Bab 7

1089 Words
Dengan rasa penuh penyesalan, Gendis pun masuk kedalam ruang kesehatan. Dia memang marah, tapi dia tidak akan sejahat itu, hingga meninggalkan Faya sendiri dalam keadaan sakit. Faya yang masih terisak pun sangat terkejut saat tubuhnya dipeluk seseorang. Cukup terkejut, namun dia bahagia saat tau orang itu adalah Gendis. "Maaf--in..ngh...gue...Ndis" ucap Faya dengan air mata yang masih bercucuran di pipinya. "Gue yang minta maaf," ucap Gendis seraya mengusap punggung Faya "maaf gue udah egois." Faya mengangguk, "tapi lo bener, gue yang salah udah pacaran sama Gema. Sekalipun cuma pura-pura," Gendis pun terkejut, "ha? Pura-pura?" pelukan mereka sudah selesai. Kini Gendis menatap wajah Faya terkejut. "Iya Ndis. Gue cuma pura-pura," Faya mengangguk. "Kenapa Fay?" "Panjang ceritanya," ucap Faya seraya menghela nafas panjang. "Tidak usah diceritakan," tatapan Gendis berubah menjadi lembut "intinya cepet selesaiin masalah lo sama Gema, sebelum rasa suka itu hadir di antara kalian." Faya mengangguk mengerti. Gadis itu pun mengusap sisa-sisa air matanya. Usai ini, jika ia sudah sembuh, dia akan mengakhiri semua urusan nya dengan Gema. Harus! "Udah, lo tidur lagi gih. Gue mau ambil air, kata Bu Nia kalau lo bangun lo harus di kompres." Faya mengangguk, dan Gendis pun keluar dari ruang kesehatan beserta baskom hitam di tangannya. Selang beberapa menit saat Gendis keluar, bel tanda istirahat berbunyi nyaring. Faya manyun, andaikan dia dalam keadaan baik-baik saja pasti sekarang gadis itu sudah asyik berebut tempat duduk di kantin. Faya bisa membayangkan betapa nikmatnya nasi krawu bu Lilik, ah andai saja dia tidak sakit. Dan betapa terkejutnya Faya saat menemukan Gema sudah berada di hadapannya. Kapan datangnya? Kenapa tiba-tiba di sini? Faya hanya menatap Gema dengan tatapan kosong, tidak berniat untuk mengajak cowok itu bicara. Sementara Gema masih sibuk mengatur nafasnya, dia kelelahan karena berlari dari kelas sampai ruang kesehatan yang jaraknya lumayan jauh. "Fay..hh..lo udah nggak papa?" ucap Gema masih dengan nafas tersengal. "Tarik nafas dulu deh Gem," ucap Faya prihatin dengan kondisi Gema yang ngos-ngosan. Gema menurut, cowok itu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya, "Gendis mana?" "Ambil air buat ngompres," jawab Faya "tapi nggak balik-balik." "Terus kemana?" Faya menggeleng "entah," "Oh ya, nanti pulang gue anter." "Gue pulang bareng Gendis," "Sama gue aja, bahaya sakit-sakit naik Bis." "Yaudah kasih gue uang, nanti baru gue pulang pakek taksi. Aman kan?" Gema berdecak, tak setuju dengan usul Faya "naik mobil gue aja, gratis." "Tidak Gema, nanti apa kata mereka kalau gue bareng lo?" "Masa bodoh, kemarin juga lo pulang bareng gue kan?" "Iya, kemudian besoknya gue dapet bekas cakar dimana-mana" "Nggak bakal terjadi lagi." "Terserah, pokonya gue pulang bareng Gendis!" "Jangan lah Fay, baha-" "Terus kenapa kalau bahaya? Apa urusannya sama lo? Toh yang bahaya juga gue kan?" teriak Faya. "Gue pacar lo Fay," "Ralat Gema, lo itu Cuma pacar pura-pura gue." Gema diam, cowok itu lupa dengan kata 'pura-pura' yang turut ikut adil dalam hubungannya dan Faya. "Dan gue mohon, kita akhiri saja sampai disini." Gema menatap dalam mata Faya, dia merasakan apa yang Faya rasakan. Muak? Sama dia juga. Gema sudah muak dengan ini semua, muak dengan keberpura-puraan ini "baiklah, maaf jika gue bertingkah tidak sewajarnya." Yah, memang tidak sewajarnya Gema terlalu perhatian pada Faya. Toh jujur saja dia juga bingung kenapa dia bisa perhatian pada gadis itu. Jika ditanya apa dia suka dengan Faya maka jawabnnya adalah tidak, karena sepotong hatinya sudah hilang saat Seira pergi. Apa mungkin perhatiannya selama ini karena perjodohan itu? Yah, sejak Gema tau jika dia akan dijodohkan dengan Faya, cowok itu sedikitmenatap Faya. Menolong Faya saat menangis digudang dan mengiyakan ajakan pulang Faya kala itu yang membuat mereka pada titik ini. Faya menunduk, hatinya lega mendengar jawaban Gema. Setidaknya setelah ini dia tidak ada urusan lagi dengan cowok terkenal seantero sekolah itu. "Sebagai teman sekelas lo, gue harap lo cepet sembuh. Dan ini, buat lo!" tangan Gema menyodorkan buku tulis "gue nulis soal ulangan tadi di akhir halaman." "Thanks." Ucap Faya seraya menerima buku bersampul coklat itu. Gema megangguk dan berjalan keluar ruang kesehatan. Saat di pintu, dia menemukan Arizona disana, masih dengan posisi yang sama sejak dia datang ke sini. "Masih di sini?" ucap Gema heran. Arizona nyengir, "nungguin lo." "Alesan! Bilang aja nguping." "Dikit," ucap Arizona seraya tertawa "jadi lo Cuma pura-pura sama Faya?" Gema mengangguk malas. "Yah nggak seru," balas Ari yang membuat Gema menatapnya heran, "Nggak seru kenapa?" "Yah nggak seru aja, ternyata lo belum move on." "Oh, gue kira lo suka Faya Ar." "Ha? Ya...Kagak lah." "Bagus deh, gue harap lo nggak pernah suka dia." "Kenapa emang?" "Jangan aja, pokoknya jangan!" "Em..kalau suka nggak boleh, berarti cinta boleh dong?" "Gue serius Ar." "Beri satu alassan kenapa gue nggak boleh suka Faya." "Gue sama Faya udah dijodohin." "Apa?" "Iya, Faya itu calon istri gue." Ucapan Gema itu mampu membuat Arizona diam seribu bahasa. Seketika pikiran Arizona kalut, seperti ada kabut yang menyelimuti hati cowok itu. "Ah, pusing gue mikirin hal itu," rancau Gema seraya mengacak rambutnya, "Kantin aja yuk?" Arizona mengangguk menyetujui ucapan Gema. Cowok itu mencoba bersikap profesional. Mengendalikan hatinya sebaik apapun, bersikap biasa sekalipun hatinya hancur luar biasa. Apa yang terlihat dari diri Arizona tidaklah selaras dengan apa yang cowok itu rasakan saat ini. Tiba di kantin, mereka berdua sudah mendapati kantin dengan suasana sepi. Karena jam istirahat memang sudah habis, namun mereka berdua tidak perduli. Bolos jam pelajaran memang sudah menjadi kebiasaan yang sangat wajar bagi mereka, apalagi bagi Arizona. "Lo makan apa?" tanya Gema pada Arizona seraya menatap daftar menu yang ada di sana. Arizona masih terdiam, entah kenapa daftar menu yang biasanya menggugah selerahnya kini tak berhasil lagi. "idem aja deh." Mendengar jawaban Arizona, Gema pun berjalan menuju Mang Ujang untuk memesan bakso. Setelah beberapa menit, dia menghampiri Arizona yang sudah duduk di kursi panjang seraya membawa dua mangkok bakso. "Bakso kesukaan lo," ucap Gema. Arizona tersenyum seadanya, "sambaladonya mana?" "Mang, big bos minta sambalado!!" teriak Gema yang dihadiahi timpukkan oleh Ari. "Big bos gundulmu." Gema tertawa terbahak "oh ya, ada pacar lo tuh!" "Yelah males banget gue," "Ada pacar kok males!" Arizona hanya cemberut, baru saja dia berharap semoga hidupnya sedikit tenang ehh sekarang malah ada Miska. "AYAANGG!" teriak Miska. Arizona tersenyum melas. "Aku punya berita besarr." "Apa?" "Kurang dua hari lagi kita puasa!!" ucap Miska dengan penuh keceriaan. Membuat Gema sedikit tertawa, apalagi melihat wajah menyiksanya Arizona. Gema senang sekali. HAHA! "Terus?" "Berarti kita bisa bukber, taber dan saber." "Apaan tuh taber dan saber?" ucap Arizona heran. "Terawih bersama dan sahur bersama ayang," "Terserah kamu deh," ucap Arizona dengan wajah tanpa ekpresi. Lagi-lagi Gema tertawa terbahak melihat dua manusia dihadapannya itu. Wajah ilfeel Arizona cukup membuatnya senang. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD