Aku dan kamu adalah kita di masa depan
***
Satu bulan sudah terlewati. Bulan puasa sudah berganti dengan bulan peningkatan, yakni bulan Syawal. Satu bulan juga sudah merubah segalanya. Merubah cerita Faya maupun Gema.
Mereka tidak lagi bertemu semenjak sore itu. Gema pun sudah tak lagi menghubungi Faya. Seperti dua makhluk yang tidak saling mengenal. Seperti sebelumnya tak memiliki cerita bersama. Yah, seperti itulah mereka sekarang. Bahkan saat ujian kenaikan kelas, Faya tidak melihat Gema. Setidak nya sekalipun tidak satu ruang ujian pasti bertemu, entah di kantin atau di parkiran. Tapi ini tidak, Faya benar-benar tidak bisa menemukan Gema. Bukan maksud mencari, hanya saja Faya ingin menyapa Gema.
Jangan kan saat ujian, sekarang saat Om Umar dan Tante Aisyah datang ke rumah untuk berkunjung saja Gema tidak ikut. Padahal kan hari ini hari raya. Apa Gema tidak mau meminta maaf pada Faya? Ah entah lah, Faya tidak rindu. Hanya saja bingung. Kenapa Gema tidak ada dimana-mana.
Faya pun menghembuskan nafas gusar. Dan hal itu cukup membuat perhatian orang di sekitarnya.
"Lo kenapa?" ucap Ari seraya menyikut lengan Faya.
Gadis itu pun hanya menggeleng lemah dengan wajah datarnya, "gue nggak papa."
Jangan heran, Ari ada di rumah Faya. Karena sejak semalam, Ari sudah di sini. Cowok itu pun hanya menatap Faya dengan senyum kecil. "Gue tau lo kenapa."
"Sok tau."
"Pasti Faya lagi kangen tuh," saut Ulan dengan senyum menggoda.
"Faya lagi kangen siapa?" kini Bibi pun turut berbicara.
Sementara Om Umar dan Tante Aisyah, hanya tersenyum.
"Apaan sih, nggak." ucap Faya sebal
"Udah ngaku aja, pasti lagi kangen sama.." ucapan Ulan memggantung. Dan itu semakin membuat semua orang yang ada di ruang tamu itu terkikik geli.
"Gema." ucap Ari
Wajah Faya memerah. Semua orang di sana terkejut.
"Kamu kangen Gema, Nak?" ucap Tante Aisya, Umi Gema.
Dan wajah Faya semakin memerah, gadis itu malu, sangat.
"Iya tuh Ma," ulan suka sekali menggoda Faya, bahkan dia belum puas melihat wajah merah Faya "tadi pas kita dateng dia seneng banget, tapi pas tau nggak ada Gema, tiba-tiba aja sedih."
Mendemgar hal itu Ari pun tertawa, ternyata tidak hanya Ari yang menyadari hal itu.
"Udah-udah, kasihan Faya" ucap Om Umar menghentikan tawa Ulan dan Ari, "Ari nggak ngasih tau kamu Gema ada dimana?"
Faya hanya terdiam. Gadis itu tengah mengumpat habis-habisan. Pertama soal Ari dan Ulan yan menggodanya, dan kedua soal ini. Kenapa hanya dia yang tidak tau Gema ada dimana?
"Ari nyebut nama Gema aja Faya udah marah-marah, gimana mau beritau?"ucap Ari kesal.
"Gema lagi di pesantren Nak, di rumah Tante Aisyah," ucap Umar.
"Dia pindah?"
"Nggak, cuma sebulan. Nanti kalau sekolah masuk dia juga pulang."
"Tuh kan emang Faya kangen sama Gema,"
"Eh–"
"Udah-udah, jangan goda Faya terus kamu Ulan," ucap Tante Aisyah seraya memukul anal gadis nya itu "ayo Bi kita pulang,"
"Ya.. Kok pulang sih Umi?" ucap Ulan.
"Kak Ulan sih nakal," celetuk Ari yang dihadiahi tatapan tajam Ulan.
"Iya, kenapa sih buru-buru? Baru aja satu jam," ucap Bibi.
"Si kembar lagi di rumah mbak, takutnya kalau lama-lama mereka rewel"
"Yasudah kita pamit ya Mbak , makasih" ucap Umar
"Hati-hati,"
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
***
"Minggir, minggir.."
"Elah nyerobot aja luhh.."
"Awas-awas kenapa nama gue nggak ada?"
"Eh, minggir,"
"Duh geser sanaan napa, pengap nihh.."
"Sabar dong semua, gantian..."
