Bab 15

972 Words
Jika tidak sekarang, satu tahun lagi, dua tahun lagi atau sepuluh tahun lagi pasti bertemu. Karena jika memang jodoh, pasti bersatu. *** Sudah tiga puluh menit, Faya di rumah Gema. Tapi belum juga bertemu dengan Umar, abi Gema. Dan kini, gadis itu hanya bisa melihat nanar pemandangan di depannya. Gema dan Seira, mereka sibuk berbincang-bincang hingga mengabaikan Faya di antara mereka. Sesekali tawa Gema atau Seira memenuhi ruang tamu, hal itu membuat Faya samakin terlihat bodoh. Karena benar-benar tak mengerti apa yang perlu di tertawakan. Faya Kesal? Tentu saja. Apalagi jika menginggat reaksi Gema saat melihat ia sudah duduk di ruang tamu. Datar, tidak ada bahagia-bahagianya. Faya sudah tidak sabar lagi, sepuluh menit. Ah tidak, lima menit. Jika Abi Gema belum juga pulang lima menit lagi, Faya yang akan pulang. Lebih baik pulang dari pada harus berada dari sini dan menjadi obat nyamuk. Dia juga kesal pada Ulan, katanya pergi ke belakang sebentar, namun ini sudah tiga puluh satu menit, belum juga kembali. Lebih baik dia menyusul Ulan ke belakang, dari pada harus disini dan menjadi makhluk kasat mata di antara dua prang menyebalkan ini. "Gema, gue mau ke belakang." "Ke belakang aja, terus..terus.. Gimana Ra?" ucap Gema dengan tetap menatap Seira, tanpa melihat Faya. "Dasar cowok bunglon," umpat Faya dalam hati. Dengan langkah cepat, Faya pun meninggalkan ruang tamu dan menuju ke dapur. Yah, pasti Ulan dan Umi Gema ada di dapur sekarang. Tapi Faya tidak tau dimana dapurnya. Karena, rumah ini tidak seperti rumahnya. Ada banyak sekali ruangan dan lorong-lorong. Faya pun semakin kesal, karena kebodohannya. "Bodoh..bodoh..bodoh.." umpat Faya seraya menghentakkan kaki kesal. "Ada apa?" Faya menoleh, dan menemukan Gema di belakangnya. "Siapa yang bodoh?" ucap Gema. "Engh..." "Kalau lo yang bodoh sih emang." "Ena-" "Sok tau rumah orang, lo mau ke dapur kan?" Gema berjalan menuju ke lorong kanan, "ikut gue." Dan kini Faya pun berjalan mengikuti Gema. Dia tidak menyangka jika cowok itu perhatian, padahal tadi penuh keacuhan. "Abi habis ini juga pulang, lo bantu Umi aja di dapur," ucap Gema. "Terus lo mau bedua-beduaan sama Seira gitu? Inget woy, dosa!" ucap Faya seraya menatap sebal punggung Gema. Satu detik. Dua detik. Tiga detik, dan Faya baru menyadari apa yang ia ucapkan. Gadis itu pun memukul bibirnya sebal. Sementara itu, Gema hanya terkikik geli. "Gue bilang gitu bukan berarti cemburu lo ya.." "Gue tau," "Tapi..dapur lo emang jauh ya? Kok nggak sampai-sampai sih?" ucap Faya dengan sebal. Karena sedari tadi dia hanya menyusuri lorong-lorong kamar yang tidak berujung. "Iya..." ucap Gema datar, "lo udah punya keputusan?" "Udah," "Apa?" "Rahasia," "Lo terima?" "Rahasia," "Gue berharap lo tepat mengambil keputusan." "Kenapa? Lo nggak mau gue terima perjodohan ini ya?" ".." "Atau lo nyesel nerima perjodohan ini karena Seira udah kembali?" ".." "Gue paham kok, jadi gue udah mengambil keputusan terbaik." "Terserah," langkah kaki Gema berhenti. Sontak Faya pun berhenti. "Dari sini lo belok ke kiri, dan di situ dapurnya." "Eh bentar, bukannya ini ruangan tadi ya?" ucap Faya seraya memperhatikan sekelilingnya. Dan benar saja. Ini ruangan tadi. Dan bagaimana bisa? Apakah Gema mengerjai nya? "Bodoh, udah sana ke dapur!!" Gema pun meninggalkan Faya yang masih binggung dengan rumah Gema. Kenapa banyak lorong-lorong yang..ah, membingungkan. "Loh Faya?" ucap seseorang. Faya pun berbalik dan emnemukan Abi Gema. "Om Umar," "Kamu sudah dari tadi di sini?" "Eh, iya Om." "Maaf ya, tiba-tiba aja ada rapat mendadak." "Nggak papa kok," "Yaudah, kita ngobrol di taman belakang aja ya." Faya pun mengangguk, namun dia teringat sesuatu "eh Om, Faya boleh tanya?" "Tanya aja," "Lorong ke kanan ini menuju ke mana?" "Oh, di sana ada kamar tamu, kamar Gema, kamar Om dan kamar Ulan. Kenapa?" "Nggak papa kok om, cuma tadi Faya jalan kesitu, dan anehnya bisa kembali lagi ke tempat ini." "Iya emang gitu, jadi lorong ini nggak punya ujung. Ujungnya ya disini." "Terus dapurnya di mana Om?" "Lorong ke kiri ini menuju dapur dan taman belakang," "Oh jadi..." "Jadi apa Fay?" "Eh, enggak kok Om." "Yaudah. Ayo kita ke taman." Mereka berdua pun berjalan menuju taman. Melewati dapur dan ruang makan. Di sana ada Ulan dan Umi Gema yang tengah sibuk menyiapkan makanan untuk berbuka. "Umi, Abi sama Faya ke taman belakang dulu ya," Raisa-umi Gema pun tersenyum dan mengacungkan jempol. Seolah memberi tanda oke. Tidak sampai berpuluh-puluh meter, mereka pun sampai di taman belakang. Dan duduk di kursi yang melingkar. "Biasanya kalau sore, Om dan keluarga nongkrongnya di sini," "Pasti seru," ucap Faya. "Seru banget, apalagi ada sikembar yang semakin membuat ramai.." "Si kembar?" "Kamu belum ketemu si kembar?" Faya menggeleng. "Gema punya adik, usianya lima tahun. Laki sama perempuan dan kembar," "Wah pasti mereka lucuu," "Banget, apalgi mereka kayak Ulan, nggak bisa diem." "Kak Ulan emang banyak omong," "Iya, beda banget ama Gema, pendiem, suka banget mendem." "Oh ya?" "Ya gitu, ehh kamu sudah mengambil keputusan?" "Keputusan? Udah om," "Apa?" "Tapi Om jangan marah ya?" "Nggak lah," "Maaf Om, Faya nggak bisa.." "Nggak bisa nolak?" "Em...Faya beneran nggak bisa, Faya keberatan dengan perjodohan ini." "Kenapa?" "Faya masih kecil Om, masih tujuh belas, ada banyak sekali cita-cita Faya yang belum tercapai. Faya masij belum siap lahir batin jadi istri prang." "Kalau semisalnya pernikahannya tidak sekarang, kamu setuju?" "Lalu kapan? Faya tidak tau Om, hati Faya masih belum yakin jika Gema adalah pemilik tulang rusuk Faya. Apalagi sekarang Seira sudah kembali." "Kamu sudah sholat istikhara?" "Em..." "Belum?" Faya mengangguk ragu "pokoknya Faya nggak mau Om." Abi Gema terdiam lama. Sementara Faya hanya menatap tanah dengan gelisah. "Yasudah ayo kita masuk," "Loh, terus?" "Terus apa lagi Faya?" "Perjodohannya gimana?" "Katanya kamu nggak mau, yaudah." "Om nggak papa?" "Asal kan Faya nggak nyesel dengan keputusan ini Om nggak papa kok," "Insya Allah," "Ya sudah, sekarang kita ke dalam yuk.." Mereka berdua pun berjalan menuju rumah. Dalam hati Umar, dia bertekad akan tetap melaksanakan perjodohan ini. Tak apa jika tidak sekarang, karena masih banyak hari esok. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD