Bab 20

1081 Words
Faya pergi. Faya benar-benar pergi. Hari ini tepat enam bulan semenjak kepergiannya. Sudah berbagai cara digunakan untuk mencari Faya tapi hasilnya nihil. Ari tidak bisa menemukan adik beda ibu nya itu. Ada rasa rindu yang memuncak, ada pula rasa kesal yang tertahan. Namun Ari masih bisa tersenyum dengan baik. Ia bahkan kini gemar sekali tertawa. Entahlah, mungkin dia baru sadar jika dengan tersenyum beban di pundaknya akan semakin ringan. Seperti saat ini, mengumbar senyum pada seluruh teman nya. Padahal mereka akan berpisah. Ya, hari ini hari perpisahan kelas dua belas. Un telah dilaksanakan, dan hari ini hari kelulusan. Semua orang bahagia, termasuk para guru, orang tua atau pun anak kelas dua belas. Hari ini hari bahagia, sekalipun hari perpisahan. "Gue bakal rindu sekolah," ucap Rizal. Di podium, kepala sekolah tengah memberi sambutan. "Gue juga," saut Vano seraya melihat ke depan, pikirannya menerawang hari hari nya di sekolah. "Gue bakal rindu kalian semua," ucap Ari seraya tersenyum. Rizal, Vano, Dado, dan Gema pun menghembuskan nafas berat. "Perpisahan memang menyedihkan," ucap Gema. "Tenang aja, tiap bulan pasti kita ketemu," ucap Ari lagi. Dado mengangguk, "asal nggak ada yang sok sibuk aja." "Andai kita satu kampus," celetuk Rizal yang membuat suasana semakin sendu. "Lo baik-baik di Malang ya," ucap Vano seraya memeluk bahu Rizal. Rizal pun mengangguk, "lo juga bro, jangan main aja di Jogja, jaga Ari." Mendengar ucapan Rizal, Ari tersenyum geli "enak aja! Adanya gue yang jaga Vano." "Serah deh, pokoknya gue sama Gema akan selalu nunggu kalian disini. Kapan pun kalian pulang, kita akan menyambut dengan tangan terbuka." Ucap Dado "Bukannya Gema lolos di ITB?" Gema menggeleng lemas, "nggak, Abi gue ngelarang." "Terus mau kemana?" "Palingan gue mau ngambil disini-sini aja, sekalipun swasta nggak papa, asalkan orang tua ridho." "Subhanallah banget lo bro," ucap Rizal "Sabar eakk," ucap Ari seraya tersenyum riang. "Palingan juga entar masuk uin syarif, pan Ayah gema dosen disitu." "Gue nggak tertarik kalau di uin, ngambil apa juga." "Yaudah di UNJ barengan ama gue." "Bukannya lo nggak lolos kesitu ya Do?" Protes Rizal. "Hehe positif thingking aja Bos, masa ngga boleh?" "Yelahyelah, pokoknya jangan nangis aja kalau nggak lolos lagi." "Bismillah, gue udah belajar beneran buat Sbm. Jadi yakin lolos dahhh" "Aamiin," "Lo mantep di Jogja Ar?" "Yoi," "Kalau Faya balik ke sini gimana?" "Ya nggak gimana-gimana," ucap Ari seraya mengendikan bahunya "palingan entar ama Gema." Mendengar namanya disebut Gema pun menoleh ke arah Ari, "apanya yang sama gue?" "Faya," "Siapa itu Faya? Gue nggak kenal tuh." "Anjirrrr, sok-sokan banget ni anak." "Ya gitu deh Gema kalau udah punya yang baru." "Mentang-mentang sekarang udah punya Seira." "Iya, kasian Seira cuma dijadiin pelampiasan. Cantik gitu," "Enak aja, siapa juga yang jadiin Seira pelampiasan. Gue sayang Seira beneran ya!" Ucap Gema sewot. "Oh sayang beneran, tapi kok belum ada bau-bau pajak jadian ya?" "Iya, apa emang belum jadian?" "Wah kasian Seira cuma di php," "Apaan si kalian ini, hh lo juga Ar ikut-ikutan mereka, nggak biasanya," ucap Gema. "Ari yang dulu bukanlah yang sekarang~" rizal bernyanyi, disusul backing vokal oleh Vano dan Dado. Ari hanya tertawa, sementara itu Gema semakin kesal. Sementara itu di barisan belakang, ada Gendis, Defina dan Haru yang ribut mengucapkan kata perpisahan. Sekalipun di depan tengah berdiri Pak kepala sekolah yang tak kunjung selesai mengucapkan kata sambutan. "Baik-baik ya Ru di kota orang," ucap Dafina. Gendis mengangguk, "lo kenapa sih harus ke Jogja?" "Masak lo nggak tau si Ndis, ya ngikutin Ari lah." Satu Dafina. "Huu enak aja! Ya enggak lah." "Pokoknya lu harus jaga diri, hatihati disana." "Iyaiyaaaa" "Sering-sering pulang juga, biar kita sering meet up." "Iya bawel banget sih lu Ndis." "Gue kaangen Faya," ucap Dafina tiba-tiba. Dan itu cukup membuat Gendis dan Haru terkejut. Mereka terdiam beberapa saat. "Gue juga," ucap Haru "Kabar Faya gimana ya?" Ucap Dafina. "Semoga baik-baik aja," "Dan semoga dia juga bisa kuliah kayak kita," "Aamiin," saut Gendis dengan suara serak, gadis itu sudah menangis sekarang. Membuat Dafina dan Haru ingin menangis juga. Mereka merindukan Faya. *** Di siisi lain, di kota lain, di daerah lain dan di waktu yang lain pula. Terdapat seorang gadis yang tengah menikmati hembusan angin pantai. Angin yang kencang itu membuat kerudung jingga muda nya menari-nari di udara. Tangannya mengelus pasir pantai yang lembut, dan mulutnya tak henti-henti nya mengucapkan pujian untuk Allah. Bersyukur dengan apa yang ia punya sekarang. "Fay, lagi ngapain?" Ucap seorang wanita menghampiri gadis tersebut. "Eh Teh Rini, sini-sini!" Ya, gadis itu bernama Faya dan wanita itu bernama Rini. "Kamu kenapa disini? Bukannya malam ini kamu balik ya?" Faya mengangguk dan tersenyum cerah. "Terus ngga siap-siap gitu?" "Udah Tetehh," ucap Faya seraya menyenderkan kepala nya di bahu Rina "besok Faya udah balik, Teteh jangan kangen ya." "Idihh sapa juga yang kangen sama kamu, tapi kamu jaga diri baik-baik ya," Faya mengangguk. "Teteh tanya lagi, Faya serius ingin balik lagi?" "Iya tetehh" "Yaudah, teteh harap kamu baik-baik di sana. Kita balik ke rumah yuk, udah mau maghrib ini." Faya dan Rini pun kembali ke rumah. Dan malam ini Faya akan kembali. Kembali ke kehidupannya beberapa bulan yang lalu. Kembali dengan hati yang baru. Dengan tujuan hidup yang baru. Tapi tidak dengan perasaannya, dia masih tetap. Bahkan dia sangat merindu. *** Gedung pertemuan fakultas itu ramai oleh mahasiswa baru yang mengikuti masa pengenalan kampus. Mereka mengenakan kemeja putih dan celana hitam tanpa mengenakan antribut yang menye-menye. Dan di antara ratusan calon maba, ada satu gadis yang sejak tadi sibuk memperhatikan satu objek orang yang berada tak jauh di tempatnya. Gadis itu Faya dan orang yang diperhatikan itu adalah Gema. Ternyata, mereka satu kampus, mereka satu fakultas dan mereka satu kelompok. "SEKARANG WAKTU NYA MAKAN, SATU KELOMPOK BUAT LINGKARAN KECIL," pinta Kak Amel. Semua calon maba pun mengikuti intruksi. Dalam hitungan menit, lingkaran-lingkaran kecil sudah terbentuk. Faya tertunduk, tidak berani mengangkat wajahnya. Karena tepat didepannya Gema berada. Duh, kenapa secepat ini sih ketemu Gema nya? Hmm.. kan jadi bingung mau bilang apa. Hallo gema, ahhh enggak itu terlalu kaku. Hmm trus gue harus ngapain? Tiba-tiba meluk gitu? Hh nggak mungkin juga, belum halal. Yaudah, pura-pura nggak liat aja. Tapi it nggak mungkin, mana bisa purapura nggak liat, wong manusianya ada di depan mata. Haduhhh, bagaimana ini?? Wht should i dooo????? Faya benar-benar bingung. Saking bingungnya gadis itu tidak tau jika sekarang ia menjadi objek tatapan satu keompoknya, termasuk Gema. "Kamu kenapa?" Ucap gadis di sampingnya. "Eh..nggak papa kok," ucap Faya seraya mendongak dan betapa terkejutnya saat mata nya dan mata Gema bertemu. "Fayaa?" Gema terkejut, sangat terkejut "Lo bener Faya kan?" Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD