Bab 13

1403 Words
Ini sudah hari ke lima puasa. Dan artinya, dua hari lagi Faya harus memberi keputusan. Sekalipun begitu, Faya masih bingung. Banyak sekali yang harus ia pertimbangkan. Jujur saja Faya tidak senang dengan perjodohan ini. Sekalipun sosok jodohnya itu seperti Gema. Yang tampan, populer, pinter ngaji. Tapi tetap saja, rasanya tidak enak saat mengetahui jika dijodohkan. Dia ingin menikah muda, tapi tidak dengan dijodohkan. Sekarang Faya tau bagaimana rasanya jadi Alesha yang dijodohkan dengan Rayyan. Atau rasanya jadi Anandi yang dijodohkan dengan Jagdis. Dulu Faya pikir jika menjadi mereka yang dijodohkan pasti sangat menyenangkan. Tapi ternyata.... hhh Perjodohan memang tidak seindah bayangannya. Seseorang dari belakang menepuk punggung Faya. Faya menoleh, dan mendapati Bibi Hana. "Bibi ngagetin aja," ucap Faya. "Kamu lagi mikirin apa?" Tanya Hana seraya menatap wajah Faya, "eoh Bibi tau, pasti lagi mikiri..." "Stop, Faya lagi nggak mood ngomongin itu." Ucap faya seraya cemberut. "Kenapa? Kamu belum memutuskan?" Faya mengangguk, helaan nafas gusar terdengar dari sosoknya. "Ikuti kata hati kamu sayang, Bibi nggak maksa." "Tapi Bi, Faya masih kecil. Masih otw delapan belas tahun. Baru kemarin tujuh belas, masak iya nikah?" "Yauda, kalau gitu Bibi simpulin kamu menolak dengan perjodohan ini?" "Engh...tapi itu amanat Paman kan Bi? Berarti harus dilaksanakan." "Nggak juga sih, kalau emang jodoh mu bukan Gema gimana? Paman kamu kan bukan Allah yang tau siapa jodoh kamu." "Iya juga sih Bi, berarti Faya boleh nolak dong?" "Kenapa sih nolak? Kan Gema baik anaknya. Dia pinter ngaji lagi. Dan juga nasabnya bagus insya Allah. Gema itu imam yang sempurna Fay." "Tapi Bi, Faya nggak suka Gema." "Nggak suka kenapa?" "Gema aneh, sikapnya berubah-ubah. Kadang baik, kadang ketus, kadang juga gila. Pokoknya Gema itu Macem bunglon orangnya." "Haha, kamu kok tau banget sih? Merhatiin ya?" Goda Hana. "Ihh ngapain merhatiin Gema," bibir Faya mengerucut sebal "nggak level." "Lalu Faya suka nya sama siapa?" "Sama Ari lah," ucap Faya spontan dengan senyum yang mengembang. Sontak saja senyum Hana yang tadinya merekah seperti bunga kini layu hilang begitu saja. "Sejak kecil kan Faya udah bilang, Faya suka banget ama Ari. Soalnya Ari Suka nyelametin Faya kalau dalam bahaya. Yah sekalipun akhir-akhir ini sikap Ari sok nggak kenal Faya, tapi Faya tetep sayang Ari bi.." "Jadi kamu mau nikahnya sama Ari?" "Ha? Ngh..nggak juga sih," ucap Faya seraya berpikir "soalnya....ahh nggak tau lah!" Hana tersenyum, "ya sudah, ayo masuk, udah mau adzan." Faya pun mengangguk dan mengikuti langkah Hana yang menuju ke dalam rumah. Dan tiba-tiba ponsel Faya berdering. Membuat Hana menoleh. Faya pun menggeser tombol hijau. "Halo, Assalamu'alaikum Gendis." ".." "Nggak kayaknya," ".." "Males aja," ".." "Gue males Gendis," "Halo? Ndis? Gendis?" "Ahh, kok malah dimatiin sih?" Rancau Faya seraya mencak-mencak nggak jelas. "Kenapa?" Tanya Hana. "Gendis ngajak sholat tarawih di sekolah." "Terus?" "Faya nggak mau," "Kenapa memangnya? Tumben." "Ya gitu deh Bibi, pokoknya males kalau sholat tarawih di sekolah." "Soalnya ada Gema ya?" Goda Hana yang membuat Faya mengerucut sebal. "Nggak lah, kenapa juga gara-gara Gema." "Terus kenapa? Udah ngaku aja. Pasti malu kan kalau ketemu Gema." "Hh terserah Bibi deh." Ucap Faya meninggalkan Hana yang tengah tekikik geli. Jika tidak karena Gema, kenapa wajah Faya memerah? Aneh sekali memang, Pikir Hana. ~Kekasih Halal~ Setelah berhasil membujuk Faya dengan segala cara, akhirnya Gendis bisa mempengaruhi Faya untuk sholat tarawih di sekolah. Padahal Faya sudah menolak dengan keras, akan tetapi Gendis juga berusaha dengan keras. Akhirnya Faya pun luluh jua. Dan disinilah mereka sekarang. Berjalan menuju musolah setelah memarkirkan sepeda motor di parkiran sekolah yang letaknya lumayan jauh. Tapi mereka tidak sendiri, ada Gita adik Gendis yang cerewetnya minta ampun. Gita ini adik kelas Faya dan Gendis. Tapi karena sudah akrab dengan Gendis akhirnya Gendis pun menganggkat Gita sebagai adik-adikan nya. "Kak Faya, masih ingat aku kan?" Ucap Gita. "Kamu Gita kan?" "Yups, em.. Kak Faya nggak cantik tapi kenapa Kak Gema suka ya?" PLAK! pukulan Gendis pun melayang pada tubuh Gita. Sorot mata Gendis berubah menjadi marah. Faya tersenyum dan mengumpat, sialan sekali mulut Gita itu. "Awwww. Sakitttt gila!" Ucap Gita seraya mengusap lengannya. "Punya mulut dijaga napa!!!" "Kan gue cuma tanya, apa salahnya?" "Elu itu ya-" "Udah!" Teriak Faya "kalian kayak anak kecil tau nggak!" "Maaf Kak Fay, kalau pertanyaanku engh.." "Nggak papa Gita, udah jangan dibahas." "Iya, Kak. Tapi Kak Gema emang nganteng banget, beruntung deh Kak Faya pernah pacaran sama Kak Gema." "Pacaran kok untung, adanya dosa!!" Semprot Gendis pada Gita. "Eak. Mak lampir mulai lagi ceramah." "Ishh.. kamu emang nyebelin ya Git," oke Gendis kini tengah menahan kesbarannya. Nampak sekali dari wajah gadis itu yang memerah. "Eh Fay, tapi kemarin waktu lo nggak ikut sholat tarawih, Gema nyariin lo mulu," ucap Gendis seraya menatap wajah faya penuh semangat. Faya membalasnya dengan wajah cuek, "masak?" "Gue juga kaget, tapi beneran Gema kayaknya khawatir gitu sama lo." "Bodo" "Ehh kok gitu sih Kak?" Tanya Gita dengan wajah heran "pasti Kak Faya benci banget ya sama Kak Gema.." "Auk ah, males bahas Gema. Bahas yang lain aja." "Panjang umur banget Gema, tuh cowok lagi berjalan ke arah kita." Ucap Gendis. Sontak saja, Faya dan Gita mengikuti arah mata Gendis. Dan benar saja, tak jauh dari mereka ada Gema yang mengenakan kemeja putih dilengkapi dengan sarung putih. Rambut hitamnya tak beraturan, basah, mungkin karena habis wudhu. Gita sempat menahan nafas saat melihat Gema sebegitu tampannya, dan sosok tampan itu kini tengah berjalan menuju kearahnya. Ah, mimpi apa Gita semalam hingga kini pangeran tampan itu menghampirinya. "Kak Gema, masya Allah sekali." ucap Gita dengan wajah berbinar. Faya menundukkan pandangannya, entah kenapa melihat Gema, jantungnya menjadi tidak beraturan. Mungkin karena takut. Ia takut akan dimintai jawaban tentang perjodohan itu. Ah, bagaimana ini. Jujur saja Faya belum memutuskan mensetujui atau tidak. "Assalamualaikum," ucap Gema dengan senyum badainya. Dan layaknya badai, senyum itu benar-benar memporak-porandakan hati Faya. Seketika hati Faya menjadi.....ah entahlah. Gadis itu juga bingung dengan hatinya. "Wa'alaikumsalam.." "Halo, Kak Gema.." sapa Gita. Gema pun menoleh kearah Gita, keningnya mengkerut, seolah berpikir siapa sosok gadis dihadapannya itu. Namun tak beberapa lama, Gema tersenyum lagi. "Ah, Gita ya? Kamu sekolah sini? Kok aku nggak pernah liat ya." Gita tersenyum miris, "aku mah apa atuh, cuma rempahan rengginang yang terlupakan." Gema tertawa, "kalau aku lupa, aku bakal nggak inget nama kamu Gita. Kamu baik-baik kan? Ibu mu bagaimana? Sudah sembuh?" "Alhamdulillah, berkat Mas Gema." Ucap Gita yang membuat Gendis mendelik tak percaya. Tidak hanya Gendis, tapi juga Faya. Apa kata Gita? Mas? Mas? Duh. "Alhamdulillah, salam ya buat Ibu." Gita pun mengangguk. Gadis itu senang sekali, terlihat dari senyum yang tak hilang dari wajahnya. Sementara itu Gendis binggung. Seingat dia, Gita dan Gema tidak saling mengenal. Tapi ini kok? "Emm aku boleh pinjem Faya bentar nggak?" "Faya..eoh..ya boleh-boleh" ucap gendis seraya menyeret tangan Gita "ayo kita pergi." "Ehh..nggak aku mau disini," rengek Gita. "Ish.. ayo gita, cepet" ucap Gendis dengan menyeret tangan Gita sekuat tenaga. "Plis ya Git, aku mau ngomong bentar sama Faya." Ucap Gema pada Gita. Mau tak mau, Gita pun mengangguk dan mengikuti Gendis untuk pergi dari situ. Sekalipun hatinya sebal dan tidak rela, tapi demi Gema dia akan melakukan apapun. Yang terpenting, pangeran tampannya itu bahagia. Sekalipun tidak dengannya. Ahh....suakitttt. Akhirnya kini tinggal Gema dan Faya. "Apa?" Ucap Faya ketus "kenapa nggak ngomong sama Gita aja? Kayaknya kalian cocok." Gema menatap Faya tak mengerti. Apa maksud dari ucapan Faya? Kenapa menyangkut pautkan Gita? "Gita? Kenapa dengan Gita?" "Dia juga kayaknya suka banget sama lo, udah kalian memang cocok sekali." "Lo cemburu?" "Ha? Siapa yang cemburu, sorry aja ya." "Yauda deh, gue bersyukur kalau lo nggak cemburu. Tapi Gita emang cantik ya?" "APA??" "tuh kan, ngaku aja kalau lagi cemburu." "Gue nggak cemburu Gema, lagian gue nggak suka lo ya. Sorry aja." "Alhamdulillah, berarti gue bisa macarin Gita." "IYA PACARIN SANA, GUE NGGAK PERDULI" teriak Faya seraya pergi meninggalkan Gema yang tengah terkikik geli melihat sikap Faya. Saat Faya sudah berada jauh dari Gema, dia baru teringat jika dia belum menyampaikan pesan Abinya untuk Faya. Ah, yasudah. Nanti saja pulang tarawih, pikir Gema. Sementara disisi lain, Faya tengah merutuki dirinya sendiri. Kenapa tadi gue marah? Kenapa??? Aduh, bukankah jika Gita dan Gema saling mengenal itu wajar-wajar saja. Dan kenapa gue juga marah waktu Gema bilang Gita cantik? Bukankah Gita emang cantik, mungil dan baik? Lalu apa salah Gema ? Dan...ah, tapi mana ada sih orang yang nggak marah jika calon imamnya muji wanita lain? Eh..sebentar, memangnya gue akan menyetujui perjodohan itu? Hufttttt Faya pun mengusap wajahnya gusar. Ini rumit sekali. Hatinya, rumit sekali. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD