Ruang lounge di lantai atas restoran itu cukup mewah. Lampu-lampu kristal menggantung indah di langit-langit, sofa-sofa kulit berwarna hitam ditata rapi, dan musik jazz mengalun lembut di latar belakang. Namun bagi Chasel, malam ini hanya memiliki satu pusat perhatian, Zelle.
Mereka duduk di sebuah meja bundar dekat jendela besar. Dari sana, pemandangan kota tampak berkilau. Chasel duduk berhadapan langsung dengan Zelle dan Carlos. Ia menaruh minuman di hadapannya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi sambil menatap Zelle tanpa sungkan, seolah Carlos tidak duduk di sana.
"Zelle," ucap Chasel sambil memutar gelas wine-nya, "kau bekerja juga, atau hanya mendampingi suami hebatmu ini?" Nada suaranya tenang, namun penuh makna tersembunyi.
Zelle menunduk sopan, menyembunyikan rasa risihnya. "Saya dulu bekerja di bidang desain interior, tapi sekarang lebih fokus mengurus rumah tangga, Pak Chasel."
"Pak Chasel, dia punya selera artistik yang tinggi," timpal Carlos dengan bangga. "Bahkan ruangan apartemen kami dia yang desain sendiri. Semua tamu selalu kagum."
Chasel menyipitkan mata. "Wah, luar biasa. Kalau begitu, mungkin suatu saat aku bisa melihat langsung hasil karya tanganmu." Ucapnya dengan tatapannya menusuk.
Zelle tertawa kecil, menahan ketegangan yang mulai menguap dari caranya duduk. "Terima kasih, Pak Chasel. Tapi saya rasa desain saya tak sehebat itu."
Carlos tertawa polos. "sayang, jangan merendah. Bos pasti akan kagum saat melihat hasil desainmu."
"Aku yakin." Chasel menyandarkan siku di meja, menggenggam gelas wine-nya lalu menatap Zelle dalam-dalam. "Kau terlihat seperti seseorang yang menyimpan banyak kejutan."
Zelle mengerjap pelan. Carlos meneguk minumannya, tak menyadari atmosfer di antara Chasel dan istrinya menghangat, bukan karena kenyamanan, tapi ketegangan yang samar.
Tidak lama kemudian, Chasel bangkit dari kursinya. "Aku ke toilet sebentar," ujarnya sambil melirik Zelle sekilas. "Jangan ke mana-mana." Lanjutnya lagi.
Begitu ia pergi, Zelle langsung memalingkan wajahnya dari arah kepergian sang CEO kearah suaminya. "Sayang, kenapa dia menatapku seperti itu?"
Carlos mengerutkan kening. "Seperti apa?" tanyanya bingung.
"Entahlah. Seperti… dia membaca isi kepalaku. Rasanya tak nyaman."
Carlos tertawa kecil, menepuk tangan istrinya. "Itu cuma perasaanmu saja. Pak Chasel memang begitu. Tatapannya tajam, tapi dia orang baik. Percaya deh."
Zelle hanya mengangguk. Tapi perasaannya tidak tenang. Ada sesuatu yang aneh dengan tatapan bos suaminya tersebut.
***
Di dalam toilet mewah yang berbalut marmer, Chasel berdiri di depan cermin besar. Ia menatap refleksi dirinya sambil tersenyum tipis.
"Zelle," gumamnya. "Nama yang cantik. Wajah yang mempesona. Tatapan yang berbeda dari wanita kebanyakan."
Ia menggulung lengan kemejanya, menyiram wajahnya dengan air dingin, lalu menatap cermin lagi, kali ini dengan penuh tekad.
"Aku ingin dia. Apa pun caranya." Ucapnya dengan seulas senyuman yang mulai tersungging dari sudut bibirnya.
Chasel keluar dari toilet itu, lalu melangkah kembali ke meja, Chasel terlihat lebih santai dari sebelumnya.
Chasel kembali duduk dan langsung menuangkan wine ke gelas Zelle, membuat wanita itu sedikut kaget.
"Oh, maaf Pak. Saya tidak minum..."
"Tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai perayaan pertemuan pertama kita," ujarnya sembari menyodorkan gelas itu pada Zelle.
Zelle menoleh ke Carlos, meminta konfirmasi. Laki-laki itu hanya tersenyum dan mengangguk, walau sebenarnya ia sedikit tidak nyaman.
"Sedikit saja, sayang." Bisik Carlos lembut. "Kita kan cuma sebentar."
Dengan enggan, Zelle pun akhirnya menerima gelas itu dan meneguknya sedikit.
Chasel memandangi setiap gerakan Zelle seolah ingin mengukirnya dalam benaknya. Dalam hati, ia bersumpah, wanita ini akan menjadi miliknya. Tidak peduli status, tidak peduli ikatan. Dia adalah tantangan, dan Chasel tidak akan pernah mundur dari tantangan itu.
***
Malam berakhir dengan tawa hambar dan basa-basi yang makin dingin. Begitu mereka keluar dari restoran, angin malam berembus lembut menyapa kulit.
"Terima kasih sudah menemaniku malam ini," ucap Chasel dengan senyum hangat tapi penuh arti. "Carlos, jaga baik-baik istrimu. Dunia di luar sana terlalu liar untuk seseorang seindah dia." Lanjutnya lagi. Ucapannya penuh dengan makna tersembunyi.
Carlos tertawa canggung, dia merangkul pinggang istrinya lalu berkata. "Tentu, Pak Chasel."
Zelle hanya tersenyum, namun hatinya makin gelisah. Dia benar-benar tidak nyaman dengan tatapan bos suaminya tersebut.
"Kalau begitu, kami pamit dulu, pak Chasel." Kata Carlos yang hanya mendapat anggukan kepala dari Chasel.
Saat sepasang suami istri itu melangkah ke arah parkiran, Chasel berdiri di depan pintu mobilnya, menatap punggung Zelle yang perlahan menjauh.
"Zelle... kau milik orang yang salah." Gumamnya, lalu ia pun masuk ke dalam mobilnya.