The moon's far, and so are you.
***
"Si Gema tadi kenapa sih?" Tanya Gendis saat mereka sudah kembali ke kelas.
Faya yang masih sibuk dengan bukunya pun kini menoleh menatap Gendis, "gatau."
Setelah menjawab pertanyaan Gendis, Faya kembali menyibukkan diri lagi dengan buku-buku yang ia pinjam di perpustakaan. Beberapa menit lagi, pelajaran bahasa indonesia akan dimulai. Dan setiap siswa di wajibkan meminjam buku untuk dijadikan bahan referensi.
"Assalamu'aaikum," ucap bu Intana, seraya memasuki kelas. Seketika suasaana kelas pun menjadi senyap.
"Wa'alaikumsalam, Bu Intanaaaaa"
"Selamat siang anak-anak,"
"Selamat siaaaaaanggg,"
"Hari ini kelas IPA 6 kedatangan murid pindahan,"
Setelah bu Intana mengucapkan itu, sorakan penasaran pun memenuhi kelas.
"Siapa?"
"Siapa?"
"Anak baru Bu?"
"Bukan," seru bu Intaana semakin membuat siswa kelas IPA 6 bingung "masuk."
Semua penjuru IPA6 pun kaget mendapati sosok Ari sebagai siswa pindahan. Tentu saja yang paling kaget Miska. Cewek itu sudah histeris.
"ARIZONA?"
Ari tersenyum kecil, "halo semuanya,"
"Arizona kamu duduk di bangku kosong belakangnya Gendis dan Faya," suruh Bu Intana pada Ari.
"Siap bu," Ari pun berjalan menuju ke tempat yang dimaksud bu Intana.
"Lo ngapain di sini?" Ucap Faya seraya berbalik ke arah Ari.
"Ngga tega gue liat lo sekelas ama Miska," ucap Ari santai.
Faya pun menaikkan alisnya, "lo nggak bercanda kan?"
"Nggak,"
"Keren lo Ar," ucap Gendis seraya mengacungkan jempolnya.
"Bi-"
"BU DI BELAKANG ADA YANG RAME!" Seru Miska membuat ucapan Ari terhenti.
Bu Intana yang tadinya masih sibuk dengan bukunya pun kini menatap ke depan, "pelajaran hari ini Ibu mulai, keluarkan buku paket dan buku yang sudah kalian pinjam di perpustakaan."
"Yahhh..."
***
Istirahat kali ini kantin ramai dengan pembicaraan tentang Ari yang pindah kelas. Semua anak bertanya-tanya, apa alasan Ari pindah kelas. Ada yang bilang, karena Miska. Ada juga yang bilang karena si Ari lagi bertengkar sama geng nya. Hem, padahal sudah jelas-jelas kini Ari tengah duduk bersama keempat sahabatnya itu.
"Gimana kelas baru?" ucap Dado.
Ari yang ditanya pun hanya mengedikkan bahu, "soso."
"Lo nggak sedih apa pisah ama kita?" ucap Rizal seraya menatap Ari manja.
"Jijay abis muka lo!" seru Vano seraya menimpuk wajah Rizal dengan sehelai tissu "tapi bener kata Rizal, lo udah nggak cinta ya ama kita?"
"Gilakkk!" teria Dado, sementara itu Vano dan Rizal hanya terkikik geli.
"s***p!!" Pekik Gema.
Ari pun tersenyum geli, "maafin gue ya."
"t*i lo. Kalau ninggalin gini aja baru minta maaf,"
"Iya. Sadar gue punya temen nggak setia amat."
"Ahelaah, udah-udah. Drama king baget sih kalian. Pisah kelas aja cuyy, nggak pisah kota"
"Tapi kan Do, kitaudah bareng dari kelas tujuh."
"Tujuh apa sepuluh? Setau gue kita baru kenal di sma deh."
"He'eh maksud gue sepuluh,"
"Tapi lo kenapa pindah sih?" ucap Gema dengan tatapan serius.
"Yaelah, Gema emang nggak peka. Ya siapa lagi, kalau ngga gara gara Miska?"
"Iyalah, kan Ari lagi mengejar kembali cinta Miska,"
"Serius Ar lo segitunya cinta ama Miska?" Tanya Gema heran "nggak nyangka gue, dia kan jahat banget sama Faya."
"Ohh atau jangan-jangan.." Rizal berhenti dan menjernihkan pemikirannya.
Dado, Vano dan Gema pun menatap Rizal penasaran.
"Jangan-jangan apaaa?" Ucap Gema penasaran.
"Jangan-jangan, Ari pindah untuk melindungi Faya dari Miska yang terkutuk?"
"APA??"
"GILA LO!" Vano pun menimpuk Rizal dengan botol aqua bekas.
"Nggak mungkin lah, ngapain Ari ngelindungi Faya! Emang Faya siapanya Ari?" Sungut Dado.
"Iya bener tuh, lagian kalau urusan Faya seharusnya Gema lah," jelas Vano yang membuat Rizal dan Dado mengangguk setuju.
Kini mata ketiga cogan itu pun menatap Gema penuh selidik, sementara itu Gema hanya menampakkan wajah tak bersalah.
"Kenapa harus gue?"
"Kan lo mantan pacarnya oon!" Sungut Vano kesal.
"Dan jangan lupa lo dijodohin ama Faya." Ucap Ari lirih.
Namun masih bisa didengar ketiga cogan rumpi itu. Sontak saja, Dado, Rizal dan Vano menatap Ari kaget.
"Ngomong apa lo barusan?"
"SERIUS GEMA DIJODOHIN SAM-" seketika teriakan Rizal pun terhambat.
Dado sudah menyumpal mulut besar Rizal dengan pentol bulat. "Lo itu emang nggak bisa ya,"
"Habisnyaa kan gue kaget," ucap Rizal seraya mengunyah pentol bulat tadi.
"Nggak percaya? Tanya aja Gema sendiri," ucap Ari.
Gema pun menghela nafas panjang. Mungkin memang dia harus memberi tahu para sahabatnya "iya, tapi itu dulu."
"Dulu??" Ucap ketiga cogan rumpi itu serempak.
Tidak hanya Vano, Dado dan Rizal. Tapi Ari juga kini turut menatap Gema heran. Apa maksudnya dulu?
"Faya nggak mau dijodohin sama gue,"
Sontak saja mereka pun tertawa terbahak.
"Jadi lo ditolak sama..ahahaha" ucap Dado.
"Gila, Faya bener-bener gila,"
"Bisa-bisanya nolak imam idaman kayak lu Gema,"
"Lo Serius Gem?" Ucap Ari.
Gema pun mengangguk malas menginggat kenyataan pahit itu. Eh?
"Tapi lo nggak sedih kan?" Tanya Dado dengan wajah penuh selidik.
"Ya enggak lah, ngapain gue harus sedih. Justru gue bahagia!"
"Bahagia tapi muka asem gitu, pembohongan publik namanya." Ucap Rizal yang membuat Vano dan Dado terkikik geli.
"Bilang aja patah hati Gem," celetuk Ari.
"Patah hati t*i lo."
"Oh ya, Gema nggk mungkin patah hati, kan ada Seira,"
"Dan naasnya Seira lagi berjalan kearah sini bersama.....Faya bung!" Ucap Rizal ala-ala pembawa acara bola.
"Hahaha, mampus lo Gem!!"
Keempat cowok itu pun tertawa terbahak melihat wajah Gema yang semakin kusut.
"Weee lagi ngomongin apa nih, kok seru banget," ucap Seira saat gadis itu sudah berada di dekat meja tempat kelima cowok itu berada.
"Ngomongin lo," celetuk Rizal yang membuat para cogan rumpi mendelik kesal.
"Eh- gue kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa, lo mau makan apa Ra? Gue pesenin," ucap Gema seraya tersenyum hangat.
Faya yang ada disamping Seira pun mengembuskan nafas kesal, sepertinya dia menjadi manusia tak terlihat lagi.
"Em.. gue mau bakso aja deh Gem, tapi nggak pakai kuah, nanti gendut lagi."
"Yee bakso nggak pakai kuah mah bukan bakso namanya," ucap Rizal nyolot.
Seira menatap Rizal geli, "suka suka berbie dongs."
"Yauda berbie tunggu sini, biar pangeran pesenin dulu." Ucap Gema yang membuat Ketiga cogan rumpi itu menggelengkan kepala. Mereka heran dengan sikap sahabatnya itu.
Jahat. Gema jahat sekali. Sudah tau disini tidak hanya ada Seira. Tapi juga ada Faya!! Tapi tidak ditanya mau pesen apa. Seketika hati Faya pun merasa nyeri.
Ari yang tau akan kondisi ini pun bangkit dari duduknya. Cowok itu sontak menyeret tangan Faya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dan ketiga cogan rumpi pun menjerit kaget.
"Woy! Mau kemana luu?"
"a***y, tuh orang kabur pakai bawa anak orang segala."
"Haha biar dah, biar mereka sibuk dengan dunia mereka dan kita sibuk dengan makanan kita. Makan kuuy," sorak Vano dengan riang.
Seira yang berada disitu pun terkikik geli melihat tingkah bocah teman sekelasnya itu. Sementara itu Gema, menatap kepergian kedua orang itu dengan nanar. Bisa-bisanya Ari menyeret tangan Faya erat. Apa cowok itu tidak tau jika di sekolah ada peraturan dilarang berbuat m***m? Ah, memang Ari kamvreet. Eh tapi kenapa Gema kesal?
***
Tiga hari kedepan, Aksara akan mengadakan kegiatan tengah semester atau yang disingkat dengan KTS. Yah, sudah setengah semester Ari menjadi siswa kelas IPA 6 bukan IPA 3. Dan sudah selama itu pula, Ari dan Faya layaknya dua manusia yang tidak bisa dipisahkan. Mereka selalu bersama dalam suka duka berbagi segalanya. Em, mirip lirik lagu. Tapi itu kenyataannya. Seperti saat ini, mereka berdua tengah sibuk bercanda. Saling melempar kain kotor yang digunakan untuk membersihkan kaca.
"Kamvreet, kena kaos olahraga gue oon," umpat Ari saat kain kotor itu mengenai seragam olahraganya.
Faya tertawa melihat kesialan Ari.
"Jangan tawa aja lu, tanggung jawab!"
"Ogah, Hahaha."
"Habis ini gue tanding futsal, kan nggak kece kalau belum apa apaa baju udah kotor!"
"Emang gue pikirin! Wweekkk" ucap Faya seraya berlari meninggalkan Ari.
"Faya!! Tanggung jawab luuu,"
"Ogahhhh" Faya terus berlari. Tanpa gadis itu sadari, di depannya ada orang yang tengah berjalan. Hingga akhirnya...
BRUK!
Faya menabrak orang itu, Gema.
"Maaf Gema," Faya menunduk takut.
"Lo nggak papa Fay? Hh...hh.." ucap Ari seraya membantu Faya berdiri.
"Lain kali jangan main kejar-kejaran, norak tau nggak!" Ucap Gema.
"Lo sirik aja, nggak punya pasangan buat kejar-kejaran ya?" Ucap Ari dengan nada yang menggoda.
"Apaan sih, gue punya Seira kok."
"Ciye yang punya Seira, berarti gue punya Faya dong?"
Faya mendelik kesal mendengar ucapan Ari. Sedangkan Gema hanya memutar bola matanya dengan malas, "yaya, terserah lu aja deh Ar. Gue cabut dulu, udah ada janji ama bu Intana."
"Yaudah sono,"
Tanpa memandang Faya, Gema pun berjalan meninggalkan Ari dan Faya.
Faya memejamkan mata, mencoba kuat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Atau tidak semudah jatuh cinta. Ini sulit, saat kamu pura-pura kuat ketika tidak dianggap. Haha. Iya begitulah, sikap Gema selama ini. Menganggap Faya bak makhluk tidak terlihat.
Faya masih ingat betul rasa sakitnya. Contohnya saja minggu lalu. Saat Gema menguplod photo yang seharusnya ada Faya tapi menjadi tidak ada Faya.
Photo saat di rumah sakit ketika Rizal sakit minggu lalu. Faya memang berada di pojok sendiri, di dekat Ari. Dan alhasil hal itu mempermudah Gema untuk menghilangkan sosok Faya. Hiks, jahat sekali memang. Namun Faya sadar diri. Dia memang tidak pantas berada di photo itu. Karena photo itu bercaption seperti ini: menjenguk kesayangan bersama orang2 tersayang.
Dan Faya bukan orang tersayang bagi Gema. Faya tau betul hal itu.
Tbc.
Xoxo, muffnr