya karena nggak ada pilihan jadi aku relain aja. Mau gimana lagi memangnya?" "Kak, lo udah pernah nyoba belum buat pura-pura merajuk ke Keenan? Jadi kayak dia harus milih lo atau kerjaannya gitu? Coba gih siapa tahu dari sini lo tahu prioritas Keenan itu siapa sebenernya." "Ya jelas udah pernah lah. Mana mungkin nggak pernah sih?" jawab Alia sambil memutar bola matanya. Beragam cara sudah dia lakukan dan hasilnya ya sama pasrahnya. Istilahnya, dia tidak punya kuasa untuk mengeluh lebih banyak, apalagi dia hidup di bawah nafkah Keenan sepenuhnya. "Terus Keenan milih siapa?" "Keenan milih kakak kok. Cuma ya abis itu kakak ngerasa nyesel aja karena kok kesannya kekanakan banget gitu," Alia menjeda untuk memikirkan alasannya. "Maksudnya kayak—kakak kan memang tanggung jawab dia, tapi kerjaan di perusahaan juga tanggung jawab dia. Tapi bisa-bisanya kakak kayak yang harus maksa dia untuk milih mana yang harus banget diduluin. Padahal kalo dipikir-pikir kakak pun menikmati hasil kerja keras dia di perusahaan, entah itu dalam bentuk tas, perhiasan, dan lain-lainnya." "Jadi kakak merasa harus mewajarkan sikap dia yang workaholic?" Alia mengangguk. "Ya mau gimana lagi—namanya juga nikah sama pengusaha." "Ya bener juga sih, Kak. Gimana pun dia kerja buat kita. Aku pun mikirnya begitu tentang kerjaan Matteo." Elea menghela napas. "Cuma kok ya ngenes banget di momen anniv malah doi nggak ada." Keduanya sama-sama menghela napas. "Gimana kalo kakak susulin aja? Daripada anniversary sendirian di sini." Mata Alia yang sempat meredup karena tidak ada harapan langsung menampakkan binarnya lagi. Ide Elea membuat pikiran Alia yang sempat buntu jadi terbuka. "Gimana? Oke kan rencana aku?" tanya Elea sambil memainkan matanya dengan bangga. "Kalau doi nggak bisa ngerayain di sini, ya kakak aja yang ke sana buat ngerayainnya. Toh nggak ada larangan kan dari suami kakak sendiri?" Dengan cepat Alia menggeleng. Bibirnya berkedut menahan senyumnya yang sebentar lagi terbit. Ah, jangan lupakan juga otaknya yang sudah meliar dengan beragam ide kalau dia sampai menyusul Keenan nanti. Astaga, nakal sekali pikirannya. "Hayooo, pipinya merah-merah kayak gitu mikir apaan? Jangan ngeres ya. Ada bayi di sini." Alia tergelak mendengar celetukan sang adik. Tadinya dia ingin menyanggah perkataan sang adik, tapi kemudian dia urungkan. Lagipula untuk apa disanggah? Mereka berdua sudah bukan anak kecil lagi. Hal-hal nakal semacam ini bisa dibilang sebagai hal yang lumrah dilakukan pasangan. Dan tak menutup kemungkinan Elea dan Matteo juga melakukannya mengingat bagaimana mesranya mereka setelah cobaan rumah tangga mereka berlalu. "Udah, nggak usah pake mikir. Susul gih. Gue bayarin deh tiketnya yang penting lo nggak galau lagi deh, kak!" ujar Elea dengan nada menyombong. "Anjrit, lo pikir gue kekurangan duit apa?" Alia menggerutu. Tapi tak urung senyumnya mengembang sempurna setelah itu. "Doain aja. Doain biar usaha gue goal. Siapa tahu pulang-pulang bisa kasih temen main buat anak lo." "Siappppp." Elea tergelak. "Semoga sukses ya, Tante Alia..." Elea menambahkan dengan memainkan tangan mungil anaknya untuk memberi semangat pada sang kakak. *** Alia Agni Sasmita menatap landasan pacu bandara Abdul Rachman Saleh dengan mata berbinar. Berkat saran sang adik kemarin, tanpa pikir panjang Alia langsung pulang dan berkemas. Dan karena sudah tidak sabar untuk mengejutkan suaminya, keesokan paginya pun dia sudah mendarat sempurna di Malang. Terkesan terburu-buru? Memang. Tapi mau bagaimana lagi, waktunya sangat mepet sehingga Alia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya sedikit pun kalau dia memang ingin merayakan anniversary-nya dengan sang suami. Dan karena tekadnya ini Alia benar-benar tidak memusingkan apa pun. Dia mencegat sembarang taksi yang bersedia mengantarnya ke hotel yang diinapi sang suami. Masalah perutnya yang agak keroncongan pun dia abaikan. Pokoknya yang terpenting adalah bertemu suaminya dulu, sisanya dipikirkan nanti. Siapa tahu juga mereka akan sarapan bersama, bukan? Ah, membayangkannya sudah membuat Alia kenyang seketika. Senyumnya terus mengembang selama perjalanan menuju hotel yang diinapi sang suami. Raut lesu yang beberapa hari ini dia tampilkan pun sudah tidak ada. Yang tersisa adalah raut bahagia di mana besok dia akan menjalani anniversary mereka yang keempat bersama-sama. Bahkan bukan tidak mungkin juga nanti malam mereka akan bergumul dengan panasnya untuk menandai pergantian hari istimewa mereka. Membayangkan pergumulannya yang mungkin saja terjadi nanti malam, Alia jadi ingat dengan pakaian yang dibawanya. Dari sepuluh baju yang dibawanya, setengahnya sendiri adalah lingerie super seksi yang sengaja Alia beli untuk menyenangkan Keenan. Astaga, masih terlalu pagi tapi pikirannya sudah meliar ke mana-mana. Dasar m***m, ejek batinnya sendiri. Sesampainya di hotel, Alia melenggang dengan lebih santai. Dia sudah dekat sekali dengan sang suami jadi tidak perlu terburu-buru seperti sebelumnya. Sekarang adalah saatnya menjaga image dan menjadi anggun agar dirinya disegani oleh petugas resepsionis yang akan disapanya beberapa detik lagi. "Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?" sapa resepsionis itu dengan ramah. "Selamat pagi. Saya mau pesan kamar, tapi sebelum itu saya boleh minta bantuannya nggak ya?" Resepsionis itu mempersilakan dengan sopan. "Bisa bantu saya untuk menghubungi Keenan Hadiwijaya? Beliau memesan kamar VIP yang ada di lantai dua puluh. Saya temannya dan agak kesulitan untuk menelpon secara pribadi. Kami ada janji temu hari ini." Merasa tidak ada yang mencurigakan, resepsionis itu pun melakukan permintaan Alia. Demi memberi Keenan kejutan, Alia memang sudah menginterogasi Keenan semalam. Dia menginap di hotel apa, lantai berapa, sampai kamar nomor berapa—semuanya lengkap! Bagaimana pun hotel-hotel mewah lumayan ketat penjagaan privasinya sehingga Alia perlu tahu sampai ke detail terkecil agar dianggap kenal dengan sang pengguna kamar. Kalau tidak begitu keberadaannya terancam terendus karena mereka akan mengadukannya pada sang pemilik nama untuk konfirmasi. "Mohon maaf, Ibu, kami sudah menelpon beberapa kali tapi tetap tidak ada yang merespon. Kemungkinan besar Bapak Keenan memang sedang tidak ada di kamarnya." Alia cemberut. Dia melirik jam di tangannya dan menghela napas pelan. Memang jamnya orang kantoran bekerja, jadi wajar sih kalau sang suami tidak ada di ruangannya. Kalau begitu dia tidak bisa langsung ketemu Keenan dan sarapan bersama, batinnya dengan kecewa. Tapi ya sudahlah. Daripada memusingkannya, lebih baik dia menganggap ini sebagai momennya untuk mengistirahatkan diri. Karena terlalu antusias, semalam memang Alia jadi kurang tidur. Sekarang dia akan memesan kamar sendiri terlebih dahulu dan tidur. Nanti malam adalah malam yang spesial, jadi penampilannya pun harus fresh. "Kalau begitu saya mau pesan kamar—" "Itu Bapak Keenan, Ibu." Resepsionis itu menyela dengan cepat. Dan secepat itu juga kekecewaan Alia berubah jadi binar penuh kebahagiaan. Tanpa diperintah dia pun langsung membalikkan tubuhnya dan menjumpai sosok suami yang sudah meninggalkannya selama beberapa hari. Senyumnya mengembang sempurna. Tapi hal itu tidak berlangsung lama karena beberapa detik kemudian ada seorang perempuan yang masuk dengan pintu yang dibukakan oleh Keenan sendiri. Senyum Alia memudar. Siapa perempuan itu? Alia langsung berbalik lagi dengan jantung yang bertalu-talu. Matanya memancarkan kekhawatiran. Keena tidak mungkin berselingkuh kan? Dengan hati-hati Alia melirik sosok Keenan dan perempuan tersebut. Sekarang mereka menunggu lift. Dan dilihat dari gesturnya, Keenan adalah gentleman bagi perempuan itu. Dia membiarkan perempuan itu selangkah di depannya dan dia pun mempersilakan perempuan itu untuk masuk lift duluan. Air mata Alia menitik. Hatinya hancur detik itu juga. "Saya mau pesen kamar yang satu lantai dengan Keenan Hadiwijaya. Bahkan kalau perlu tepat di sebelahnya. Berapa pun harganya, saya akan bayar itu." katanya dengan tekad membara untuk mencari kebenaran tentang hubungan sang suami dengan perempuan itu. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD