Bab 8

1028 Words
Waktu yang ditunggu-tunggu semua murid Aksara pun sudah tiba, bel pulang sokolah terdengar nyaring. Semua murid berhamburan keluar kelas. Termasuk Faya, gadis itu kini bersama Gendis. Kondisinya lebih baik dari pada tadi. Jika saja tau akan begini, lebih baik tadi dia tidak sekolah. Dari pada masuk dan membuat Gendis kerepotan menjaganya. "Ndis, ngga usah lo anter gue bisa pulang sendiri," ucap Faya pada Gendis. Gendis menggeleng kuat "tidak, lo harus gue anter Fay!" "Tapi ndis..." "Nggak ada tapi-tapian!" ucap Gendis tegas "ayo cepat, nanti kita ketinggalan bis lagi " Mereka berdua pun bergegas menuju halte bis yang tak jauh dari area sekolah. Namun belum juga keluar dari sekolah, ada mobil Ari yang menghadang jalan mereka. Faya dan Gendis pun binggung. Sosok Ari muncul dengan wajah dinginnya. "Masuk!" ucap Ari. Faya masih terdiam. "Gue anter lo pulang Fay!" Faya menggeleng, "nggak usah Ar, gue bisa pulang bareng Gendis." Ari tidak suka penolakan, cowok itu pun akhirnya turun dari mobilnya. "Naik Bus itu bahaya Faya," ucap Ari penuh penekanan. Tangannya membuka pintu jok depan mobil "gue nggak suka penolakan! Masuk !" Ari selalu begitu, selalu bisa mengendalikan orang lain. Pria itu selalu memerintah, dan parahnya selalu berhasil. Tak ada yang berani menolak perintah Ari di sekolah ini. Kalian tau kenapa? Karena Ari adalah rajanya. Faya pun masuk mobil, namun gadis itu tidak masuk di jok depan mobil. Tapi jok belakang. Mengabaikan Ari yang sudah membukakan pintu untuknya. "Lo juga masuk!" ucap Ari pada Gendis. Gendis pun menurut, dia kini duduk bersebelahan di samping Faya di jok belakang. Ari tersenyum lega, setidaknya jika begini Faya bisa selamat sampai di rumah. Di sisi lain, di belakang mereka. Ada sosok Gema tengah melihat hal itu. Ini gila, apa Faya benci dengan Gema? Kenapa menolak di antar Gema dan lebih memilih diantar Ari? Gema pun mengedikkan bahu, dia tak ambil pusing. Tidak masalah jika Faya membencinya, toh pada akhirnya mau tak mau Faya harus mencintainya. Mengingat hal itu, Gema tersenyum sendiri. Lain halnya dengan Gema yang merasa tenang-tenang saja, Ari yang kini sibuk mengendalikan mobil dan hatinya pun harap-harap cemas. Sekalipun hatinya menampik, tapi rasa cemas itu ada. Cowok itu masih memikirkan ucapan Gema, tentang perjodohan Gema dan Faya. Ingin sekali Ari bertanya pada Faya namun, mana bisa? Akan aneh jika Ari menanyakan hal itu. Memang Ari siapa nya? "Rumah lo dimana, Ndis?" ucap Ari. "Gue ke rumah Faya." jawab Gendis. "Jangan!" ucap Ari cepat. Gendis menghernyit heran, "kenapa?" "Jangan pokoknya jangan!" ucap Ari ngotot. Hal itu semakin membuat Gendis heran, ada apa sih dengan cowok bernama Ari itu? Kenapa tingkahnya sangat aneh? Gendis pun menatap Faya meminta kejelasan akan tingkah Ari, Faya menggeleng tak tau. "Rumah gue searah rumah Faya, cuman nanti ada persimpangan itu belok ke kanan terus nanti ada alfamart, turunin gue di situ aja." ucap Gendis. Sebenarnya gadis itu khawatir dengan Faya, dia tak percaya seratus persen jika harus meninggalkan Faya sendiri dengan Ari. Tapi, mata Ari yang mengintimidasi membuat Gendis takut. "Udah, sini aja," ucap Gendis saat tiba di depan Alfamart. Tangan Gendis mengusap bahu Faya, "kalau lo diapa-apain Ari, langsung telpon gue!" Sekalipun berbisik, Ari masih bisa mendengar ucapan Gendis. Dia mendelik