Gadis bernama Faya itu mengusap plipisnya kuat. Keriuhan ini membuat kepalanya pening. Pagi ini, dia sudah mempersiapkan diri untuk melihat daftar kelas. Namun masih saja telat. Dia sudah merasa datang paling pagi, tapi tetap saja sampai disini ternyata ada yang datang lebih pagi darinya.
"Ehh anak p*****r, ngapain lo di situ,"
Faya pun menoleh ke sumber suara tersebut, mendapati Miska dengan senyum liciknya.
"Lo mengakui kalau lo anak p*****r? Atau lo bangga?"
Faya masih terdiam. Biarlah, dia berkata apa yang penting aku woles aja, ucap Faya dalam hati.
"Apa? Nggak terima?"
"Gila," ucap Faya dengan suara lirih. Namun tentu saja Miska mendengarnya.
"Apa lo bilang?" Mata hitam Miska pun melotot sempurna. Suaranya yang keras pun mampu menyedot perhatian.
Kerumunan yang awalnya terpusat pada papan penggumuman kini mulai mengihkan objek pengelihatan. Mengalihkan pada Miska yang tengah marah.
"Lo itu gila.." ucap Faya tegas. Entah kekuatan mana yang didapat Faya hingga bisa seperti itu. Sepertinya liburan yang panjang itu mampu memberikan kekuatan. Atau karena fakta jika Miska bukan lagi pacar Ari merubah semuanya?
"Apa?" Ucap Miska tak percaya, "lo bilang gue apa? Berani-beraninya loh," satu tarikan pun mendarat di kerudung putih Faya.
Semua orang di sana pun berteriak, kaget dengan apa yang dilakukan Miska.
Faya mengendalikan emosinya. Gadis itu terdiam. Menahan segala rasa yang ada. Sesekali memejamkan mata, gadis itu kesakitan tentu saja. Apalagi tarikan Miska semakin kuat.
"Neraka lo baru saja di mulai Faya," bisik Miska yang membuat Faya bergidik ngeri "kita berdua satu kelas."
DEG.
Melihat ekspresi wajah Faya yang berubah, Miska pun tersenyum puas. Dengan gerakan cepat Faya pun menuju ke papan pengumuman. Memastikan kebenaran ucapan Miska.
Dan benar saja, dia di IPA 6. Kelas terkahir, dengan jumlah murid yang lebih sedikit. Tidak ada nama Ari, atau nama Gema di daftar teman kelasnya. Namun ada nama Gendis. Dan itu cukup membuatnya lega. Setidaknya dia punya satu saja teman, yang tidak meninggalkan saat susah maupun bahagia. Itu sudah lebih dari cukup.
"My classmate, kita ke kelas bersama yuk," ucap Miska seraya merangkul bahu Faya.
Faya pun hanya menatap Miska dengan tatapan muak. Apalagi yang akan dilakukan oleh gadis ini? Sepertinya harapan masa putih abu-abu nya akan berakhir penuh canda dan tawa hanya omong kosong belaka.
Sementara itu di sisi lain, ketika Faya dan Miska sudah menjauh dari kerumunan itu datanglah Gema dengan Dado. Dan di belakang mereka berdua ada Seira.
"Gema gue liatin, kelas apa," suruh Dado pada Gema.
"Gue juga ya Gema," saut Seira.
"Nama lengkap lo siapa ra?" Ucap Gema.
Seira yang tadinya tersenyum senang kini mendelik sebal, "sahabat macem apa lo yang nggak tau nama sahabatnya!!"
"Elah canda doang," ucap Gema dengan gaya cengegesan "cuma sahabat ya?"
"Baper amat lo nyet," ucap Dado.
Seira pun menautkan alisnya, "gagal paham gue."
"Lo lemot amat si Ra, pantes aja nggak peka!"
"Ngomongin apa sih ini!"
"Gue juga nggak paham, Ra. Kadang Dado emnag gitu, suka bicara diluar kepahaman manusia biasa." Ucap Gema dengan santai.
"Jahat lo Gema," rancau Dado.
"Udah-udah, sana cepet liatt. Nanti kita telat ke kelas," lerai Seira.
Gema pun menurut. Cowok itu pun dengan gampang menerobos kerumunan. Setelah membutukan waktu yang cukup lama, Gema kembali. Dengan wajah yang tak mengenakkan.
"Gimana? Gue kelaas apa?"
"Kita sekelas lagi," ucap Gema malas.
"Terus gue kelas apa?"
"Kita juga sekelas," ucap Gema dengan nada yang sama.
"Yey!" Sorak Seira.
"Kita tetep sekelas, tapi kenapa lo sedih gini?"
"Nggak gue nggak sedih,"
"Ah, gue tau. Pasti kita udah nggak sekelas sama...."
"Ngawuur! Uda yuk kita ke kelas," gema berjalan meninggalkan dua orang yang masih sibuk dengan sikapnya.
"Siapa sih?" Ucap Seira kepo.
"Siapa yang siapa?"
"Siapa yang bikin Gema sedih gitu,"
"Lo nggak tau? Katanya sahabat?"
"Kan lama nggak ketemu,"
"Ada pokoknya,"
"Ada apa?"
"Ada cewek yang ditaksir Gema sejak lama, tapi nggak peka."
"Oh ya? Siapa? Kok gue nggak tau."
"Iya, kan lo nggak peka."
"Apan sih, bener ya kata Gema, lo kalau ngomong nggak bisa dipahamin manusia."
"Tapi untungnya gue peka."
"Udah ah, bosen ngomongin peka."
"Yauda, eh kita kelas apa?"
"Mana gue tau, kan Gema yang tau."
"Eh mana anaknya?"
"Anjir, udah jauh gitu. Yuk kita susul, sialan banget tuh anak."
Dado dan Seira pun menyusul Gema yang sudah berjalan di koridor sekolah. Mereka akan menuju kelas 12 IPA 2. Dan catat, kelas IPA 2 dan IPA 6 itu lumayan jauh.
***
"Hari pertama sekolah, udah di suruh ke perpus aja." Omel Faya pada Gendis. Mereka kini tengah berjalan menuju perpustakaan.
"Sebel banget gue juga, mana guru kita membosankan lagi."
"Ya Allah! Kenapa buruk banget sih kelas tiga ini?" Ucap Faya frustasi "pertama sekelas ama Miska, kedua sekelas ama Miska, ketiga mati hidup gue."
"Hush! Ngomong apa sih lo Fay," sentak Gendis.
Faya pun hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Ditengah perjalanan, tepat di gazebo lapangan basket. Terdapat dua orang manusia yang sibuk bercengkrama. Dan itu cukup menarik peehatian Faya dan Gendis.
"Fay, Gema Fay!!" Ucap Gendis yang membuat Faya semakin penasaran.
Benarkah, cowok itu Gema? Ah, iya benar. Dan cewek di sebelahnya adalah Seira.
"Gue samperin nggak ya?"
"Ngapain lo samperin?"
"Minta maaf, kan masih suasana hari raya Ndis."
"Alah, modus luh. Bilang aja mau nyapa, kangen." Ucap Gendis seraya terkikik geli. "Tapi cewek di sebelahnya itu..."
"Seira,"
"Sabar Fay,"
"Apaan dah lu,"
"Gue tau perasaan cemburu lo yang membakar jiwa dan raga."
"Ngapain gue cemburu,"
"Sekalipun hanya pura-pura pacaran selama beberapa hari, tapi gue tau lo suka dia."
"Makin ngaco, lu Ndis."
"Yudah, samperin sana."
Dengan gerakan cepat, Faya pun menuju ke arah Gema. Dan disusul Gendis di belakangnya.
"Maaf, gue ganggu," ucap Faya saat Gema dan Seira masih saja sibuk berbincang padahal sosok Faya sudah nyata ada di hadapan mereka.
"Eh..Faya ya?" Ucap Seira dengan senyum kecilnya.
Faya mengangguk, "mohon maaf lahir batin ya Ra,"
"Gue juga ya Fay," mereka berdua pun bersalaman.
"Eh ini siapa?" Ucap Seira saat melihat Gendis "oh gue inget, Gendis ya?"
Gendis pun mengangguk, "Ra gue kangen banget masak."
Mereka berdua pun berpelukan, "gue juga." Ucap seira.
Ketika Seira dan Gendis sibuk berkangen kangen ria, karena mereka berdua sempat sekelas. Dulu hubungan mereka berdua cukup baik, sekalipun tidak dekat. Di sisi lain Faya hanya menatap Gema takut-takut.
"Gema.. gue...gue...mau.."
"Ra, gue balik dulu ya ke kelas." Ucap Gema mengabaikan ucapan Faya. Cowok itu pun berlari, mengabaikan seruan Seira yang kebingungan. Tadi katanya bosen di kelas, sekarang kok malah ke kelas, pikir Seira.
Faya yang melihat perilaku Gema pun hanya menatap tanah dengan nanar. Ada yang sakit, sekalipun tidak berdarah. Dan Faya tidak paham mengapa seperti itu. Mengaapa Gema mengabaikannya? Padahal dia hanya ingin meminta maaf. Apa karena keputusan nya untuk membatalkan perjodohan? Apa dia kecewa pada Faya? Ah , entahlah.
Tbc