Di dekat pintu mobil yang sudah terbuka, Ibu tiba-tiba berbalik padaku dan berjalan cepat. Berdiri beberapa senti di depan wajahku dengan tangan tangan terulur, menyentuh bekas tamparannya tadi. “Masih sakit?” bisiknya lembut. “Nggak papa kali, Bu.” Aku balas menggenggam tangannya. “Bapak lagi di mobil, kamu nggak mau cerita apa pun ke Ibu?” Ibu memberi usul, sesekali melirik ke arah Bapak yang sudah ada di dalam mobilnya. Mereka yang sebelumnya akan memutuskan untuk menginap, tiba-tiba berubah pikiran karena kejadian tadi. “Kalau kamu nggak mau Ibu sama Bapak ikut campur, kami nggak bakalan ikut campur. Tapi setidaknya, kamu bisa sedikit lega kalau cerita ke kami.” Tawaran Ibu sepertinya terdengar baik. Aku menoleh ke belakang, di dalam rumah, mengecek keberadaan Mas Aiden dan Papan