geram, "emangnya gue mau ngapain Faya?" "Ya mungkin aja lo mau nyulik dia," ucap Gendis seraya keluar dari mobil "udah sana jalan, makasih!" Kini mobil Ari kembali menelusuri jalan, suasana dalam mobil sunyi. Tak ada yang mau memulai percakapan. Faya kini sibuk melihat jalanan kota yang seperti biasa, sangat padat. Sedangkan Ari, sedari tadi sibuk memikirkan memulai dari mana. Berbicara dengan Faya kenapa sesulit ini? "Kita ke taman dulu ya?" ucap Ari Faya yang melamun pun tak menanggapi ucapannya, gadis itu sibuk dengan pemandangan di jalanan. Meniliti satu persatu orang yang nampak di matanya. "Fay." "Faya!" "Eh? Iya? Ada apa?" "Ck. Jangan sering-sering ngelamun. " "Nggak kok," "Kita mampir ke taman ya?" "Taman?" "Taman komplek," "Lo inget?" "Iya," "Boleh. Boleh " Setiba di taman, mereka pun duduk di gazebo yang ada di sana. "Lo inget jaman kita kecil?" "Inget banget" ucap Faya seraya tersenyum senang "kita main layang-layang disini " Ari tergelak "gue ingetnya lo jatuh di jungkat-jungkit," "Sialan, itu gara-gara lo!" "Haha, lo dulu lucu banget," ucap Ari seraya tertawa. Faya menatap Ari, ini pertama kalinya Ati tertawa lagi bersamanya. Dan betapa bahagianya Faya sekarang, Ari kecil sudah kembali. "Di taman ini juga kita sering main sama Bunda lo," ucap Faya "beliau juga sering ngajarin kita mengaji disini." Tanpa Faya sadari, tawa Ari mereda. "Kabar Bunda lo baik kan? Gue kangen baget sama beliau." Ari masih terdiam, raut wajahnya seketika menegang. "Ar.." "Ari!" "Eh..iy..iyaa" "Yee malah ngelamun!" "Lo bilang apa tadi?" "Kabar bunda lo gimana?" "Bunda ya..em..baik." "Alhamdulillah, gue kangen banget sama tante Zahrana Ar." "Engh, kita balik yuk!" ucap Ari menghiraukan ucapan Faya. Dengan rasa sebal karwna di hiarukan Faya pun menurut, gadis itu bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah kaki Ari yang sudah mendahuluinya. "Uu dasar ketek cicak!" Jarak rumah Faya dan taman komplek tidaklah jauh, sangat dekat malah. Oleh sebab itu, mereka kini berjalan. Setidaknya jika berjalan, mereka bisa mengenang masa kecil mereka. Karena jalan-jalan komplek inilah saksi bisu dimana kedua anak manusia itu menjalin persahabatan. "Banyak yang berubah waktu lo pergi Ar," ucap Faya memecahkan kesunyian. Ari yang tengah menikmati kenangan masa lalunya pun kini menoleh ke arah Faya, "oh ya? Apa aja?" "Kucing tetangga yang biasanya kita gangguan kini udah punya sepuluh anak." Oma Tina sekarang sudah pindah ke luar kota, toko buku di ujung komplek sekarang udah tutup dan yang paling membuat gue sedih..paman meninggal." "Apa? Mang ujang meninggal?" Faya mengangguk lesu, "Paman kecelakaan mobil waktu pulang ke desa ." "Lalu, Bi Hana bagaimana?" "Bi Hana dan aku hidup bahagia," ucap Faya seraya tertawa riang. Seketika Ari pun turut tersenyum. "Pasti hidupmu berat sekali Fay.." "Aku selalu ingat ucapan Bunda mu, jika punya masalah yang besar jangan takut, karena kita memiliki Allah yang jauh lebih besar." Ari terdiam. Bunda lagi, desahnya dalam hati. "Kamu pasti masih ingat kan Ar?" Ari mengangguk lesu. "Aku kangen Ta-" "Gue tiba-tiba laper Fay," potong Ari seraya memeganggi perutnya. Faya menghernyit heran, "yauda cepet jalannya, Bibi pasti seneng banget lo dateng." Mereka berdua pun berjalan menuju rumah sederhana yang bercat coklat tua itu. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD