Happy Reading ^_^
***
Alia terbangun karena suara grasak-grusuk yang mengganggu tidurnya. Matanya mengerjap beberapa kali, lalu terbuka sepenuhnya beberapa saat kemudian. Dan sosok yang langsung memenuhi matanya adalah sang suami yang tengah berjongkok dan memberesi kopernya sendiri. Wanita itu mengeratkan selimutnya sambil menghela napas pelan.
"Packing macem apa sih itu? Dilipet, Keenan. Jangan sembarangan gitu. Kalo kayak gitu gimana mau muat banyak pakaian?"
Teguran pelan sang istri membuat Keenan mendongak. Ekspresi seriusnya berubah kekanakan, apalagi saat melihat raut wajah sang istri yang masih terlihat lelah dan letih akibat perbuatannya semalam. Ah, tadi pagi juga, batinnya mengingatkan dengan mengejek.
"Jangan ngomong doang dong, sayang. Sini, bantuin aku."
Alia menatap Keenan dengan jengkel. Bisa-bisanya sang suami berkata seperti itu pada perempuan yang kewalahan melayani nafsunya semalam.
"Masih lemes gini udah kamu suruh bantuin packing? Sorry ya. Urus sendiri sana keperluan kamu." gerutu Alia. "Lagian suruh siapa juga kamu bikin aku sampe lemes gini. Coba kalau nggak, udah kubantu kamu packing yang rapi."
Keenan tergelak. Suaranya terdengar renyah sekali pagi ini. Dan jujur, meski baru saja menggerutu, tapi hati Alia sudah menghangat kembali. Rasanya menyenangkan mendengar tawa serenyah itu dari bibir suaminya yang akan meninggalkannya selama seminggu ke depan.
"Oh ya? Kalo gitu mah aku lebih milih bikin kamu lemes aja. Packing mah alakadarnya nggak masalah, tapi kamu dibiarin alakadarnya itu yang nggak boleh. Harus sampe lemes."
Alia mendengus. "Dasar mesum."
Keenan tersenyum lagi. Kemudian dia beranjak dari posisinya dan mendekati Alia. Dia mengecup kening sang istri dengan sayang. "Good morning, babe." ujarnya sambil membantu agar Alia bisa duduk dengan mudah. Entah itu disengaja atau tidak, tapi yang jelas selimut Alia melorot dan Keenan terlihat menikmati d**a polos sang istri yang tidak tertutupi apa pun.
"Matanya pagi-pagi udah jelalatan. Mau dicolok, hm?"
"Kan jelalatannya sama istri sendiri, jadi nggak ada masalah dong." bela Keenan.
"Awas ya selama di Malang mata kamu jelalatan. Aku doain yang jelek-jelek pokoknya."
"Nggak akan jelalatan. Aku udah puas sama kamu."
Alia berdecak kala mendengar betapa gombalnya sang suami. Sejujurnya dia tidak terlalu percaya karena laki-laki kan julukannya buaya darat. Tapi selama sang suami tidak terlibat affair dengan seseorang dan selalu kembali padanya, maka seharusnya itu bukan masalah yang harus dibesarkan. Di dunia yang luas ini pasti ada perempuan-perempuan yang lebih cantik dari dirinya.
"Nanti flight jam berapa?" tanya Alia dengan mode manjanya. Sejujurnya dia belum rela ditinggalkan sang suami pada saat anniversary mereka. Kenapa rasanya sangat miris sekali, hm?
"Jam setengah dua belas."
Alia melirik jam dinding dan merengut kecewa saat melihat betapa terbatasnya waktu mereka sekarang ini.
"Ya udah deh sana siap-siap. Waktunya mepet banget." gumamnya. "Cuma bisa bantu doa semoga kamu sehat dan kerjaannya cepet beres. Biar bisa cepet pulang dan ketemu aku lagi. Oleh-oleh jangan lupa ya, suamiiii." kata Alia berusaha tegar dengan nada manjanya.
Keenan terkekeh kecil.
"Nanti selama kamu nggak ada, aku boleh kan bawa Elea nginep di sini? Aku mau minta dia nemenin aku biar aku nggak kesepian."
"Boleh kok. Aku mana pernah ngelarang kamu sih?" kemudian Keenan menampilkan cengirannya. "Tapi masalahnya dibolehin nggak sama Matteo?"
"Bolehlah. Memang siapa Matteo sampe nggal bolehin aku bawa adik aku nginep?"
Keenan menyentil hidung istrinya. "Jangan lupa dong kalo adik kamu itu udah nikah. Udah punya anak juga. Anak-anaknya gimana kalo ibunya kamu bawa?"
"Bawa juga dong!"
"Terus Matteonya gimana?"
"Ya ditinggal lah. Masa mau dibawa juga?"
"Terus kalo Matteonya lagi pengen gimana?"
Alia merengut. Dia menunjuk suaminya dengan jengkel. "Kaum kalian tuh memang ya. Di pikirannya kalo nggak makan ya ranjang. Dasar laki-laki."
"Ya mau gimana lagi, namanya juga kebutuhan batin. Tapi ini serius lho, babe, kalo bercinta emang seampuh itu buat balikin mood. Jadi kalo mood suami lagi jelek-jeleknya karena kerjaan, cukup kasih si suami service plus-plus dan semuanya bakal membaik. Dan akhirnya kamu pun bakal kecipratan bonus, entah itu dikasih enak sampe lemes atau lemes karena dikasih barang inceran."
"Maunya!"
Alia mungkin terkesan tidak peduli, tapi kalau boleh jujur, dia memang sudah sering menerapkan cara ini kalau sedang menginginkan sesuatu. Dan ya memang benar juga kalau semuanya jadi semakin sat set sat set. Apa yang diinginkannya akan langsung dipenuhi oleh Keenan dalam waktu dekat. Tidak ada ceritanya menunggu sampai galau. Entah itu efek permainan cintanya yang luar biasa atau memang pada dasarnya Keenan memang sudah loyal sekali pada istrinya, tapi yang jelas dia bahagia sekali.
"Intinya adalah boleh main sama Elea tapi nggak boleh bawa Elea nginep. Harus tahu batasan, okay?"
"Berarti aku juga nggak boleh nginep tempat Elea ya? Sekali pun alesannya buat main sama anak-anaknya?"
Keenan menggeleng pelan. "Nggak boleh." tegasnya. "Kita nggak tahu ya rumah tangga seseorang itu bagaimana, tapi alangkah baiknya kalau kita menjauh dari rumah tangga orang lain. Mau mereka lagi seneng-senengnya atau lagi ada masalah, ya biarin aja mereka yang tahu."
"...."
"Lagian nggak seru juga kan kalo tiba-tiba kamu nelpon aku dengan panik karena nggak sengaja denger mereka lagi bercinta kan?"
Alia cekikikan sendiri mendengar jawaban suaminya yang terkesan asal-asalan.
"Jangan ketawa kayak gitu, cantik. Ini nyata lho. Namanya rumah tangga ya wajar kalo mereka bercinta dan berisik. Nggak usah liat rumah tangga orang, berkaca aja sama rumah tangga sendiri aja. Kayak kamu nggak heboh aja kalo lagi begituan. Dan ya, itu adalah salah satu privasi yang harus kita kasih ke pasangan yang sudah menikah. Sampe sini paham?"
Alia menatap suaminya dengan ekspresi bosan. "Seandainya aja kita udah punya anak, aku pasti nggak akan kesepian kalo kamu tinggal-tinggal begini. Selain itu aku juga nggak akan kayak gadis banget karena ke mana-mana beneran sendiri setiap kamu pergi."
Topik anak selalu menjadi masalah yang sensitif bagi setiap rumah tangga yang belum dikaruniai momongan. Mereka akan insecure lalu mereka akan marah untuk pertahanan dirinya. Tapi hal ini tidak berlaku bagi keluarga Alia yang sudah jalan empat tahun dan masih belum ada hilal tersebut. Mereka sudah terbiasa ditanyai dengan suara mengejek, jadi keduanya sudah biasa juga meladeninya dengan jawaban meledek atau candaan.
"Iya ya. Kenapa ya kamu belum isi-isi padahal kita udah sering bercinta? Atau jangan-jangan aku kurang jago nih? Atau jangan-jangan juga aku kurang banyak ngeluarin spermanya di dalem?" kata Keenan sambil mengecupi perut Alia dengan nakal. "Atau harus coba sekali lagi? Kayaknya masih bisa nih satu sampe dua ronde lagi."
Alia tertawa bahagia. Selalu seperti ini.
"Nggak sudi aku ya, Keenan. Aku udah lemes gini—bisa-bisanya kamu."
"Bisa dong, sayang. Yuk, sebentar aja..."
Alia mendengus. Alarm pertanda minta jatah lagi berdenging dan dia harus menjauhkan sang suami sebelum hal itu terjadi. Tidak—itu tidak boleh dibiarkan. Sudah tak terhitung berapa kali dia dan Keenan melakukannya semalam. Ah, jangan lupakan juga dua kali saat fajar hampir menyapa tadi. Astaga, tubuh bagian bawahnya saja masih sakit dan Keenan masih sangat bernafsu? Memang dasar pria m***m!
Alia menutupi wajahnya agar Keenan tidak berhasil menciumi wajahnya. Bagaimana pun juga itu adalah titik lemahnya, jadi dia tidak boleh titik tersebut tersentuh atau dia akan dibuat lemas lagi. Lagipula Alia paling hapal sekali kalau paling sebentarnya seorang Keenan adalah dua ronde. Dia yang sudah lemas begini masih dibantai dua ronde lagi? Ya memang enak, tapi alamat dia tidak akan sanggup berjalan sepanjang hari ini. Sungguh ironi yang menggelikan sekali di mana dia ditinggalkan suaminya dengan kondisi kesulitan berjalan karena intensitas bercinta mereka yang luar biasa.
Keenan pun tertawa melihat betapa paniknya sang istri. Sejujurnya dia tidak benar-benar ingin melakukannya lagi, tapi dia sedang ingin mengisengi sang istri saja.
Mendengar tawa suaminya begitu menggelegar, Alia pun menurunkan selimutnya perlahan-lahan. Dia merengut pada suaminya yang sedang asyik menertawainya.
"Ketawa aja terus sampe keselek!"
"Sorry, sorry..." kata Keenan di sela-sela tawanya. "Abisnya kamu lucu banget. Kayak mau dieksekusi sama orang jahat, padahal kan aku suami kamu sendiri."
Alia mendengus. "Tapi kamu beneran jahat sih kalo aku udah capek-capeknya gini tapi masih dihajar sama dua ronde. Nanti aku nggak bisa kemana-mana karena susah jalan tahu!"
"Oke, baiklah. Aku nggak akan jadi orang jahat lagi kalo begitu. Aku bakal berhenti gangguin kamu untuk hari ini." ujar Matteo dengan seringaian nakal. "Tapi see you minggu depan. Aku pastiin kamu bakal terkapar nggak berdaya di atas kasur sepanjang hari."
Uh, janji itu terdengar... sangat menggoda.
"Minggu depan ya dipikir minggu depan. Sekarang biarin aku mikir buat hari ini dulu." kata Alia dengan nada sok tidak peduli. "Udah buruan kamu prepare-nya. Udah mepet banget tuh."
"Iya, iya cantik." kata Keenan dengan mode kalemnya lagi. Dia maju sedikit untuk kemudian mengecup kening Alia dengan sayangnya. "Selama aku tinggal jangan lupa jaga diri dan kesehatan ya. Kalo ada apa-apa harus segera telpon aku. Paham, cinta?"
"Paham, cintaku."
TBC
Keenan itu suamiable banget nggak sihhhh? Hehehe