2

1001 Words
Ponsel Naomi berdering. Panggilan masuk dari Tasya yang sedang mengambil pesanan makan siang mereka dari bawah. "Halo," sapa Naomi, mengaktifkan speaker karena matanya masih fokus menatap layar. Ada pekerjaan yang harus dia setor sebelum jam makan siang berakhir. "Gue titip sama OB ya, Na? Rama udah nungguin nih. Ngajak lunch," ucap Tasya diakhiri dengan cengiran. Padahal tadi Tasya sudah setuju makan siang bersama Naomi di kantor, bahkan mereka sudah memesan makanan dari aplikasi food delivery. Naomi menghela nafas, meredam rasa kesal yang selalu memuncak jika Tasya mengubah rencana tanpa aba-aba. Belum sempat Naomi menjawab, Tasya lebih dahulu memekik. "Eh, ini ada Pak Wira. Gue titip sama dia aja ya, Na?" cerocos Tasya. Tanpa menunggu jawaban Naomi, dia sudah lebih dulu berteriak menghampiri Wira, salah seorang atasan mereka di kantor. "Bisa nitip buat Naomi nggak, Pak?" tanya Tasya, menyodorkan kantong plastik berisi box makanan Naomi. Pria itu mengernyit sesaat, lalu melirik ada dua box di kantong tersebut. Tasya yang menyadari tatapan Wira, malah kembali berulah lagi. "Sekalian makan bareng juga boleh, Pak. Saya pesan dua porsi, tapi keburu ditungguin cowok saya nih," ucap Tasya, menunjuk mobil pacarnya yang sudah menunggu sejak tadi. Wira menerima tanpa berkata apa-apa. Pria itu menuju lift tanpa menunggu respon Tasya. Senyuman kembali terukir halus di sudut bibir Wira. "Ayo makan," ucap Wira, menarik kursi untuk duduk di samping Naomi. Perempuan itu terkejut, tubuhnya panas dingin. Tangannya sedikit gemetar mengambil box makanannya. Sekuat tenaga Naomi menahan diri, dia berdoa sejenak sebelum mengonsumsi makanannya. "Ternyata kamu juga tahu caranya berdoa" ucap Wira dengan nada ramah. Naomi merasa sesak. Suapan demi suapan terasa seperti bongkahan batu yang sulit ditelan. Perempuan itu berusaha menyelesaikan makan siang secepat mungkin. Dengan begitu, dia punya alasan untuk beranjak dari sana. "Permisi, Pak," pamitnya, seraya membawa sampah makanan. Di dalam toilet, Naomi mengunci diri dalam salah satu bilik kosong. Ponselnya bergetar. Naomi sempat melihat pemberitahuan panggilan masuk dari kekasihnya. Tapi saat ini Naomi sedang dalam mood yang kurang baik, dia membiarkan panggilan itu berakhir tanpa direspon sedikit pun. Karena sunyi yang terasa semakin mencekam, Naomi memutuskan kembali keluar dari toilet. Dia mulai bergidik ngeri setelah sadar mengunci diri sendirian di dalam toilet kosong. Gadis itu berbelok ke sebelah kiri, berlawanan dengan arah ruangan kerjanya. Naomi memilih masuk ke pantry saja, dari pada harus berhadapan dengan iblis di ruang kerjanya. Di bagian depan meja pantry, ada sekat pembatas yang membatasi area dapur dan sofa tempat karyawan biasa duduk bersantai untuk menghilangkan jenuh. Tim desain dan IT lebih sering nongkrong di area itu untuk mencari ide, karena dindingnya terbuat dari kaca transparan yang menghadap langsung ke area jalanan kota. Siang ini, area itu sepertinya sedang kosong tak berpenghuni. Naomi melepas sepatunya, lalu menumpuk dua bantal sofa di bagian pinggir. Gadis itu ingin berbaring sejenak, mumpung jam istirahat masih lumayan lama. Biarlah tugasnya tadi sedikit terlambat, asalkan Naomi bisa menjaga performa kerjanya hari ini. "Eh, ada Mbak Naomi," sapa Rian dengan ramah. Pria muda itu adalah salah satu cleaning service yang selalu menyapa siapa saja di kantor ini. Meski baru lulus SMA, namun kegigihannya untuk bekerja tidak membuatnya gengsi dengan pekerjaannya saat ini. "Mau makan siang?" tanya Naomi tak kalah ramah. Rian mengangguk sopan, lalu melangkah menuju kursi di meja pantry, di dalam area dapur. "Mbak Naomi sudah makan? Ayo bareng sama saya, ada tempe orek buatan ibu," ucap Rian, berdiri dari kursinya agar bisa melihat respon Naomi. Naomi tersenyum, hatinya sedikit menghangat karena perbincangan basa-basi tapi terdengar tulus. "Sudah, mas. Silahkan dilanjut saja makan siangnya. Saya izin sambil rebahan disini ya mas, ngantuk," ucap Naomi ramah, sembari memejamkan mata saat Rian sudah kembali duduk. Siang itu, Naomi terlelap selama beberapa menit. Kedatangan karyawan yang ingin menyeduh kopi pun tidak didengar olehnya. "Kayaknya Mbak Naomi capek banget, semalam juga nggak masuk kerja," ucap Rian, saat salah seorang karyawan menanyakan kenapa Naomi tidur sendirian di sana. Sebelum jam istirahat benar-benar berakhir, Rian berinisiatif membangunkan Naomi agar tidak kebablasan tidurnya. "Mbak Naomi, sudah mau masuk jam kerja," ucap Rian, sedikit menepuk lengan kanan Naomi. Karena sentuhan itu, Naomi tersentak dari tidurnya. Kesadarannya seolah dipaksa kembali secepatnya, tanpa ada jeda untuk menghilangkan kantuk. Kepala gadis itu terasa pening, dia duduk sejenak sebelum melanjutkan hari ke ruang kerja. Namun sebelum benar-benar beranjak, Naomi berterima kasih pada Rian karena sudah dibangunkan. "Astaga," gumam Naomi, menyadari bahwa pekerjaannya belum rampung dan sebentar lagi harus disetor. Laptopnya masih terbuka, namun layarnya hitam gelap karena ditinggalkan lebih dari setengah jam. Naomi menunggu laptopnya loading sebentar, lalu bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Satu per satu karyawan mulai mengisi kursinya masing-masing. Beberapa orang membawa cup minuman dingin untuk menemani siang hari yang sangat terik ini. Naomi bergelut dengan waktu, berusaha mengejar deadline agar tidak membuat masalah baru. Begitu pekerjaannya rampung, Naomi bergegas ke area percetakan. Dalam hati berharap tak ada yang memakai printer agar tak perlu antri lama. "Telat lo?" ucap Naomi ketus, melihat Tasya yang sedang pura-pura memfotokopi sesuatu. Tasya hanya meringis konyol karena ada yang memergoki kebiasaannya. "Untung lo yang masuk, Na. Gue udah ketar-ketir mikirin alesan kalau orang lain yang masuk," ucap Tasya, menghembuskan nafas lega. "Kok bisa telat sih? Kayaknya resto kalian masih deket deh," ujar Naomi, jengah dengan kelakuan Tasya yang sering terlambat jika makan siang bersama kekasihnya. Naomi menyalakan printer, memastikan kertas masih cukup lalu mulai mencetak dokumen yang dia kerjakan tadi. "Maklum, Na. Ngasih jatah dulu buat doi" ucap Tasya ringan, seolah apa yang katakan adalah hal remeh. "Najislah, mandi dulu nggak lo tadi?" selidik Naomi, menatap sekujur tubuh Tasya dari atas hingga bawah. Tasya terkikik geli diperhatikan seintens itu. "Nggaklah, Na. Mana sempat" ucap Tasya. "Orang tadi mainnya di mobil" tambahnya dengan nada suara lebih kecil. Naomi menghela nafas, tak habis pikir dengan kelakuan Tasya yang selalu bisa membuatnya sulit berkata-kata. * * * Gimana, guys? Tinggalkan komentar kalian tentang cerita ini ya. Kalau cerita ini ramai, kita lanjut up terus 😚 Btw, kalian nemu cerita ini dari mana? Dari aplikasi ini atau dari platform lain? Atau mungkin direkomendasikan oleh orang lain? Jawab di kolom komentar ya guys, jangan males komen hehehe.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD