"Sudah, sampai..." teriak Ari memecahkan keheningan.
Kini mereka sudah sampai di rumah Faya.
"Alhamdulillah, waktunya tidur." Ucap Gendis seraya berteriak senang "thx ya Ar, oh ya besok libur ya?"
"Yoi, kita libur satu minggu. Terus habis libur, ujian kenaikan kelas."
"Apa secepat itu?" Ucap Gema heran.
"Nggak kerasa aja udah mau kelas tiga," saut Gendis "eh Faya, lo kenapa? Sakit gigi? Diem aja kayak batu."
"Capek gue," ucap Faya seraya berjalan menuju rumah "makasih ya Ar!"
"Siplah," Ari mengacungkan jempol.
Gendis tergopoh-gopoh menyusul Faya, "elah, tunggu woy!"
Setelah kepergian Faya dan Gendis, kini hanya tinggal Gema dan Ari. Gema menatap Ari yang masih saja menatap lurus kearah Faya, sekalipun sosok Faya sudah hilang, tapi Ari masih saja menatap. Dan hal itu membuat Gema heran, memperkuat firasat yang sempat terpendam. "Lo suka Faya?"
Mendengar pertanyaan Gema yang tiba-tiba. Membuat Ari salah tingkah. "Iya, gue sayang banget sama Faya."
"Ha?" Terkejut pasti. Gema kini menatap Ari tak percaya, "lo udah punya Miska oon."
"Gue udah putus oon,"
"Sejak kapan oon?"
"Sejak gue mengerti, jika menerima dan mengikhlaskan apa yang terjadi akan takdir yang diberi Tuhan adalah hal terbaik yang harus dilakukan manusia."
"Maksud lo?"
"Lo pasti ngerti, tapi tidak sekarang." Ucap Ari seraya tersenyum licik, "pulang yuk!"
"Ahh jelasin dulu oon!!" Teriak Gema.
"Jelasin apa?"
"Lo sayang sama Faya?"
"Yoi, Sayang sebagai seorang kakak,"
"Oh jadi lo sama Faya, kakak-adik zone?"
"Ha? Lo kenapa sih Gem? Ohh gue tau, lo pasti cemburu," ucap Ari dengan tawa yang tiada henti.
Mendengar tawa Ari, Gema mendengus sebal.
"Tenang, sahabatku sayang. Gue ngerti kok, mana miliknya sahabat gue dan mana yang bukan. Jadi gue nggak bakal nikung,"
"Apaan sih lo Ar!"
"Tapi, lo udah move on kan dari mantan?"
"Kenapa lo tanya begitu?"
"Awas aja kalau lo nikah sama Faya tapi masih suka inget-inget mantan, gue hajar lo!"
"Serah lo deh," ucap Gema dengan wajah datarnya "pulang yuk, gue capek!"
"Elah, baru gitu aja capek. Nanti gimana lo cari uang buat menghidupi Faya? Awas aja ya, kalau Faya nggak lo kasih makan,"
"Ngomong apa sih Ar," Gema semakin sebal, ucapan Ari semakin melantur. Tampaknya kesalahan terbesar Gema adalah memberitahu Ari jika dia dan Faya dijodohkan. Ah....
~Kekasih Halal~
Keesokan harinya,
Gema Dzkrllh: pepaya?
Fahriyatul Fahriya: Faya-_- bukan pepaya!!! Lu bunglon suka bgt sih ngubah nama org.
Gema Dzkrllh: lg drmh?
Fahriyatul Fahriya: iyelah, kenapa?
Fahriyatul Fahriya: etdahh, kenapa cuma di read sih?
Membaca line dari Faya, Gema bisa membayangkan betapa kesalnya Faya sekarang. Membayangkan wajah kesal Faya yang lucu mampu membuat Gema tersenyum sendiri.
"gimana Faya?" ucap Umar yang membuat Gema tersadar dari lamunnya.
"Sudah Gema line Bi, katanya di rumah."
"Alhamdulillah, beban Abi akan berkurang," ucap Umar seraya tersenyum "kamu siap kan?"
"Insya Allah Bi," jawab Gema dengan sedikit peluh dipelipisnya.
Jujur saja, Gema sekarang sangat grogi. Cowok itu juga merasa deg-degan. Gema sendiri tak habis pikir kenapa bisa begini. Kenapa tubuhnya bereaksi sealay ini. Padahal ini hanya pertemuan biasa. Bukan pertunangan apalagi pernikahan.
"Gema dengerin Abi," ucap Umar.
Gema pun menoleh kearah Abinya.
"Cepat atau lambat kamu akan mengalami ini. Dan cepat itu lebih baik."
"Maksudnya cepat nikah itu baik?"
"Nikah muda lebih baik dari pada harus pacaran,"
"Tapi Bi, Gema nggak mau. Oke Gema terima perjodohan ini, tapi untuk menikah muda, maaf saja Bi. Gema nggak bisa."
"Kenapa?"
"Gema tau tanggung jawab suami itu berat sekali, dan Gema rasa Gema masih belum mampu."
"Nak-"
"Gema akan menikah jika sudah bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak Gema kelak,
Gema akan menikah jika sudah punya uang sendiri,
Gema akan menikah jika sudah pantas bersanding dengan Faya."
"Kamu sudah memenuhi itu semua Gema,"
"Tidak Abi, Gema masih belum pantas bersanding dengan Faya."
"Abi takut, Abi tidak bisa menyaksikan pernikahan kalian."
"Abi ngomong apa sih?"
"Umur Abi sudah tua Gema, setidaknya harapan Abi sebelum meninggal Abi harus menjadi saksi pernikahan anak Abi yang paling manja ini,"
"Abi kan masih kuat, insya Allah Abi punya umur yang panjang."
"Teman terdekat kehidupan adalah kematian, Gema. Tidak ada yang bisa menebak kapan seseorang akan meninggal."
"Hh..urusan berdebat memang Abi jagonya."
"Ya sudah, berarti kamu mensetujui untuk menikah muda?"
"Iya, tapi ada syaratnya!"
"Syarat? Kamu berani main syarat sama Abi?"
"Yaudah, kalau Abi nggak mau."
"Apa syaratnya?"
"Pertama, kita harus tanya Faya dulu Abi, dia mau apa tidak. Jika Faya tidak mau, berarti Gema juga tidak.
Kedua, sekalipun menikah, kami tidak akan tinggal satu rumah sampai lulus sekolah. Bagaimana?"
"Hhh yaudah, Abi manut Gema aja," ucap Umar seraya menepuk punggung Gema "ini rumah Faya masih jauh?"
Ya, mereka kini berada di mobil menuju rumah Faya. Pagi ini entah kenapa Umar tiba-tiba mengajak Gema untuk menemui Faya. Saat ditanya kenapa? Umar bilang dia baru saja bertemu dengan ayah Faya di mimpi. Mendengar jawaban Abi nya yang seperti itu, Gema hanya menggeleng tak paham.
"Ini mau nyampek kok Bi, lah ini belok Pak man." Ucap Gema pada Suparman, sopir Abi Gema.
"Kamu kemarin berarti sudah ketemu Ibu Faya?"
"Faya tidak tinggal dengan Ibu nya Bi, dia sama Bibinya."
"Oh ya? Hm...lalu kemana Ibu nya?"
"Gema juga kurang tau," ucap Gema "stop Pak!"
"Kenapa? sudah sampai?"
"Iya Abi, itu rumah Faya."
Mereka berdua pun turun dari mobil dan memasuki pelataran rumah Faya. Dan betapa terkejutnya Faya. Saat melihat Gema ada di rumahnya. Sampai-sampai, ia mengabaikan bunga yang tadinya tengah disiram dengan air. Ya, Faya tengah menyirami bunga di taman.
"Assalamua'alaikum," ucap Abi Gema pada Faya. "Kamu Faya?"
Faya yang kebinggungan hanya mengangguk, "wa'alaikumsalam. Om siapa? Kenapa bersama Gema?"
"Saya Umar, teman Ayah kamu. Gema ini anak saya."
Faya semakin terkejut, kenapa Gema kesini bersama Abi nya. Tapi ada yang lebih membuatnya terkejut, Abi Gema teman Ayah Faya?
"Em..Bibi kamu kemana?"
"Eoh, mari masuk Om. Saya panggil kan Bibi," ucap Faya seraya menatap Gema penuh tanya.
Sementara Gema hanya mengendikkan bahu. Seolah tak tau apa-apa.
"Loh Gema, sama siapa?" Ucap Bibi saat memasuki ruang tamu.
"Assalamualaikum Bibi, ini saya sama Abi."
"Wa'alaikumsalam, Saya Umar, Abi Gema."
"Senang bertemu dengan Pak Umar, saya Hana bibinya Faya."
"Saya kesini sebenarnya ingin memenuhi perjanjian dengan Ayahnya Faya."
"Perjanjian?"
"Iya, Ayah Faya dan saya adalah sahabat lama yang bertemu kembali." ucap Umar tenang.
Hana bingung, "Ayah Faya?"
"Nama Ayah Faya Hilman kan?"
Mendengar jawaban Umar, Hana pun tersenum penuh arti. "Hilman itu suami saya, dan dia bukan Ayah Faya. Faya ini anak adik saya."
"Apa? Tapi kenapa di pesan terakhir Hilman menitipkan anaknya yang bernama Faya pada saya?"
"Pesan terakhir?"
"Saya ada di tkp waktu Hilman meninggal, dia berpesan untuk menjodohkan Gema dengan Faya."
"APA?" ucap Faya tak percaya. "Apa maksudnya ini Bi?" Ucap Faya pada Hana.
"Sekalipun begitu, tetap saja, saya tidak memiliki hak untuk menerima perjodohan ini. Dan saya juga tidak berhak memaksa Faya untuk menerima perjodohan ini. Jadi saya serahkan pada Faya."
"Bibi?" Ucap Faya kaget.
"Semua terserah kamu sayang, ini hanya perjanjian pamanmu dengan temannya. Jika perjanjian ini merugikanmu, kamu boleh menolak."
Faya hanya mengerjapkan matanya. Situasi ini benar-benar tak pernah muncul di bayangannya. Ini gila, benar-benar gila. Bagaimana bisa tiba-tiba Gema ke rumahnya dan..? Kenyataan macam apa ini?
"Di wasiat terakhirnya, dia masih memikirkan kebaikanmu Faya. Hilman pasti sangat menyayangimu." Ucap Umar.
"Hilman memang sangat meyayangi faya," ucap Hana seraya tersenyum getir "dia bahkan lebih menyayangi Faya dari pada istrinya."
Umar pun tertawa, "Hilman juga sangat menyayangimu. Dia bilang kau wanita terhebat,"
Hati Hana tiba-tiba menghangat. Dia tengah rindu suaminya.
"Bagaimana Faya?" Ucap Umar.
Yang ditanya hanya menunduk. Faya tengah binggung setengah mati. Ia ingin menolak, tapi...ini adalah permintaan terakhir paman tercintanya. Dia tak mungkin menolak. Tapi jika ia menyutujinya, Faya tidak yakin. Benarkah Gema adalah takdirnya? Bukan Ari?
"Beri waktu Faya untuk sholat istikharah," ucap Faya pelan "satu minggu lagi, Bibi hana akan menelpon paman dan memberikan jawabannya."
"Baiklah." Ucap Umar dengan semangat "semoga Allah memberi jawaban yang terbaik."
"Aamiin." Saut Hana "oh ya, Umar. Bagaimana kau mengenal suamiku. Ceritakan. Aku sangat penasaran."
Umar tertawa, kini Hana tak lagi menggunakan bahasa sopan. Mereka pun menjadi akrab, mereka; hanya Hana dan umar. karena Gema dan faya masih saling menatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Yang jelas saling tatapan mereka berdua, bukan hal yang menimbulkan syahwat. Semacam tatapan permusuhan.
Tbc