Bab 19

1126 Words
Suasana mobil berwarna putih itu sunyi. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Faya sibuk memikirkan perkataan Miska. Sesekali gadis itu mengusap matanya. Iya, Faya masih saja menangis. Tapi diam-diam. Tentu saja dia tidak mau Gema tau. Naasnya, Gema tau Faya menangis, namun dia tak tau apa yang harus ia lakukan. Ini pertama kali nya Gema melihat perempuan menangis. Ah tidak, kedua kalinya. Dulu dia juga pernah melihat Kak Ulan menangis pada saat gagal lolos SNMPTN. Dan Gema memeluk Ulan seraya membisikkan kata-kata motivasi. Setelah itu, Ulan pun berhenti menangis. Hemm. Apakah ia perlu memeluk Faya agar cewek itu berhenti menangis? Ah, tidak. Setan pasti senang kalau Gema benar-benar memeluk Faya. Gema pun teringat sesuatu. "AWWW SAKITTT GEMA!" teriak Faya "lo ngapain sih nyubit gue?" Ya, Gema baru saja mencubit Faya. "Eh~ sakit banget ya?" "IYAAA! SAKIT TAU" "Maap-maap, gue teringat aja ucapan Kak Ulan." "Kak Ulan nyuruh lo nyubit gue?" "Nggak, nggak gitu. Ulan pernah bilang, kalau mau berhenti nangis alihin aja rasa pengen nangisnya ke rasa sakit. Yauda gue cubit lo" "Eh emang siapa yang nangis? Nggak ada," ucap Faya seraya menyembunyikan wajahnya. "Muna lo," "Emang gue nggak nangis kok," "Yelah, boong aja terus nggak papa, udah biasa diboongin kok. Di tolak juga udah biasa." "Apaan sih lo Gem," "Udah berhenti nangisnya?" "Eh?" "Lo ditolak Ari ya?" ".." "Atau lo digangguin Miska?" "Gue nggak papa Gema," "Gue ngga tau alasan lo nangis apa, tapi happines is simply. Kebahagiaan akan datang saat lo bisa menerima dan bersyukur dengan apa yang terjadi." Faya terdiam. Gadis itu mencerna apa yang Gema katakan. Menerima? Jadi Faya harus menerima kenyataan pahit itu? Faya menghembuskan nafas gusar. "Allah nggak adil," ucap Faya dengan suara lirih. Gadis itu menatap keluar jendela. Gema mendengar hal itu, "apa lo bilang? Allah nggak adil?" Faya kaget, ternyata Gema mendengarnya. "Istighfar Fay," "Gue ngga mau," "Lo kenapa sih?" "ALLAH NGGAK ADIL GEMAAAAA" teriak Faya, gadis itu menangis lagi. Mendengar hal itu Gema semakin binggung. Cowok itu pun menghentikan laju mobilnya. Memakirkan di pinggir trotoar. Gema menatap Faya yang tengah terisak. "Lo kenapa Fay?" "Semua temen-temen gue tau siapa orang tuanya, kenapa gue enggak? Kenapa? "Semua temen temen gua punya keluarga yang bahagia, kenapa gue nggak? Kenapa?" "Dan semua orang punya Ibu yang baik, kenapa gue punya Ibu yang...bahkan membayangkannya saja sudah membuatku jijik." "Sepertinya lo butuh tidur, gue harus cepat-capat bawa lo pulang," Gema pun melajukan mobilnya lagi. Pikiran Gema sudah kemana-mana, menerka apa yang terjadi dengan Faya. Mengapa gadis yang terlihat sholeh itu bisa ragu akan kuasa Tuhan? Gema rasa Faya benar-benar butuh tidur dan mentralkan suasana hatinya. Dengan gerakan cepat, mobil putih itupun menerobos jalan kota yang cukup padat. Selepas tiba di rumah Faya, Gema pun lekas pergi. Kata Faya dia tidak perlu ditemani sekalipun Bibi Hana tidak ada. Faya hanya ingin sendiri. "Berdamai lah dengan kenyataan, terima semua takdir yang Allah beri. Dan rasakan kebahagiaan dengan bersyukur. Sungguh Allah Maha Adil dengan segala apa yang Dia berikan," ucap Gema. Faya pun mendongak, tidak mengira akan mendapat kultum singkat dari Gema. "Gue pulang," Gema pun melangkahkan kaki untuk keluar dari perkarangan rumah. "Terima kasih," ucap Faya. Gema menoleh dan tersenyum. "Gue punya sesuatu," ucap Faya seraya mengambil sesuatu ditasnya. Alis Gema mengerut heran. "Ini," Faya memberikan gantungan kunci dengan boneka lucu "buat lo." "Buat gue?" Gema menerima gantungan kunci itu dengan wajah heran. "Iya buat lo, kenapa? nggak mau? yaudah sini balikkin," Faya merebut boneka itu dari tangan Gema. Namun tak berhasil. "Ehhh enak aja, kalau udah ngasih nggak boleh diambil lagi," Gema memasukkan boneka itu kedalam saku celananya. "Sebenarnya itu boneka kesayangan gue, tapi anggep aja itu kenangan terakhir dari gue buat lo." "Bacot lo, kayak mau pergi jauh aja," omel Gema. Faya tersenyum kecil, "gausa gr ya, gue ngasih itu sebagai tanda terima kasih udah nganterin pulang." "Ha? berarti Ari juga punya boneka ginian dong? kan dia sering nganterin lo pulang?" "eh? emm, y--yaa dia punya banyak." "Yaaa nggak asik, kirain cuma buat gue." gerutu Gema dengan intonasi yang tidak jelas. membuat Faya mendelik tidak paham apa yang Gema bicarakan. "Lo ngomong apa sih?" "Eh--nggak," ucap Gema seraya menggaruk rambutnya yang tak gatal "gue pulang ya, lo istirahat geh." Faya mengangguk. selepas hilangnya sosok Gema dan mobilnya, ia berlari memasuki rumah. menuju kamar dan mengunci pintu. Faya menyelesaikan tangisan yang belum selesai, menerima kenyataan yang pahit dan mensyukuri apapun yang terjadi dalam hidupnya. Yah, seperti saran Gema dia harus bisa melewati semua ini. *** Hari ini hari ketiga kegiatan tengah semester. Semua siswa masih bersemangat dan juga sedih, karena hari ini hari terakhir yang artinya tidak akan lagi free class. Kali ini olahraga yang akan ditandingkan adalah bola Voli. Banyak sekali yang tertarik dengan pertandingan kali ini, karena ini pertama kalinya Aksara mengadakan pertandingan Voli. Biasanya jika tidak basket yah Futsal. Tapi kali ini, karena gedung baru dan sudah tersedia lapangan Voli, akan lebih baik jika dipergunakan. Disaat semua orang sibuk dan excited dengan pertandingan kali ini. Ari malah sibuk mengintari tribun yang lumayan besar itu. mencari seseorang. ya, siapa lagi kalau bukan Faya. Ia khawatir, karena sejak kemarin Faya tak ada kabar. Line tidak dibaca apalagi dibalas, ditelpon tidak aktif dan sekarang, sepertinya tidak masuk. Karena Ari sudah mencari kesana-kemari belum juga ketemu. "ARIIIIII" seru seseorang dari belakang, Ari pun berbalik. "lo siapa?" tanya Ari seraya mengamati cewek didepannya. Cewek berkuncir kuda itu pun terdiam lama, dan membuat Ari bingung. "Lo siapa? Fens gue ya?" "Enak aja, gue Haru temennya Faya," ucap Haru seraya menatap sebal Ari "Eh, Faya dimanaaaa?" "Gue juga nggak tau, udah gue cari dari tadi nggak nemu, gue line nggak dibaca, ponselnya juga nggak aktif." "YARABB, dimana anak ituu? apa jangan-jangan nggak masuk?" ucap Haru panik. "Gendis dimana?" "Dia juga lagi nyari Faya," "ANJI-" "Istighfar Ar," saut Haru cepat. gadis itu tau, Ari pasti akan mengumpat. Ari mengacak rambutnya gusar "kemana tu anak." "Lo udah ke rumahnya?" tanya Haru. Sempat terdiam, lalu Ari berlari meninggalkan Haru. "Mau kemanaa Ar??" "Rumah Faya," "Ikuuuut!!" **** Tiba di rumah Faya, Haru dan Ari pun lekas turun dari mobil. Dan betapa terkejutnya, disitu juga ada Gema. Cowok itu tengah termenung sendiri, membuat Ari dan Haru keheranan. "Gema?" ucap Haru kaget "lo ngapain disini?" Gema pun sadar dari lamunan nya. Sadar jika ada Ari, Gema pun berlari menuju sahabatnya itu. "Ar, Faya ada sama lo kan?" "Bukannya Faya ada di rumah?" Mendengar jawaban Ari, Gema pun lemas "Faya pergi," "Apa?" Ari panik. "Faya pergi Ar, tadi pagi ada Ibu-ibu yang lihat Bibi Hana dan Faya pergi bawa koper besar." BRUK! "sabar Ar," ucap Haru panik "mungkin mereka liburan, seminggu ah tidak, tiga hari lagi juga mereka akan balik, sabar aja." "FAYYYAAAA!!" mengabaikan Haru, Ari malah berteriak. Sementara itu Gema, ia tengah mengenggam boneka yang diberikan Faya. Mungkin kemarin adalah salam perpisahan mereka. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD