3

1077 Words
"Kok di sini?" pekik Naomi riang, melihat keberadaan kekasihnya di lobby apartement. Jonathan tersenyum manis menyambut kedatangan Naomi. Gadis itu baru pulang kantor namun sudah disuguhi kejutan seperti ini. "Mampir sebentar, sayang. Ada oleh-oleh" ucap Jo lembut, menyerahkan paper bag hijau kepada Naomi. Gadis itu menerima dengan senang. Memang kekasihnya ini selalu royal padanya. Setiap kali dinas di luar kota, Jo selalu memberikan buah tangan untuk Naomi. "Ih, cakep banget" ucap Naomi, mengambil ukiran kayu yang mulus dan mengkilap. Di dalam paper bag, masih ada makanan khas dari daerah tempat Jo berkunjung. "Pulangnya gimana?" tanya Naomi, menyadari Jo sepertinya langsung ke sini dari bandara. Koper biru pria itu masih ada tergeletak di samping kursi. Jo mengacak lembut rambut panjang kekasihnya. Dia selalu peka terhadap sekitar. "Naik ojol, sayang. Udah, masuk sana. Aku cuma mampir ngasih oleh-oleh" ucap Jo, tersenyum manis menatap wajah kekasihnya yang dia rindukan. Naomi menunggu hingga ojol pesanan Jo datang, bahkan dia ikut menghantarkan kekasihnya itu pulang. Dengan langkah riang, Naomi bergegas masuk ke unit apartemennya. Dia ingin segera bersih-bersih dan menikmati makanan yang dibawakan oleh Jo. Senandung lagu terdengar dari speaker mini di atas meja. Naomi baru saja keluar dari kamar mandi, ujung dasternya sedikit basah terkena air. Sambil memanaskan lauk, Naomi mengeluarkan sebagian kue yang diberikan oleh Jonathan ke atas piring saji. Sisa kue itu akan dia bawa ke kantor besok, berbagi dengan orang-orang yang mau ikut mencicipi. Setelah mencuci piring bekas makannya, Naomi masuk ke kamae untuk istirahat. Malam ini dia ingin menonton film laga yang sedang banyak berseliweran di media sosialnya. Namun belum juga laptopnya menyala sepenuhnya, ponsel Naomi sudah lebih dulu berdering. Panggilan masuk. Dari Pak Abhi Wirasatya. Jantung Naomi berdegub kencang. Ada keraguan dalam hatinya. Haruskah dia menerima panggilan itu? Tapi jika diabaikan, Naomi juga merasa khawatir atasannya itu akan marah. Akhirnya panggilan itu berakhir dengan sendirinya. Naomi terlalu lama menimbang keputusan. 'Dimana?' Pesan masuk menggantikan notifikasi panggilan tak terjawab dari orang itu. Lagi-lagi Naomi hanya menatap pop up notifikasi itu, tidak berniat membuka ruang obrolan bersama atasannya. Naomi mengetik judul film di laptopnya, lalu mencari posisi nyaman untuk menonton malam ini. Bunyi klakson dan teriakan silih berganti sebelum akhirnya terdengar ledakan yang sangat keras. Beberapa tokoh antagonis tersenyum puas melihat kapal yang ditumpangi oleh tokoh utama habis dilalap api. Naomi menahan nafas karena takut tokoh protagonisnya benar-benar terkena jebakan penjahat. Sebagian orang melompat ke dalam laut lepas, mencoba tetap mengapung meski panasnya kobaran api masih terasa di udara. Dalam gelapnya malam, pergerakan di dalam air tidak bisa terlihat jelas. Di tengah situasi menegangkan itu, ponsel Naomi kembali bergetar. Tanpa sadar, Naomi menerima panggilan itu begitu saja. Fokusnya masih tertuju pada film laga yang sedang dalam puncak konflik. "Halo" ucap Naomi setelah menempelkan layar ponselnya di telinga. Tak kunjung ada jawaban, namun Naomi tidak peduli. Dia masih menyaksikan betapa parahnya luka bakar yang dialami oleh beberapa korban ledakan kapal itu. Sesekali Naomi meringis membayangkan perihnya luka itu terendam dalam air laut. "Ck, nggak jelas" gumam Naomi karena tiga kali sapaannya tidak direspon. Naomi melempar ponselnya ke bagian samping bantal. Film laga itu lebih penting untuk disaksikan saat ini. "Ih, ada bayi" pekik Naomi, terkejut melihat bayi yang menangis di tengah kobaran api yang hampir melahap habis area kapal. "Huhu, masa nggak ada yang nolongin" ucapnya lagi, geram dengan tingkah pemeran utama yang terlalu lambat menyadari bayi yang tak jauh dari lokasinya. Hingga film itu selesai, Naomi tidak mengacuhkan keberadaan ponselnya sama sekali. Bahkan ketika Naomi beranjak buang air kecil pun, dia meninggalkan ponselnya di posisi yang sama. Malam itu, Naomi tertidur lelap karena emosinya terkuras menonton film laga yang menyebalkan itu. Meski terbilang happy ending, nasib beberapa tokoh tidak ada kejelasan. Naomi merasa digantung oleh alur cerita yang tidak tuntas. * Keesokan harinya, Naomi hampir terlambat bangun. Alarm ponselnya tidak berbunyi. Naomi melihat jam dinding sudah hampir pukul tujuh, ventilasi di atas jendela juga menunjukkan langit sudah terang. Gadis itu bergegas mandi dan bersiap dengan terburu-buru. Saat membereskan isi tasnya, Naomi baru mengambil ponsel dari atas bantal. "Astaga, pantes nggak kedengeran alarm" gumamnya. Ponselnya tidak menyala. Dugaan Naomi, kemungkinan besar ponselnya lowbat. Tapi tidak ada lagi waktu untuk mengisi daya, dia harus segera berangkat ke kantor. Naomi meminjam ponsel satpam untuk memesan ojek online. Bisa dipastikan Naomi akan terlambat ke kantor jika membawa mobilnya. Setelah memesan ojek, Naomi meminta pengemudi mengambil jalur paling cepat. Gadis itu berlari setelah turun dari ojek, jarak lobby ke area lift cukup jauh. Belum lagi antri di lift mungkin masih padat karena sudah mepet jam kerja. Pukul 07.59 Naomi baru berhasil menempelkan jarinya di mesin absensi sidik jari. Dengan nafas ngos-ngosan, Naomi melangkah pelan ke arah kursi kerjanya. "Astaga, nih hp juga pake acara lowbat" gerutu Naomi. Isi tasnya diutak-atik untuk mencari charger, semoga saja kali ini Naomi tidak ceroboh lagi. "Ck, sial banget" gumam Naomi saat menyadari chargernya lupa dia masukkan ke dalam tas. Sangat jelas saat ini diingatannya jika charger hpnya tergeletak di atas meja kamar. Sambil melirik ke sekelilingnya, Naomi mengingat-ingat siapa saja yang punya charger sejenis dengan miliknya. "Bang Dipta, pinjem charger dong" ucap Naomi, menghampiri kubikel rekan kerjanya yang dulu pernah Naomi pinjam juga chargernya. Pria berkacamata itu mengambil charger berwarna putih dari dalam tasnya, lalu diserahkan pada Naomi tanpa banyak bicara. "Thank's, bang" ucap Naomi, bergegas kembali ke mejanya untuk mengisi daya ponsel. Sembari menunggu baterai ponselnya terisi, Naomi menyalakan laptop dan memulai pekerjaannya. Ada salah satu proposal lama yang diminta oleh atasannya kemarin, tapi Naomi harus memperbaiki beberapa bagian sebelum diserahkan. Setelah merampungkan revisi, proposal itu dikirimkan Ala ke email atasannya. Gadis itu meraih ponselnya, baterainya sudah terisi 34%. Naomi menyalakan ponselnya dan kembali menunggu selama dua menit hingga ponselnya benar-benar siap digunakan. Saat Naomi memeriksa notifikasi w******p, gadis itu tersenyum melihat gambar yang dikirimkan kekasihnya tadi pagi. Rambut klimis dan seragam salah satu Bank BUMN tampak rapi di tubuh tegap Jonathan. 'Have a nice day, sayang' begitu isi pesan yang dikirim bersama gambar itu. Naomi menggulir ke bawah, dia melewati pesan grup untuk memeriksa apakah ada pesan pribadi lain. "Loh?" gumam Naomi, melihat pesan terakhir Pak Abhi Wirasatya bukan lagi pertanyaan tadi malam. Tertulis 'Voice call' yang menandakan ada riwayat panggilan suara yang tersambung. "Hah?" gumam Naomi lagi, heran melihat riwayat panggilan itu ternyata berlangsung selama 5 jam 38 menit. Naomi melirik ke arah meja kerja Pak Wira. Sadar ada tatapan yang mengarah padanya, Wira pun melihat ke area sekitar. Tatap mata keduanya bertemu. Tak ada ekspresi, tak ada suara. Hanya hening dan saling menatap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD